Showing posts with label Kesehatan Jiwa. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Jiwa. Show all posts

Monday, September 3, 2012

Tiga Manfaat Cinta Bagi Kesehatan Tubuh

Berpelukan memberikan rasa menyenangkan kepada kedua pasangan. (sumber: Freedigitalphotos/photostock)

Ada dampak baik secara fisik dan kejiwaan dari jatuh cinta dalam takaran yang wajar dan sehat.

Kata "cinta" memiliki beragam makna dan interpretasi, membuatnya sulit untuk dijabarkan. Namun, manfaat kesehatan dari cinta bisa cukup mudah diteliti dan lebih jelas terlihat.
Menurut Carmelia Ray, terapis dan pelatih hubungan yang berbasis di Ontario, Kanada, manfaat hubungan cinta yang sehat dan penuh kasih bagi kesehatan setidaknya ada 3 hal, yakni:

1. Emosi positif

Cinta sejak lama diketahui mampu membawa emosi positif. Tawa yang tulus dan lepas adalah salah satu bentuk ekspresi emosi positif.

Tawa, diketahui, baik untuk kesehatan jiwa dan baik untuk kesehatan mental. Konon, tawa adalah obat terbaik untuk jiwa.

Tawa juga merupakan penawar yang ampuh melawan stres, konflik, dan penyakit (baik mental maupun fisik).

Cinta juga punya kekuatan untuk menyembuhkan dan memperbaiki kesehatan mental, emosional, dan fisik seseorang. Riset membuktikan, mencintai orang lain bisa menetralkan emosi negatif. Emosi negatif diketahui bisa memengaruhi fungsi imun tubuh, endokrin, dan kardiovaskuler.

2. Membantu hidup lebih lama dan melawan penyakit

Ada cukup banyak bukti yang menunjukkan. pasien-pasien kanker bisa cepat kembali pulih bila memiliki hubungan keluarga yang erat. Ada pula kisah tentang kesembuhan pasien kanker tanpa data sains yang bisa menjelaskan kesembuhannya, namun fakta yang ada, pasien itu memiliki dukungan yang kuat dari orang yang ia cintai dan keluarganya.

Masih ingat kondisi perut terasa geli atau terasa ada sensasi lucu di perut setiap melihat si cinta pertama? Perasaan yang sering disebut "butterflies in the stomach" itu sebenarnya adalah reaksi fisik yang terjadi ketika tubuh merespon terhadap ketertarikan kuat yang terjadi ketika seseorang jatuh cinta. Secara fisik, detak jantung meningkat yang kemudian mengakibatkan aliran deras darah ke segala bagian tubuh, termasuk organ-organ seksual. Hal ini merupakan efek positif dari pikiran dan tubuh.

3. Jauh dari dokter

Pasangan yang sedang jatuh cinta, berada dalam hubungan yang berjangka panjang memiliki kesempatan hidup lebih panjang ketimbang orang yang melajang.

Menurut penelitian, saat berada dalam hubungan berjangka panjang yang sehat dan setara, orang yang terkait dalam hubungan tersebut akan saling memerhatikan, termasuk dalam masalah kesehatan. Alhasil, pasangan akan saling mendorong untuk tetap sehat dan menjaga pasangannya agar tetap sehat. Salah satu contoh umum adalah meminta pasangan untuk berhenti merokok atau untuk beristirahat dari bekerja terlalu keras. Tak ada orang yang ingin melihat pasangannya sakit.

"Endorfin adalah kuncinya. menurut National Institute of Health, cinta akan memicu hormon oksitosin yang membuat seseorang merasa lebih nyaman. Hormon ini pula menurunkan level kimia yang membuat seseorang stres. Kontak fisik, seperti peluk, tidur sambil berpelukan, dan ciuman akan memicu produksi oksitosin," kata Jodi Prohofsky, Ph.D, LMFT, dikutip dari situs YourTango.

Untuk itu, Ray menyarankan pasangan untuk mendapatkan peluk, kecup, dan seks dalam kapasitas yang nyaman untuk satu sama lain sebisa mungkin setiap hari, demi kesehatan.

