Monday, October 29, 2012

Penyakit diabetes dan cara mengobatinya

Diabetes mellitus atau lebih dikenal dengan sebutan “penyakit kencing manis” di masyarakat merupakan salah satu penyakit “abadi” yang terus bermunculan penderitanya dalam kehidupan sehari-hari. Penyakit ini memberikan dampak yang luas bagi pasiennya, tidak hanya karena mengganggu kesehatan semata akibat berbagai komplikasi yang ditimbulkan, namun juga mempengaruhi kehidupan sosial. Faktanya, prevalensi diabetes mellitus secara global terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995, prevalensi diabetes mellitus di dunia mencapai 4,0% dan diperkirakan akan meningkat menjadi 5,4% pada tahun 2025. Sedangkan di negara berkembang (termasuk Indonesia), penderita diabetes mellitus pada tahun 1995 telah mencapai 84 juta pasien dan diprediksi akan melonjak hingga 228 juta pasien pada tahun 2025 nanti.2 
 
Definisi dan Klasifikasi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan hiperglikemia kronik sebagai kelainan utamanya akibat adanya insufisiensi kerja insulin.4
Berdasarkan etiologinya, American Diabetes Association (2005) mengklasifikasikan diabetes mellitus menjadi empat tipe, yaitu:1,2
I.  Diabetes Mellitus Tipe 1
(destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut)
A.  Melalui proses imunologik
B.  Idiopatik
II.  Diabetes Mellitus Tipe 2
(bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin)
III.    Diabetes Mellitus Tipe Lain
  • Defek genetik fungsi sel beta
  • Defek genetik kerja insulin
  • Penyakit eksokrin pankreas
  • Endokrinopati
  • Karena obat/zat kimia
  • Infeksi
  • Imunologi (jarang)
  • Sindroma genetik lain
  • Diabetes Kehamilan (Gestasional)

Manifestasi Klinis Diabetes Mellitus
Keluhan klasik dari diabetes mellitus meliputi empat hal, yaitu: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Keluhan lain yang juga dapat ditemukan pada pasien diabetes mellitus antara lain pasien merasakan lemah, gatal, kesemutan, pandangan kabur, serta adanya disfungsi ereksi pada pria ataupun pruritus vulva pada wanita.1,2   

Diagnosis Diabetes Mellitus
Dalam menegakkan diagnosis diabetes mellitus, patokan yang dijadikan acuan tentu saja adalah pemeriksaan glukosa darah. Dalam hal ini dikenal adanya istilah pemeriksaan penyaring dan uji diagnostik diabetes mellitus.1,2
 
Pemeriksaan Penyaring

Pemeriksaan penyaring ditujukan untuk mengidentifikasi kelompok yang tidak menunjukkan gejala diabetes mellitus tetapi memiliki resiko diabetes mellitus, yaitu: 1) Umur > 45 tahun, 2) Berat badan lebih (dengan kriteria: BBR > 110% BB idaman atau IMT >23 kg/m2), 3) Hipertensi (≥ 140/90 mmHg), 4) Terdapat riwayat diabetes mellitus dalam garis keturunan, 5) terdapat riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi > 4000 gram, 6) Kadar kolesterol HDL ≤ 35 mg/dl dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dl.
 
