Thursday, April 7, 2011

PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE BERCERITA DAN BERDIALOG


Assalamuaikum bee lovers,,,
Kemarin sore, kaka-kakaan saya minta tolong di buatin tugas kuliahnya mengenai pembelajaran dengan menggunkaan metode bercerita dan berdialog. Dan akhirnya tugas itu selesai juga. Dari pada saya simpen terus di flashdisck, mending saya postingin aja di blog saya ( www.beefamily.co.cc ). Sapa tau aja bias jadi pahala buad saya, n sapa tau aja bias berguna untuk beelovers sekalian.
Nih, saya suguhin penjelasanya,,,

 PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE
BERCERITA DAN BERDIALOG

Metode pembelajaran adalah sebuah konsep cara yang digunakan oleh guru untuk mengelola pembelajaran agar materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik terhaap sisa sesuai dengan tujuan yang dinginkan.
Teknik pembelajaran adalah aplikasi atau penerapan dari sebuah metode.
Metode dan teknik pembelajaran sangat berkaitan erat karena sebuah metode pembelajaran tidak akan berhasil tanpa menggunakan teknik.
METODE BERCERITA DAN BERDIALOG
Pengertian
  • Strategi pembelajaran ( learning )dapat diartikan sebagai segala usaha guru dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran untuk mericapai tujuan yang diharapkan. Dengan demikian strategi pembelajaran menekankan pada bagaimana aktifitas guru mengajar dan aktifitas anak belajar. Macam-macam metode pembelajaran antara lain; berpusat pada anak, bermain, bercerita, bernyanyi dan pembelajaran terpadu (Masitoh, 2008)
  • Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau suatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain. Bercerita dalam konteks komunikasi dapat dikatakan sebagai upaya mempengaruhi orang lain melalui ucapan dan penuturan tentang suatu (ide) pengalaman. Sementara dalam konteks pembelajaran anak usia dini bercerita dapat dikatakan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi kemampuan berbahasa anak melalui pendengaran kemudian menuturkannya kembali denagn tujuan melatih ketrampilan anak dalam bercakap-cakap untuk menyampaikan ide dalam bentuk lisan (Bacthiar S. Bachri, 2005)
  • Pada kurikulum 1994, bercerita dinyatakan sebagai salah satu metode yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar. Metode bercerita didefinisikan sebagai cara memberikan penerangan atau bertutur dan menyampaikan cerita secara lisan. Anak sangat menyukai cerita atau dongeng sehingga bentuk metode cerita sangat cocok untuk mengajarkan moral pada anak.
  • Strategi pembelajaran melalui bercerita dan berdialog merupakan salah satu strategi yang banyak digunakan pada pembelajaran Taman Kanak-kanak, sebagai mana halnya kegiatan pengajaran yang lain, kegiatan itu selalu dimulai dengan merencanakan, melaksanakan dan menilai kegiatan pengajaran. Dikaitkan dengan dunia kehidupan anak, bercerita adalah salah satu strategi pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak. Dunia kehidupan anak penuh dengan suka cita, maka kegiatan bercerita harus diusahakan dapat memberikan perasaan gembira, lucu, dan mengasyikkan untuk dapat menarik perhatian anak.
  • Bercerita  biasanya dilakukan oleh seorang guru dengan membawakan cerita secara lisan dan mengundang perhatian anak namun tidak lepas dari pendidikan anak usia PAUD. Penggunaan cerita sebagai salah satu strategi pembelajaran di PAUD harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
    Isi cerita harus berkaitan dengan dunia kehidupan anak, sehingga mereka dapat lebih memahami dan menangkap isi cerita, karenaa membahas mengenai hal-hal yang tidak asing bagi mereka.
    Kegiatan bercerita diusahakan menarik, asyik, lucu dan memberikan perasaan gembira dan penuh suka cita.
    Kegiatan bercerita harus menjadi pengalaman bagi anak yang bersifat unik, menggetarkan perasaan serta dapat memotivasi anak untuk mengikuti cerita sampai tuntas (Masitoh, 2008: 10.3)
    Kemampuan bercerita tidak muncul begitu saja, tetapi melalui persiapan yang matang dan latihan terus menerus.

