Showing posts with label Inovasi. Show all posts
Showing posts with label Inovasi. Show all posts

Wednesday, September 19, 2012

Jempol Jenthik Impikan Keroncong Jadi Identitas

HENDRO SUSILO/"PRLM" - Jempol Jenthik 

BANDUNG, (PRLM).- Mendengarkan musik country, ingatan orang langsung tertuju ke daerah koboy di Amerika. Mengapa tidak, musik keroncong didorong menjadi musik dunia yang bisa dimainkan di mana-mana sehingga menjadi identifikasi dari Indonesia. Dengan semangat nasionalisme itu, Indonesia bisa dikenal sebagai negara yang berbudaya.

Gagasan tersebut ialah visi sekaligus mimpi yang terpatri dalam orkes keroncong Jempol Jenthik. Pemimpinnya, Adi B Wiratmo, menjelaskan hal itu seusai Jempol Jenthik manggung dalam acara “Festival Media” yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Gedung Indonesia Menggugat, Jln. Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Sabtu (15/9/12) sore.

Adi menuturkan, penamaan Jempol Jenthik didasarkan oleh filosofi bahwa jempol adalah ibu jari atau jari terbesar dalam jemari, sedangkan jenthik bermakna kelingking atau jari terkecil. Adi berharap, Jempol Jenthik bisa berkontribusi untuk mencapai sesuatu yang besar dengan melakukan hal yang kecil, seperti bermain musik keroncong.

Selain Adi (bas), personel Jempol Jenthik yang lain ialah Lala (vokal), Dina (vokal), Irsha (vokal), Dedi (cello), Riki (gitar), Wiwid (cuk), Gunadi (cak), Satoto (biola), Didik (biola), Dudi (flute), dan Bagyo (flute). Masing-masing alat musik memiliki karakter masing-masing, itulah yang membuat orkes keroncong lebih menarik.

“Awalnya sekitar tahun 2005, saya tertarik dengan pukulan cello waktu mendengarkan lagunya Waljinah. Cello itu kalau di musik klasik barat dimainkan dengan cara digesek, nah ini dipetik secara terus-menerus. Dari situ saya mengajak teman-teman waktu kuliah dulu. Kami membeli alatnya di Solo, baru kemudian membentuk grup,” kata Adi.

Bermodalkan kemampuan bermain gitar, orkes asal Bandung ini melakukan latihan secara tertatih-tatih karena jumlah anggota yang banyak dan jadwal yang sulit dicocokkan. “Pada dasarnya kami senang musik saja, tetapi akhirnya kami kompak membentuk grup keroncong. Kami sampai mencari orang yang bisa melatih, namanya Pak Tatang Mutahari,” paparnya.

Tidak hanya memainkan musik “jadul”, Jempol Jenthik juga mengombinasikan beragam alat musik yang dimainkan dengan lagu-lagu dari berbagai aliran. Supaya keroncong bisa bertahan hidup dan terus berkembang, maka musiknya mesti dikolaborasikan sehingga mampu menarik minat anak-anak muda. Pasalnya, kata Adi, anak muda senang dengan sesuatu yang dinamis, dan keroncong di masa depan ialah keroncong yang dimainkan oleh generasi muda sekarang.

“Karena dulu saya agak susah mencari orang untuk diajak diskusi tentang keroncong, jadinya saya membuat milis di Yahoo. Kami menamainya dengan Komunitas Keroncong Cyber. Selain itu, kami juga membuat kaos untuk mengampanyekan musik keroncong. Kemudian ada buletin gratis untuk disebarkan di kota-kota besar dan luar negeri. Kami pun membikin sanggar untuk anak-anak kecil, namanya Sanggar Tjroeng. Dengan berkembangnya kegiatan, kami akhirnya membuat yayasan juga, Yayasan Keroncong Tjroeng namanya,” ucap Adi.

Adi dan teman-temannya berupaya mendorong perkembangan keroncong dengan menggiatkan jaringan ke luar negeri. Adi berharap, keroncong bisa seperti gamelan yang banyak dipelajari di berbagai perguruan tinggi di luar negeri.

