Thursday, April 14, 2011

KUPLUK SI PELINDUNG KEPALA.


Kupluk, kamu punya kupluk. Kalo belom punya mending kamu beli sekkarang juga sebelum kehabisan loo. Kalo saya pribadi ngapain beli, menjim aja kale,,
Eits, kupluk disini bukan sembarang kupluk. baca de,, g tau juga saya dapetin postingan ini dari mana....



Di pasar-pasar tradisional Indonesia, kupluk sangat mudah didapat, walaupun ukuran 10 sesuai dengan ukuran kepala saya cukup susah. Rata-rata ukuran 7 sampai 9. Tapi, saya perlu mencatat bahwa kupluk kita itu, kian bersaing dengan kopiah-kopiah haji.
Di “pasar-pasar tumpah” halaman-halaman masjid pasca-sholat jumat, yang jual kupluk kian langka, seolah tergantikan dengan kopiah-kopiah haji yang lebih murah dan praktis.
Coba bandingkan dengan, lagi-lagi, fez. Sewaktu saya jalan-jalan di Istanbul, di sebuah pasar tempo dulu, saya mencoba mencari fez, tetapi setelah berputar-putar ke sana kemari, saya tidak mendapatkannya.
Tapi setelah pemerintah Turki berhasil menggulirkan referendum 12 September 2010, yang mengakhiri peran politik militer di sana : apakah fez akan muncul lagi? Entahlah. Yang jelas Turki kini tengah bergeser secara signifikan peta politiknya.
Kemalisme seolah telah direvisi secara radikal pasca-kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di bawah pimpinan Recep Tayyip Erdogan dan pasca-referendum amandemen konstitusi. Mungkin fez masih dianggap kuno, walaupun konon dulunya ia diambil dari para bangsawan Yunani. Tetapi, saya kira kalau fez muncul lagi, bukan merupakan penghalang nyata bagi upaya Turki untuk terdaftar sebagai anggota penuh Uni Eropa.
Muslim Turki dan Indonesia mayoritas di negerinya masing-masing. Tetapi kultur dan pengalaman politiknya lain. Keduanya memang bukan negara Islam, dalam arti menjadikan Islam sebagai dasar negara. Hubungan antara agama dan negara di Turki dan Indonesia juga mengalami dinamika yang berbeda.
Sekularisasi di Turki melibatkan negara dan dengan pendekatan yang keras pasca-jatuhnya Kekhalifahan Turki Usmani. Di Indonesia tidak sekeras itu, bahkan belakangan terkesan sangat cair. Barangkali karena itu, perilaku keberagamaannya juga “lain”.
Di Turki orang yang sudah naik haji, tak biasa disebut Pak atau Bu haji. Di Indonesia sebutan “haji” terkesan terobral. Para pedagang di pasar tradisional dekat rumah saya, nyaris selalu memanggil Pak atau Bu haji kepada para calon pembelinya.
Salah seorang kenalan saya di Turki, yang sudah cukup berumur dan anaknya sudah pada mandiri, menunggu dengan khusyuk di luar Masjid Biru, Istanbul. Kami sedang sholat di sana, kecuali ia. Kalau ramadan, katanya ia tak ikut puasa, tapi kalau buka ikut merayakannya. Tetapi, ia tak mau dibilang bukan Muslim. Semua orang Turki, katanya, adalah Muslim –walaupun mungkin hanya sekedar Muslim KTP.
Saya menduga gaya beragama seperti itu, sangat kuat dipengaruhi oleh praktik sekulerisme radikal oleh negara. Walaupun, imam dan khatib diurus oleh negara, tetapi tak ada masjid atau mushola di perkantoran-perkantoran pemerintah dan bahkan swasta di sana –kalah sama simbol-simbol Kemalisme.
Kenalan saya tadi keinginannya sebelum meninggal cuma satu : ia sempatkan dirinya untuk naik haji. Ini yang membuat saya terperanjat kaget. Tapi saya segera menyadari bahwa tentu ia tak berharap kelak kehajiannya dimaksudkan untuk meningkatkan status sosial, seperti yang masih mengemuka di Indonesia. Ia hanya ingin berhaji untuk menunjukkan bahwa dirinya, diam-diam, di hari tuanya, adalah seorang Muslim yang paripurna. Wallahua’lam. (***)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.