Showing posts with label Motivasi Keuangan. Show all posts
Showing posts with label Motivasi Keuangan. Show all posts

Friday, September 28, 2012

Gaji Gede Kok Masih Minta "Subsidi" Orangtua?

SHUTTERSTOCK 
Berpenghasilan besar tapi kok masih minta ongkos bensin dari orangtua?

KOMPAS.com - Anda lajang, memiliki pekerjaan yang layak dan berpenghasilan besar darinya? Ini awal yang baik untuk memulai kehidupan mandiri, termasuk secara finansial. Namun, jika pada kondisi ini Anda masih bergantung secara finansial dari keluarga, terutama orangtua, ini petanda buruk yang seharusnya menjadi peringatan bagi Anda. Ada yang salah dalam pengelolaan keuangan Anda. Jadi, segera temukan penyebabnya termasuk solusi untuk mengakhiri masalah tersebut.

Nurfitriavi Nuriman, CFP, independent financial planner dari QM Financial mengatakan banyak perempuan muda, lajang dan berpenghasilan besar namun masih menerima "subsidi" dari orangtua. "Gaji Rp 4 juta tinggal di apartemen mewah, tapi bensin dan tol masih dibayarkan orangtua. Banyak lajang yang salah kaprah seperti ini, tinggal di apartemen mahal untuk bergaya, sekadar menunjukkan status bahkan dijadikan sebagai cara untuk mendapatkan pasangan se-levelnya, tapi masih mengandalkan orangtua secara finansial," jelas Fitri (sapaan akrabnya) kepada Kompas Female di sela kegiatan Women Wired Weekend di Jakarta belum lama ini.

Menurut Fitri, kalangan lajang yang baru memasuki dunia kerja ini perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai cara mengelola uang dari penghasilannya. "Single dan bekerja, nggak keren kalau minta uang dari orangtua," ungkap Fitri yang ingin menyasar lebih banyak kalangan muda dalam memberikan edukasi finansial. "Kalangan single inilah yang harus diperbaiki kondisi keuangannya, karena bibitnya berawal dari masa ini," jelasnya.

Dampak

Jika perilaku finansial yang buruk ini dibiarkan, si lajang tumbuh sebagai pribadi yang tidak independen. Hal ini berdampak besar bagi dirinya dan orang lain, termasuk terhadap pasangan dan masa depannya dalam berkeluarga nantinya. Fitri menyebutnya sejumlah dampak buruk dari perilaku ini bagi si lajang:

* Tidak bisa mengajarkan perilaku independen yang baik kepada anak-anaknya kelak. Bagaimana bisa menularkan independensi kepada orang lain jika dirinya sendiri masih bergantung pada orang lain.
* Tidak mengetahui berapa sebenarnya kebutuhan dan pengeluarannya. Karena jika kesulitan secara finansial, ia hanya meminta kepada orangtuanya atau orang lain yang biasa memberikan "subsidi".
* Mengalami kesulitan saat berkeluarga. Ketika menikah dan berkeluarga, kebiasaan buruk individu saat lajang dalam mengelola uang akan terbawa saat mengatur keuangan keluarga. Si lajang yang tidak independen secara finansial akan menemui kesulitan ketika harus mengelola keuangan keluarga bersama pasangan. "Bahkan tak sedikit orang yang ketika menikah, masih meminta uang kepada orangtua. Ini karena kebiasaan seperti ini terbangun sejak masih lajang," jelas Fitri.

Menurutnya, pemahaman mengenai mengelola uang yang baik perlu dimulai sedini mungkin. Untuk si lajang yang berpenghasilan, Fitri menyarankan sebaiknya perencanaan keuangan dimulai sejak usia 23. Namun idealnya perencanaan keuangan sudah diajarkan kepada anak-anak usia sekolah, dengan memasukkan perencanaan keuangan sebagai kurikulum di sekolah. "Di Australia perencanaan keuangan adalah kurikulum wajib di sekolah. Anak-anak dapat mulai belajar mengelola uang jajannya," tandas Fitri.

Sumber

7 Alasan "Payah" untuk Tidak Menabung

waspada.co.id

KOMPAS.com - Selalu ada alasan untuk tidak menabung buat dana darurat, investasi hari tua dan sebagainya. Tapi hal ini akan berbuntut pada penyesalan dikemudian hari. Untuk itu hal yang pintar untuk selalu menyisihkan uang secara rutin yang nantinya bisa dipakai buat kebutuhan yang mendesak atau saat- saat sulit.