Pemeriksaan penyaring dilakukan dengan memeriksa kadar gula darah sewaktu (GDS) atau gula darah puasa (GDP), yang selanjutnya dapat dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar. Dari pemeriksaan GDS, disebut diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDS ≥ 200 mg/dl dari sampel plasma vena ataupun darah kapiler. Sedangkan pada pemeriksaan GDP, dikatakan sebagai diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDP ≥ 126 mg/dl dari sampel plasma vena atau ≥ 110 mg/dl dari sampel darah kapiler.
Uji Diagnostik
Uji diagnostik dikerjakan pada kelompok yang menunjukkan gejala atau tanda diabetes mellitus. Bagi yang mengalami gejala khas diabetes mellitus, kadar GDS ≥ 200 mg/dl atau GDP ≥ 126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus. Sedangkan pada pasien yang tidak memperlihatkan gejala khas diabetes mellitus, apabila ditemukan kadar GDS atau GDP yang abnormal maka harus dilakukan pemeriksaan ulang GDS/GDP atau bila perlu dikonfirmasi pula dengan TTGO untuk mendapatkan sekali lagi angka abnormal yang merupakan kriteria diagnosis diabetes mellitus (GDP ≥ 126 mg/dl, GDS ≥ 200 mg/dl pada hari yang lain, atau TTGO ≥ 200 mg/dl).  
Pengobatan Diabetes Mellitus
Pengobatan diabetes mellitus sangat penting dalam menjaga kestabilan kadar gula darah pasien guna mencegah terjadinya berbagai komplikasi akut dan kronik. Hal tersebut dilakukan melalui empat pilar utama pengelolaan diabetes mellitus, yaitu:2,3
  1. Edukasi
    Berupa pendidikan dan latihan tentang pengetahuan pengelolaan penyakit diabetes mellitus bagi pasien dan keluarganya.
  2. Perencanaan makan
    Bertujuan untuk mempertahankan kadar normal glukosa darah dan lipid, nutrisi yang optimal, serta mencapai/mempertahankan berat badan ideal. Adapun komposisi makanan yang dianjurkan bagi pasien adalah sebagai berikut: karbohidrat 60-70%, lemak 20-25%, dan protein 10-15%.
  3. Latihan jasmani
    Berupa kegiatan jasmani sehari-hari (berjalan kaki ke pasar, berkebun, dan lain-lain) dan latihan jasmani teratur (3-4x/minggu selama ± 30 menit).
  4. Intervensi farmakologis
    Diberikan apabila target kadar glukosa darah belum bisa dicapai dengan perencanaan makan dan latihan jasmani. Intervensi farmakologis dapat berupa  Obat hipoglikemik oral/OHO (insulin sensitizing, insulin secretagogue, penghambat alfa glukosidase) dan Insulin, diberikan pada kondisi berikut:
  • Penurunan berat badan yang cepat
  • Hiperglikemia berat disertai ketosis
  • Ketoasidosis diabetik
  • Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
  • Hiperglikemia dengan asidosis laktat
  • Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
  • Stress berat (infeksi sistemik, operasi besar, AMI, stroke)
  • Diabetes mellitus gestasional yang tak terkendali dengan perencanaan makanan,
  • Gangguan fungsi ginjal/hati yang berat
  • Kontraindikasi atau alergi OHO          
Daftar Pustaka

  1. Gustaviani, R., 2006. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1879.   
  2. Kurniawan, A., 2005. Current Review of Diabetes Mellitus. Kumpulan Makalah One Day Symposium an Update on the Management of Diabetes Mellitus, Panitia Pelantikan Dokter Baru Periode 151 Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Solo, 5.
  3. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2005. Diabetes Melitus. Standar Pelayanan Medik, PB PAPDI, Jakarta, 7.
  4. Soegondo, S. 2011. Diagnosis, Klasifikasi, dan Patofisiologi Diabetes Mellitus. Kumpulan Makalah Update Comprehensive Management of Diabetes Mellitus, Panitia Seminar Ilmiah Nasional Continuing Medical Education Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 11.

------------------------------------
Oleh: dr. Dimas Satya Hendarta
Staff Edukatif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Power By medicine.uii.ac.id

Pengertian demam tifoid

 Saya coba untuk sharing tentang demam tifoid yang ber narasumber di medicine.uii.ac.id,semoga artikel yang saya sebarkan lagi bermanfaat untuk pengunjung ...jangan lupa coment nya??

