Showing posts with label Arkeologi. Show all posts
Showing posts with label Arkeologi. Show all posts

Sunday, October 14, 2012

Warga Kediri Temukan Batu Bata Mirip Rumah Zaman Majapahit

Foto: Hartono

Kediri - Warga Desa Asmorobangun Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri, digegerkan dengan penemuan situs bangunan kuno yang terbuat dari tatanan batu bata.

Bangunan kuno yang masih diketahui dua sudut ujung pondasinya itu diperkirakan berukuran 4x6 meter dan diyakini warga sebagai peninggalan zaman Kerajaan Majapahit sebagai tempat pemujaan.

Pertama kali bangunan kuno tersebut ditemukan Samiran (40), penggali pasir warga Sidorejo Desa Asmorobangun I Kecamatan Puncu. Saat itu saksi kaget saat mencangkul mengenai ujung batu bata yang tertata rapi.

Saat galian semakin diperluas, ternyata tumpukan batu bata itu berwujud menyerupai bentuk pondasi rumah. Takut terjadi masalah, kemudian saksi melapor ke perangkat desa setempat.

"Saat saya mencangkul tiba-tiba membentur benda keras dan setelah pecah ternyata batu bata. Begitu saya gali lebih dalam baru kelihatan tatanan menyerupai bangunan," kata Samiran kepada detiksurabaya.com, Sabtu (29/9/2012) di lokasi penemuan.

Kabar penemuan bangunan kuno tersebut kemudian didengar Polsek Puncu. Selang beberapa saat, petugas kepolisian mendatangi lokasi penemuan dan meminta agar penggalian pasir dihentikan.

"Sebenarnya bangunan kuno ini ditemukan sejak beberpa hari lalu. Namun baru sekarang hal tersebut diketahui oleh pihak kepolisian," ujar Keces (50), warga sekitar.

Anehnya lagi, dikabarkan ada seorang warga yang mencoba membawa pulang salah satu batu bata tersebut ke rumahnya. Namun sial, ternyata cucu orang yang membawa batu bata kuno tersebut tiba-tiba kejang seperti kesurupan.

Begitu batu bata tersebut dikembalikan ke tempat asalnya, barulah cucu warga tersebut bisa kembali sembuh dari sakitnya dan normal seperti sedia kala. Karena dianggap sebagai tempat sakral, kemudian beberapa warga ada yang memberi sesajen dan melakukan ritual kejawen di lokasi penemuan situs. (fat/fat)

Sumber

Punden Berundak Ditemukan di Demak

KOMPAS.com / ARI WIDODO 
Warga melihat lokasi penemuan Punden Berundak di Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam, Demak, Senin (8/10/2012)

DEMAK, KOMPAS.com - Sebuah bangunan yang tersusun tumpukan batu bata bertingkat mirip Punden Berundak, yang diduga merupakan salah satu situs bersejarah, ditemukan di Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam, Demak.

Meski belum jelas kepastiannya, penemuan benda yang diduga bersejarah di areal persawahan tersebut, menggemparkan warga. Kepala Desa Pilangrejo, Tugiman mengatakan, batu bata bertingkat di areal pesawahan milik Sutarjan, pertama kali ditemukan oleh Sugiyanto pada hari Jumat (5/10/2012) lalu.

Saat itu, Sugiyanto hendak mengambil tanah di sawah milik Sutarjan, untuk keperluan menguruk pekarangan rumahnya. Ketika mengayunkan cangkulnya, ternyata ujung cangkul membentur benda keras, karena penasaran ia pun menggalinya lebih dalam lagi, dan ternyata menemukan tumpukan batu bata.

"Setelah digali satu meter, ternyata ditemukan tumpukan batu bata yang tersusun rapi mirip punden berundak." Terang Tugiman , Senin (8/10/2012).

Mendengar adanya penemuan itu, warga berduyun-duyun datang ke lokasi untuk melihatnya. Bahkan ada sebagian warga yang mengambilnya untuk dibawa pulang.

Sebagai antisipasi agar situs bangunan tidak rusak dan berubah bentuk, kini pemerintah desa setempat memagari lokasi penemuan itu dan meminta warga menghentikan penggalian.

Selama ini, di Desa Pilangrejo belum pernah ditemukan benda yang mirip dengan penemuan batu bata ini. Namun pada tahun 2008 lalu, salah seorang warga pernah menemukan guci kuno pada kedalaman tiga meter saat warga membuat sumur di lokasi yang tidak jauh dari penemuan punden berundak ini.

"Menurut keterangan para sesepuh desa, dari jaman nenek moyang hingga saat ini, belum pernah mendengar maupun ada warga yang mendirikan bangunan di tempat penemuan pundek berundak ini," jelas Tugiman.

Sementara itu, usai meninjau lokasi, Ahmad Widodo, staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Demak, mengaku tidak berani memastikan apakah penemuan tumpukan batu bata di Desa pilangrejo ini merupakan peninggalan sejarah. Ia berkilah, yang berhak menentukannya adalah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng.

Namun, jika melihat bentuknya, panjang dan tebal batu bata, ciri-cirinya persis dengan batu bata yang ada di Trowulan, Jawa Timur. "Batu bata ini tebalnya sekitar 7-10 cm, diperkirakan ada sebelum jaman kerajaan Demak, atau sebelum abad 15," kata Ahmad Widodo.

Sumber

Misterius! Batu Tegak Mirip Gunung Padang Ditemukan di Trowulan


Jakarta - Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia 2 yang melibatkan arkeolog dari UI, UGM, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Udayana di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, menemukan hasil yang mencengangkan. Salah satunya penemuan batu tegak yang mirip dengan yang ada di Gunung Padang.

"Beberapa temuan berhasil diperoleh. Pada saat survei ditemukan 3 batu tegak atau tugu batu di sebelah barat Kolam Segaran. Masyarakat menyebutnya 'Cangcangan Gajah' yang berfungsi sebagai tiang mengikat gajah. Daerah tempat ditemukannya tugu oleh masyarakat disebut Pawon Sewu yang artinya Dapur Seribu. Apakah benar batu itu untuk mengikat gajah? Apakah benar di lokasi itu pernah ada bukti-bukti kegiatan memasak secara massal?" terang arkeolog UI Dr Ali Akbar dalam perbincangan Rabu (10/10/2012).

Eskavasi di situs Trowulan yang dikenal sebagai peninggalan Majapahit itu digelar hingga 29 September lalu. Arkeolog UI memimpin ekskavasi di dekat batu utuh (monolit) setinggi 180 cm dari permukaan tanah. Ini pertama kalinya dilakukan ekskavasi di tugu batu tersebut.

"Beberapa kotak gali telah dibuka. Pada kedalaman 60 cm ditemukan balok-balok batu yang menunjukkan terdapat struktur bangunan di bawah tugu tersebut. Struktur itu membentuk pola segiempat mengelilingi tugu batu. Pada kedalaman 85 cm ditemukan lantai yg terbuat dari hamparan tanah liat. Tugu batu menancap kokoh di lantai tanah liat. Tinggi batu tersebut minimal 265 cm," jelas Ali.

Yang menarik, lanjut Ali, tugu batu itu setelah diamati ternyata batu alami berjenis andesit berbentuk columnar joint. Bentuknya memanjang berpenampangnya segi 5, mirip dengan columnar joint yang ada di situs prasejarah Gunung Padang Cianjur.

"Columnar joint di Gunung Padang digunakan untuk sarana pemujaan roh nenek moyang," imbuhnya.

Lebih lanjut, Ali yang juga memimpin eskavasi di Gunung Padang menjelaskan, Trowulan yang dikenal sebagai situs periode Kerajaan Majapahit sekitar abad ke 14 Masehi terletak di dataran aluvial. Tidak terdapat batuan columnar joint di situs yang banyak ditemukan candi Hindu tersebut.

"Kemungkinan lokasi sumber batu terdekat ada di tenggara dan selatan situs, yakni di jajaran pegunungan Penanggungan, Welirang, dan Anjasmoro dengan jarak sekitar 25 kilometer dari Trowulan. Apa fungsi tugu batu tersebut dan dari mana batu tersebut berasal masih diteliti lebih lanjut," urainya.(ndr/bdh)

Sumber

Pemkab Lahat Gali Ribuan Megalit

google.com 
Ilustrasi

LAHAT, SUMSEL, KOMPAS.com--Pemerintah Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, bekerja sama dengan "Panoramic of Lahat" melakukan penggalian dan pendataan terhadap ribuan megalit yang tersebar di 12 kecamatan dalam wilayah kabupaten itu.

"Untuk mendukung kabupaten itu menjadi salah satu daerah memiliki megalit terbanyak, kami sudah melakukan penggalian dan mendata daerah-daerah terdapat kawasan artefak tersebut, seperti Kecamatan Pajarbulan, Jarai, Muarapayang, Tanjungsakti, Gumay dan beberapa daerah lainnya," kata Bupati Saifudin Aswari Rivai di Lahat, Kamis.