Intinya tak ada yang tahu tentang masa depan dan sebuah tindakan bijaksana buat selalu mempersiapkan diri."Menabung adalah soal pola pikir," ujar Bob Morison, Downing Street Wealth Management, sebuah perusahan yang bergerak dalam perencanaan keuangan. "Bukan masalah Anda menabung dengan jumlah minimum atau jumlah yang besar. Intinya Anda harus menabung sekian persen dari penghasilan rutin tiap bulan, serta belajar untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan sisanya.."

Menurut Bob, berikut adalah alasan payah yang sering digunakan orang sebagai alasan tak bisa menabung.

1. Tidak ada dananya

"Orang bekerja keras setiap hari dan merasa mereka berhak untuk menikmati hasilnya," ujar Bob. Akibatnya mereka merasa ingin memiliki barang baru, mobil, atau rumah dengan lingkungan yang baik. tapi mereka tak menyadari biaya yang ditimbulkan untuk gaya hidup yang mereka pilih.

2. Menunda hingga naik gaji

"Masalah hari esok belum tentu Anda menghasilkan lebih banyak dari sekarang dan siapa yang tahu kalau biaya hidup makin tinggi dan Anda makin sulit menyisihkan uang." Menurut Bob, yang terbaik adalah latihan menabung dulu dari jumlah yang kecil. Nanti kalau sudah naik gaji Anda bisa menambah jumlah uang yang akan ditabung.

3. Sudah terlambat untuk memulai

Karena merasa sudah tua, Anda sudah merasa terlambat untuk memulai menabung. Akibatnya Anda tak berubah dengan meneruskan gaya hidup seperti sekarang. Sebenarnya tak ada batasan usia terlambat buat menabung. "Jangan berpikir tentang masa lalu. Yang perlu dikhawatirkan adalah masa depan dan tak ada kata terlambat buat berubah."

4. Biaya kuliah anak

Memang sudah menjadi tanggung jawab orang tua membiayai pendidikan anaknya. Tapi perlu dingat Anda tetap harus memikirkan hari tua. Tak perlu banyak yang penting rutin.

5. Tidak melihat untungnya

Sudah menabung jumlahnya kecil, bunganya tak seberapa masih harus dipotong biaya bulanan. Ketika Anda melihat saldo tabungan pun jumlahnya kecil. "Tidak menyenangkan bila melihat bunga tabungan yang kecil. Perlu diingat tujuan menabung bukan untuk mencari untung. Akan tetapi ketersediaan dana jika Anda sangat membutuhkan."kata Robert Schmansky, Founder dari Clear Financial Advisors, Bloomfield Hills.

6. Saya butuh 'gadget' terbaru

Pemikiran bahwa dengan memiliki gadget terbaru dapat memudahkan pekerjaan Anda adalah hal yang aneh. Anda harus benar-benar bertanya, apakah hal tersebut penting? Kalau ternyata ketimbang urusan pekerjaan tablet Anda lebih sering dipakai main game, itukan hal yang konyol.

7. Sedang mencicil rumah

Membayar cicilan rumah tiap bulan memang sangat menguras gaji. Karena alasan ini Anda berhenti menabung terlebih dahulu. Pemikiran Anda menabung lewat aset mati bukan alasan Anda tak memiliki dana cair. Sebab cicilan rumah membutuhkan waktu lima hingga belasan tahun, lagipula Anda tak bisa dengan cepat menjual rumah bila membutuhkan dana berupa uang tunai dengan segera. Saat sedang mencicil rumah yang perlu Anda lakukan adalah menurunkan gaya hidup Anda bukan menghilangkan dana buat menabung.

Sumber

21 Perbedaan Cara Pikir Miliarder dan Orang Biasa

Cara berpikir para miliarder ini membantu memupuk kekayaan mereka

Donald Trump dan Ivanka
(1.bp.blogspot.com)

VIVAnews - Miliarder wanita dunia asal Australia, Gina Rinehart, memberikan pernyataan keras kepada media dengan mengatakan kalangan kelas menengah terlalu cemburu dengan orang-orang kaya.