Salah satu penyakit infeksi sistemik akut yang banyak dijumpai di berbagai belahan dunia hingga saat ini adalah demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella typhi. Di Indonesia, demam tifoid lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah “penyakit tifus”.
Dalam empat dekade terakhir, demam tifoid telah menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Diperkirakan angka kejadian penyakit ini mencapai 13-17 juta kasus di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 jiwa per tahun. Daerah endemik demam tifoid tersebar di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga Oceania. Sebagain besar kasus (80%) ditemukan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Laos, Nepal, Pakistan, India, Vietnam, dan termasuk Indonesia. Indonesia merupakan salah satu wilayah endemis demam tifoid dengan mayoritas angka kejadian terjadi pada kelompok umur 3-19 tahun (91% kasus).1,3,4 
Munculnya daerah endemik demam tifoid dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, peningkatan urbanisasi, rendahnya kualitas pelayanan kesehatan, kurangnya suplai air, buruknya sanitasi, dan tingkat resistensi antibiotik yang sensitif untuk bakteri Salmonella typhi, seperti kloramfenikol, ampisilin, trimetoprim, dan ciprofloxcacin.1

Penularan Salmonella typhi terutama terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Selain itu, transmisi Salmonella typhi juga dapat terjadi secara transplasental dari ibu hamil ke bayinya.4

Manifestasi Klinik dan Temuan Fisik 
Masa inkubasi Salmonella typhi antara 3-21 hari, tergantung dari status kesehatan dan kekebalan tubuh penderita. Pada fase awal penyakit, penderita demam tifoid selalu menderita demam dan banyak yang melaporkan bahwa demam terasa lebih tinggi saat sore atau malam hari dibandingkan pagi harinya. Ada juga yang menyebut karakteristik demam pada penyakit ini dengan istilah ”step ladder temperature chart”, yang ditandai dengan demam yang naik bertahap tiap hari, mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama kemudian bertahan tinggi, dan selanjutnya akan turun perlahan pada minggu keempat bila tidak terdapat fokus infeksi.1,4

Gejala lain yang dapat menyertai demam tifoid adalah  malaise, pusing, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri perut, konstipasi, diare, myalgia, hingga delirium dan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan adanya lidah kotor (tampak putih di bagian tengah dan kemerahan di tepi dan ujung), hepatomegali, splenomegali, distensi abdominal, tenderness, bradikardia relatif, hingga ruam makulopapular berwarna merah muda, berdiameter 2-3 mm yang disebut dengan rose spot.2,4
Penegakan Diagnosis
Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan adanya penurunan kadar hemoglobin, trombositopenia, kenaikan LED, aneosinofilia, limfopenia, leukopenia, leukosit normal, hingga leukositosis.5  
Gold standard untuk menegakkan diagnosis demam tifoid adalah pemeriksaan kultur darah (biakan empedu) untuk Salmonella typhi. Pemeriksaan kultur darah biasanya akan memberikan hasil positif pada minggu pertama penyakit. Hal ini bahkan dapat ditemukan pada 80% pasien yang tidak diobati antibiotik. Pemeriksaan lain untuk demam tifoid adalah uji serologi Widal dan deteksi antibodi IgM Salmonella typhi dalam serum. 1,2,4
Uji serologi widal mendeteksi adanya antibodi aglutinasi terhadap antigen O yang berasal dari somatik dan antigen H yang berasal dari flagella Salmonella typhi. Diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan apabila ditemukan titer O aglutinin sekali periksa mencapai ≥ 1/200 atau terdapat kenaikan 4 kali pada titer sepasang. Apabila hasil tes widal menunjukkan hasil negatif, maka hal tersebut tidak menyingkirkan kemungkinan diagnosis demam tifoid.4,5  