Tips Menjaga Kesehatan Jiwa

Oleh Yulvitrawasih

Kesehatan tidak hanya mengenai masalah fisik yang jelas-jelas terlihat saat ada bagian tubuh yang mengalami kerusakan tetapi juga mengenai masalah jiwa yang cenderung tidak terlihat jelas saat terganggu kecuali sudah sangat kronik. Bila kesehatan jiwa terganggu, dengan sendirinya akan terjadi gangguan juga pada seseorang yang mengalaminya.

Untuk mencegah terjadinya gangguan pada jiwa perlu berbagai upaya untuk itu:

1. Berolah raga. Penelitian menunjukkan bahwa olah raga lebih efektif dalam mencegah dan mengobati depresi daripada obat-obatan.

2. Ekspresikan cinta. Memberi dan mendapatkan cinta kasih membuat hidup kita bahagia. Mencurahkan cinta kasih kepada keluarga, kerabat dan orang lain adalah kunci kebahagiaan rohani. Membantu orang lain membuat hidup kita lebih bermakna dan kehadiran kita diharapkan.

3. Fokuslah pada hal-hal positif, hindari  menonton tv, film dan video/game online. Menonton televisi, film atau bermain game berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan mental kita. Kekerasan dalam tayangan berita, film laga, dan game dapat mengurangi keseimbangan emosional, membuat depresi dan mempengaruhi respon emosi kita. Setelah melihat begitu banyak kekerasan, kita bisa tidak lagi mengenalinya sebagai kekerasan. Kilasan iklan televisi juga dapat menyebabkan indera dan otak kita overload dan kelelahan.
Banyak film yang menghibur, tetapi ada juga yang membangkitkan emosi negatif bagi sebagian orang. Bagi orang yang sensitif atau pernah mengalami semacam trauma dalam hidupnya, mengurangi waktu dan intensitas menonton tayangan yang memicu emosinya akan membantu menjaga keseimbangan jiwa.

4. Mengapresiasi dan membuat karya seni. Menikmati seni lukis, seni fotografi, seni musik, seni tari dan bentuk-bentuk kesenian lainnya bisa menjadi stabilisator mood alami dan bermanfaat menyegarkan pikiran. Menghasilkan karya seni yang dapat dinikmati orang juga membantu seseorang untuk membangun harga diri, sesuatu yang penting bagi kesehatan mentalnya. Cobalah mendengarkan musik yang lembut. Banyak musik hingar bingar yang justru dapat mengakibatkan kelebihan beban mental. Banyak pula jenis musik yang dapat mendatangkan perasaan tertekan atau hampa. Musik yang lembut dan merdu dapat menyeimbangkan proses kimiawi di otak kita.

5. Beribadah. Melaksanakan ibadah dan berdoa secara rutin memenuhi kebutuhan rohani kita, yang merupakan komponen vital dalam kesejahteraan jiwa. Mengabaikan kebutuhan spiritual membuat jiwa kita gelisah dan tidak tenang. Berdoa merupakan sarana yang efektif dalam mencegah dan memerangi masalah-masalah kesehatan mental.

6. Rekreasi di luar rumah. Sekali-sekali selingi rutinitas dengan menghabiskan waktu di alam. Hal ini bisa menjadi salah satu cara efektif untuk menemukan kedamaian batin, dan menenangkan pikiran kita, menemukan pencerahan dan membebaskan dari pikiran negatif.

7. Hindari mengisolasi diri. Dengan menjadi bagian dari suatu komunitas yang dapat memberikan dukungan dan ada pertemuan secara teratur dapat sangat membantu kita melewati krisis dan tetap positif.

8. Menjaga keseimbangan diet makanan. Diet dapat memperburuk gejala berbagai penyakit termasuk autisme, skizofrenia, depresi, kecemasan dan serangan panik. Makanan yang dibutuhkan untuk kesehatan mental yang baik adalah buah dan sayuran dan makanan yang mengandung asam lemak esensial, seperti ikan belida, tongkol, labu dan kacang-kacangan. Susu dan coklat juga dipercaya menimbulkan efek menenangkan pikiran.