  • Untuk dapat bercerita dengan baik, guru sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
    1.    Menguasai isi cerita secara tuntas
    2.    Memiliki ketrampilan bercerita
    3.    Berlatih dalam irama dan modulasi suara secara terus menerus
    4.    Menggunakan perlengkapan yang menarik perhatian anak
    5.    Menciptakan situasi emosional sesuai denagn tuntutan cerita (Masitoh, 2008: 10.3)
    Menurut Masitoh, 2008: 10.3, kemampuan guru untuk bercerita dengan baik harus didukung dengan cerita yang baik pula yaitu denagn kriteria:
    1.    Cerita itu harus menarik dan memikat perhatian guru itu sendiri.
    2.    Cerita itu harus sesuai dengan kepribadian anak, gaya, dan bakat anak.
    3.    Cerita itu harus sesuai dengan tingkat usia dan anak mampu memahami isi cerita. ( www.beefamily.co.cc  )

A    MACAM-MACAM TEKNIK BERCERITA
Macam-maeam teknik bercerita, menurut Moeslichatoen, 1996 yaitu :
1.    Membaca langsung dari buku cerita
       Teknik ini membacakan langsung dari buku cerita yang dimiliki guru sesuai dengan       anak terutama dikaitkan dengan pesan-pesan yang tersirat dalam cerita.

2.    Bercerita menggunakan ilustrasi gambar dari buku
Teknik ini menggunakan ilustrasi gambar dari buku yang dipilih guru, harus menarik, lucu, sehingga anak dapat mendengarkan dan memusatkan perhatian lebih besar daripada buku cerita. Ilustrasi gambar yang digunakan sebaiknya cukup besar dilihat oleh anak dan berwarna serta urut dalam menggambarkan jalan cerita yang disampaikan.

  • 3.    Menceritakan dongeng
    Mendongeng merupakan suatu cara untuk meneruskan warisan budaya yang bernilai luhur dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Menceritakan dongeng pada anak membantu anak mengenal budaya leluhurnya dan menyerap pesan-pesan yang terkandung didalamnya.

  • 4.    Bercerita dengan menggunakan papan flannel
    Teknik ini menekankan pada urutan cerita serta karakter tokoh yang terbuat dari papan flannel yang berwarna netral. Garnbar tokoh-tokoh mewakili perwatakan tokoh cerita yang digunting dengan pola kertas dan ditempelkan pada kain flannel.

  • 5.    Bercerita dengan menggunakan boneka
    Pemilihan cerita dan boneka tergantung pada usia dan pengalaman anak. Boneka yang digunakan mewakili tokoh cerita yang akan disampaikan

  • 6.    Dramatisasi suatu cerita
    Teknik ini digunakan untuk memainkan cerita perwatakan tokoh dalam suatu cerita yang disukai anak dan merupakan daya tarik yang bersifat umum (Gordon, Browne, dalam Moeslichatoen, 1996).

  • 7.    Bercerita sambil memainkan jari jari tangan
    Teknik ini memungkinkan guru berkreasi dengan menggunakan jari jari tangan, dan ini tergantung kreativitas guru dalam memainkan jari jarinya sesuai dengan perwatakan tokoh yang dimainkannya.
Yang dimaksud dengan metode bercerita dan berdialog adalah cara mengajar dalam bentuk menuturkan/menyampaikan cerita atau memberikan penerangan secara lisan.

Tujuan
Tujuan dari metode bercerita adalah :
    • Melatih daya tangkap dan daya konsentrai anak didik
    • Melatih daya piker dan fentasi anak
    • Megembangkan kemampuan berbahasa dan menambah pembendahaaan kata kepada anak didik
    • Menciptakan suasana senang di kelas

  • Kebaikan Metode Bercerita
    • Dapat membangkitkan minat anak
    • Menumbuhkan sikap perilaku yang positif pada anak
    • Menanamkan nilai-nilai moral
    • Menumbuhkan imajinasi anak
    • Melatih pendenganran anak
    • Mengenadlikan emosi
    • Memperkaya kosa kata
    • Mengembangkan daya piker
    • Menumbuhkan rasa cinta tanah air

  • Kelemahan Metode Bercerita
    • Dapat membuat anak pasif
    • Apabila alat peraga tidak menarik anak krang aktif
    • Anak belum tahu dapat mengulang cerita kembali
    • Waktu cerita berlangsung anak yang mengemukakan pendapatnya sehingga mengganggu jalannya cerita.
Pembelajaran dengan menggunakan metode berceritaakan menghasilkan mutu yang baik apabila cara menguasai teknik-teknik bercerta. Berikut beberapa teknik dalam bercerita