Penatalaksanaan
Hingga saat ini, kloramfenikol masih menjadi drug of choice bagi pengobatan demam tifoid di Indonesia. Dosis yang diberikan pada pasien dewasa adalah 4 x 500 mg hingga 7 hari bebas demam. Alternatif lain selain kloramfenikol, yaitu: tiamfenikol (4 x 500 mg), kotrimoksazol (2 x 2 tablet untuk 2 minggu), ampisilin atau amoksisilin (50-150 mg/kgBB selama 2 minggu), golongan sefalosporin generasi III (contoh: seftriakson 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc selama ½ jam per infus sekali sehari untuk 3-5 hari), dan golongan fluorokuinolon (contoh: ciprofloxcacin 2 x 500 mg/hari untuk 6 hari).5
Di Amerika Serikat, pemberian regimen ciprofloxcacin atau ceftriaxone menjadi first line bagi infeksi Salmonella typhi yang resisten terhadap kloramfenikol, ampisilin, trimethoprim-sulfamethoxazole, streptomycin, sulfonamides, atau tetrasiklin.1
Pada pasien anak, kloramfenikol diberikan dengan dosis 100 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian selama 10-14 hari. Regimen lain yang dapat diberikan pada anak, yaitu: ampisilin (200 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian IV), amoksisilin (100 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 kali pemberian PO), trimethoprim (10 mg/kg/hari) atau sulfametoksazol (50 mg/kg/hari) terbagi dalam 2 dosis, seftriakson 100 mg/kg/hari terbagi dalam 1 atau 2 dosis (maksimal 4 gram/hari) untuk 5-7 hari, dan sefotaksim 150-200 mg/kg/hari terbagi dalam 3-4 dosis.4

Pemberian steroid diindikasikan pada kasus toksik tifoid (disertai gangguan kesadaran dengan atau tanpa kelainan neurologis dan hasil pemeriksaan CSF dalam batas normal) atau pasien yang mengalami renjatan septik. Regimen yang dapat diberikan adalah deksamethasone dengan dosis 3x5 mg. Sedangkan pada pasien anak dapat digunakan deksametashone IV dengan dosis 3 mg/kg dalam 30 menit sebagai dosis awal yang dilanjutkan dengan 1 mg/kg tiap 6 jam hingga 48 jam. Pengobatan lainnya bersifat simtomatik.4,5      
Komplikasi
Salah satu komplikasi demam tifoid yang dapat terjadi pada pasien yang tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat adalah perforasi dan perdarahan usus halus. Komplikasi ini sering terjadi pada minggu ketiga yang ditandai dengan suhu tubuh yang turun mendadak, adanya tanda-tanda syok dan perforasi intestinal seperti nyeri abdomen, defance muscular, redup hepar menghilang. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah pneumonia, miokarditis, hingga meningitis.2,4
Pencegahan
Pencegahan infeksi Salmonella typhi dapat dilakukan dengan penerapan pola hidup yang bersih dan sehat. Berbagai hal sederhana  namun efektif dapat mulai dibiasakan sejak dini oleh setiap orang untuk menjaga higientias pribadi dan lingkungan, seperti membiasakan cuci tangan dengan sabun sebelum makan atau menyentuh alat makan/minum, mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi yang sudah dimasak matang, menyimpan makanan dengan benar agar tidak dihinggapi lalat atau terkena debu, memilih tempat makan yang bersih dan memiliki sarana air memadai, membiasakan buang air di kamar mandi, serta mengatur pembuangan sampah agar tidak mencemari lingkungan.

Referensi

  1. Cammie F. Lesser, Samuel I. Miller, 2005. Salmonellosis. Harrison’s Principles of Internal Medicine (16th ed), 897-900.
  2. Chambers, H.F., 2006. Infectious Disease: Bacterial and Chlamydial. Current Medical Diagnosis and Treatment (45th ed), 1425-1426.
  3. Brusch, J.L., 2010, Typhoid Fever. http://emedicine.medscape.com/article/231135-overview.
  4. Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2008, Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis (2nd ed), Badan Penerbit IDAI, Jakarta.
  5. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006, Standar Pelayanan Medik, PB PABDI, Jakarta.
------------------------------------
Oleh: dr. Dimas Satya Hendarta
Staff Edukatif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia  