Menurut dia, hingga kini telah terdata sebanyak 1.027 artefak yang tersebar di 40 situs wilayah Kabupaten Lahat berbatasan dengan Kota Pagaralam.

Diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah, sebab perburuan yang dilakukan peninggalan zaman batu besar (megalitikum) ini terus dilakukan.

"Wilayah Lahat yang terdiri atas 23 kecamatan menurut kalangan budayawan disinyalir sebagai daerah situs arkeologi dan purbakala terluas di tanah air, seperti halnya situs Sangirandi Jawa Tengah," ungkap dia.

Lahat memang dari dulu gudangnya benda-benda arkeologi dan purbakala bernilai budaya tinggi dan luhur, daerah dataran tinggi ini memang menyimpan banyak benda-benda arkeologi dan purbakala di tiap jengkal tanahnya.

Asumsinya, kata dia, bisa saja seluruh kawasan Pasmah adalah situs yang sangat luas di Sumsel.

Pernyataan ini sekaligus merespon informasi tentang banyaknya temuan benda-benda arkeologi dan purbakala di Lahat, sehingga mendapat dukungan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk memberikan penghargaan.

"Kita mendapat banyak temuan benda arkeologi di Jarai dan Pajarbulan beberapa bulan lalu, dan penemuan itu tidak bisa dianalisa dengan cepat dan tepat karena Lahat tidak memiliki perangkat yang pas untuk menelitinya seperti BP3 Jambi serta Balai Arkeologi," ujar Aswari.

Menurut dia, memang sudah selayaknya saat ini ada lembaga atau instansi yang menguasai pengurusan benda-benda arkeologi dan cagar budaya seperti kantor perwakilan BP3, Museum atau pos arekologi termasuk cagar budaya yang berada di Lahat.

"Esensinya jauh lebih penting dari keberadaan kelembagaan yang paling dibutuhkan adalah adanya SDM peneliti, pengelola secara profesional benda-benda arkeologi dan cagar budaya yang merupakan sisa-sisa peninggalan masa lalu," ungkapnya.

Ketua Panoramic of Lahat Mario Andramatik ditemui di sela-sela pendataan di Desa Pulau Panggung, Kecamatan Pujar Bulan, Lahat mengatakan, sebenarnya pendataan megalit sudah dilakukan sejak tahun 2008 dengan jumlah temuan mencapai 700 megalit, kemudian hingga 2012 ini sudah mencapai ribuan.

"Jumlah artefak yang ditemukan dalam wilayah 12 kecamatan di Kabupaten Lahat akan terus bertambah, sebab diperkirakan peninggalan telah berusia ribuan tahun itu masih terdapat ribuan tertanam dalam tanah dan belum terdata," ujarnya.

"Kita sangat berterima kasih atas kepedulian PT Bukit Asam (PT BA) membantu pendanaan dalam upaya pendataan ribuan megalit di Lahat," ujarnya.

Menurut dia, hanya satu desa saja di atas lahan sekitar 5 hektare terdapat 76 artefak, mulai dari arca, lumpang, lesung, batu datar, dolmen, menhir, dan tetralit, belum lagi daerah lainnya.

Sementara itu Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3 Jambi) wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel, Akhmad Rivai mengatakan, saat ini sejumlah lokasi penemuan megalit, situs kubur batu dan sejumlah benda bersejarah lainnya sudah dilakukan penelitian dan pendataan termasuk penggalian untuk mengetahui yang lainya.

Hasil penggalian ada juga ditemukan bilik batu yang terdapat lempengan batu dan pahatan arca kepala berbentuk manusia di Desa Talang Pagaragung dan Desa Pajar Bulan Lahat.

Berbagai benda yang ditemukan dari hasil penggalian sudah didata dan diamankan dengan melakukan pemagaran, sebelum dilakukan penelitian lebih lanjut dari BP3 Jambi.

Sumber

Ditemukan Situs Ketawang Gede

Ilustrasi - surabayapost.co.id

SIAPA sangka di belakang restoran cepat saji McDonald Watugong Kelurahan Ketawanggede tersimpan situs purbakala dari zaman pra sejarah. Belasan batu dari era Megalitikum yang menjadi peninggalan langka di Kota Malang dikuak oleh sejarawan dan pakar arkeologi Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono, Rabu (10/10).

Suasana hari masih panas ketika M Dwi Cahyono menjejakkan kaki di halaman depan McDonald Watugong Kelurahan Ketawanggede Dinoyo. Restoran cepat saji itu sendiri tampak sibuk. Bangunan modern yang mengemas makanan franchise dari Amerika Serikat ini tampak disibukkan oleh pelanggan, kebanyakan kalangan mahasiswa.

Tetapi, Dwi, sapaan akrabnya, ternyata tidak masuk ke dalam restoran modern ini. Ia malah ngeloyor ke halaman parkir belakang restoran. Sejenak, Dwi berhenti dan langsung menunjuk sebuah bangunan kecil yang terletak di pojok lahan. “Lihat, itu kelihatan puncak bangunannya yang agak kuno,” seru Dwi kepada awak media.

Ternyata, bangunan berukuran sekitar 5 x 5 meter tersebut mengurung situs Ketawanggede atau sering disebut Watugong oleh warga setempat. Diduga sudah ada sejak zaman perundagian, situs ini berisi antara lain dua buah yoni tanpa lingga, potongan atap miniatur candi, balok batu, pelandas tiang, dan beberapa muka-muka batu yang mirip gong gamelan.

“Ini sudah ditemukan sekitar dua tahun lalu, tapi McDonald sebagai pemilik lahan belum meregistrasikan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang,” terang Dwi kepada wartawan. Menurutnya, situs ini juga belum teregistrasi di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan.

Pria kelahiran Tulungagung 50 tahun lalu ini merinci, situs Ketawanggede adalah tempat tiang untuk bangunan panggung yang menjadi tempat peribadatan yang disucikan. Ia menduga, situs ini merupakan tempat ibadah warga Hindu dari sekte siwa. Melihat letak situs yang berada di lintas persilangan kali Brantas dan kali Metro, Dwi cukup yakin Dinoyo pernah menjadi sentra peradaban masa lalu.

“Ini penting bagi Kota Malang karena tidak banyak peninggalan purbakala yang berhasil ditemukan,” tandasnya. Bahkan, pemegang gelar magister di bidang arkeologi dari Universitas Indonesia ini berani menduga bahwa ada peninggalan purbakala yang lebih besar lagi di bawah situs Ketawanggede.

Jika ingin mengungkap keberadaan situs purbakala yang berharga, maka Dwi mengusulkan penggalian dan ekskavasi di sekitar Situs Ketawanggede. Tapi, untuk saat ini ia hanya berharap pihak Disbudpar Kota Malang dan McDonald bisa berembug untuk konservasi situs purbakala ini.

“Coba keberadaannya jangan inklusif dan mojok seperti ini, bisa saja diberi pintu khusus masuk situs dan kalau perlu diberi papan bahwa disini ada situs purbakala Ketawanggede,” sambung dosen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UM ini. Selain itu, ia berharap ke depan ada riset untuk mengungkap kekayaan sejarah dari situs Ketawanggede.

Dwi menambahkan, dalam UU nomor 11 2010 tentang cagar budaya, disekitar situs tak boleh berdiri bangunan apapun dan harus dibebaskan. Karena itu, secara de yure lahan situs bukan lagi milik McDonald"s.

"Tapi ini kok malah jadi area parkir McDonald"s," katanya. Dwi Cahyono sempat bersitegang dengan marketing McDonald bernama Nita dan Production Manager McDonald bernama Ferry Irawan setelah masuk ke dalam situs Ketawanggede.(fino yudistira)

Sumber

Thursday, September 27, 2012

Arkeolog Temukan Saluran Air Kuno di Kediri

Kompas.com/M. AGUS FAUZUL HAKIM Petugas BP3 Trowulan melakukan pendataan terhadap situs yang diduga saluran air kuno di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (9/9/2012).

KEDIRI, KOMPAS.com — Selama sepekan ini beberapa arkeolog dari balai pelestarian peninggalan purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, melakukan ekskavasi situs di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kediri, Jawa Timur.

Penggalian yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari 13 orang itu menemukan struktur bangunan yang mirip saluran air peninggalan zaman kerajaan.

Struktur yang terbangun dari susunan batu bata merah tersebut mempunyai tinggi 150 cm dan terkubur dalam tanah sedalam 3 hingga 4 meter.

Petugas melakukan penggalian sporadis hingga sebanyak 9 titik dengan radius 1 kilometer untuk mendapatkan alur saluran air tersebut.