“Keroncong itu bisa hidup bukan hanya karena kreativitas musisinya, tetapi juga perlu diapresiasi oleh masyarakat. Melalui peran media dan pemerintah, sosialisasi keroncong diharapkan bisa lebih baik. Kalau perlu di dunia usaha juga, karena keroncong bisa dilibatkan dalam bisnis wisata. Soalnya, bagaimana pun keroncong itu asli Indonesia,” pesannya. (A-203/A-88)***

Sumber

Khayalan pun Bisa Jadi Inspirasi Motif Batik

ilustrasi (google img)

Membatik telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Wardi Wiharjo alias Sliptiyah. Selama hampir 56 tahun, perempuan asal Dusun Banyusumurup RT02, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri ini bergelut dengan dunia batik.
Usia senja tak jasi penghalang bagi Sliptiyah untuk terus berkarya menciptakan kain batik. Hingga kini, perempuan berusia 64 tahun ini masih terus membatik. Ibu dua anak ini mengaku sudah membatik sejak usia delapan tahun. Keahliannya membatik ia peroleh dari orangtuanya dan terus ia kembangkan secara otodidak dengan membatik setiap hari.
Seperti kata pepatah, alah bisa karena biasa. Kain mori, lilin dan canting sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Berbagai motif telah ia ciptakan. Mulai dari motif batik klasik, hingga motif flora dan fauna yang menjadi favoritnya. Bahkan, tak jarang ia melayani pesanan dari luar negeri.
“Motif batik Prancis yang paling rumit, pengerjaannya juga lama,” ujarnya saat ditemui belum lama ini.
Di rumahnya di Dusun Banyusumurup, ia bersama salah satu anaknya masih memproduksi batik tulis. Menyadari regenerasi pembatik yang lamban, pintu rumahnya selalu terbuka bagi siapapun yang ingin belajar membatik. “Siapa saja yang ingin bisa membatik, saya ajari,” ujar nenek 10 cucu ini.
Inspirasi membuat motif dan corak bisa ia peroleh dari mana saja. Bahkan tak jarang ia peroleh dengan cara menerawang atau berkhayal. Beberapa saat kemudian pola baru yang ditemukan ia torehkan ke kain. Hampir semua motif dan corak bisa ia buat, apapun permintaan pembeli akan ia penuhi. Kain batik pertama yang ia buat yakni galaran pola merak bahkan masih ia pakai hingga sekarang.“Dulu kalau dijual cuma laku Rp7.000, sekarang bisa sampai Rp700.000,” ujarnya sambil tersenyum.
Perjalanannya membatik tak selalu mulus. Bahkan sempat seret sejak gempa yang menimpa Bantul 2006 silam. Meski demikian, tak ada niatan sama sekali untuknya berhenti atau beralih profesi dari pembatik. Perjalanan membatiknya kembali bangkit seusai ia memperoleh pesanan dari salah seorang pengusaha Jogja. Uang yang ia terima sebesar Rp2,5 juta pun akhirnya menjadi modal untuk kembali membangkitkan batik Bantul.
Wanita yang memperoleh penghargaan sebagai pembatik tertua di Bantul dari Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad ini mengaku untuk mengerjakan selembar kain mori menjadi sebuah kain batik cantik, ia memerlukan sekitar setengah kilogram lilin dan menyelesaikannya selama tiga hari. “Kalau batik Prancis hanya tergantung pesanan, prosesnya bisa sampai satu minggu. Yang paling lama itu nitiki [membuat corak titik-titik],” akunya.
Ia bersyukur salah satu dari anaknya mau melanjutkan membatik. Diakuinya, generasi muda saat ini memang tidak banyak yang tertarik untuk membatik. Selain perlu ketelitian, dalam membatik juga diperlukan kesabaran. “Membatik itu juga pakai hati. Hasilnya pasti lebih bagus,” ujarnya.

Sumber

Google: Perang Paten Tidak Membantu Inovasi

bgr.com

KOMPAS.com - Perang hukum hak paten antara perusahaan teknologi belakangan ini semakin ramai. Perusahaan internet dan software Google, menilai langkah ini tidak akan mendorong inovasi dalam dunia teknologi

Direktur Kebijakan Publik Google Pablo Chavez mengatakan, perang paten perangkat lunak berpotensi menghalangi inovasi

"Kami berpikir bahwa perang paten ini tidak membantu konsumen. Mereka tidak membantu pasar. Mereka tidak membantu inovasi," kata Chavez saat menjadi pembicara di konferensi Technology Policy Institute's Aspen, Senin (20/8/2012). 

Menurutnya, Google selama ini berusaha membuat terobosan dan memikirkan solusi jangka panjang menuju reformasi paten serta memajukan industri teknologi. 

Google merupakan salah satu perusahaan yang sering berhadapan dengan masalah hak paten. Saat ini, Google sedang digugat oleh Oracle terkait perangkat lunak Java di sistem operasi Android. 

Motorola Mobility, anak perusahaan Google yang bergerak di industri perangkat mobile, juga sedang digugat oleh Apple. Beberapa fitur perangkat Android besutan Motorola dituding meniru fitur iOS milik Apple. 

