Thursday, October 18, 2012

Bell's palsy (bibir perot)


Proses pemeriksaan fisioterapi pada kasus Bell’s palsy dimulai dari anamnesis, diikuti dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan gerak, kemampuan fungsional dan pemeriksaan khusus.
1.    Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan pada kondisi Bell’s palsy ini menggunakan metode autoanamnesis (dengan pasien sendiri) pada tanggal 20 Juni 2011. Data-data yang terapis dapatkan sebagai berikut:
a.       Identitas pasien
Data yang dioeroleh adalah (1) nama : Ny Sutarti, (2) umur : 59 tahun, (3) agama : Islam, (4) pekerjaan : (5) alamat : Bekonang, Sukoharjo.
b.      Keluhan utama
Keluhan utama yang dirasakan pasien adalah adanya rasa tebal pada sisi wajah sebelah kiri serta mulut pasien mencong kesisi kanan.
c.     Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh wajah sebelah kirinya tiba-tiba terasa tebal-tebal dan mulutnya mencong ke sisi kanan saat bangun tidur sejak tanggal 25 April 2011. Pasien tidak mengetahui apa penyebabnya namun pasien mengaku sehari sebelumnya kepala sebelak kiri terasa pusing dan belakang telinga sebelah kiri terasa sakit. Pasien kadang-kadang juga merasakan adanya nyeri di belakang telinga, terutama jika terkena angin atau suhu dingin secara langsung dan nyeri tersebut akan berkurang jika pasien berisirahat. Kemudian, pada tanggal 5 Mei 2011 pasien berobat ke RSU dr. Moewardi. Di sana pasien akhirnya di rujuk untuk menjalani tindakan fisioterapi dua kali seminggu sampai sekarang dan telah mendapat banyak kemajuan yaitu rasa tebal pada wajah sebelah kiri telah banyak berkurang dan rasa sakit di belakang telinga sebelah kiri sudah tidak ada.
d.      Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengakui adanya riwayat hipertensi, namun tidak ada riwayat stroke dan DM, pasien juga mengaku sebelumnya belum pernah mengalami sakit seperti ini.
e.       Riwayat penyakit penyerta
Penyakit yang menyertai saat ini adalah hipertensi.
f.       Riwayat pribadi
Pasien merupakan seorang ibu rumahtangga yang membantu anaknya membuat batu bata, di mana pasien membantu dalam hal memindahkan batu bata yang baru dicetak ketempat pembakaran.

g.      Riwayat keluarga
Pasien mengaku dalam keluarganya belum pernah ada yang mengalami sakit seperti ini sebelumnya.
2.    Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi: pemeriksaan tanda-tanda vital, inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerak, dan kemampuan fungsional.
a.    Tanda-tanda vital
Pemeriksaan tanda-tanda vital yang dilakukan meliputi (1) tekanan darah : 150/80 mmHg, (2) denyut nadi : 66 x/menit, (3) pernafasan : 20 x/menit.
b.    Inspeksi
Inspeksi dilakukan pasien baik saat diam atau bergerak. Inspeksi diam diketahui, wajah pasien tidak simetris, mulut tertarik atau mencong ke sisi kanan, mata kiri lebih banyak mengeluarkan air mata dibanding mata kanan. Sedangkan untuk inspeksi dinamis didapatkan hasil kerutan dahi tampak simetris, pasien mampu menutup mata kirinya dengan rapat, saat bersiul mulut dapat menutup dengan rapat, saat tersenyum mulut pasien tidak simetris.

Tuesday, October 16, 2012

Tak Puas Untuk Kesuksesan

Oleh Mochamad Yusuf

ilustrasi - quantumfeeling.blogspot.com

Rasa tidak puas itu bisa positif atau negatif, karena faktor yang melekat pada seorang manusia. Namun seharusnya ditumbuhkan dan disalurkan dalam bentuk yang positif, konstruktif dan obyektif.