  • Teknik Bercerita Tanpa Alat Peraga
Langkah-langkah pelaksanaan
    • Guru mengatur organisasi kelas (Posisi tempat duduk anak)
    • Guru merangsang anak agar mau mendengarkan dan memperhatikan isi cerita
    • Guru mulai bercerita, (cerita sederhana) dengan terlebih dahulu menyebutkan judul certa
    • Setelah selesai bercerita, guru memberikan tugas pada anak-anak, untuk menceritakan kembali isi cerita tersebut secara bergantian
    • Guru memberikan pujian pada anak yang sudah bias dan memberikan motovasi kepada anak yang belum
Contoh cerita :
Siburik yang Serakah
Catatan :
    • Dalam melukiskan peristiwa pada cerita tersebut di atas hendaknya jangan dengan gerak-gerik terlalu realities. Misalnya waktu melukiskan si Burik yang sedang lari. Cukup menggerakan kaki dan tangan saja sambil berdiri atau duduk.
    • Cerita hendaknya cukup singkat dan sederhana bahasanya mudah dimengerti anak.
    • Intonasi suara agar disesuaikan dengan isi cerita
    • Isi cerita dapat ungkin disesuaikan dengan tema
    • Kegiatan bercerita biasanya diberikan pada saat pembukaan atau oenutupan
    • Apabila kegiatan tersebut diberikan dalam kegiatan inti agar suara guru jangan sampai mengganggu kelompok yang lain.




  • Teknik Bercerita dengan Menggunakan Alat Peraga Langsung
    • Misal "Seorang Guru bercerita dengan judul cerita"
    • Seekor Kelinci Putih dan Kol
Langkah – Langkah pelaksanaan :
      • Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan
      • Guru memberikan pendahuluan dengan membicarakan tentang alat peraga seekor kelinci dan daun kol. Misalnya tentang warna bulu kelinci, nama, julah kaki, betuk telingan, makanannya, bagaimana berjalannya, dan sebagainya, sambil anak diberi kesempatan untuk memegang dan membelai kelinci dan sebagainya.
      • Setelah cukup memberikan penjelasan tentang alat peraga (kelinci) guru memasukan kelinci ke dalam kandang, lalu guru bercerita.
      • Guru merangsang anak untuk mendengarkancerita
      • Setelah selesai bercerita guru memberikan pertanyaan kepada anak tentang apa, mengapa, di mana, berapa, bangamana, dan sebagainya.
      • Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menjawab pertanyaan guru tersebut
      • Bagi anak yang sudah dapat menjawab dengan benar diberikan pujian dan bagi yang belum diberi dorangan motivasi


    • Contoh Cerita :
Kelinci Putih dan Daun Kol.
Catatan :
      • Isi cerita sedapat mungkin disesuikan dengan tema
      • Isi cerita pada pendahuluan dipersingkat dan hanya mengandung garis besarnya saja
      • Guru membawakan cerita, dengan gaya dan suara serta dialog yang menarik
      • Kegiatan tersebut dilakukan secara klasikal.
Pelaksanaan seperti tersebut diatas berlaku juga untuk metode bercerita dengan menggunakan alat peraga tiruan maupun gambar.

  • Teknik Bercerita Dengan Menggunakan Gambar-Gambar
Langkah – langkah Pelaksanaan :
    • Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan (gambar-gambar)
    • Guru mengatur posisi tempat duduk anak sesuai dengan yang direncanakan.
    • Guru menarik perhatian anak agar mendengarkan cerita
    • Guru bercerita dengan memperlihatkan alat peraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan
    • Guru bercerita dengan memperhatikan alat paraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan.
    • Guru memberikan pertanyaan tentang isi cerita pendek tersebut satu persatu (bertahap) kepada anak secara bergantian, misalnya :
      • Sedang apakah kumbang dan lalat?
    • Anak menjawab pertanyaan guru satu per satu kalimat pertanyaan sampai dengan 3 (tiga) pertanyaan. Setiap pertanyaan merupakan satu kalimat.
    • Bagaimana yang sudah dapat menjawab pertanyaan diberikan pujian dan bagi anak yang belum dapat menjawab pertanyaan dengan benar diberikan motovasi.
Catatan :
Pertanyaan yang diajukan kepada anak masing-masing anak sebanyak 3 pertanyaan yan setiap pertanyaan merupakan pertanyaan tunggal dan diharapkan langsung dijawab oleh anak. Guru sebaiknya menyiapkan pertanyaan yang akan diajukan kepada anak.
Contoh cerita :
Semut yang Baik Hati
Catatan :
    • Isi cerita sedapat mungkin dikaitkan dengan tema
    • Pertanyaan isi cerita dilaksanakan setelah guru selesai bercerita
    • Pada pelasanaan bentuk cerita dengan gambar, setiap kali cerita ditunda sebentar untuk menjelaskan gambar sesuai dengan banyaknya gambar yang ada. Hal ini hendaknya dilakasanakan selancar mungkin, sehingga anak tidak merasa bahwa ceritanya diputuis-putus.
    • Gambar – gambar yang dipergunakan hendaknya memenuhi juga persyaratan seperti cukup besar untuk dapat dilihat oleh semua anak, berwarna alami dan menarik, tidak terlalu banyak "Hiasan" yang mengaburkan isi cerita
    • Gambar yang digunakan boleh satu atau lebih.

No comments:

Post a Comment