Kasus hukum hak paten yang paling menghebohkan industri teknologi saat ini adalah "perang" antara Apple dan Samsung yang berlangsung di Amerika Serikat. Setelah melewati masa pra-peradilan selama 17 bulan, masa persidangan antara keduanya telah dimulai sejak 31 Juli 2012 lalu. 

Masing-masing pihak dipersilakan mendatangkan saksi dan saksi ahli. 10 orang anggota tim juri yang telah dipilih dan Hakim Pengadilan Distrik Utara California bakal memutuskan siapa yang melanggar paten pada akhir Agustus ini.

Wahyu, Pencipta Audio Mobil Andal Bermerek Lokal

KONTAN/CHEPPY A MUCHLIS

KOMPAS.com — Hobi yang dijalani secara serius ternyata mampu membawa seseorang pada puncak kesuksesan. Inilah yang dialami Wahyu Tanuwidjaja. Kesukaannya mendengarkan musik ternyata mengantarkannya pada membangun bisnis audio khusus mobil.
Mencari produk audio untuk mobil yang berkualitas biasanya selalu memakai referensi produk impor. Padahal, ada juga produk dalam negeri yang kualitasnya sudah diakui. Salah satu produsen audio mobil dalam negeri yang mereknya sudah mendunia adalah Dominations
Di balik sukses audio mobil merek Dominations adalah Wahyu Tanuwidjaja, sang pemilik. Bermula dari sebuah bengkel pemasangan dan pembuatan audio mobil pada tahun 1993, kini Wahyu telah memiliki bengkel sekaligus workshop cukup luas di kawasan Sunter untuk produksi perangkat audio merek Dominations ini.
Salah satu produk andalan Dominations adalah speaker 2 way system yang berkemampuan seperti tiga atau bahkan empat speaker. Saat ini, produk Dominations sudah diekspor ke Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura, Australia, dan Kanada. Dari penjualan di luar negeri, Wahyu mendapatkan omzet sebesar Rp 1 miliar per tahun. Dari penjualan di dalam negeri, omzetnya sampai Rp 5 miliar per tahun.
Tahun ini, bergabung dengan pelbagai merek audio mobil ternama di dunia, Dominations juga menjadi mitra European Mobile Media Association (EMMA) untuk menyelenggarakan pelbagai pergelaran yang berhubungan dengan audio mobil. ”Dengan menjadi mitra EMMA, Dominations yang merek Indonesia sudah diakui kualitasnya. Tidak mudah menjadi mitra mereka,” kata Wahyu.
Selain sebagai produsen perangkat audio, Wahyu juga menjadi pengajar di sekolah non-formal bernama Audio Workshop. Sekolah yang berdiri tahun 2001 ini memberikan pelatihan seputar modifikasi audio mobil. ”Saya juga sering menjadi pembicara di pelbagai seminar dengan topik audio mobil,” ujar lelaki kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1971 ini.
Wahyu bercerita, ketertarikannya pada audio mobil diperoleh saat masih duduk bangku sekolah menengah atas. ”Waktu SMA, saya senang audio ruangan,” kenangnya. Dia sering dimintai tolong tetangganya untuk memasang home theater.

Saat itu, lantaran menjadi murid di sekolah elite, banyak temannya memiliki mobil. Berbekal pengalaman memasang audio ruangan, dia kadang membantu temannya memasang audio mobil. Suatu hari, ayah seorang temannya menyuruh Wahyu mengawasi mobil yang sedang dipasangi audio di sebuah bengkel. ”Saya perhatikan betul bagaimana kerja mekanik itu. Setelah itu, muncul keinginan untuk belajar audio mobil secara serius,” ujar bapak satu anak ini. Ia menganggap tantangan memasang audio mobil lebih besar ketimbang memasang audio ruangan.

Belakangan, setelah lulus SMA, Wahyu malah bekerja di bengkel itu. Tapi, ia hanya bertahan tiga bulan. Setelah itu, tahun 1993, ia memutuskan mendirikan bengkel sendiri. ”Sambil kuliah, saya membuka bengkel,” ujar Wahyu yang sempat mengenyam kuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Atmajaya Jakarta ini.

Akan tetapi, Wahyu tidak menuntaskan kuliah meski sudah masuk ke semester akhir. ”Susah sekali lulus di jurusan itu,” dalihnya. Meski tak menyelesaikan kuliah, tahun 1996, dia direkrut oleh perusahaan agen audio mobil merek Amerika Serikat (AS) sebagai pelatih atau pengajar. Di perusahaan itu, dia juga semakin banyak belajar seputar audio mobil.