"Fungsi utamanya belum jelas karena kita belum dapat gambaran detailnya. Namun, kita asumsikan struktur ini merupakan saluran air karena mempunyai kemiripan dengan saluran air yang ditemukan di Magetan, Ponorogo, maupun Pasuruan," kata Danang Wahyu Utomo, salah seorang arkeolog, saat ditemui di lokasi penggalian situs, Minggu (9/9/2012).

Saluran air tersebut terhubung dari sumber mata air di desa tersebut, yang terdapat pohon beringin besar. Namun sayang, para arkeolog masih belum terpuaskan karena belum menemukan muara salurannya.

Penelusuran hingga 1 kilometer itu hanya menemukan struktur saluran air. "Asumsi saya pasti ada kolamnya. Tapi di mana, ini yang masih terus kita cari," imbuh Danang.

Selain itu juga belum diketahui pasti dari zaman kerajaan apakah saluran itu dibangun. Selama penggalian, petugas tidak menemukan adanya penemuan benda yang spesifik dan simbolis yang dapat menguatkan ciri-ciri sebuah benda dibuat pada masa tertentu, seperti gerabah ataupun keramik.

Petugas hanya menemukan struktur batu atau pendapa, dan korelasinya dengan saluran air itu juga belum diungkap. Penelitian terhadap batu bata sebagai material yang digunakan dalam struktur bangunan juga memerlukan proses uji laboratorium sehingga memakan waktu cukup panjang.

Batu bata tersebut terdiri dari dua ukuran. Ukuran pertama dengan panjang 42 cm, tinggi 8 cm, dan lebar 20 cm. Ukuran kedua dengan panjang 38 cm, tinggi 7 cm, dan lebar 20 cm.

Penggalian perdana yang dilakukan di areal pekarangan warga dan aliran sungai tersebut difokuskan pada pembersihan dan pemetaan situs.

Ke depannya, ekskavasi lanjutan akan dilakukan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang bentuk maupun fungsi bangunan tersebut.

Sumber

Liang Bua, Rumah "Hobbit Flores" yang Terus Digali

PUNYA PENGALAMAN: Tensianus Tahu, 34, warga Liang Bua, membersihkan fragmen tulang hasil penggalian Liang Bua di Hotel Sindha, Ruteng, NTT. Foto : Doan Widhiandono/Jawa Pos

Kepulauan Flores memang memikat. Alamnya elok, sejarahnya juga unik. Termasuk kehadiran homo floresiensis, manusia purba bertubuh kate (kerdil) yang dipercaya sebagai percabangan evolusi manusia. Liang Bua di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), adalah rumah orang-orang pendek itu.

DOAN WIDHIANDONO, Ruteng

ISTILAH Hobbit itu kali pertama beken lewat trilogi The Lord of the Rings karangan John Ronald Reuel Tolkien. Hobbit kian mendunia saat epik tersebut diangkat ke layar lebar oleh sutradara kondang Peter Jackson pada 2001-2003.

Dikisahkan, para Hobbit adalah manusia kate setinggi rata-rata tiga kaki atau sekitar 1 meter. Mereka hidup berdampingan di Bumi Tengah (Middle Earth) bersama kaum Elf (peri), Dwarf (kurcaci), Wizards (penyihir), dan manusia. Selain pendek, para Hobbit punya telapak kaki lebar, rambut keriwil-keriwil, plus ujung telinga runcing.

Para Hobbit, makhluk yang selalu riang itu, mendiami kawasan The Shire. Itu adalah tempat indah dengan rumah-rumah pendek dengan warna hijau rumput.

Namun, Liang Bua bukan The Shire.... Liang Bua adalah sebuah gua kapur di Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Tempat itu berada sekitar 14 kilometer di utara Ruteng, ibu kota Manggarai. Gua kapur itu begitu gede. Panjangnya sekitar 50 meter. Lebarnya 40 meter. Langit-langit tertingginya 25 meter. Plafon gua itu berhias stalaktit yang berjuntai-juntai.

Nah, Liang Bua (dalam bahasa Manggarai berarti gua dingin atau gua es) itulah yang dipercaya sebagai tempat tinggal Hobbit Flores, julukan homo floresiensis, lebih dari 10 ribu tahun lalu. "Saya ikut terlibat dalam penemuan pertama homo floresiensis itu," kata Jatmiko, peneliti utama di Pusat Arkeologi Nasional (Arkenas).

Senin siang (10/9) itu Jatmiko bersama sekitar 40 warga mengais-ngais Liang Bua. Di antara mereka ada Matthew Tocheri, staf Smithsonian Institute National Museum of Natural History, Amerika Serikat. Ya, penggalian Liang Bua memang belum mandek. Setidaknya pada 1978-1989 dilanjutkan mulai 2001 hingga saat ini Arkenas terus berupaya menyingkap tabir kehidupan masa lalu di Liang Bua.

Sejauh ini temuan yang paling fenomenal -dari sisi kontroversi dan gaungnya- adalah Hobbit Flores yang ditemukan pada 2004. Pada tahun itu Arkenas bekerja sama dengan University of New England dan Wollongong University, keduanya dari Australia. Smithsonian Institute baru masuk sebagai bagian dari kerja sama tersebut pada 2008.

Menurut Jatmiko, kerangka pertama homo floresiensis relatif komplet. Tengkoraknya nyaris utuh. Tulang bahu, lengan, panggul, kaki, hingga jemarinya juga ada. Nah, tengkorak tua itulah yang menjadi pangkal kehebohan di jagat ilmiah hingga sekarang. "Sebab, LB 1 (sebutan resmi untuk kerangka itu, Red) menunjukkan sebuah karakter yang unik," ujar Jatmiko.

LB 1 adalah perempuan. Itu terlihat dari panggulnya yang besar. Usianya sekitar 20-30 tahun. Secara anatomi, ada kelainan fisik pada kerangka tersebut. Ukurannya begitu kecil. Tingginya hanya 115 sentimeter. Itu kira-kira setinggi panggul orang dewasa. Volume otak kerangka itu hanya 400 cc, sekitar sepertiga otak manusia modern, jauh lebih kecil katimbang otak simpanse.

Menurut Jatmiko, LB 1 yang akhirnya digolongkan dalam spesies homo floresiensis punya karakter serupa dengan Lucy, fosil manusia tertua berumur 3 juta tahun yang ditemukan di Ethiopia.

"Tapi, LB 1 juga punya karakter anatomis manusia modern. Ini yang menjadi kontroversi ahli palaeoantropologis di seluruh dunia sampai sekarang," ujar pria 55 tahun tersebut.

Sebagian ahli percaya bahwa homo floresiensis adalah spesies anyar di percabangan evolusi antara homo erectus (manusia yang pertama berjalan tegak) dengan homo sapiens atau manusia modern. Tapi, ilmuwan yang skeptis cenderung percaya bahwa kerangka kate itu bukan spesies baru. Bisa jadi itu kerangka manusia purba "bisa juga modern" yang mengalami kelainan fisik. Misalnya, cebol atau mikrosepali (volume kepala yang mengecil).

Namun, sebagai orang yang menemukan langsung kerangka tersebut, Jatmiko lebih condong ke pendapat bahwa tulang belulang manusia cebol itu adalah spesies anyar. Yaitu, homo floresiensis alias Hobbit Flores, spesies yang tak ada duanya di belahan dunia mana pun.

Jatmiko ingat betul, LB 1 ditemukan pada kedalaman 595 cm. Sebelum itu, tak ada satu ahli pun yang menggali hingga kedalaman itu. "Sebelum mencapai kedalaman itu, ada endapan abu vulkanik dengan ketebalan satu meter," tambah pria asli Jogjakarta tersebut.

Artinya, ada aktivitas vulkanik purba yang memisahkan era Hobbit Flores dengan manusia modern saat ini. Dengan kata lain, kata Jatmiko, kehidupan para Hobbit habis total karena ada letusan gunung api di era tersebut.

Di kedalaman 6 meter itu, LB 1 tak sendiri. "Kami juga menemukan individu lain," katanya. Jumlahnya enam. Tapi, tulang-tulang mereka tak komplet. Hanya ada fragmen-fragmen rahang, tulang jari, atau femur (tulang paha).

Bagi Jatmiko, ini mendukung teori bahwa Hobbit Flores bukanlah manusia cacat. Dia adalah spesies baru yang punya tata kehidupan khas di eranya. "Dia tidak menyendiri. Mereka punya tata kemasyarakatan dan aktivitas kehidupan lainnya. Sebab, di kedalaman itu kami juga menemukan ribuan artefak batu. Jadi, mereka bertani dan meramu seperti manusia modern," kata alumnus Universitas Udayana, Bali, dan Magister Universitas Indonesia, Jakarta, tersebut.

Berdasar temuan itu, tampak bahwa para Hobbit tinggal di zaman yang begitu "mengerikan". Sebab, mereka yang kate itu harus berjuang di tengah lingkungan yang juga ditinggali komodo raksasa, tikus raksasa, stegodon atau gajah cebol, hingga marabou atau bangau purba setinggi lebih dari 1,5 meter.