Puas adalah rasa dan yang namanya rasa itu sangat relatif dan subyektif. Satu hal sama bisa menimbulkan perasaan berbeda pada dua orang yang berbeda.

Karena itu penilaian kepuasan itu tidak bisa dipukul rata. Kepuasan seseorang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Antara lain adalah faktor sosial ekonomi dan faktor kepribadian yang melekat. Semua menjadi warna hidup seseorang karena pembawaan ataupun karena pengaruh lingkungan maupun karena faktor latar belakang pendidikan.

Ada karyawan yang telah merasa puas dengan kondisi seperti yang saat ini dirasakan. Tetapi mungkin ada banyak karyawan yang tidak puas dengan situasi dan kondisi itu. Sebagai contoh kita ambil soal lingkungan kerja termasuk di dalamnya masalah sistem, prosedur, fasilitas, peraturan, kinerja-kinerja yang telah dicapai kondisi-kondisi fisik, lingkungan sosial maupun mental. Semua itu dapat menimbulkan interprestasi dan rasa yang berbeda.

Ada karyawan yang merasa sangat puas, ada yang cukup puas ada yang tidak puas. Hal ini adalah lumrah dan menusiawi dan mengungkapkan rasa adalah hak asasi manusia. Sejauh ungkapan rasa (puas atau tidak puas) itu tidak mengganggu ketertiban dan kepentingan umum, maka tidak ada yang berhak untuk melarang.

Antara objek kepuasan dan subjek kepuasan memang tidak selalu bisa klop. Karena setiap orang menilai, memandang sesuatu dari sudut atau titik pandang yang berbeda.

Rasa tidak puas itu bisa positif. Karenanya dinamika rasa tidak puas yang hidup di lingkungan, tidak bijak kalau dipupus begitu saja. Rasa tidak puas itu perlu ditumbuhkan dan disalurkan dalam bentuk manifestasi yang positif, konstruktif dan obyektif.

Adanya kemajuan dalam satu organisasi adalah karena timbulnya rasa tidak puas, rasa ingin lebih baik, rasa untuk lebih maju. Karena itu sebenarnya ketidakpuasan itu adalah energi menuju suatu perubahan. Dan perubahan adalah titik awal dari suatu kemajuan.

Karena itu pupuklah rasa tidak puas itu dan salurkan pada kegiatan, pemikiran yang konstruktif, positif dan beritikad baik.

Sumber

Sukses Meraih Mimpi Karena Ketekunan dan Kesabaran

ilustrasi

Sebuah janji biasanya membutuhkan waktu yang lama untuk ditepati. Demikian pula halnya dengan impian. Tak hanya perlu perjuangan untuk mewujudkan, tapi juga ketekunan dan kesabaran.

Pada awal tahun 1950-an di sebuah kota kecil di California Selatan, seorang gadis kecil membawa setumpuk buku ke sebuah counter perpustakaan yang kecil.

Gadis itu adalah seorang pembaca. Kedua orang tuanya mempunyai begitu banyak buku di rumah mereka, tetapi tidak selalu merupakan buku-buku yang dia inginkan. Jadi setiap minggu dia pergi ke gedung perpustakaan yang bercat kuning dan coklat di pinggirnya, sebuah bangunan kecil dengan satu ruangan dimana perpustakaan anak-anak sebenarnya hanya merupakan satu sudut. Setiap kali, dia keluar dari ruangan itu untuk mencari bacaan yang sulit.

Sewaktu petugas perpustakaan yang sudah beruban itu menuliskan tanggal kembali buku-buku yang dipinjam, gadis kecil itu melihat dengan keinginan yang sangat besar pada "The New Book" yang dengan jelas dipajang di counter itu. Sekali lagi dia mengagumi kehebatan penulis yang menulis sebuah buku dan memperoleh penghargaan seperti itu, dan menjadi terkenal.

Pada hari itu, dia mengatakan apa yang menjadi cita-citanya. "Bila saya sudah dewasa," katanya, "saya akan menjadi penulis. Saya akan menulis banyak buku."