Tahun 1998, krisis keuangan melanda. Banyak pabrikan audio mobil asal Amerika Serikat yang bangkrut. ”Saya bertahan di perusahaan itu sampai tahun 2001. Saat itu, banyak pabrikan audio mobil AS diambil oleh investor dari Arab dan Asia,” kata Wahyu.

Karena kondisi tak membaik, Wahyu lantas memilih fokus menjalankan usaha bengkel dan membuka sekolah non-formal Audio Workshop. Ternyata, banyak rekanannya yang meminta pasokan aksesori mobil.

Sempat diremehkan

Tahun 2006, bermodal Rp 50 juta, Wahyu mulai memodifikasi audio mobil di bawah bendera PT Audio Workshop. ”Kami belum bisa dibilang produksi karena bahan baku masih impor dari China, AS, dan Eropa. Tapi kami berani menyebut 100 persen design and engineered in Indonesia,” katanya. Audio mobil Dominations ini awalnya hanya dijual sesuai dengan pesanan.

Wahyu belum berani menjual Dominations dalam jumlah besar lantaran label made in Indonesia masih dipandang sebelah mata. ”Susah dipasarkan karena ada anggapan tak berkualitas baik. Saat ikut kontes di luar negeri, produk kami juga diremehkan,” paparnya. Namun, ia tetap mencantumkan Dominations sebagai merek audio mobil dari Indonesia.

Hasilnya, Dominations mampu menjadi produk unggul dan menjuarai pelbagai kontes audio mobil. ”Di Kanada, kami 11 kali menang, enam di antaranya sebagai pemenang pertama,” kata Wahyu. Selain itu, Dominations menghasilkan 15 trofi di Filipina dan 12 trofi di Malaysia. Dari ajang ini, Dominations membuktikan diri sebagai audio mobil yang mampu bersaing dan memiliki kualitas.

(Fransiska Firlana/Kontan)

