Proses
pemeriksaan fisioterapi pada kasus Bell’s palsy dimulai dari anamnesis,
diikuti dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan gerak, kemampuan fungsional dan
pemeriksaan khusus.
1.
Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan pada kondisi Bell’s palsy ini menggunakan
metode autoanamnesis (dengan pasien sendiri) pada tanggal 20 Juni 2011.
Data-data yang terapis dapatkan sebagai berikut:
a.
Identitas
pasien
Data yang dioeroleh
adalah (1) nama : Ny Sutarti, (2) umur : 59 tahun, (3) agama : Islam, (4) pekerjaan : (5) alamat : Bekonang, Sukoharjo.
b.
Keluhan
utama
Keluhan utama yang
dirasakan pasien adalah adanya rasa tebal pada sisi wajah sebelah kiri
serta mulut pasien mencong kesisi kanan.
c.
Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh wajah sebelah kirinya tiba-tiba
terasa tebal-tebal dan
mulutnya mencong ke sisi kanan saat bangun
tidur sejak tanggal 25 April 2011. Pasien tidak mengetahui apa penyebabnya namun pasien
mengaku sehari sebelumnya kepala sebelak kiri terasa pusing dan belakang
telinga sebelah kiri terasa sakit. Pasien
kadang-kadang juga merasakan adanya nyeri di belakang telinga, terutama jika
terkena angin atau suhu dingin secara langsung dan nyeri tersebut akan
berkurang jika pasien berisirahat. Kemudian, pada tanggal 5 Mei 2011 pasien berobat ke RSU dr. Moewardi. Di sana pasien
akhirnya di rujuk untuk menjalani tindakan fisioterapi dua kali seminggu sampai sekarang dan telah
mendapat banyak kemajuan yaitu rasa tebal pada wajah sebelah kiri telah banyak
berkurang dan rasa sakit di belakang telinga sebelah kiri sudah tidak ada.
d.
Riwayat
penyakit dahulu
Pasien mengakui adanya riwayat hipertensi, namun
tidak ada riwayat stroke
dan DM, pasien juga mengaku sebelumnya belum pernah mengalami sakit seperti ini.
e.
Riwayat
penyakit penyerta
Penyakit yang
menyertai saat ini adalah hipertensi.
f.
Riwayat
pribadi
Pasien merupakan seorang ibu rumahtangga yang membantu anaknya membuat batu bata, di mana pasien
membantu dalam hal memindahkan batu bata yang baru dicetak ketempat pembakaran.
g.
Riwayat
keluarga
Pasien mengaku dalam keluarganya belum pernah ada yang mengalami sakit
seperti ini sebelumnya.
2.
Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi: pemeriksaan tanda-tanda vital,
inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerak, dan kemampuan fungsional.
a.
Tanda-tanda
vital
Pemeriksaan tanda-tanda vital yang dilakukan meliputi (1) tekanan darah : 150/80 mmHg, (2)
denyut nadi : 66 x/menit, (3) pernafasan : 20
x/menit.
b.
Inspeksi
Inspeksi dilakukan pasien baik saat diam atau bergerak. Inspeksi diam
diketahui, wajah pasien tidak simetris, mulut tertarik atau mencong ke sisi kanan, mata kiri lebih banyak mengeluarkan air mata
dibanding mata kanan. Sedangkan untuk
inspeksi dinamis didapatkan hasil kerutan dahi tampak simetris, pasien mampu menutup
mata kirinya dengan rapat, saat bersiul mulut dapat menutup dengan rapat, saat
tersenyum mulut pasien tidak
simetris.