Petugas perpustakaan itu berhenti menulis dan mendongak lalu tersenyum, tidak dengan sikap merendahkan yang begitu banyak diterima oleh anak-anak, tetapi dengan dorongan semangat.

"Bila kau sudah menulis buku itu," begitu katanya, "bawalah ke perpustakaan kami dan kami akan memajangnya tepat disini, di counter ini."

Gadis kecil itu berjanji bahwa dia akan melakukannya.

Seiring dengan pertumbuhannya, impiannyapun terus berkembang. Dia memperoleh pekerjaan pertamanya ketika dia duduk di kelas sembilan, yakni menulis profil kepribadian secara singkat, yang memberikan honor sebesar $1.50 untuk tiap tulisan dari sebuah koran lokal. Uang itu tidak ada artinya dibanding dengan keajaiban melihat tulisan-tulisannya di surat kabar.

Menulis sebuah buku rasanya masih sangat jauh. Dia menjadi editor pada koran sekolahnya, menikah dan memulai membangun keluarga, tetapi keinginan untuk menulis tetap berkobar-kobar dalam hatinya. Dia memperoleh pekerjaan meliput berita-berita sekolah di sebuah surat kabar mingguan. Hal itu membuat pikirannya tetap aktif, sementara dia mengurus anak-anaknya.

Tetapi belum juga ada buku yang ditulisnya. Dia bekerja secara penuh di sebuah harian yang besar. Bahkan mencoba menulis di berbagai majalah.

Tetap belum ada buku. Akhirnya, dia yakin bahwa dia harus mempunyai sesuatu yang harus dikatakan dan mulai menulis sebuah buku. Dia mengirimkannya ke dua penerbit dan ditolak. Dia menyimpan keduanya dengan sedih. Beberapa tahun kemudian, impian lama itu semakin membara. Dia memperoleh sebuah agen dan menulis sebuah buku lagi. Dia mengeluarkan buku yang satunya lagi dari penyimpanannya, dan segera keduanya terjual.

Tetapi dunia penerbitan buku bergerak lebih lambat daripada dunia persuratkabaran, dan dia menunggu selama dua tahun. Pada suatu hari sebuah kotak tiba di depan pintunya. Kotak itu berisi edisi gratis untuk pengarangnya. Diapun segera membukanya. Lalu dia menangis. Dia telah menunggu begitu lama untuk merengkuh impiannya dalam kedua tangannya.

Lalu dia teringat undangan petugas perpustakaan itu, dan juga janjinya. Tentu saja, petugas perpustakaan itu telah meninggal bertahun-tahun yang lalu, dan perpustakaan kecil itu telah diratakan dengan tanah untuk membangun gedung perpustakaan yang lebih besar.

Wanita itu menelepon dan memperoleh nama kepala perpustakaan. Dia menulis surat kepadanya, mengatakan betapa besar arti kata-kata pendahulunya dulu bagi gadis kecil itu. Dia akan berada di kota untuk menghadiri reuni sekolah menengahnya yang ke-30, begitu dia menulis dan bisakah dia membawa kedua bukunya dan memberikannya kepada perpustakaan ? Itu akan sangat besar artinya bagi gadis kecil berumur 10 tahun itu, dan nampaknya merupakan cara untuk menghormati semua petugas perpustakaan yang pernah memberikan dorongan kepada seorang anak.

Petugas perpustakaan itu menelepon dan berkata,"Datanglah." Maka diapun datang, membawa satu kopi untuk masing-masing buku.

Dia mendapati perpustakaan baru yang besar tepat di seberang jalan dari sekolah menengahnya dulu; persis di depan ruangan dimana dia berusaha mati-matian untuk memahami aljabar, memikirkan dengan sedih akan sebuah mata pelajaran yang tidak akan pernah dipakai oleh para penulis, dan hampir persis di atas rumahnya dulu, dibangun sebuah gedung untuk pusat kegiatan masyarakat dan perpustakaan yang ada sekarang ini.