Sumber

Saroji dan "Ginseng" ala Indonesia

Oleh Gregorius M Finesso


Penghalang kreasi hanyalah kemalasan, batasan inovasi hanyalah langit. Begitu kira-kira prinsip hidup yang dipegang Saroji (47), pria dari Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Dengan kegigihan memanfaatkan peluang, dia kenalkan purwaceng, flora khas Dieng, sebagai minuman alami penambah stamina ke seantero Nusantara, bahkan hingga ke mancanegara.
Medio tahun 1994, Saroji hanyalah penjual tiket obyek wisata di kompleks Candi Arjuna. Kendati telah membudidayakan purwaceng sejak lama, tumbuhan itu hanya diracik untuk keperluan sendiri. ”Paling-paling buat tetangga atau saudara yang mau meminumnya,” ujar warga Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, itu, Selasa (29/5/2012).
Dari mulut ke mulut makin banyak orang tertarik meminum purwaceng racikan Saroji. Terlebih setelah mengetahui khasiatnya yang membuat tubuh segar dan hangat. Akhirnya, purwaceng racikannya mulai didengar sejumlah wisatawan. Mereka mendatangi rumah Saroji hanya untuk meminum purwaceng.
Ide usaha pun muncul. Tahun 2004, pria yang juga karyawan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dieng pada Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Banjarnegara itu, mulai menggarap komoditas purwaceng lebih serius. Modal awal Rp 5 juta disiapkan.
Saroji memulai dengan mengolah serbat purwaceng. Kendati demikian, mengembangkan tanaman purwaceng tidaklah mudah. Kesulitan menghadang sejak proses penanaman.
Purwaceng (Pimpinella alpina), yang awalnya hanya dikenal masyarakat sebagai tumbuhan liar di Gunung Perahu dan Gunung Pakujiwo di Dataran Tinggi Dieng ini, tergolong ”rewel” memilih habitat untuk tumbuh kembang. Tumbuhan ini juga tak dapat ditanam di sembarang lokasi di hamparan Dataran Tinggi Dieng yang diketahui merupakan daerah asalnya.
Dari sejak ditanam hingga bisa dipanen, purwaceng butuh waktu sekitar dua tahun. Bila sudah dua tahun, akarnya akan berwarna kuning. Selain itu, tanaman yang diyakini berkhasiat menambah vitalitas pria dewasa ini tidak membutuhkan pupuk kimia.
”Pernah ada petani menanam purwaceng dengan pupuk kimia, tetapi menyebabkan rasanya jadi pahit. Selain itu, purwaceng olahan saya juga tanpa bahan pengawet. Murni produk herbal,” ujar Saroji, yang sering mewakili Kabupaten Banjarnegara ke sejumlah pameran berskala nasional dan regional.
Setelah dipanen, batang dan akar purwaceng dicuci bersih dan kemudian dijemur. Batang dan akar tadi yang kering ditumbuk halus hingga seperti tepung. Awalnya, pengolahan ini menjadi proses yang melelahkan dan menyita waktu. Semua dikerjakan Saroji bersama Sulastri (44), istrinya.
”Untuk menambah rasa, atas saran istri, ditambahkan bubuk kopi, teh, atau susu. Ternyata, konsumen semakin menyukainya,” ujar Saroji.
Sporadis ke wisatawan
Untuk pemasaran, awalnya Saroji hanya menjual serbuk purwaceng yang dikemas sederhana ini secara sporadis kepada wisatawan di Dieng. Saroji mengenang, dia bisa menawarkan serbuk purwaceng hingga malam hari. Mulai dari kompleks candi sampai mendatangi losmen dan penginapan para turis.