Sampai sekarang daya tarik homo floresiensis masih begitu kuat. Ahli-ahli kepurbakalaan di seluruh dunia masih terus memperbincangkannya.

Benarkah dia spesies baru atau hanya manusia cacat yang kebetulan kerangkanya ditemukan? Penelitian dan penggalian seperti yang dilakukan Arkenas pun terus berlangsung. Semua bertujuan menggali informasi soal keunikan spesies manusia cebol itu. Diskusi juga masih berlangsung soal apakah para Hobbit punah atau sempat beranak-pinak dan punya keturunan di era modern ini.

***

Magnet Liang Bua sebagai tempat penelitian terjadi sejak era 1960-an. Saat itu ada Pastur Theodore Verhoeven yang mengajar warga desa di Liang Bua. Lantaran tak ada fasilitas sekolah, pastur Belanda yang mengajar di Seminari Mataloko, Ngada, Flores, itu memanfaatkan Liang Bua sebagai ruang kelas.

Saat itulah rohaniwan yang juga arkeolog paro waktu itu tergugah rasa ingin tahunya. Sebab, dia menemukan banyak fragmen tulang manusia dan aneka gerabah. Pada 1965, di sela-sela mengajar, Pastur Verhoeven menggali salah satu bagian lantai Liang Bua. Temuannya cukup mengagetkan. Pada kedalaman kurang dari satu meter, dia menemukan tujuh kerangka manusia modern disertai bekal-bekal kubur berupa periuk, kendi, beliung, manik-manik, dan perunggu dari masa setelah zaman batu atau awal zaman logam.

Sejak saat itu Liang Bua kondang sebagai tempat kajian arkeologis yang menyimpan berlaksa daya tarik. Berdasar penelitian itu tampak bahwa Liang Bua dihuni manusia modern sejak 10 ribu tahun silam. Jauh sebelum itu, ada Hobbit yang menjadikan gua tersebut sebagai rumah."Sampai sekarang kami masih temukan jejak-jejak peradaban lampau itu," kata Jatmiko.

Bahkan, jejak aktivitas pada masa Pastur Verhoeven pun kadang masih muncul. Tim peneliti kerap menemukan grip dan sabak, batu tulis anak-anak sekolah sekitar delapan dekade silam. "Sehingga, Liang Bua ini sudah akrab dengan warga di sekitar sini, mulai warga purba hingga warga modern," katanya.

Kini, warga sekitar Liang Bua terus-menerus dilibatkan untuk membantu penelitian. "Saya berani jamin, warga di sini bisa disebut arkeolog. Saya berani adu mereka dengan arkeolog yang baru lulus perguruan tinggi. Warga ini lebih jago," kata Jatmiko.

Padahal, menggali situs penelitian tak sama dengan menggali kubur. Di Liang Bua, tanah digali 10 sentimeter demi 10 sentimeter pada petak berukuran 2 x 2 meter persegi. Tanah yang diangkat lalu dicuci untuk memisahkan fragmen tulang atau temuan lain. Setelah itu, tanah dikembalikan lagi ke tempat penggalian.

Warga pun tak hanya dilibatkan untuk menggali. Mereka juga bisa memilah, membersihkan, hingga melakukan perbaikan kecil terhadap fragmen-fragmen yang ditemukan. Misalnya, memberikan pengawet khusus atau mengelem bagian yang retak. "Kami memang sudah biasa memegang fosil. Ini fosil tulang telinga stegodon," kata Tensianus Tahu, 34, warga Liang Bua, yang bertugas menyortir fosil sebelum dikirim ke Arkenas, Jakarta, sembari menunjukkan potongan tulang.

Warga Liang Bua, terutama yang masih muda, memang mendapat pujian secara khusus oleh Jatmiko. "Mereka smart dan mau belajar. Mereka juga bisa menjelaskan salah kaprah bahwa homo floresiensis punya keturunan sampai sekarang," kata Jatmiko.

Setiap Arkenas melakukan penelitian di Liang Bua "selama kurang lebih dua bulan tiap tahun" ada sekitar 40 warga yang dilibatkan. Mereka diberi honor Rp 45 ribu per hari per orang. Honor itu diterimakan tiap pekan. Selain honor, seluruh fasilitas ditanggung. Makan, kopi, hingga rokok yang diberikan sehari dua kali.

Meski sudah kondang sebagai tempat penelitian dan tempat wisata, suasana Liang Bua masih terasa sepi. Kalau saja tak ada aktivitas dari Arkenas siang itu, gua besar itu bisa jadi melompong. "Yang wisata memang tak banyak. Yang sering wisata minat khusus," kata Kornelis Jaman, penjaga situs wisata Liang Bua.

Padahal, niat menjadikan Liang Bua sebagai tempat rekreasi arkeologis sudah ada. Namun, niat itu tampak tak terlampau besar. Sekitar 200 meter sebelum Liang Bua ada gapura sederhana untuk menyambut pendatang. Kantor Kornelis Jaman sendiri juga menjelma sebagai sebuah tempat pameran mini.

Di situ ada gambar-gambar sejarah Liang Bua plus patung orang kerdil setinggi sekitar 100 cm. Ada pula potret binatang purba yang pernah mendiami kawasan tersebut. Cukup apik, sayang tak banyak yang tertarik.

Siang itu Kornelis mengajak saya ke Desa Rampasasa di dekat Liang Bua. "Di situ ada keturunan orang pendek," kata Kornelis.

Memang, di Rampasasa ada beberapa orang yang tingginya hanya sekitar 140 cm. Mereka kerap dikunjungi turis, diajak berfoto, plus dikasih duit.

Namun, ajakan Kornelis saya tolak. Saya bukannya condong ke pemikiran tim Arkenas bahwa homo floresiensis sudah punah dan ada tembok waktu dari aktivitas gunung purba yang memisahkannya dengan manusia modern. Tembok waktu yang membuatnya tak mungkin beranak-pinak hingga sekarang. Saya hanya tak tega melihat orang-orang yang kebetulan tubuhnya lebih pendek lantas "dituduh" begitu saja sebagai keturunan Hobbit... (*/c2/ari)

Sumber

Kanal Air Peninggalan Kerajaan Majapahit Ditemukan

Foto: Tamam Mubarrok

Mojokerto - Tim Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI), menemukan kanal saluran air zaman Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Kanal itu menghubungkan tempat pemandian di situs Sumur Upas Candi Kedaton dengan tempat pemukiman penduduk di zaman Kerajaan Majapahit.

Tim ini terdiri dari dosen dan mahasiswa arkeolog dari empat universitas negeri. Empat universitas itu diantaranya Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Udayana dan Universitas Hasanuddin (Unhas).

Penelitian yang dilakukan tim PATI berada di 4 tempat. Masing-masing di sekitar situs Sumur Upas Candi Kedaton, Situs Lantai Segi Enam, halaman Pusat Informasi Majapahit (PIM), serta percandian di Desa Nglinguk Kecamatan Trowulan.

Khusus di sekitar situs Candi Kedaton Sumur Upas, ditemukan tumpukan bata merah di kedalaman sekitar 2 meter dari permukaan tanah. Tim peneliti yang melibatkan mahasiswa sejumlah perguruan tinggi itu, menduga bangunan itu merupakan kanal air di masa Kerajaan Majapahit silam.

Menurut Manajer Ekskavasi penelitian, Cecep Eka Permana, penemuan ini memperkuat asumsi jika situs Candi Kedaton Sumur Upas merupakan pusat sistem pengairan di masa Kerajaan Majapahit. Sedangkan tumpukan batu dan bata merah, merupakan kanal air penghubung ke permukiman warga.

"Luar biasa pengairan zaman Majapahit dahulu. Kanal air dibangun dengan tumpukan bata seperti yang dilakukan zaman modern sekarang," kata Ecep saat ditemui di lokasi penelitian.

Namun, kesimpulan awal ini masih perlu diteliti lagi. Temuan ini juga dikaitkan dengan temuan tumpukan bata merah di sisi selatan situs Lantai Segi Enam. Ekskavasi ini akan dilakukan hingga hari Selasa (25/9/2012) mendatang. (fat/fat)

Sumber

Ditemukan Kerangka Berusia 7000 Tahun di Gayo

 JPNN 
Kerangka Besar
TAKENGON -- Consulate General Of Japan (Konsulat Jenderal Jepang di Medan) Sumatera Utara, Yuji Hamada mengaku penemuan situs kerangka manusia pra sejarah yang ditemukan oleh sejumlah arkeolog dari Balai Arkeologi (BALAR) Medan, beberapa waktu lalu, di Loyang (Gua) Ujung Karang, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, sangat luar biasa.