Di dalam, petugas perpustakaan menyambutnya dengan hangat. Dia memperkenalkan seorang reporter dari sebuah harian lokal, sebuah surat kabar yang pernah dia minta untuk memberinya kesempatan menulis bertahun-tahun yang lalu.

Lalu dia memberikan bukunya kepada petugas perpustakaan itu, yang memajangnya di counter dengan sebuah tanda penjelasan. Air mata mengalir di pipi perempuan itu.

Kemudian dia memeluk petugas perpustakaan itu dan pulang, berhenti sebentar di luar untuk mengambil foto, yang membuktikan bahwa impian-impian bisa menjadi kenyataan dan janji-janji bisa ditepati. Meskipun itu membutuhkan waktu 38 tahunn.

Dalam benaknya dia melihat seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun dan seorang wanita dewasa yang sudah menjadi penulis berpose di dekat papan nama perpustakaan itu, tepat disamping papan pengumuman untuk pembaca yang berbunyi:

SELAMAT DATANG KEMBALI JANN MITCHELL

Sumber

Membangun Motivasi Dalam Diri

ilustrasi - google.co.id

Tujuan hidup hanya bisa diraih jika memiliki motivasi yang kuat dalam diri anda. Sayangnya anda tak tahu pasti bagaimana membangun motivasi di dalam diri sendiri. Berikut tips membangun motivasi diri.

Cita-cita atau tujuan hidup ini hanya bisa diraih jika anda memiliki motivasi yang kuat dalam diri anda. Tanpa motivasi apa pun, sulit sekali anda menggapai apa yang anda cita-citakan. Tapi tak dapat dipungkiri, memang cukup sulit membangun motivasi di dalam diri sendiri.

Bahkan, mungkin anda tidak tahu pasti bagaimana cara membangun motivasi di dalam diri sendiri. Padahal, sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi tersebut. Caranya...? coba simak kiat berikut ini:

Ciptakan Sensasi

Ciptakan sesuatu yang dapat 'membangunkan' dan membangkitkan gairah anda saat pagi menjelang. Misalnya, anda berpikir esok hari harus mendapatkan keuntungan 1 milyar rupiah. Walau kedengarannya mustahil, tapi sensasi ini kadang memang semangat anda untuk berkarya lebih baik lagi melebihi apa yang sudah anda lakukan kemarin.

Kembangkan Terus Tujuan anda

Jangan pernah terpaku pada satu tujuan yang sederhana. Tujuan hidup yang terlalu sederhana membuat anda tidak memiliki kekuatan lebih. Padahal, guna meraih sesuatu anda memerlukan tantangan yang lebih besar untuk mengerahkan kekuatan anda yang sebenarnya. Tujuan hidup yang besar akan membangkitkan motivasi dan kekuatan tersendiri dalam hidup anda.

Tetapkan Saat Kematian

Anda perlu memikirkan saat kematian meskipun gejala ke arah itu tidak dapat diprediksikan. Membayangkan saat-saat terakhir dalam hidup ini sesungguhnya merupakan saat-saat yang sangat sensasional. Anda dapat membayangkan 'flash back' dalam kehidupan anda. Sejak anda menjalani masa kanak-kanak, remaja, hingga tampil sebagai pribadi yang dewasa dan mandiri. Jika anda membayangkan 'ajal' anda sudah dekat, maka akan memotivasi anda untuk berbuat lebih banyak lagi selama hidup anda.

Tinggalkan Teman yang Tidak Perlu

Jangan ragu untuk meninggalkan teman-teman yang tidak dapat mendorong anda mencapai tujuan. Sebab, siapa pun teman anda, seharusnya mampu membawa anda pada perubahan yang lebih baik. Ketahuilah, bergaul dengan orang-orang yang optimis akan membuat anda berpikir optimis pula. Bersama mereka, hidup ini terasa lebih menyenangkan dan penuh motivasi.