Minim pendidikan formal tak menyurutkan Saroji belajar pemasaran. Dia kemudian menempuh metode pemasaran berjaringan. Saroji menjalin kerja sama dengan sejumlah agen wisata dan pemerintah setempat. Alhasil, kios purwaceng Saroji di kompleks Candi Arjuna menjadi salah satu destinasi wajib wisatawan. Produknya pun diakui menjadi salah satu oleh-oleh khas Dieng.
Konsep ini terbukti ampuh menjaring konsumen. Seiring meningkatnya pesanan, Saroji mulai merekrut karyawan untuk produk purwaceng yang diberi label Tri Sakti. Tak hanya di bagian pengemasan dan pemasaran, Saroji juga memberdayakan sejumlah petani Dieng untuk menanam purwaceng. Hasilnya diserap industri rumahan milik Saroji.
Saroji kini dibantu 12 karyawan memproduksi purwaceng dalam berbagai kemasan. Akar purwaceng dalam botol dijual Rp 25.000 per botol. Untuk kemasan serbuk tersedia dalam kemasan sachet berbagai aroma serta botol. Untuk satu sachet dengan pilihan aroma teh, kopi, dan susu dijual dalam dos berisi 6 sachet Rp 25.000 per dos. Serbuk purwaceng murni tanpa rasa Rp 125.000 per botol.
Saroji mengolah 5 kilogram purwaceng per bulan yang menghasilkan 10.000 kemasan kecil siap seduh. Produksi dilakukan seminggu sekali. Produk dikirim ke Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan. Selain itu. produk Tri Sakti pun sudah melanglang buana hingga Jerman, Italia, dan Belanda.
”Kebanyakan pemesan luar negeri adalah wisatawan yang pernah ke Dieng dan merasakan khasiat purwaceng. Pesanannya bisa berdos-dos. Saya biasa menitipkan melalui agen-agen travel,” ujar Saroji yang omzet penjualannya kini sekitar Rp 75 juta per bulan.
Supaya lebih representatif, Saroji membangun toko sekaligus tempat kerja di tepi jalan utama di sekitar kompleks Candi Arjuna Dieng. Di tempat itu, wisatawan dimungkinkan menyaksikan proses peracikan purwaceng dari awal hingga selesai.
Keberhasilan semacam ini tak lantas menghentikan ide inovasi ayah empat anak ini. Saroji masih menyimpan asa menyempurnakan kualitas kemasannya supaya setara dengan kemasan kopi instan yang banyak di pasaran saat ini agar lebih marketable kendati dia sadar butuh modal yang tak kecil untuk membeli mesin pengemasan seperti itu.
Lewat tangan dingin Saroji, Purwaceng yang awalnya hanya dianggap tanaman liar itu pun naik kasta menjadi salah satu ikon wisata Dataran Tinggi Dieng. Dia yakin, suatu saat gengsi tanaman ini akan dikenal di mancanegara sebagai ”ginseng”-nya Indonesia. ”Gingseng” ala Indonesia.

Sumber

Jonan, Mengubah Indonesia Lewat Kereta Api


Kalau gaji pekerja bagus, kinerjanya juga bagus
-- Ignasius Jonan


Tiga tahun lalu kereta api dan stasiun identik dengan kekumuhan dan kesemrawutan. Kini, datanglah ke stasiun, Anda akan melihat perubahan. Kebersihan, kerja keras, dan disiplin bisa terlihat di tempat itu. Jutaan penumpang kereta api menjadi saksi.