“Saya terharu dengan adanya penemuan kerangka manusia yang berusia 7.000 tahun silam di Gayo lebih kuno (tua-red), dari Batak Sumatera Utara, apalagi Jepang yang hanya 2000 tahun yang lalu. Disini lah, bukti ternyata ada kehidupan melayu Kuno di Takengon, ini sangat luar biasa sekali,” Cetus Konsulat Jenderal Jepang wilayah Medan, Yuji Hamada, saat berkunjung di Ujung Karang.

Dikatakan Yuji, temuan kehidupan pra sejarah di Gayo bukan hanya menjadi salah satu kekayaan budaya milik masyarakat Gayo (Aceh), tetapi secara keselurahan, termasuk di wilayah Asia Pasifik dan dunia. “Sejarah Gayo harus diseminarkan, supaya Asia Pasifik di beberapa daerah tahu tentang Gayo,”tegasnya.

Selain temuan pra sejarah kerangka manusia, sambung Konsulat Jepang, kondisi alam di daerah penghasil kopi arabika ini, pun sangat mendukung apalagi beberapa objek wisata yang ada sangat patut untuk dikagumi karena keindahannya. Selain indah, lanjutnya, kondisi alamnya masih terlihat alami serta belum banyak sentuhan pengelolaan secara modern. “Saya suka dan sangat terharu melihat tempat ini. Mudah-mudahan bisa dipertahankan keasriannya,” pinta Yuji Hamada.

Kedatangan Consulat General Of Japan ke Kota dingin ini, bertujuan untuk melihat kondisi salah satu perusahaan milik Jepang Nippon Koi, yang sedang mengerjakan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan I dan Peusangan II.

“Tujuan saya mau melihat Nippon Koi yang sedang membangun PLTA. Tetapi saya dengar ada temuan benda bersejarah disini, makanya saya tertarik untuk melihatnya,” sahut Yuji Hamada.

Untuk itu, ia berjanji akan menyampaikan apa yang dilihat saat berkunjung di Ujung Karang, kepada siapapun dan akan mengelar seminar internasional membahas sejarah Gayo, khususnya terkait temuan tersebut. “Kami sudah beberapa kali melakukan seminar tentang sejarah. Dan saya berupaya temuan ini juga diseminarkan dengan menghadirkan narasumber dan peserta dari asia Pasifik,”janji Yuji kepada sejumlah media massa di Aceh Tengah. (*)

Sumber

Pempus Bakal Beli Areal Situs Purba Ketapang

Ilustrasi - ceritadayak.com

KETAPANG – Penemuan situs candi purbakala di kawasan Negeri Baru Kabupaten Ketapang akan menjadi kawasan penelitian. Pemerintah pusat akan membantu untuk pembebasan lahan di areal situs yang saat ini telah menjadi pemukiman masyarakat.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Yudo Sudarto. Pembebasan lahan itu diharapkan bisa memudahkan pemerintah dan para ahli melakukan penelitian di kawasan tersebut.

“Saat ini situs yang beberapa bagian sudah digali, kita tutup lagi sementara. Peneliti dari Arkeologi Banjarmasin, Kalimantan Selatan, memperkirakan situs tersebut merupakan peninggalan zaman Kerajaan Tanjungpura,” kata Yudo Sudarto.

Kata Yudo, saat ini pihak Pemerintah Kabupaten Ketapang masih memerlukan waktu untuk mengalkulasi berapa besaran dana yang dibutuhkan untuk pembebasan lahan areal candi tersebut. Pemerintah pusat menganggap penting pembebasan lahan, karena situs purbakala tersebut bukan hanya membuka lembaran sejarah yang belum terungkap, tak hanya di Ketapang. Namun juga sejarah Indonesia secara keseluruhan.

Pemerintah Kabupaten Ketapang kekurangan dana mengungkap situs purba, yang diperkirakan sebuah candi tersebut. Sejak Januari, kegiatan penelitian dihentikan karena keterbatasan anggaran. Kuat dugaan bahwa situs candi tersebut bekas Kerajaan Tanjungpura. Sebab hanya kerajaan tersebut yang ada di Kalimantan Barat. Candi yang ditemukan ada tiga buah, yaitu candi utama yang berisi sumuran satu buah dan candi pengapit dua buah. Namun tidak seperti kompleks candi yang biasanya berjumlah lima sampai tujuh buah dan letaknya tidak simetris di kiri-kanan.

Dia mengutarakan, kemungkinan bangunan ini belum jadi seluruhnya. Juga ada spekulasi yang mengatakan bahwa tahun pembuatannya di akhir abad ke-14 yang sudah mulai masuknya peradaban Islam karena situs Keramat Sembilan yang ada di Negeri Baru, tercatat tahun 1418 M. Sedianya, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda, dan Olahraga Ketapang, Kalbar, berencana menjadikan situs tersebut sebagai bangunan benda cagar budaya (BCB). (KiA)

Sumber

Wednesday, September 19, 2012

Warga Temukan Kendi Berisi Koin Kuno China


google.com
Ilustrasi: Koin kuno China


JAMBI, KOMPAS.com--Petugas fasilitator budaya dan kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi mengungkapkan adanya penemuan benda purbakala berupa sebuah kendi berisi tumpukan koin-koin kuno Cina di desa Parit Culum Tanjung Jabung Timur baru-baru ini.

"Ada temuan benda purbakala oleh warga Parit Culum berupa kendi berisi tumpukan koin kuno peninggalan zaman dinasti Cina. Temuan ini bisa menjadi jejak sejarah Jambi pada masa lampau," kata fasilitator budaya dan purbakala Disbudpar Provinsi Jambi Abdul Havis di Jambi, Senin.

Temuan tersebut juga menjadi indikasi yang makin memperkuat Kerajaan Melayu Jambi pada masa lampau sebagai jalur perdagangan dari Tiongkok atau indikasi memiliki hubungan bilateral yang kuat dengan negeri Tirai Bambu yang pada masa lampau dikuasai dinasti-dinasti besar.

Pihaknya masih belum bisa memprediksikan koin itu peninggalan dari zaman dinasti apa, karena itu masih memerlukan penelitian lebih intensif oleh ahli arkeologi.

"Sebagai petugas lapangan kita belum bisa memastikan kendi koin ini tinggalan zaman dinasti apa, kita akan menunggu dulu penelitian dari ahli arkeologi dari Budpar, tapi yang jelas koin ini adalah koin kuno Cina," ujarnya.

Kawasan sepanjang Sungai Batanghari yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera mulai dari kawasan Tebo hingga ke muaranya yakni di Tanjung Jabung Timur selama ini memang menjadi tempat sering ditemukannya benda-benda purbakala penginggalan masa lampau.

Sebelumnya, di kawasan bantaran sungai ini juga telah ditemukan bangkai kapal kuno, pecahan gerabah, puing dermaga dan perkampungan kuno, bahkan juga patung dewa agama Hindu yang diduga peninggalan tentara Cola India ketika menyerang kerajaan Melayu Jambi.

Pada masa itu dari abad 7-13 Masehi, Jambi menjadi pusat perkembangan agama Budha di Asia yang ditandai adanya komplek percandian Muarojambi yang merupakan kampus pendidikan agama Budha terbesar bagi para calon Bikhu dari berbagai negara di Asia seperti Cina dan India juga Thailand, Myanmar bahkan dari Tibet.

"Saat ini semua temuan itu telah diserahkan ke bagian arkeologi museum negeri Jambi guna diteliti oleh para ahli arekologi, sebagian di antaranya sudah mendapatkan kesimpulan, namun umumnya yang baru ditemukan hingga kini masih terus diteliti," kata Havis.

Sumber

Warga Grabag Temukan Prasasti Huruf Cina

Ilustrasi Prasasti Talang Tuwo - lemabang.wordpress.com

PURWOREJO, suaramerdeka.com - Sudanaryo, Warga Desa Wonoenggal Kecamatan Grabag Purworejo menemukan sebuah benda yang diyakini memiliki nilai sejarah tinggi, yakni sebuah batu sebuah prasasti bertuliskan huruf Cina.

Dalam catatan sejarah, orang-orang Cina mulai masuk di Kabupaten Purworejo sekitar tahun 1.600-an, sehingga berdasarkan data tersebut diperkirakan prasasti itu merupakan hasil peradaban abad XVI. Saat ini batu prasasti yang belum diketahui makna dan maksud tulisannya itu disimpan di Museum Tosan Aji (MTA).

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kabupaten Purworejo dalam waktu dekat akan segera mengirimkan sket tulisan Cina di batu tersebut untuk diteliti Balai Arkeologi dan Kepurbakalaan Yogyakarta.

Prasasti yang terbuat dari batu andesit dengan ketinggian sekitar 90 sentimeter dan lebar 57 sentimeter serta tebal 15 tersebut ditemukan di sekitar sumur keluarga Sudarnaryo di Desa Wonoenggal Kecamatan Grabag sekitar dua minggu lalu. "Batu prasasti selama ini digunakan sebagai landasan mencuci oleh warga di sumur miliki keluarga Sudanaryo," ungkap Kepala MTA Tri Yuliana.