Hampiri Bayangan Ketakutan

Saat anda dibayang-bayangi kecemasan dan ketakutan, jangan melarikan diri dari bayangan tersebut. Misalnya, selama ini anda takut akan menghadapi masa depan yang buruk. Datang dan nikmati rasa takut anda dengan mencoba mengatasinya. Saat anda berhasil mengatasi rasa takut, saat itu anda telah berhasil meningkatkan keyakinan diri bahwa anda mampu mencapai hidup yang lebih baik.

Ucapkan 'Selamat Datang' pada Setiap Masalah

Jalan untuk mencapai tujuan tidak selamanya semulus jalan tol. Suatu saat, anda akan menghadapi jalan terjal, menanjak, dan penuh bebatuan. Jangan memutar arah untuk mengambil jalan pintas. Hadapi terus jalan tersebut dan pikirkan cara terbaik untuk bisa melewatinya.

Jika anda memandang masalah sebagai sesuatu yang mengerikan, anda akan semakin sulit termotivasi. Sebaliknya, bila anda selalu siap menghadapi setiap masalah, maka anda seakan memiliki energi dan semangat berlebih untuk mencapai tujuan anda.

Mulailah dengan Rasa Senang

Jangan pernah merasa terbebani dengan tujuan hidup anda. Coba nikmati hidup dan jalan yang anda tempuh. Jika sejak awal anda sudah merasa 'tidak suka', maka rasanya, motivasi hidup tidak akan pernah anda miliki.

Berlatih dengan Keras

Tidak bisa tidak, anda harus berlatih terus bila ingin mendapatkan hasil terbaik. Pada dasarnya, tidak ada yang tidak dapat anda raih jika anda terus berusaha keras. Semakin giat berlatih, semakin mudah pula mengatasi setiap kesulitan.

Kesimpulannya, motivasi adalah 'sesuatu' yang dapat menumbuhkan semangat anda dalam rangka mencapai tujuan. Dengan motivasi yang kuat di dalam diri sendiri, anda akan memiliki apresiasi dan penghargaan yang tinggi terhadap diri dan hidup ini. Sehingga andapun tidak ragu lagi melangkah mencapai tujuan dan cita-cita hidup anda..!

Sumber

Petiklah Hikmah di Setiap Kejadian

Oleh: Liah siti syaifah *)

ilustrasi - google.co.id

Andaikata mereka belas kasihan, dan kami lenyapkan kemudaratan yang mereka alami, benar-benar mereka akan terus menerus terombang-ambing dalam kekafiran mereka. (QS Al-mu'minun: 75)

Sebaik-baik manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang sempurna tidak akan bernilai bila tanpa ketakwaan kepada Allah SWT. Senantiasa beribadah, karena rasa takwanya kepada Allah SWT. Ketakwaan manusia kepada Allah SWT menjadi bekal dalam menghadapi lika-liku kehidupan di dunia. Hal ini dapat dipahami bahwa ketakwaan selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT juga sebagai jalan untuk mendapatkan kehidupan yang maslahat dunia dan akhirat.

Ketika kita hidup dalam kondisi baik, ketakwaanpun akan baik juga. Namun seiring dengan berjalannya waktu, zaman yang semakin maju yang dipenuhi dengan perilaku amoral, Allah akan menguji ketakwaan seseorang dengan suatu musibah atau dengan suatu nikmat yang sangat melimpah, sehingga kadangkala kita terlelap dalam kekafiran. Namun daripada itu, sebagai eksistensi keberadaan manusia di dunia ini, ketika ditimpa cobaan yang sangat berat, kita harus tetap mensyukuri apa yang ada.

Meskipun kehidupan dipenuhi oleh warna-warni, tapi hendaknya kita menjadi orang yang memetik hikmah dari perbedaan tersebut. Musibah maupun nikmat tidak akan memberikan rasa beda di kala kita sudah mafhum terhadap kebijaksanaan Illahi karena tidak selamanya kenikmatan memberikan kebahagiaan (bisa saja itu adalah sebuah ujian). Begitu pula sebaliknya, tidak selamanya musibah memberikan kesengsaraan jika kita mampu memetik hikmah yang terkandung didalamnya.