Gina yang tengah terlibat kasus hukum perebutan harta warisan ini menganggap kalangan kelas menengah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk minum-minum, merokok, dan bersosialisasi dibandingkan bekerja keras untuk mengumpulkan kekayaannya.

Pengarang buku How Rich People Think, Steve Siebold, yang telah mewawancari miliarder hampir tiga dekade mencoba mencari tahu sesuatu yang membuat kalangan super kaya ini seolah terpisah dengan kalangan lain.

Dikutip dari bussines Insider, perbedaan sebetulnya terletak pada uang itu sendiri. Ini adalah mengenai mentalitas.

"Kalangan kelas menengah sering menasehati untuk bahagia dengan apa yang dimiliki," kata Steve. "Secara keseluruhan, banyak orang yang merasa ketakutan bila ingin berkaitan dengan uang,"

Berikut adalah 21 perbedaan cara berpikir para miliarder dan orang-orang biasa:

1. Orang biasa menganggap uang adalah akar dari segala kejahatan. Orang kaya berpikir kemiskinan adalah akar dari semua kejahatan

Siebold mengatakan banyak orang yang telah dicuci otaknya dengan menganggap orang kaya adalah kalangan beruntung atau tidak jujur. Inilah yang menyebabkan munculnya budaya malu untuk menjadi kaya di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.

"Masyarakat seluruh dunia tahu bahwa memiliki uang memang tak menjamin kebahagiaan namun membuat hidup lebih mudah dan lebih bisa dinikmati," kata Siebold.

2. Orang biasa menganggap egois adalah sifat buruk. Orang kaya memandang egois adalah kebajikan

"Orang kaya keluar rumah dan membuat dirinya senang. Mereka tak berupaya untuk berpura-berpura menyelamatkan dunia," kata Siebold.

Masalahnya masyarakat kelas menengah memandang hal itu sebagai sesuatu yang negatif dengan membiarkan tetangga mereka hidup dalam kemiskinan.

"Jika anda tak menjaga diri sendiri, Anda tak dalam posisi untuk menolong orang lain. Anda tak bisa memberikan yang tak Anda miliki,"

3. Orang biasa bermental penjudi. Orang kaya memiliki mental beraksi

Siebold mengatakan, saat sebagian orang menunggu menemukan angka yang tepat dan berharap meraih kekayaan, orang kaya berupaya untuk menyelesaikan masalah.

"Para pahlawan (kelas menengah) menunggu Tuhan, pemerintah, bos, atau pasangannya. Ini adalah cara berpikir orang rata-rata yang menurunkan cara pendekatan ini dalam memandang hidup padahal detik jam terus berdetak,"

4. Orang biasa menganggap jalan menjadi kaya harus melalui pendidikan formal. Orang kaya percaya dengan cara mengambil ilmu yang lebih spesifik

5. Orang biasa terbius dengan kejayaan masa lalu. Orang kaya bermimpi untuk masa depan

Miliarder mendapatkan kekayaannya karena mereka bertaruh dengan dirinya dan proyek yang dibuatnya, tujuan, dan ide-ide ke dalam masa depan yang belum jelas.

Orang-orang yang percaya dengan kekayaan yang pernah diperolehnya, jarang sekali menjadi kaya. Bahkan biasanya berakhir dengan ketidakbahagiaan dan depresi.

6. Orang biasa melihat uang dengan emosi. Orang kaya melihat uang secara logis

Ketika mendapatkan uang, orang biasa akan mentransformasikannya menjadi sebuah ketakutan dan didorong oleh pemikiran untuk mengubahnya menjadi masa pensiun yang menyenangkan

Orang kaya melihat uang sebagai alat yang kritis yang menggambarkan pilihan dan peluang.

7. Orang biasa mendapat uang dari aktivitas yang tak disukai. Orang kaya mengikuti hasrat mereka

Rata-rata orang biasa melihat orang kaya bekerja sepanjang waktu. Kalangan yang lebih pintar berusaha untuk melakukan apa yang disukai dan mencari cara untuk menghasilkan uang dari kecintaannya itu.

Di pihak lain, kalangan kelas menengah mendapat pekerjaan yang tak disukainya karena mereka membutuhkan uang.