Sunday, October 28, 2012

Konsultasi kesehatan

SAYA BUKAN MANUSIA SEMPURNA SEPERTI ANDA
SAYA HANYA MANUSIA BIASA,YANG HANYA BISA BELAJAR DAN TERUS BELAJAR

"UNTUK ANDA YANG MENDAPAT MASALAH DI KESEHATAN TUBUH KHUSUSNYA WANITA
SILAHKAN BERKOMENTAR DI POSTING INI,SIAPA TAU ADA SALAH SATU DARI KITA YANG BISA MEMBANTU"



MAJU TERUS WANITA INDONESIA



ANA TARDIANA AND IKA KARTIKA
                     (OWNER)

Waktu normal keluar haid

Haid terkadang datang tidak teratur pada seorang wanita,dan membuat bingung dan cemas "kenapa saya tidak haid" banyak pertanyaan yang terdapat pada benak wanita tentang datangnya haid
Untuk yang masih merasa bingung tentang jadawal normal datangnya haid pada anda ,saya akan mencoba sedikit sharing artkel tentang kendala di atas......
selamat membaca   !!!!!!!
(yang pengen menyebar luaskan artikel di bawah ini "jangan lupa memberi tautan/link ke blog ini)

Siklus menstruasi normalnya berkisar antara 21-35 hari dan berlangsung selama 3-7 hari.   Adapun siklus menstruasi tidak teratur umumnya terjadi akibat gangguan keseimbangan hormonal, yang dapat disebabkan oleh beberapa keadaan, antara lain:
  • Pada 3-5 tahun pertama setelah haid pertama
  • Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexia nervosa, bulimia)
  • Pasien dengan indeks massa tubuh (IMT) > 30 (obesitas)
  • Malnutrisi (kurang gizi)
  • Stres psikologis
  • Atlet
  • Kekurangan vitamin K
  • Penggunaan obat-obatan tertentu
  • Kelainan pembekuan darah
  • Gangguan hormon tiroid
  • Dan lain sebagainya
 


Selain gangguan hormonal, dapat juga terjadi gangguan organ kandungan. Untuk memastikannya, dapat dilakukan pemeriksaan USG kandungan.
Untuk mengatasinya, cobalah beberapa tips dibawah:

  • Hindari Aktifitas Fisik yang Berat
Terlalu lelah adalah salah satu penyebab utama terlambatnya proses siklus haid. Hal ini karena tubuh membutuhkan sejumlah energi untuk meneruskan proses menstruasi secara teratur. Ketika jumlah energi habis karena adanya aktifitas yang berat, maka haid tidak datang tepat pada waktunya. Dan ketika siklus tidak lancar, maka sindrom pra-menstruasi datang mengancam. Untuk itu hindarilah kelelahan berlebihan.
Tubuh setiap manusia memiliki ambang lelah yang berbeda-beda, tergantung dari ketahanan stamina tubuh seseorang. Stamina dapat dilatih dengan berolahraga secara teratur Untuk memulai, cobalah jogging selama 15 menit dahulu, kemudian dilatih untuk menambah waktu minimal hingga 30 menit sehari.

  • Hindari Stres
Di atas batang otak manusia, terdapat satu struktur yang disebut hipotalamus. Hipotalamus memiliki beberapa fungsi dan yang terpenting adalah menghubungkan sistem saraf dengan kelenjar endokrin melalui kelenjar hipofisis atau pituitasi. Hipotalamus mengatur berbagai tingkatan hormon, termasuk hormon-hormon reproduksi wanita, yaitu esterogen dan progesteron.
Bila seorang wanita berada pada tekanan mental ekstrim seperti stres, maka produksi esterogen dan progesteronnya akan terganggu. Ketidakseimbangan ini dapat  menyebabkan siklus haid tidak teratur.
Sama dengan stamina, ambang stres setiap orang juga berbeda- beda tergantung dari ketahanan jiwanya. Ketahanan jiwa berhubungan dengan tubuh yang sehat. Oleh karena itu, dengan melatih tubuh berolahraga teratur, tubuh akan menjadi lebih segar dan memiliki stamina yang baik sehingga tidak mudah terserang stres.