Di tangan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignasius Jonan, perubahan itu dimulai. Ketika diamanahi memimpin BUMN transportasi ini, ia sempat berujar kepada Sofjan Djalil, mantan Menteri BUMN, apakah dengan latar belakangnya di bidang akuntansi ia tepat mengabdi di dunia transportasi?

Namun, begitu dilantik pada 25 Februari 2009, tiga bulan pertama dilalui Jonan dengan mempelajari PT KAI dan perkeretaapian. Ia memperkenalkan sistem meritokrasi.

”Tak ada lagi urut kacang atau persaingan antarkelompok untuk meraih posisi,” ujar Jonan. Bekerja profesional menjadi keseharian pegawai PT KAI.

Kemudian, kompensasi pegawai dinaikkan secara bertahap. Dalam tiga tahun terakhir, ada beberapa jabatan yang penghasilannya dinaikkan berlipat. ”Begitu saya tahu gajinya tak wajar, ya, harus disesuaikan, entah bagaimana caranya. Tidak mungkin pekerja yang melayani publik mendapat gaji kecil,” ujarnya.

Bagaimana perusahaan yang merugi Rp 83,4 miliar pada 2008 itu punya dana untuk menaikkan gaji? ”Saya sampaikan kepada pegawai, ayo kita cari dana bersama-sama,” ujarnya. Walau komponen gaji pegawai naik, PT KAI tetap mencetak laba bersih Rp 153,8 miliar pada 2009. Dua tahun terakhir, laba bersih KAI pun lebih dari Rp 200 miliar.
Bagaimana itu mungkin? ”Kalau gaji pekerja bagus, kinerjanya juga bagus,” ujarnya.
Ia menganalogikan dengan seekor sapi yang melintas di depan orang lapar. ”Mungkin hanya butuh 1 kilogram daging, tetapi karena tak mungkin memotong secuil daging, ya, dibunuh sapinya. Sebuah perusahaan juga bisa seperti sapi itu,” kata Jonan.
Tentang pegawai
Begitu memimpin KAI, ia tak langsung memangkas pegawai. ”Jumlah pegawai itu tak pernah berlebih, mungkin yang kurang pekerjaannya,” ujarnya. Keadilan coba ditegakkan, semisal gaji komandan di lapangan harus lebih tinggi daripada komandan di kantor.
”Tak boleh ada toleransi dan harus konsisten saat kita memutuskan kebijakan di perusahaan layanan umum,” ujar Jonan.
Tak sekadar bicara, dia pun memberi contoh. Saat mendapati penumpang tak mampu yang hendak naik kereta tanpa membeli tiket, dia merogoh kantong. ”Saya bayari sendiri,” ceritanya.
Rasa kasihan adalah urusan personal, sementara KAI adalah perusahaan negara yang harus dikelola profesional. ”Kalau ada pegawai lain merasa kasihan, ya, bayari saja dari kantong mereka sendiri. Ini bukan perusahaan milik mereka, tetapi milik negara. Sistem harus ditegakkan.”
Cenderung bicara keras dan apa adanya, itulah Jonan. Masyarakat bisa merasakan saat ia menerapkan sistem boarding dan kebijakan satu nama-satu tiket. Ia tak goyah ketika ada pihak yang mengkritik.
Penumpang kereta jarak jauh dan sedang juga harus duduk. Sementara untuk meminimalkan calo, nama di tiket harus sesuai dengan kartu identitas. Kebijakan ini bikin heboh. Penumpang terkaget-kaget.
Banyak penumpang, bahkan pegawai KAI, dan orang penting yang angkat suara. Meski justru terkesan menyepelekan penumpang dengan mengatakan, mungkinkah penumpang kereta diatur seperti itu? Bagaimanapun, hasilnya penumpang nyaman.
Siapa pun yang keberatan dengan sistem itu boleh melongok Stasiun Pasar Senen yang kini nyaman. Sistem boarding tak sekadar membuat stasiun lebih bersih, juga mengamankan pendapatan KAI. Namun, yang terpenting, mampu mengedukasi masyarakat.
Awalnya pegawai KAI mengeluhkan sulitnya mengajari penumpang antre. Namun, lambat laun, penumpang sendiri yang mengakui antre membuat mereka lebih nyaman.
Apabila dulu pegawai PT KAI harus mengancam menurunkan penumpang yang merokok, pasca-diterapkannya larangan merokok pada Maret 2012, sesama penumpang mengingatkan penumpang lain yang merokok di atas kereta.
Komisi Nasional Pengendalian Tembakau pun menghargai komitmen KAI dalam melarang aktivitas merokok di atas kereta dan lingkungan stasiun.
Inovasi juga diluncurkan PT KAI awal Agustus silam. Pembelian tiket bisa melalui situs http://www.kereta-api.co.id. Lewat sistem ini calon penumpang lebih mudah membeli tiket.
Alhasil, dalam penutupan Pos Koordinasi Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu tahun 2012, Selasa (28/8/2012), hanya moda kereta api yang mendapat pujian. Menteri Perhubungan pun melontarkan niatnya menerapkan sistem boarding di terminal bus dan pelabuhan.
Tak ragu
Perubahan-perubahan itulah yang dirasakan penumpang kereta api. Mereka tak lagi berdesak-desakan di stasiun. Kebersihan di stasiun dan kereta api terjaga. Jadwal keberangkatan dan kedatangan juga semakin sesuai dengan yang dijanjikan.
Perubahan itu dilakukan Jonan dengan tegas tanpa pandang bulu. Mengapa berani? ”Ini dari ketiadaanvested interest pada diri saya. Kalau tidak punya kepentingan tertentu, kita takkan ragu memutuskan atau berbuat apa pun,” ujar Jonan.
Empat puluh sembilan tahun lalu, Jonan lahir di Singapura. Ia tumbuh dalam keluarga yang mapan, kemudian berkarier gemilang pada perusahaan finansial multinasional. Maka, boleh dikatakan, hari-harinya di PT KAI dijalani sebagai sebuah pengabdian.
Setelah 3,5 tahun memimpin PT KAI, apakah kini gairahnya tertuju pada perkeretaapian? ”Bagi saya, yang penting pekerjaan ini bermanfaat buat banyak orang,” ujar Jonan.
Dia yakin kereta api merupakan bagian dari solusi masalah di Indonesia. Sebagai contoh, mengenai banyaknya korban dalam arus mudik, Jonan menawarkan solusi untuk Lebaran 2013.
”Apabila pemerintah mau menyubsidi pengangkutan sepeda motor dengan kereta, KAI akan mengangkut 300.000 motor pulang-pergi. Mengapa kami butuh subsidi? Karena pemudik butuh tarif yang terjangkau. Tanpa itu, mereka tetap akan menantang bahaya untuk mudik,” katanya.
Dari kereta api kita bisa becermin, sesungguhnya Indonesia mampu berubah. Disiplin, kerja keras, dan kejujuran bisa dibangkitkan kembali melalui contoh langsung.