Kebaikan, kejahatan, nikmat, derita, karunia, ujian, semuanya sama. Bukan hanya semua itu adalah hukum alam di mana manusia hidup di dalamnya, tapi juga kemaslahatan untuk manusia sendiri. Perbandingan yang tepat mungkin bisa dilihat dari sikap tegas dan lembut dari orang tua. Manakah di antara keduanya yang lebih maslahat bagi pendidikan anaknya?

Jika hanya kelembutan yang diberikan, maka orang tua dianggap tidak memberikan pendidikan yang baik kepada anak. Demikian pula apabila seseorang merasakan terus nikmat tanpa penderitaan, haruskah manusia menganggap buruk musibah kejahatan, penderitaan dari Tuhannya?

Jika kita telah mengetahui bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk yang mulia yang diciptakan-Nya, maka masihkah kita mengkontropersikan keMaha Adilannya? Sedangkan Dia Maha bijaksana. Wallahu alam.

*) Penulis adalah mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sumber

Hidup Sederhana

Oleh Makmun Nawawi

ilustrasi - google.co.id

"Tidak bakal susah orang yang hidup sederhana." Demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam riwayat Imam Ahmad. Hadis ini hanyalah salah satu dari sekian banyaknya sabda Nabi yang menyerukan pentingnya hidup sederhana. Dan, prinsip kesederhaan ini tidak hanya terucap melalui kata-kata tetapi juga mengejawantah dalam laku keseharian beliau.

Ibnu Amir pernah memberikan kesaksian perihal hebatnya kesederhanaan dan ketawadhuan Rasulullah, di tengah kedudukannya yang luhur di antara umat manusia. "Aku pernah melihat Rasul melempar jumrah dari atas unta tanpa kawalan pasukan, tanpa senjata, dan juga tanpa pengawal."

Menurut Ibnu Amir, Rasul menaiki keledai berpelanakan kain beludru dan dibonceng pula. Sering menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan dari seorang budak, mengesol sandalnya, menambal pakaiannya, dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama istri-istrinya.

Pernah suatu ketika, Rasulullah bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian gemetar karena kewibawaan beliau. Melihat hal itu, Muhammad SAW berujar untuk menenangkan laki-laki tersebut, "Tenanglah aku bukanlah seorang raja, namun aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan dendeng."

Saat dia berkumpul dan berbaur dengan para sahabatnya, tak tebersit sedikit pun sikap untuk menonjolkan dirinya. Sehingga, manakala ada seorang tamu asing datang ia tak bisa membedakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Ini memaksanya bertanya yang mana Rasulullah.

Bayangkan, seorang tokoh publik kelas dunia-akhirat sulit dikenali lantaran kesederhanaan dan ketawadhuannya. Memilih hidup sederhana tidak identik dengan hidup miskin, atau memerosokkannya dalam kemiskinan, sebagaimana tecermin dalam hadis di atas. Sementara itu, di kalangan sahabat kita mengenal Mush'ab bin Umair.

Pemuda ini kaya raya, tampil trendi, dan serbamewah namun ketika tersibghah dengan nilai-nilai Islam, ia menjadi pemuda yang sederhana. Demikian Islam menginspirasi umatnya, yakni sederhana dalam berbagai hal, mulai dari cara berpakaian, bertempat tinggal, berkendaraan, dan sebagainya.

Bukan sebaliknya, bergaya hidup secara berlebih-lebihan, glamour, boros, dan bermegah-megahan. Allah berfirman, "Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (al-A'raf: 31).