9. Hindari pornografi. Rangsangan seksual pornografi dapat berkontribusi pada tumbuhnya kekosongan emosional yang dapat menyebabkan depresi, gangguan bipolar serta kesehatan mental lainnya. Hanya hubungan seksual dengan pasangan yang sah dan saling mengasihilah yang dapat mengisi kebutuhan fisik dan emosional kita.

10. Lakukan kegiatan yang membangun rasa percaya diri. Belajar memainkan alat musik seperti piano atau biola, menguasai keterampilan bela diri, mendapatkan hadiah lomba, dan lain-lain, sangat membantu  anak-anak membangun rasa percaya diri.

11. Jaga pikiran selalu aktif dengan membaca. Membaca bisa menjadi kegiatan penguatan mental, terutama jika kita fokus pada bacaan yang positif. Berlangganan beberapa majalah atau membeli buku-buku biografi yang mendidik bermanfaat bagi kesehatan mental Anda.

12. Jadilah pribadi yang lebih terorganisir. Hindari menunda-nunda pekerjaan, dan bersihkan dan tatalah harta benda Anda. Buang barang-barang yang tidak terpakai, selesaikan pekerjaan yang menggantung, mintalah bantuan orang lain untuk membantu menyelesaikannya, bila perlu.

Sumber

Faktor Genetik Berperan dalam Kecanduan Internet


Banyak orang yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk berselancar di Internet. Mereka sedemikian tidak peduli dengan waktu dan tugas lainnya sehingga seperti kecanduan. Menurut para peneliti dari Universitas Bonn dan Institut Pusat Kesehatan Mental Jerman, perilaku itu ternyata dipengaruhi oleh faktor genetik.

Para peneliti Universitas Bonn men-survei 843 orang selama beberapa tahun untuk perilaku internet mereka. Analisis kuesioner menunjukkan bahwa 132 orang memiliki perilaku bermasalah yang terkait dengan internet. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka memiliki ikatan mental yang sangat kuat dengan dunia maya itu. Mereka bahkan sampai mengabaikan hal-hal lain yang lebih penting.

Para ilmuwan membandingkan DNA dari pecandu internet itu dengan relawan yang sehat. Pada 132 orang itu, terdapat wilayah gen tertentu yang berbeda secara signifikan, termasuk pada reseptor asetilkolin nikotinat dalam otak yang dikenal sebagai mutasi gen yang mendukung kecanduan nikotin. Nikotin dalam tembakau yang mirip dengan asetilkolin yang diproduksi oleh tubuh manusia adalah kunci untuk reseptor ini. Kedua neurotransmitter berperan penting untuk aktivasi sistem imbal (reward system) di otak. “Mutasi gen ini tampaknya tidak hanya penting dalam kecanduan nikotin, tetapi juga dalam kecanduan internet,” kata peneliti Dr. Christian Montag dari Universitas Bonn.

Mutasi ini terletak di gen “CHRNA4″ yang mengubah susunan genetik dari subunit “alpha 4″ pada reseptor asetilkolin nikotinat. “Varian ini terjadi dalam kelompok subjek yang memiliki perilaku internet bermasalah – khususnya di kalangan perempuan,” kata Montag. Temuan ini harus diteliti lebih lanjut karena bertentangan dengan banyak hasil survei yang menunjukkan bahwa lebih banyak pria daripada wanita yang kecanduan internet.

Temuan itu mungkin terkait gender pada bagian-bagian spesifik dari kecanduan internet, misalnya penggunaan jejaring sosial (social media) dan game. Wanita umumnya kecanduan Facebook, Twitter dan lainnya sedangkan pria kecanduan game online.

Studi lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas hubungan antara mutasi gen dan kecanduan internet. “Bagaimana pun, data menunjukan adanya bukti yang jelas tentang penyebab genetik molekuler dari kecanduan internet,” kata Montag. Dengan mengetahui hubungan ini secara lebih rinci maka indikasi terapi yang lebih baik dapat ditemukan.

