Showing posts with label Ekonomi Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi Indonesia. Show all posts

Sunday, October 14, 2012

Indonesia di New York Luar Biasa

Ilustrasi. (Foto: Corbis)

JAKARTA - Indonesia semakin menarik di mata para investor. Bahkan para investor di New York Stock Exchange (NYSE) berebut untuk melakukan investasi pada perusahaan Indonesia.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mencontohkan, penawaran obilgasi Danareksa yang menuai begitu banyak peminat di NYSE. Hal tersebut terungkap kala Danareksa melakukan roadshow obligasi.

"Di New York, investor membludak. Lebih banyak dari yang kita harapkan. Indonesia di New York luar biasa, banyak yang tertarik untuk berinvestasi," ungkap dia usai rapat pimpinan BUMN di Danareksa, Jakarta, Selasa (9/10/2012).

Dia mengatakan, dalam roadshow yang dilakukan, banyak investor di NYSE yang datang untuk melakukan penawaran. "Investor itu selalu bergantung kebutuhan kita. Tapi kita tidak akan mengambil pendanaan berlebihan," kata dia.

Dia melanjutkan, Danareksa memang mengutamakan penawaran pada investor lokal. Menurutnya, berkat ciamiknya kerja Danareksa, maka BUMN sekuritas tersebut memiliki pelanggan tetap.

"Biasanya kita sudah habis di domestik, kita sudah punya investor loyal. Mereka enggak perlu default, mereka malah minta jumlahnya besar. Tapi itu tak sesuai dengan kebutuhan," tukas dia. (mrt)

Sumber

Investasi Asing Makin Deras Masuk ke Indonesia

Ilustrasi. (Foto: Corbis)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan optimisme investor global terhadap prospek tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat. Peningkatan tersebut ditandai oleh derasnya arus modal masuk ke Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah tercatat berada diperingkat kedua tertinggi di Asia setelah China. Hal tersebut menjadi salah satu pemicu keyakinan investor global berinvestasi di Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Persepsi investor global terhadap aset portofolio Indonesia makin positif," ungkap Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo, di Gedung BI, Jakarta, Jumat (12/10/2012).

Perry menyebutkan, di saham misalnya, dengan pertumbuhan ekonomi 6,3 persen pada triwulan ketiga dan merupakan pertumbuhan tertinggi nomor dua di Asia, perolehan laba perusahaan-perusahaan publik kita masih rata-rata di atas 20 persen.

"Ini membuat price to earning ratio (PER) kita tetap menarik," tutur Perry.

Optimisme investor global itu, menurut Perry, tercermin dari semakin derasnya arus modal masuk terlihat dari investasi asing langsung yang naik menjadi USD5,3 miliar pada kuartal ketiga tahun ini dari USD3,7 miliar pada kuartal sebelumnya.

"Arus modal yang deras masuk, naik menjadi USD5,3 miliar di kuartal ketiga, dari sebelumnya hanya USD3,7 miliar," tukas Perry. (ade)

Sumber

Pertumbuhan Indonesia Nomor Dua di Asia

SHUTTERSTOCK 
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis di Eropa yang masih terus memburuk berisiko besar pada perekonomian Indonesia dan negara-negara Asia. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap relatif tinggi, bahkan nomor dua di Asia setelah China. Diversifikasi pasar ekspor Indonesia menunjukkan hasil.

Ekonom Senior Standard Chartered Indonesia, Fauzi Ichsan, di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/10/2012), memprediksi, tahun ini pertumbuhan Indonesia sangat mungkin berada pada posisi nomor dua tertinggi di Asia setelah China. Ia memperkirakan tahun 2012 pertumbuhan Indonesia bisa melaju hingga level 6,3 persen, di bawah China dengan pertumbuhan 7,7 persen.

”Indonesia adalah salah satu negara yang terimbas krisis global dan dampaknya masih terbatas dibandingkan, misalnya, negara tetangga,” kata Fauzi.

Ia memprediksi, kendati pertumbuhan ekonomi dunia melambat, posisi China, Indonesia, dan India masih terlindungi dari rentannya ekonomi global. Bahkan, posisi Indonesia diperkirakan terus membaik dan diperkirakan tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,5 persen.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa kepada wartawan Kompas Cyprianus Anto Saptowalyono di Nagoya, Jepang, mengatakan, untuk mengurangi dampak negatif pertumbuhan ekonomi global yang lebih rendah daripada perkiraan semula, pemerintah akan menjaga mesin-mesin pertumbuhan ekonomi domestik. Karena itu, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengurangi dampak terhadap perekonomian dalam negeri.