8. Orang biasa menetapkan target rendah agar tak kecewa. Orang kaya meninggikan target sebagai tantangan

Psikolog dan ahli kesehatan lain seringkali memberikan nasihat kepada pasiennya untuk memasang target rendah dalam kehidupannya agar tak kecewa.

"Takkan ada orang yang bisa menjadi kaya dan hidup dengan impiannya tanpa memasang target besar," kata Siebold.

9. Orang biasa percaya harus melakukan sesuatu untuk menjadi kaya. Orang kaya percaya Anda harus menjadi sesuatu untuk menjadi kaya

Inilah alasan mengapa orang seperti Donald Trump beranjak dari jutawan menjadi miliarder yang berutang US$9 miliar dan kembali dengan kekayaan yang lebih besar.

"Di saat sebagian besar orang terpaku untuk mengerjakan dan segera mendapat hasil dari pekerjaannya, orang-orang terkenal berupaya mempelajari dan berkembang dengan setiap pengalaman yang dimiliki,"

10. Orang biasa percaya Anda butuh uang untuk menghasilkan uang. Orang kaya menggunakan uang milik orang lain

Siebold mengatakan orang kaya umumnya tak takut untuk menghimpun kekayaannya dari kantong orang lain.

11. Orang biasa menilai pasar modal dikendalikan oleh logika dan strategi. Orang kaya tahu bahwa pasar modal dikendalikan emosi dan keserakahan

Sukses investasi di bursa saham tak selalu hanya berdasar formula hitung-hitungan matematika. Orang kaya justru menilai faktor utama yang mengendalikan pasar keuangan adalah ketakutan dan keserakahan. "Mereka memasukkan faktor ini pada perdagangan dan tren pasar modal," kata Siebold.

Pengetahuan mengenai sifat alami manusia dan dampak overlap pada perdagangan pasar modal memberikan investor keuntungan strategis dalam membangun kekayaan lebih besar melalui leverage.

12. Orang biasa hidup di atas kebutuhan mereka, orang kaya justru sebaliknya

Orang kaya hidup di bawah standar kebutuhannya, bukan karena mereka cerdas. Namun, karena mereka membuat banyak uang untuk hidup mewah di saat mengantongi pasokan layaknya seorang raja di masa mendatang.

13. Orang biasa melatih anaknya untuk bertahan. Orang kaya melatih anaknya untuk menjadi kaya

Kalangan orang kaya melatih anak-anaknya sejak usia dini dengan mengenalkan konsep berpunya dan tak berpunya. Meski banyak orang yang berpendapat bahwa Siebold mengakui dirinya mendukung ide elitism tersebut, dia menolak pandangan itu.

"Masyarakat selalu mengatakan orang tua mengajarkan anaknya untuk melihat ke bawah (masyarakat yang lebih miskin). Itu tak semuanya benar," kata Siebold. "Apa yang mereka ajarkan pada anaknya adalah melihat dunia melalui mata yang lebih objektif."

14. Orang biasa memiliki uang yang membuatnya stres. Orang kaya mencari kedamaian pikiran dalam kekayaan

Alasan mengapa orang kaya mendapat kekayaan lebih banyak adalah mereka tidak takut untuk mengakui bahwa uang bisa membuat masalah selesai.

"Kalangan menengah melihat uang sebagai kebutuhan yang tak pernah ada habisnya, sehingga harus memenuhi sepanjang hidup".

15. Orang biasa memilih terhibur daripada terdidik. Orang kaya justru sebaliknya

Umumnya orang-orang kaya tak banyak berinvestasi dalam bentuk pendidikan formal. Justru yang mereka lakukan adalah belajar sepanjang waktu, kendati masa pendidikan telah usai.

"Ketika masuk ke rumah orang kaya, hal pertama yang Anda lihat adalah ruang perpustakaan mahal berisi buku-buku yang telah membuat mereka menjadi sukses".

16. Orang biasa berpikir orang kaya adalah sombong. Orang kaya hanya ingin dikelilingi oleh golongan yang memiliki pemikiran sama

Mentalitas negatif dari uang yang telah meracuni kalangan kelas menengah membuat kalangan orang kaya memilih untuk bergaul dengan masyarakat yang sama dengan mereka.

"Orang kaya tak bisa menerima pesan mengenai kiamat dan kegelapan," kata Siebold.