Mengapa demikian, karena terbukti gaya hidup mewah, berlebih-lebihan, konsumtif, dan boros, seringkali menyeret pelakunya untuk melakukan hal apa pun demi memenuhi segenap nafsu dan ambisinya, serta memuaskan gengsinya. Entah dengan cara korupsi, mencuri, menipu, dan tindakan negatif lainnya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Redaktur: Siwi Tri Puji B

Sumber

Menyeimbangkan Hidup

Oleh: Jauhar Ridloni Marzuq

ilustrasi - google.co.id

Dikisahkan oleh Ibnu Sa’ad bahwa suatu hari istri Utsman bin Madz’un datang kepada istri Rasulullah dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Istri Rasulullah pun berkata kepadanya, “Kenapa kamu terlihat seperti ini, bukankah tidak ada orang Quraisy yang lebih kaya daripada suamimu?” Istri Utsman bin Madz’un menjawab, “Saat ini keadaan itu sudah tak tersisa lagi! Ketika malam hari dia (Utsman bin Madz’un) menghabiskannya dengan shalat malam, sedangkan siangnya dia selalu berpuasa.”

Tak lama setelah itu, Rasulullah SAW masuk ke rumah. Istri Utsman pun menceritakan keadaan ini kepada beliau. Rasulullah kemudian menemui Utsman bin Madz’un lalu bertanya, “Wahai Ustman bin Madz’un, tidakkah kamu menjadikanku sebagai contoh?”

“Ada apa wahai Rasulullah, sehingga engkau berkata demikian?” ujar Utsman balik bertanya.

“Apakah kamu selalu puasa pada siang hari dan menghabiskan malammu dengan shalat malam?” Rasul kembali bertanya.

“Iya, saya sungguh melakukannya, wahai Rasulullah,” jawab Utsman.

“Jangan kamu lakukan itu,” sabda Nabi kepadanya. “Sesungguhnya matamu memilki hak atasmu, tubuhmu memiliki hak atasmu dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka shalatlah dan tidurlah. Dan puasalah lalu berbukalah.” (HR Bukhari).

Riwayat di atas adalah salah satu keistimewaan ajaran Islam yang menganjurkan kepada Kaum Muslim untuk selalu hidup seimbang. Seimbang antara ibadah dan bekerja, seimbang antara ruh dan raga, seimbang antara akal dan hati, dan lain sebagainya. Islam melarang umatnya untuk berlebihan dalam membatasi gerak hidup (tafrith) sehingga mengharamkan kenikmatan-kenikmtan yang Allah halalkan.

Atau sebaliknya, terlalu longgar (ifrath) seakan-akan semua hukum adalah halal, sehingga berlaku sekehendak hatinya dan membolehkan segala cara.

Islam adalah agama fitrah, dan fitrah manusia selalu menginginkan keseimbangan. Dengan keseimbanganlah alam alam raya ini selalu berjalan teratur. “Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?..” (Al-Mulk [67]: 3). Keseimbangan inilah yang menjadi ruh dan inti ajaran Islam.

Dalam Surah Al-Jumuah ayat 9-10 Allah menggambarkan bagaimana seharusnya seorang Muslim menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Orang-orang Mukmin, dalam ayat tersbut, adalah mereka yang ketika telah tiba saatnya untuk beribadah, akan bergegas mengingat Allah dengan meninggalkan jual beli dan segala rutinitas dunia. Namun setelah usai menjalankan ibadah, mereka kembali menyebar ke penjuru bumi untuk mencari karunia dan rizki-Nya dengan tidak lupa untuk selalu berdzikir kepada-Nya.

Mereka bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, namun tidak pernah melupakan kehidupan dunia yang saat ini mereka jalani. Kepala mereka menengadahkan ke langit, namun kaki mereka tetap berpijak di bumi.

Dengan itulah Allah menjamin keberuntungan bagi mereka. Beruntung dalam hidup di dunia dengan mendapatkan karunia dan limpahan rizki-Nya dan kelak di akhirat mendapatkan ganjaran nikmatnya syurga. Wallau a’la wa a’lam.

*) Mahasiswa Jurusan Tafsir dan Ulumul Quran Universitas al-Azhar Kairo.

Sumber