Adanya keunikan berupa tulisan di batu tersebut mendorong Sudanaryo mengangkat dan menyerahkan kepada mantan Bupati Purworejo Kelik Sumrahadi untuk bisa diteruskan kepada pihak yang memahami batu tersebut. "Pak Kelik Senin (17/9) kemarin menelpon saya kalau dirumahnya ada prasasti. Kalau memang ada manfaatnya, kami dipersilakan untuk mengambil dan merawatnya di sini," tambah Tri.

Ditambahkan Tri, usai menerima telepon dirinya langsung menuju kediaman Kelik Sumrahadi. Dengan berat kurang lebih 2 kuintal, Tri Yuliana mengurungkan niatnya untuk membawa sekalian. Baru hari ini, bersama Kasi Sejarah Kepurbakalaan dan Nilai Tradisi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Eko Riyanto dan dua orang stafnya, pihaknya mengambil prasasti tersebut.

Usai dibersihkan oleh pihak Museum Tosan Aji dan disaksikan Eko Riyanto, dalam prasasti tersebut tampak sebentuk tulisan Cina yang tersusun dari atas ke bawah. Sekitar 10 sentimeter bagian bawah lebih tebal dibandingkan dengan yang lain. Ketebalan bagian bawah ini dimungkinkan untuk menanam di tanah agar lebih kuat.

Menurut Eko Riyanto, untuk membaca relief di prasarti pihaknya akan membawa kopian tulisan di prasarti ke Balai Arkeologi Yogyakarta atau Museum Ronggowarsito Semarang dan atau Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Klaten. "Relief ini akan kami gesek di atas kertas menggunakan pensil. Hasilnya akan dikirim ke salah satu dari tiga instansi tersebut," kata Eko. (Nur Kholiq / CN26 / JBSM)

Ditemukan, Situs Joko Tingkir


WONOSARI - Tim penyelamat situs purbakala menemukan situs yang diyakini warga setempat peninggalan pemerintahan Kerajaan Pajang, Joko Tingkir di Butuh, Pulutan, Wonosari. Peninggalan sejarah putra Ki Ageng Pengging di Gunungkidul ini berupa gundukan tanah yang sekarang sedang di ekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) bekerjasana dengan jurusan arkeolog UGM Jogjakarta. Ekskavasi sudah dilakukan mulai Senin (17/9), menemukan benda purbakala berupa satu patung ganesha, dan satu arca tanpa kepala. Penyelamatan benda masa lalu yang tertanam di tanah ini melibatkan 20 mahasiswa terdiri dari dua angkatan.

Salah seorang arkeolog BPCP, Topik mengaku belum bisa menjelaskan secara rinci hasil temuan situs purbakala tersebut. Sekarang tim penggalian masih bekerja untuk menemukan bagian lain dari benda untuk diangkat dan diamankan. Selain menemukan patung ganesha dan arca tanpa kepala juga terlihat tonjolan – tonjolan umpak atau pondasi sederhana. Meski demikian, BPCB belum bisa memastikan apakah tonjolan tersebut termasuk umpak atau bukan.

“Kami belum bisa berbicara banyak terkait penemuan ini. Anda bisa melihat sendiri dan mengikuti proses penggalian. Lebih jelasnya silahkan kominikasikan dengan ketua eksavasi pak Indung,” ujarnya singkat saat ditemui di lokasi eksavasi kemarin (19/9). Sementara itu pantauan Radar Jogja, terdapat tali melingkar berdiamter sekitar 25 m2 melingkar jauh dari lokasi eksavasi. Aktifitas para penyelamat benda purbakala ini mengundang perhatian masyarakat setempat mendatangi lokasi.

Beberapa warga mengatakan, pernah mendengar mitos dari nenek moyang lokasi eksavasi tersebut merupakan petilasan Joko Tingkir. Bahkan, sebelum tim dari BPCB melakukan kegiatan penggalian ada beberapa masyarakat yang mendatangi lokasi.

Salah seorang warga dusun setempat Jumari, 66, mengatakan, selama menyaksikan proses penggalian sudah melihat beberapa benda bersejarah ditemukan dan diangkat. “Ada patung gajah, patung kebo, dan tengkorak. Saya ,alah takut mas,” ujarnya. Pria ini mengaku tempat tinggalnya di RT 4/6, satu lokasi dengan lokasi penemuan situs. Selanjutnya, beberapa benda cagar budaya tersebut untuk sementara disimpan di kediaman tokoh masyarakat setempat, Suparman. Namun sayangnya beberapa wartawan tidak diperbolehkan mengambil gambarnya oleh tim eksavasi.

“Maaf mas, menurut tim eksavasi gambarnya belum bisa diambil sekarang,” kata Suparman. Ketua tim eksavasi BPCB, Indung Panca Putra saat dihubungi juga belum bisa memberikan keterangan lebih jauh terkait hasil penggalian situs Joko Tingkir tersebut. “Kita belum bisa berbicara banyak, karena proses eksavasi belum selesai. Besok pagi kita akan kembali ke lokasi,” ujarnya ketika dihubungi melalui sambungan telpon.

Kabid pemasaran Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan, Supriyadi menyambut baik penemuan situs Joko Tingkir tersebut. Terkait dengan kegiatan eksavasi di wilayah Gunungkidul menurutnya sudah mendapat tembusan dari BPCB. “Penanganan langsung oleh BPCB, dan dinas sudah ditembusi,” katanya. (gun/iwa)

Sumber

BP3 Trowulan Lanjutkan Gali Irigasi Kuno di Kediri

Seorang anak menonton petugas dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan melakukan penggalian situs gorong-gorong bawah tanah di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kediri, Jawa Timur, Jumat (7/9), yang diduga peninggalan abad ke-10 hingga 11. (ANTARA/Arief Priyono)

Kediri (ANTARA News) - Tim Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, melanjutkan penggalian sebuah situs di Desa Pagu, Kabupaten Kediri yang berupa saluran saluran irigasi kuno.

"Ada delapan kotak galian yang sudah kami buat. Kami menemukan sejumlah struktur, diantaranya saluran irigasi, batur saat melakukan penggalian itu," kata arkeolog BP3 Trowulan Danang Wahyu Utomo, ditemui di sela-sela ekskavasi atau penggalian situs di desa tersebut, Sabtu. Batur yang dimaksudnya adalah bangunan semacam panggung pendopo.

Ia mengungkapkan, penggalian itu dilakukan setelah mendapat laporan dari warga Desa Pagu.

Di lokasi tersebut, menurut dia, sebelumnya ditemukan struktur yang diyakini sebagai peninggalan purbakala mengingat beberapa tahun sebelumnya di desa itu juga ditemukan sejumlah peninggalan kuno, seperti mata uang kepeng seberat 50 kilogram dan dua arca Hindu.

Untuk penggalian itu, Danang mengemukakan, dibantu 13 orang rekannya. Sejumlah lokasi diteliti dan digali untuk mengetahui dengan persis struktur di dalamnya.

Ia juga mengatakan, agak kesulitan untuk melakukan penggalian. Selain lokasinya sporadis, material debu bekas letusan Gunung Kelud yang setinggi 1.730 meter di atas permukaan laut (mdpl) juga cukup dalam. Setidak-tidaknya, ia menyatakan, dibutuhkan penggalian sampai empat meter baru bisa diketahui struktur di dalam tanah tersebut.

Danang juga mengungkapkan, sampai saat ini memang belum diketahui dengan pasti tentang situs tersebut. Hanya ada sejumlah struktur bangunan berupa saluran air. Selain itu, ia memperkirakan lokasi ini juga jauh dari permukiman, terbukti kami tidak menemukan alat-alat untuk keperluan sehari-hari.

"Yang menarik dari situs ini, terdapat saluran air dan kemungkinan ini mengarah ke kolam. Provan atau tempat sakral itu ada yang terpisah dari permukiman. Kami saat ini berusaha untuk menelurusi, kolam airnya," katanya.

Walaupun belum diketahui dengan pasti struktur saluran tersebut serta peruntukannya, ia menyatakan, dimungkinkan situs itu dibuat sekitar abad 12 Kerajaan Kediri. Rencananya, penggalian akan dilakukan sampai Minggu (9/9).

Namun, ia juga menyatakan, jika masih dianggap kurang, maka timnya akan melakukan penggalian lagi sampai ditemukan kesimpulan dari hasil penggalian.

Salah seorang anggota komunitas Pelestari Sejarah dan Budaya Kediri (Pasak) Kediri, Novi Bahrul Munib, secara terpisah mengatakan bahwa sangat mendukung upaya BP3 Trowulan yang melakukan penggalian.