  • Asupan Gizi
Asupan nutrisi tepat untuk kebutuhan gizi tubuh sangat diperlukan. Karena status kualitas dari asupan nutrisi dan gizi mempengaruhi kinerja kelenjar hipotalamus yang memiliki peran mengendalikan kelancaran siklus haid yang ada.


Hindari minuman bersoda, minuman keras apalagi rokok. Mulailah dengan menjaga pola makan yang berkualitas. Yang penting bukan kuantitasnya, tapi kualitas nutrisi yang ada di setiap makanan atau minuman. Mulailah mengonsumsi makanan yang sehat seperti buah-buahan segar, sayur, gandum dan tinggalkan junk food dan makanan berlemak.Hindari juga konsumsi obat-obatan termasuk yang dijual bebas,Hindari merokok, obat-obatan terlarang, dan alkohol

Thursday, October 18, 2012

Cervical root syndrome



Berdasarkan dari hasil evaluasi status klinik Seorang pasien laki-laki, berumur 39 tahun dengan diagnosis medis cervical roots syndrome sinistra. Setelah mendapat obat-obatan neurodex, ranitidine, dan penanganan fisioterapi berupa MWD, TENS, serta exercise selama 3 x pertemuan. Kini sudah terdapat pengurangan nyeri,peningkatan LGS, peningkatan kekuatan otot..
  1. TENS Konvesional dalam pengurangan nyeri.
Pada kasus ini pemberian TENS konvensional dengan dosis : durasi 150 ms, frekuensi 80 Hz, dengan arus kontinu serta intensitasnya normalis selama 15 menit selama 3 x terapi  didapatkan hasil :

Bell's palsy (bibir perot)


Proses pemeriksaan fisioterapi pada kasus Bell’s palsy dimulai dari anamnesis, diikuti dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan gerak, kemampuan fungsional dan pemeriksaan khusus.
1.    Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan pada kondisi Bell’s palsy ini menggunakan metode autoanamnesis (dengan pasien sendiri) pada tanggal 20 Juni 2011. Data-data yang terapis dapatkan sebagai berikut:
a.       Identitas pasien
Data yang dioeroleh adalah (1) nama : Ny Sutarti, (2) umur : 59 tahun, (3) agama : Islam, (4) pekerjaan : (5) alamat : Bekonang, Sukoharjo.
b.      Keluhan utama
Keluhan utama yang dirasakan pasien adalah adanya rasa tebal pada sisi wajah sebelah kiri serta mulut pasien mencong kesisi kanan.
c.     Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh wajah sebelah kirinya tiba-tiba terasa tebal-tebal dan mulutnya mencong ke sisi kanan saat bangun tidur sejak tanggal 25 April 2011. Pasien tidak mengetahui apa penyebabnya namun pasien mengaku sehari sebelumnya kepala sebelak kiri terasa pusing dan belakang telinga sebelah kiri terasa sakit. Pasien kadang-kadang juga merasakan adanya nyeri di belakang telinga, terutama jika terkena angin atau suhu dingin secara langsung dan nyeri tersebut akan berkurang jika pasien berisirahat. Kemudian, pada tanggal 5 Mei 2011 pasien berobat ke RSU dr. Moewardi. Di sana pasien akhirnya di rujuk untuk menjalani tindakan fisioterapi dua kali seminggu sampai sekarang dan telah mendapat banyak kemajuan yaitu rasa tebal pada wajah sebelah kiri telah banyak berkurang dan rasa sakit di belakang telinga sebelah kiri sudah tidak ada.
d.      Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengakui adanya riwayat hipertensi, namun tidak ada riwayat stroke dan DM, pasien juga mengaku sebelumnya belum pernah mengalami sakit seperti ini.
e.       Riwayat penyakit penyerta
Penyakit yang menyertai saat ini adalah hipertensi.
f.       Riwayat pribadi
Pasien merupakan seorang ibu rumahtangga yang membantu anaknya membuat batu bata, di mana pasien membantu dalam hal memindahkan batu bata yang baru dicetak ketempat pembakaran.