17. Orang biasa fokus pada menabung. Orang kaya fokus pada pendapatan

Siebold berteori, kalangan orang kaya memfokuskan dirinya memikirkan cara meraih untung dari risiko yang diambil. Langkah ini lebih dipilih daripada menyimpan uang yang telah diterimanya.

18. Orang biasa bermain aman dengan uangnya. Orang kaya tahu kapan waktunya mengambil risiko

19. Orang biasa senang kenyamanan. Orang kaya mencari kenyamanan dalam ketidakpastian

Bagi sebagian orang, dibutuhkan keberanian yang sangat besar untuk menjadikan risiko sebagai jalan menjadi miliarder. Tantangan yang bagi kalangan kelas menengah akan menciptakan posisi tak nyaman.

"Kenyamanan fisik, psikologis, dan emosi merupakan tujuan utama dari pemikiran kalangan kelas menengah".

20. Orang biasa tak pernah mengaitkan uang dan kesehatan. Orang kaya tahu bahwa uang bisa menyelamatkan hidup

Di saat sebagian besar masyarakat AS berselisih mengenai isu Obamacare dan jaminan asuransi kesehatan perusahaan, kalangan super kaya justru mendaftar layanan kesehatan super elite.

Orang kaya ini menjadi anggota dari asuransi yang memberikan jaminan 24 jam yang hanya bisa diakses segelintir masyarakat.

21. Orang biasa percaya bahwa mereka harus memiliki keluarga bahagia atau menjadi kaya. Orang kaya tahu bagaimana mendapatkan semua itu

Ide mengenai kekayaan akan memunculkan waktu berkumpul keluarga yang mahal, tak lain hanya sebuah pembiaran. Orang kaya berpikir Anda bisa memiliki semuanya jika melakukan pendekatan pada tantangan itu dengan pikiran penuh cinta dan kekayaan. (art)

Sumber 1 dan Sumber 2

Bagaimana Menghitung Uang Pertanggungan Asuransi

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi

KOMPAS.com - Sering sekali kita berhadapan dengan agen penjual asuransi jiwa, mereka menjelaskan betapa pentingnya memiliki asuransi jiwa, mereka sangat lancar dalam menjelaskan produk unggulannya dan mereka sangat fasih ketika ditanya mengenai proses asuransi, mulai dari pengisian formulir hingga terbitnya polis asuransi jiwa tersebut, tentunya beserta fasilitas yang melekat didalamnya.

Namun ketika kita bertanya berapa Uang Pertanggungan (UP) yang wajar?, nah dititik ini penjelasan mereka umumnya tidak sebagus penjelasan sebelumnya, umumnya mereka masih bertanya jumlah premi yang mampu disetor calon nasabah pertahun. Nah untuk menghindari kondisi tersebut ada baiknya kita bahas bebrapa metode yang lazim digunakan oleh seorang perencanaan keuangan dibelahan dunia manapun namun sebelum itu kita sebagai seorang calon pemegang polis asuransi jiwa seharusnya sudah memiliki:

1. Nilai ekonomis yakni suatu nilai dimana hasil pendapatan setahun kita rata-ratakan dalam setiap bulannya, atau bagi seorang pegawai adalah besarnya gaji bersih yang dibawa pulang kerumah. Untuk kepentingan UP fokus kita hanya pada nilai ekonomis bukan cukup atau tidaknya gaji tersebut.

2. Adanya individu selain kita sendiri yang sangat bergantung dengan nilai ekonomis tersebut, misal istri, suami, anak, kakak, adik atau orang tua yang sudah pensiun.

3. Sangkutan dana pihak lain di dalam aktifitas bisnis, misal pinjaman personal diluar utang Bank atau lembaga pembiayaan lain yang tidak memiliki asuransi jiwa. Jadi ketika kita berencana melakukan pinjaman kredit dari Bank atau lembaga pembiayaan maka kita wajib menanyakan apakah sudah ada asuransi jiwanya?