Apalagi, ia menyatajan, di lokasi itu ditemukan sejumlah benda purbakala. Pihaknya prihatin dan khawatir jika dibiarkan, maka situs itu akan rusak, padahal belum diketahui dengan pasti tentang situs tersebut.

"Di desa ini kami yakin masih banyak potensi benda sejarah yang masih tersimpan. Kami berharap, dengan penggalian ini bisa diketahui tentang situs tersebut," ujarnya. (T.ANT-130/C004)

Sumber

Situs Purbakala di Gunungkidul Digali

Ilustrasi - Situs Batu Berelief Juru Pemelihara Peninggalan Purbakala Desa Belumay, Pagaralam Selatan, Lubis (kanan), menjelaskan kepada Tim Ekspedisi Megalitikum Sripo tentang Situs Batu Berelif. Batu ini bila dilihat dengan seksama seakan menceritakan prajurit berhasil mengalahkan seekor kerbau liar pada zaman pra sejarah. Usia batu ini berkisar 2000 tahun. (Sriwijaya Post/Syahrul Hidayat) 

TRIBUNNEWS.COM, GUNUNGKIDUL - Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) menyebut bahwa Kabupaten Gunungkidul memiliki hal cukup menarik yaitu, peninggalan prasejarah yang memiliki unsur masa klasik. Hal itu lantaran terdapat beberapa temuan yang disinyalir merupakan peninggalan purbakala periode Hindu Budha.

Belasan mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) dan BP3 melakukan penggalian di situs benda purbakala (eskavasi) di Dusun Butuh, Pulutan, Wonosari yang dimulai sejak Senin (17/9/2012) lalu.

Kegiatan selama 20 hari tersebut merupakan program dari BP3 DIY dan praktek mahasiswa jurusan Arkeologi. Selain mahasiswa, warga juga terlihat sibuk menggali dan membersihkan bebatuan yang disinyalir merupakan benda purbakala.

Pantauan Tribun Jogja (Tribun Network), Rabu (19/9/2012) terdapat beberapa kotak tanah yang sudah diukur dan diberi patok. Dari beberapa bidang tanah tersebut terlihat beberapa bongkah batu berbentuk balok dan menyerupai reruntuhan candi.

Ketua tim Eskavasi dari BP3 DIY, Indung Panca Putra, Mhum menjelaskan ada dua temuan yang sudah terlihat dari kegiatan Eskavasi tersebut.

"Ada dua buah arca dari unsur peninggalan agama Hindu. Satu berupa arca Ganesa dan satu lagi belum jelas, tapi kita sinyalir sebagai arca Agastya," jelasnya kepada Tribun Jogja, Rabu (19/9/2012).

Pihaknya juga masih memerlukan penelitian terhadap benda-benda purbakala yang ditemukan di sekitar tempat tersebut.

"Kami masih belum bisa melihat arsitekturnya. Apakah itu merupakan model bangunan candi atau dasar bangunan, kami masih teliti," jelasnya.

Sementara itu pihaknya telah membuat tujuh kotak eskavasi untuk penelitian lebih lanjut terkait temuan tersebut. Nantinya, hasil temuan tersebut akan menjadi perhatian tersendiri bagi pihak BP3 untuk melindungi benda-benda Purbakala.

Indung juga menjelaskan pihaknya juga akan merekomendasikan tanah tempat temuan benda purbakala tersebut pada pemerintah. Lantaran tanah tempat situs tersebut berada merupakan tanah milik perorangan.

"Kami rekomendasikan agar pemerintah membeli atau menyewa tanah tersebut. Selain itu kami akan membuat konservasi terkait dengan keberadaan situs ini," jelasnya.

Sumber

Saturday, September 8, 2012

Siapkah Kita Menerima Kemegahan Majapahit Kembali?

Oleh Mahandis Y.Thamrin

Foto oleh Dwi Oblo


CAHAYA MATAHARI PAGI NAN CERAH ITU MEMANTUL DI WAJAH YUSMAINI Eriawati. Dia tampak semringah berdiri di tepi kotak ekskavasi, berkemeja kotak-kotak biru lengan panjang. Scarf mini bermotif bunga melilit di lehernya. Perempuan ramah ini mengajak saya berjalan menembus semak dan pepohonan rindang meninggalkan timnya. Kami berjalan menuju deretan linggan, gubuk beratap terpal tempat batu bata tradisional dicetak dan dibakar. Para pembuat batu bata itu telah meninggalkan ceruk-ceruk tanah hasil galian yang di dalamnya berserak hamparan batu bata kuno, pecahan tembikar dan keramik.

Eriawati lalu memunguti pecahan keramik seladon hijau mengilat asal China abad ke-14. “Di sinilah kami memperkirakan permukiman golongan atas Majapahit,” ungkapnya sambil berjongkok di ceruk penuh batu bata kuno, “karena keramik-keramiknya berkualitas bagus.”

Beberapa langkah kemudian dia menemukan lagi sebuah pecahan tembikar, sebuah jambangan besar dengan ragam hias nan raya, juga sisa-sisa unsur rumah zaman Majapahit lainnya. “Nah ini ukel besar!” seru Eriawati sambil membungkuk. “Ini salah satu bukti bahwa di sini pernah berdiri bangunan-bangunan besar yang menggunakan genting.”

Eriawati adalah ahli arkeologi dari Pusat Arkeologi Nasional. Selama 2007-2012, dia dan timnya meneliti struktur bangunan tinggalan Kota Majapahit di Desa Sentonorejo, Trowulan, sekitar sepuluh kilometer dari Mojokerto, Jawa Timur. Selain itu, timnya juga menyurvei permukiman kuno di tepian kanal Majapahit.

Dia mengatakan, di kawasan Trowulan, ahli arkeologi harus berpacu dengan perusakan lahan yang digarap pemilik kebun atau pembuat bata. Apabila terlambat, data arkeologi kemegahan Majapahit itu akan rusak, bahkan lenyap. “Beberapa tahun lalu kami melakukan ekskavasi di sekitar sini,” kata Eriawati seraya menunjuk salah satu ceruk yang meluas. “Di samping persis ayunan cangkul pembuat batu bata yang mengikis lapis demi lapis di tanah yang kaya artefak zaman Majapahit itu.”

Umpak Modern di Situs Sejarah Trowulan

Struktur konstruksi besar mirip tenda di atas situs galian Trowulan menggunakan konsep layaknya rumah-rumah tradisional Nusantara.

Pada 1990-an serangkaian ekskavasi di dekat Segaran telah menampakkan struktur permukiman Majapahit—selokan kecil, lantai, pecahan genting, sumur terakota. Seluruh bangunan di metropolitan kuno ini berorientasi 5-12 derajat dari arah utara. Seperti inilah pemandangan yang nampak di bawah "tenda" pelindung Trowulan. (Dwi Oblo).


Di atas tanah tergali di Situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, berdiri semacam tenda besar berwarna putih. Besar, megah, seperti rumah panggung, dan yang pasti mengamankan tanah galian dari paparan matahari.

Konstruksi ini adalah karya Yori Antar, arsitek kenamaan yang berhasil memenangi sayembara dari Tim Evaluasi Situs Trowulan tahun 2009 yang diketahui oleh Profesor Mundardjito. Tugas utama konstruksi ini memayungi tanah galian yang menganga di bawahnya.

Dikatakan Yori, konstruksi ini berakar dari konsep umpak. Yakni sistem struktur tradisional rumah-rumah di Indonesia yang fleksibel terhadap gempa. Bangunan tidak mengakar ke dalam tanah, melainkan hanya seperti "menumpang" pada batuan.

"Sistem ini terdapat di hampir seluruh pedalaman di Nusantara. Maka itu konsep (konstruksi) ini adalah gabungan instalasi futuristik yang berdampingan dengan situs masa lampau," ujar Yori ketika berbincang dengan National Geographic Indonesia, Kamis (16/8).

Konstruksi bangunan diusahakan seminimal mungkin berpijak pada tapak. Hal ini dilakukan agar intervensi yang dilakukan tidak mengganggu lokasi situs yang sudah ada. Sistem atap yang digunakan juga bersifat ringan dan transparan. Atap sederhana yang terbuka memungkinkan sinar matahari melakukan penetrasi ke dalam situs dan sistem sirkulasi pengunjung.

Selain sebagai pelindung, tenda raksasa ini bertindak seperti museum terbuka. Terdapat lorong dan tangga kayu di bawah tutupan tenda yang seperti rumah panggung.

Konsep ini memungkinkan masyarakat untuk melihat proses penggalian tanpa harus terekspos matahari. Di saat bersamaan, bisa melongok situs penggalian tanpa masuk ke dalam satu bangunan bertembok. "Dengan demikian, pengunjung bisa mendokumentasikan proses penggalian yang ada."

Tahun 2013 mendatang, direncanakan ada empat konstruksi yang sama di Trowulan. "Di lokasi lain di Indonesia mungkin belum bisa karena kondisi lingkungan yang juga berbeda."