g.      Riwayat keluarga
Pasien mengaku dalam keluarganya belum pernah ada yang mengalami sakit seperti ini sebelumnya.
2.    Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi: pemeriksaan tanda-tanda vital, inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerak, dan kemampuan fungsional.
a.    Tanda-tanda vital
Pemeriksaan tanda-tanda vital yang dilakukan meliputi (1) tekanan darah : 150/80 mmHg, (2) denyut nadi : 66 x/menit, (3) pernafasan : 20 x/menit.
b.    Inspeksi
Inspeksi dilakukan pasien baik saat diam atau bergerak. Inspeksi diam diketahui, wajah pasien tidak simetris, mulut tertarik atau mencong ke sisi kanan, mata kiri lebih banyak mengeluarkan air mata dibanding mata kanan. Sedangkan untuk inspeksi dinamis didapatkan hasil kerutan dahi tampak simetris, pasien mampu menutup mata kirinya dengan rapat, saat bersiul mulut dapat menutup dengan rapat, saat tersenyum mulut pasien tidak simetris.

Tuesday, October 16, 2012

Tak Puas Untuk Kesuksesan

Oleh Mochamad Yusuf

ilustrasi - quantumfeeling.blogspot.com

Rasa tidak puas itu bisa positif atau negatif, karena faktor yang melekat pada seorang manusia. Namun seharusnya ditumbuhkan dan disalurkan dalam bentuk yang positif, konstruktif dan obyektif.

Puas adalah rasa dan yang namanya rasa itu sangat relatif dan subyektif. Satu hal sama bisa menimbulkan perasaan berbeda pada dua orang yang berbeda.

Karena itu penilaian kepuasan itu tidak bisa dipukul rata. Kepuasan seseorang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Antara lain adalah faktor sosial ekonomi dan faktor kepribadian yang melekat. Semua menjadi warna hidup seseorang karena pembawaan ataupun karena pengaruh lingkungan maupun karena faktor latar belakang pendidikan.

Ada karyawan yang telah merasa puas dengan kondisi seperti yang saat ini dirasakan. Tetapi mungkin ada banyak karyawan yang tidak puas dengan situasi dan kondisi itu. Sebagai contoh kita ambil soal lingkungan kerja termasuk di dalamnya masalah sistem, prosedur, fasilitas, peraturan, kinerja-kinerja yang telah dicapai kondisi-kondisi fisik, lingkungan sosial maupun mental. Semua itu dapat menimbulkan interprestasi dan rasa yang berbeda.

Ada karyawan yang merasa sangat puas, ada yang cukup puas ada yang tidak puas. Hal ini adalah lumrah dan menusiawi dan mengungkapkan rasa adalah hak asasi manusia. Sejauh ungkapan rasa (puas atau tidak puas) itu tidak mengganggu ketertiban dan kepentingan umum, maka tidak ada yang berhak untuk melarang.

Antara objek kepuasan dan subjek kepuasan memang tidak selalu bisa klop. Karena setiap orang menilai, memandang sesuatu dari sudut atau titik pandang yang berbeda.

Rasa tidak puas itu bisa positif. Karenanya dinamika rasa tidak puas yang hidup di lingkungan, tidak bijak kalau dipupus begitu saja. Rasa tidak puas itu perlu ditumbuhkan dan disalurkan dalam bentuk manifestasi yang positif, konstruktif dan obyektif.

Adanya kemajuan dalam satu organisasi adalah karena timbulnya rasa tidak puas, rasa ingin lebih baik, rasa untuk lebih maju. Karena itu sebenarnya ketidakpuasan itu adalah energi menuju suatu perubahan. Dan perubahan adalah titik awal dari suatu kemajuan.

Karena itu pupuklah rasa tidak puas itu dan salurkan pada kegiatan, pemikiran yang konstruktif, positif dan beritikad baik.

Sumber