Sumber

Retno, Inovasi Es Krim Jamu


KOMPAS.com - Namanya es krim jamu. Kata terakhir yang disebutkan itu, seringkali malah menjadi alat orang tua menakuti anak kecil bandel yang susah diatur. Ada kesan yang tertanam jamu itu menakutkan hingga s ikecil tumbuh dewasa. Hal ini yang mendasari Retno Widati berupaya melestarikan jamu agar tidak punah dimakan zaman yang modern.
Ia hanya tidak ingin konsumen jamu punah hanya karena berganti generasi. Percuma ada banyak perajin dan penjual jamu sementara penikmatnya tidak ada. Ia sendiri sudah menjadi penikmat jamu sejak kecil. Penikmat yang berupaya melestarikan jamu dengan belajar membuatnya lalu berinovasi.
Ide ini mucul ketika dirinya kedapatan melihat seorang ibu penjual jamu gendong di pasar. Hingga pukul 12.00 siang, barang dagangnya masih banyak yang tersisia. Ia pun tertarik sekedar mengobrol dengan penjual tersebut. Dari hasil pembicaraannya, diketahui suami penjual jamu gendong tersebut adalah perajin es dungdung.
“Kemudian saya berpikir kenapa  tidak dibuat saja dari jamu menjadi es krim. Kan jadi inovasi baru,” ungkap Retno.
Sempat terlintas di pikirannya, ini peluang bisnis yang cukup menarik. Apalagi dengan sekali proses pembuatan selama 15-20 menit, dapat menghasilkan minimal 50 cup es krim jamu. Satu cup es krim jamu bila dilempar ke pasar, Ia taksir harganya hampir sama dengan yang dijual di  salah satu toko es krim biasa yang cukup tenar di Jalan Veteran, Jakarta.
“Untuk harga sendiri, saya pikir harganya bisa sejajar dengan es krim Ragusa. Satu cup itu bisa mencapai Rp 13.000. ” kata Retno kepada Kompas.com ditemui di tempat praktik terapinya di Jalan Kayu Manis Timur 8, Matraman, Jakarta.
Akan tapi, Ia menyadari, usaha terapi tradisional yang dijalaninya saat ini sudah cukup menyita waktu di hari tuanya. Apalagi, Retno berprinsip, hanya akan mau berbisnis yang 90 persennya bisa dilakukan seorang diri. Sementara membuat es krim  tersebut butuh tenaga manusia yang lebih banyak. 
Ia pun hanya ingin masyarakat dapat mempertimbangkan pentingnya kesadaran back to natural. Hidup sehat ‘kembali ke alam’ di samping mengonsumsi camilan berbahan tambahan kimia, baik dalam keadaan sehat maupun sakit.
"Kalau ada yang mau mematenkan es krim jamu, Kami tidak menyalahkan. Justru malah merestui, sekalipun tidak kenal. Mau bikin workshop soal jamu es krim ini yah silahkan. Workshop di sekolah-sekolah internasional juga ada duitnya loh," ungkap pemilik hak paten beberapa obat herbal merek Jamu Honocoro dan menjadi rekanan salah satu perusahaan Jamu Jago ini.
Sekalipun ini inovasi yang keluar dari idenya, Ia pun tidak mau mengklaim bahwa jamu yang dijadikan es krim merupakan penemuannya. Mungkin saja, di daerah telah lebih dahulu menemukannya, namun tidak terekspos media.
Belajar gratis
Ia menegaskan, es krim jamu ini hanyalah bersifat hobi semata, yakni penikmat, pecinta, dan pelestari yang ketiganya itu tanpa adanya motif bisnis.
Dengan senang hati, Retno bantu secara ikhlas, bila ada masyarakat yang ingin belajar cara membuat es krim jamu. Sekalipun ada yang  bermotif bisnis, namun tetap dibimbing caranya meracik rerempahan alamiah itu menjadi menjadi es krim jamu yang ngepop.
"Tidak dipungut biaya. Tinggal datang saja ke tempat terapi. Nanti saya ajari bagaimana mengolahnya. Saya senang kalau ada orang yang mau belajar caranya melestarikan jamu. Yang penting datang saja dulu," kata Retno.
Retno menjelaskan, sebenarnya cara membuat es krim jamu tidak terlalu sulit. Yang rumit dan malah berbahaya dikonsumsi, justru meracik rempah-rempah  menjadi ramuan jamu.
Tapi, masyarakat tak perlu takut mencobanya. Mereka bisa bekerja sama dengan tukang jamu gendong yang telah piawai sebagai penyuplai ramuan jamu.
Caranya, ramuan jamu dicampur dengan tepung tapioka dan tepung hunkwe. Lalu pemanisnya bisa menggunakan madu, gula aren, gula jawa maupun gula tropicana. Dan terpenting ditambahkan kayu legi, sejenis kayu manis yang ampuh menetralkan pahitnya jamu.
Untuk pewarna sendiri,  Retno tidak menyarankan pakai pewarna buatan maupun alami. Lebih baik menerima warna natural dari jamu itu sendiri, misalnya cokelat, putih abu-abu, dan kuning.  Ini akan mencirikan warna keaslian dari jamunya sendiri.
Setelah bahan jadi satu,  kemudian dimasukan ke dalam termos kecil khusus bikin es krim yang berbahan dasar aluminium.  Tukang es krim potong menyebutnya ‘Termos Bos’ yang biasa dijual dengan harga Rp 100.000-an ukuran kecil atau cukup untuk 50 cup ukuran standar es krim jamu.
Lalu, termos kecil yang telah terisi dimasukan ke dalam termos bos besar.  Bila tidak ada, bisa gunakan ember plastik yang harganya jauh lebih murah.
“Bos kecilnya itu dimasukan ke dalam bos besar. Baru lah bos besar diisi es batu dan  garam kasar (Penggunaan garam agar tidak mudah mencair saat diputar). Lalu diputar-putar sekitar 15-20 menit-an hingga  membeku. Walaupun membeku tapi empuk,” jelas Retno.
Berdasarkan nasihat dari apoteker rekanannya, Retno menjelaskan es krim jamu yang disimpan di dalam frezzer  kulkas, ada baiknya tidak lebih dari 24 jam. Lewat dari itu, dikhawatirkan akan mengurang khasiat dari jamu sendiri. Maklum, es krim tersebut memang tidak pakai bahan pengawet.
Ia menjamin, khasiat memakan dinginnya es krim jamu ini seperti halnya meminum hangatnya jamu tradisional yang biasa ditemui di jalan. 
"Untuk mencoba inovasi usaha es krim jamu ini dengan kemampuan industri rumahan minimal 50 cup itu, Saya pikir dananya minimal Rp 300.000-an. Itu sudah termasuk untuk termos bos kecil, ember plastik, batu es, garam, dan yang terpenting ramuan jamunya," ungkap Retno.

Sumber