Dalam Rencana Induk Arkeologi Bekas Kota Kerajaan Majapahit Trowulan, Trowulan adalah situs arkeologi dengan ukuran amat luas, sekitar 10 km x 10 km. Di dalamnya mengandung ratusan ribu artefak, ekofak, dan ratusan fitur yang tersebar di dalam dan atas tanah.

Situs yang amat luas ini merupakan tempat terakumulasinya berbagai jenis benda dalam jumlah besar. Biasanya disebut situs kota. Dari kerajaan-kerajaan kuna di Indonesia yang berkembang sebelum masa pertumbuhan Islam pada abad 15, hanya Majapahit yang mewariskan pada kita situs pemukiman kota.

Kisah lengkap Trowulan bisa Anda simak dalam National Geographic Indonesia edisi Septermber 2012.

(Zika Zakiya)

Mengungkap Keindahan Seni Pahat Majapahit

Kajian ikonografi menunjukkan bahwa kerajaan adikuasa itu telah mewariskan kesenian puncak peradaban masa klasik kepada kita.

Arca Harihara dari Candi Sumberjati dekat Blitar yang tampaknya merujuk pada Simping, tempat Raden Wijaya didarmakan. Arca bersosok Siwa dan Wisnu ini melambangkan perwujudan Raden Wijaya. Kini arca megah ini berada di Museum Nasional. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)


Sebuah arca berhias pahatan meriah dan mewah sebagai perwujudan Raden Wijaya masih saja memesona para pengunjung Museum Nasional. Sang pendiri Kerajaan Majapahit yang bertakhta pada1293-1309 itu digambarkan bertangan empat.

Dua tangan muncul dari balik punggung: Tangan kanan menunjuk sebuah keong, sedangkan tangan kiri menunjuk cakra. Dua tangan lainnya: Tangan kanan memegang tasbih di bagian dada dan telapak tangan kiri menyentuh pegangan sebuah gada. Inilah arca yang menampilkan sosok dua dewa, Wisnu dan Siwa, atau Harihara.

Arca tersebut berasal dari Candi Sumberjati dekat Blitar yang diperkirakan identik dengan candi Simping yang disebutkan dalam Nagarakertagama. Simping merupakan pendarmaan raja pertama Majapahit, Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawarddhana.

Menurut Endang Sri Hardiati, ahli ikonografi , gaya pahat Jawa Timur ini terbagi menjadi gaya Kadiri yang berkembang pada abad ke-11 dan 12, kemudian gaya Singhasari-Majapahit dari abad ke-12 hingga awal abad ke-15.

Pada masa Singhasari-Majapahit telah muncul gaya seni yang sangat raya dan sangat ramai dibanding masa sebelumnya pada zaman Kadiri atau Mataram Kuno. “Keindahannya itu sampai bertumpuk-tumpuk, reliefnya ramai sekali,” ungkap Hardiati.

Berdasar kajian identifikasi, deskripsi, dan penafsiran makna pahatan, dia memaparkan perbedaan gaya seni pahat antara masa Singhasari-Majapahit dan masa sebelumnya. Sosok tokoh yang diarcakan pada masa Singhasari-Majapahit mengenakan busana dan perhiasan yang ramai mulai dari mahkota, kalung, hiasan telinga, ikat dada, ikat pinggang, ikat perut, dan uncal— hiasan yang dipasang dari pinggang menjulur ke bawah.

Pada masa Singhasari-Majapahit, uncalnya sangat panjang sampai hampir menyentuh mata kaki, sedangkan masa sebelumnya hanya sampai lutut. “Satu ciri khas dari Singhasari-Majapahit.”

Lalu apa yang membedakan gaya pahatan antara masa Singhasari dan Majapahit itu sendiri? “Teratai atau padma yang ada di kanan dan kiri arca,” imbuhnya. Kalau dari masa Singhasari itu teratai keluar dari bonggolnya, sedangkan teratai pada masa Majapait keluar dari vas atau guci keramik.

“Tapi yang jelas,” kata Hardiati, “masa Singhasari-Majapahit ini mempunyai corak dan seni tersendiri.” Gaya seni pahat Jawa Timur lebih dinamis dibandingkan Jawa Tengah. Di sisi lain, seni pahat di Jawa Tengah lebih naturalis—apa adanya—dibandingkan Jawa Timur.

Dia memberi contoh, relief-relief candi Jawa Timur lebih dinamis, bentuk pahatannya menyerupai wayang. Pahatannya tidak terlalu dalam, tidak seperti pahatan pada Candi Prambanan dan Borobudur. “Namun, dari segi keindahannya dua-duanya indah,” pungkasnya.

National Geographic Indonesia edisi September 2012 menyelisik keindahan dan kearifan Ibu Kota Majapahit dalam kisah “Metropolitan yang Hilang.” Dalam edisi ini tersisip pula bonus peta dua sisi yang menampilkan sisi panorama kota agung itu dengan jaringan kanalnya dan rekonstruksi permukiman berdasar penelitian arkeologi. Tak hanya itu, kisah ini juga mengungkap makna "Nusantara" dan skandal ilmiah dalam penyusunan sejarah Majapahit.

Sebuah arca berhias pahatan meriah dan mewah sebagai perwujudan Raden Wijaya masih saja memesona para pengunjung Museum Nasional. Sang pendiri Kerajaan Majapahit pada 1293 itu digambarkan bertangan empat. Dua tangan muncul dari balik punggung: Tangan kanan menunjuk sebuah keong, sedangkan tangan kiri menunjuk cakra. Dua tangan lainnya: Tangan kanan memegang tasbih di bagian dada dan telapak tangan kiri menyentuh pegangan sebuah gada. Inilah arca yang merupakan perwujudan dua dewa, Wisnu dan Siwa, atau Harihara.

Arca tersebut berasal dari Candi Sumberjati dan diperkirakan identik dengan candi Simping yang disebutkan dalam Nagarakertagama. Simping merupakan pendarmaan raja pertama Majapahit, Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawarddhana.

Menurut Endang Sri Hardiati, ahli ikonografi, gaya pahat Jawa Timur ini terbagi menjadi gaya Kadiri yang berkembang pada abad ke-11 dan 12, kemudian gaya Singhasari-Majapahit dari abad ke-12 hingga awal abad ke-15.  Pada masa Singhasari-Majapahit telah muncul gaya seni yang sangat raya dan sangat ramai dibanding masa sebelumnya pada zaman Kadiri atau Mataram Kuno. “Keindahannya itu sampai bertumpuk-tumpuk, reliefnya ramai sekali,” ungkap Hardiati.

Berdasar kajian identifikasi, deskripsi, dan penafsiran makna pahatan, dia memaparkan perbedaan gaya seni pahat antara masa Singhasari-Majapahit dan masa sebelumnya. Sosok tokoh yang diarcakan pada masa Singhasari-Majapahit mengenakan busana dan perhiasan yang ramai mulai dari mahkota, kalung, hiasan telinga, ikat dada, ikat pinggang, ikat perut, dan uncal— hiasan yang dipasang dari pinggang menjulur ke bawah. Pada masa Singhasari-Majapahit, uncalnya sangat panjang sampai hampir menyentuh mata kaki, sedangkan masa sebelumnya hanya sampai lutut . “Satu ciri khas dari Singhasari-Majapahit.”

Lalu apa yang membedakan gaya pahatan antara masa Singhasari dan Majapahit itu sendiri? “Teratai atau padma yang ada di kanan dan kiri arca,” imbuhnya. Kalau dari masa Singhasari itu teratai keluar dari bonggolnya, sedangkan teratai pada masa Majapait keluar dari vas atau guci keramik.

“Tapi yang jelas,” kata Hardiati, “masa Singhasari-Majapahit ini mempunyai corak dan seni tersendiri.” Gaya seni pahat Jawa Timur lebih dinamis dibandingkan Jawa Tengah. Di sisi lain, seni pahat di Jawa Tengah lebih naturalis—apa adanya—dibandingkan Jawa Timur. Dia memberi contoh, relief-relief candi Jawa Timur lebih dinamis, bentuk pahatannya menyerupai wayang. Pahatannya tidak terlalu dalam, tidak seperti pahatan pada Candi Prambanan dan Borobudur. “Namun, dari segi keindahannya dua-duanya indah,” pungkasnya.

National Geographic Indonesia edisi September 2012 menyelisik keindahan dan kearifan Ibu Kota Majapahit dalam kisah “Metropolitan yang Hilang.” Dalam edisi ini tersisip pula bonus peta dua sisi yang menampilkan sisi panorama kota agung itu dan rekonstruksi permukiman berdasar penelitian arkeologi.  Tak hanya itu, kisah ini juga mengungkap makna "Nusantara" dan skandal ilmiah dalam penyusunan sejarah Majapahit.

(Mahandis Y. Thamrin/NGI)