Langkah-langkah kebijakan tersebut, kata Hatta, antara lain, adalah menjaga daya beli masyarakat. Hal ini dilakukan dengan mengendalikan laju inflasi, yang diimplementasikan dengan menjaga kelancaran distribusi barang. Pemerintah juga menerapkan kebijakan mengurangi pengaruh musiman terhadap harga pangan di dalam negeri.

Pemerintah juga mendorong pertumbuhan dan penyebaran investasi melalui perbaikan iklim investasi. Langkah lainnya dengan diversifikasi ekspor. ”Dalam hal negara tujuan ekspor, kita sudah lebih terdiversifikasi dibandingkan pada masa sebelum resesi global pada 2008-2009,” kata Hatta.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, strategi diversifikasi ekspor Indonesia yang dimulai tahun 2011 guna meredam dampak krisis Eropa sudah menunjukkan hasil. Volume dan nilai ekspor ke negara-negara nontradisional mulai meningkat.

Menurut Bayu, kelesuan ekonomi dunia telah berdampak serius bagi kinerja ekspor Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2012 mencapai 14,12 miliar dollar AS, turun 12,27 persen dibandingkan dengan ekspor Juli 2012. (ENY/SON/DMU)

Sumber

Pertumbuhan Kelas Menengah Dongkrak Ekonomi RI

Ilustrasi. (Foto: AP)

JAKARTA - Salah satu yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam negeri adalah masyarakat menengah. Masyarakat menengah ini dilihat dari pendapatan menengah.

Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar, mengatakan saat ini kelas menengah Indonesia mencapai 45 juta orang. Menurutnya, pertumbuhan ini mengalami peningkatan tiap tahunnya.

"Bila peningkatan lima sampai enam persen per tahun maka dari 2011 ke 2030 akan ada 95 juta kelas menengah kita. Paling besar 125 juta ditambah dengan 45 juta sekarang," ungkap Mahendra Siregar, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (5/10/2012).

Mahendra mengatakan, Kelompok menengah di Indonesia saat ini telah menjadi motor perekonomian indonesia. "Struktur demografi berbeda dengan negara maju," katanya.

Menurutnya, kelas menengah turut serta menjaga dan meningkatkan perekonomian selama 10 tahun sejak krisis 1998 hingga 2008 di tengah krisis global. "Memfasilitasi kelas menengah baru menjaga meningkatkan optimisme perekonomian di tengah krisis global," ujar mahendra.

Mahendra mengatakan, pada 2011 Bank Dunia menyatakan penduduk Indonesia berpendapatan relatif besar serta memiliki keterampilan yang tinggi. "Bank Dunia mengatakan penduduk Indonesia pendapatan kelas menengah dua hingga USD20 per hari pada 2011. Usia produktif jauh lebih tinggi demographic defident 2040," ujarnya. (mrt)

Sumber

BI: Ekonomi Indonesia Kuartal III Tumbuh 6,3%

Ilustrasi. (Foto: Corbis)

JAKARTA - Perekonomian global diperkirakan masih akan melambat karena belum pulihnya ekonomi Amerika Serikat (AS) ditambah melambatnya ekonomi China dan India. Namun, perekonomian Indonesia masih dalam keadaan stabil dengan adanya sentimen negatif tersebut.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengungkapkan perekonomian domestik masih tumbuh cukup baik walaupun tidak setinggi prakiraan semula. Darmin menilai ekonomi Indonesia pada triwulan III-2012 akan sedikit terkoreksi.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2012 diprakirakan sebesar 6,3 persen, lebih rendah dari prakiraan sebelumnya akibat penurunan kinerja sektor eksternal," katanya di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Kamis (11/10/2012).

Dia mengungkapkan, meskipun konsumsi dan investasi yang berorientasi permintaan domestik tetap tumbuh tinggi, penurunan ekspor telah berdampak pada penurunan produksi dan investasi yang berorientasi ekspor.

"Ke depan, pertumbuhan ekonomi masih akan ditopang oleh permintaan domestik yang cukup kuat dan potensi membaiknya ekspor meskipun masih dibayangi oleh ketidakpastian perekonomian global," kata dia.

Hal tersebut juga didukung oleh masih cukup kuatnya sumber pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Jawa. Dengan perkembangan tersebut, ekonomi Indonesia untuk keseluruhan 2012 sebesar 6,1-6,5 persen sementara untuk 2013 diprakirakan pada 6,3-6,7 persen. (mrt)

Sumber