Jadi sangatlah tidak layak jika kita membeli Asuransi Jiwa dengan kondisi:

1. Tidak adanya nilai ekonomis;
2. Tidak adanya orang lain yang bergantung kepada kita;
3. Tidak adanya sangkutan pinjaman utang,

Lalu bagaimana cara menghitung UP yang optimal, berikut adalah penjelasan metoda yang paling sering dipakai:

1. Metoda Human Life Value, metoda ini perhitungan UP mutlak dihitung berdasarkan rata-rata pendapatan setiap bulan yang kita setahunkan serta dikali dengan ekspektasi lamanya dana tersebut menopang hidup hingga ahli waris mampu untuk mendapatkan income sendiri. Metoda ini tidak perlu mempertimbangkan faktor pertumbuhan dana jika UP tersebut disimpan dalam Bank atau lembaga investasi lain.

2. Metoda Income Based Value, metoda ini perhitungan UP mutlak dihitung berdasarkan rata-rata pendapatan setiap bulan yang kita setahunkan dibagi dengan faktor pertumbuhan dana karena UP tersebut wajib disimpan dalam lembaga investasi selain bank.

3. Metoda Financial Needs Based Value, metoda ini lebih spesifik untuk memproteksi kebutuhan financial dimasa mendatang misalkan dana pendidikan. Dalam prakteknya untuk menghindari pembayaran premi yang sangat besar maka metoda ini tidak bisa berdiri sendiri namun harus dikombinasikan dengan investasi bulanan secara konstan (annuitas) pada instrument investasi yang memiliki rata-rata pengembalian diatas deposito. Perlu dicatat metoda ini berbeda dengan 2 metoda sebelumnya, ini tidak memproteksi penghasilan melainkan kebutuhan keuangan dimasa mendatang.

Nah untuk lebih jelasnya perhatikan contoh kasus berikut: Seorang ayah 35 tahun memiliki penghasilan bersih Rp 5 juta setiap bulannya, istri ibu rumah tangga mereka memiliki 1 orang anak usia 9 tahun. Jika sang ayah meninggal maka besarnya UP adalah sebagai berikut:

1. Human Life Value: Rp 5 juta*12*5 =Rp 300 juta, ini berarti jika diambil sebesar Rp 5 juta setiap bulannya akan bertahan selama 5 tahun (tanpa menghitung bunga atau pertumbuhan dana).

2. Income Based Value: (Rp 5 juta*12)/6 persen = Rp 1 miliar. Penjelasan: mengapa dibagi dengan 6 persen? Karena jika UP diterima maka dana tersebut ditempatkan pada instrument investasi pendapatan tetap seperti ORI (Obligasi Ritel Indonesia), Reksa Dana Pendapatan Tetap, bukan pada Deposito. Secara historis memiliki kinerja setahun pada kisaran 6 persen s/d 8 persen. Jadi uang sebesar Rp 1 miliar akan menghasilkan Rp 5 juta setiap bulannya karena Rp 1 miliar*(6 persen/12)=Rp 5 juta.

3. Financial Needs Based Value: nah metoda ini untuk memproteksi biaya pendidikan kelak jika sang ayah meninggal. Misalkan biaya pendidikan di universitas sekarang adalah Rp 200 juta maka 9 tahun lagi biaya pendidikan menjadi sekitar Rp 550 juta dengan perkiraan kenaikan 12 persen setiap tahunnya. Jadi UP untuk memproteksi biaya pendidikan adalah sebesar Rp 550 juta atau kalau ingin lebih murah bisa dengan UP Rp 275 juta namun wajib dengan melakukan kombinasi investasi pada reksa dana saham sebanyak Rp 250.000 rupiah setiap bulannya dengan target return sebesar 18 persen minimal pertahun.

Demikian pemirsa yang bijak setidaknya kita dapat menghitung secara optimal berapa nilai UP yang wajar sehingga ketika kita meninggal keluarga tercinta tetap dapat melangsungkan kehidupan dengan baik tanpa perlu bergantung pada pihak lain. Selamat membeli asuransi jiwa… (Taufik Gumulya, CFP® CEO, Perencana Keuangan pada TGRM Perencana Keuangan)

Sumber

Asuransi Melalui Kartu Kredit, Perlukah?