Di Jerman, lebih dari setengah juta orang berusia antara 14 dan 64 tahun diperkirakan mengalami kecanduan internet. Sekitar 2,5 juta orang diklasifikasikan sebagai pengguna internet bermasalah. Risiko paling besar adalah pada kelompok usia 14 sampai 24 tahun di mana 2,4 persen dari mereka kecanduan, 13,6 persen memiliki masalah penggunaan internet.

Sumber

Marah, Sama Bahayanya dengan Merokok?

Oleh Wuri Handayani, Indrani Putri

Turunkan emosi demi kesehatan tubuh.

VIVAlife - Ada ungkapan yang mengatakan 'jangan terlalu banyak marah, nanti cepat tua'. Ungkapan ini ada benarnya. Ternyata emosi yang tidak terkendali juga mempengaruhi tingkat kesehatan tubuh.

Menjadi pemarah dan tidak sabar, ternyata menimbulkan gangguan kesehatan yang sama bahayanya dengan merokok. Kemungkinan mereka untuk terserang stroke pun, tidak jauh beda dengan para perokok aktif.

Jika rokok merusak tubuh melalui racun nikotin dan tar, stress melemahkan tubuh dengan mengirimkan sinyal ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin. Setelah itu, adrenalin akan menaikkan kadar gula darah, meningkatkan detak jantung, dan menaikkan tekanan darah.

Stres juga akan melepaskan hormon kortisol yang pelan-pelan dapat mematikan sel-sel otak. Tepatnya, bagian hippocampus. Dalam hitungan minggu hingga tahun, matinya sel-sel otak akan membuat tubuh tidak berfungsi maksimal, yang bisa berujung pada stroke.

Kabar buruknya, para pemilik kepribadian tipe A beresiko terserang stroke empat lebih tinggi. Kepribadian tipe A diindikasikan dengan karakteristik kasar, agresif, tidak sabaran, dan memiliki temper pendek. Dilansir Daily Mail, mereka akan lebih mudah stress dan mengalami berbagai gangguan kesehatan yang akhirnya berujung stroke.

Semakin ambisius dan tidak sabaran seseorang, risiko terserang stroke semakin tinggi. Risikonya akan semakin berlipat ganda jika pemilik kepribadian tipe A juga memiliki gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, minum minuman beralkohol, terlalu banyak mengonsumsi kafein.

Berkepribadian Agresif Rentan Stroke

Oleh Natalia Ririh

shutterstock

KOMPAS.com - Waspadalah jika Anda termasuk tipe kepribadian A, dimana Anda mudah tersinggung, gampang stres, kurang sabaran dan sering merasa tegang. Menurut sebuah penelitian, mereka yang bertipe kepribadian A lebih rentan menderita stroke.

Dalam studi terbaru yang digawangi para ilmuwan dari Rumah Sakit Universitario Clinico San Carlos di Madrid, sebanyak 450 responden diteliti. Mereka menemukan penyakit stroke sering terjadi pada orang yang mudah stres dan tegang, bahkan setelah memperhitungan faktor resiko penyebab stroke seperti merokok dan diabetes.

Dalam studi yang telah dipublikasikan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatry, para ilmuwan membandingkan faktor resiko dan tingkat stres di antara 150 orang stroke dan 300 orang sehat. Riset ini menggunakan pengukuran seperti mengevaluasi peristiwa besar dalam hidup, kecemasan dan depresi, kesejahteraan dan tipe kepribadian.

Responden diminta pula mengisi kuesioner berisi gaya hidup mereka. Seperti berapa asupan kafein, alkohol, minuman energi, juga apakah mereka merokok dan apa pekerjaannya.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan, mereka yang memiliki peristiwa kehidupan penuh tekanan pada tahun-tahun sebelumnya beresiko stroke sampai empat kali lipat lebih tinggi. Sementara, mereka yang termasuk kepribadian A beresiko dua kali lipatnya lagi.

Para ahli kesehatan menyambut baik temuan ini. Hasil ini membantu para ahli medis untuk lebih memahami efek dan resiko stres. Dr. Deepak Bhatt, direktur program intervensi jantung terpadu di Bringham mengatakan penelitian ini makin menunjukkan adanya hubungan antara stres, kepribadian tipe A dan resiko stroke.