SHUTTERSTCOK.COM 
Ilustrasi

KOMPAS.com - “Selamat siang Pak Arie, Bapak telah mendapatkan sebuah fasilitas yang akan memberi perlindungan jika Bapak tutup usia maka Bapak tidak perlu membayar seluruh tagihan kartu kredit Bapak, bapak cukup membayar premi sebesar…, dst”

Pembaca Kompas.com yang bijaksana, tentu anda pernah mengalami hal seperti pada penggalan kalimat tersebut diatas, sebuah telepon yang bertujuan untuk mengajak anda menjadi nasabah asuransi melalui kartu kredit. Asuransi tersebut adalah asuransi jiwa dengan uang pertanggungan adalah sebesar jumlah limit kartu kredit, namun ada kalanya juga asuransi tersebut berupa asuransi kesehatan yang akan memberikan sejumlah uang pertanggungan apabila pemegang kartu mengalami rawat inap dirumah sakit.

Lalu bagaimana seharusnya anda bersikap?, apakah pertu meng’iya’kan seluruh penawaran tadi? Nah, untuk menjawabnya pembaca yang bijaksana kami ingin sekedar berbagi kisah terhadap keluarga klien kami. Marilah kita lihat mencermati fakta yang pernah terjadi terhadap klien kami yang telah meninggal atau tutup usia, berikut adalah faktanya:

1. Tagihan kartu kredit masih terus berdatangan

Meski telah dilaporkan dengan dokumen yang dianggap lengkap oleh pihak layanan pelanggan atau customer service bahwa pemegang kartu telah meninggal dan almarhum telah membayar premi untuk melindungi dari tagihan yang masih berjalan kepada namun faktanya tagihan terus berdatangan bahkan masih ditagihkan hingga lebih dari 3 bulan;

2. Debt collector terus mengganggu

Terkait dengan pemegang kartu yang telah meninggal, secara logika tagihan tidak terbayar dan seharusnya asuransi jiwa berfungsi untuk membayarkan sisa tunggakan utang, namun pada kenyataannya pihak debt collector terus menelpon bahkan mendatangi ahli waris dan meminta untuk segera melunasi utang almarhum (yang telah di protek asuransi);

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh pihak ahli waris keluarga maka ternyata:

1. Hampir semua bank penerbit kartu kredit memiliki card center yang terpisah dengan departemen penagihan atau collection department, sehingga seluruh laporan dari keluarga almarhum tidak diterima atau (tidak dipedulikan?) oleh pihak penagihan, ironisnya lagi collection department ada yang benar-benar terpisah alias out sourcing, sehingga meskipun dilayar monitor mereka mengetahui status pemegang kartu telah meninggal dan terlindungi oleh asuransi namun mereka terus menagih, bahkan mereka mengirim status pemegang kartu menjadi black list. Hal ini bisa terlihat pada laporan di Bank Indonesia atau dikenal dengan istilah BI check list, hmm..

2. Pihak penerbit polis dalam hal ini perusahaan asuransi jiwa ternyata belum memproses uang pertanggungannya secara tuntas karena adanya perpindahan rekanan perusahaan dengan pihak penerbit kartu kredit.

3. Meskipun tidak ada perpindahan rekanan dengan penerbit kartu kredit namun fakta yang ada tetap saja keluarga almarhum harus melaporkan dan menanyakan proses klaim yang telah dilaporkan pada card center, keluarga almarhum pun masih harus mengunjungi perusahaan asuransi jiwa. Jadi hubungan antara penerbit dan perusahaan asuransi dalam hal proses klaim sangat tidak efisien, hal ini berbeda pada saat menyetujuinya.

Pembaca, ternyata melakukan klaim atas fasilitas asuransi kartu kredit tidak semudah membukanya, pada saat membuka atau menyetujui cukup melalui telepon, namun pada saat klaim memerlukan waktu bisa hingga 3 (tiga) bulan atau lebih, visit keperusahaan kartu kredit dan asuransi pun harus dilakukan, debt collector pun harus dihadapi.

Data kami hanya ada 2 perusahaan penerbit kartu kredit yang memprosesnya dengan professional dan relatif cepat yakni sebuah bank asing yang pembaca pernah ketahui seorang nasabah kartu kredit meninggal di Bank tersebut serta sebuah bank dengan inisial 3 huruf yang dulu dimiliki oleh konglomerat Indonesia namun sekarang telah dimiliki oleh asing, selebihnya (bank swasta lokal dan asing) berdasarkan pengalaman klien kami semua standar prosesnya masih sangat amat lambat dan tidak professional.

Namun ada satu hal yang patut diapresiasi adalah petugas dari bank pemerintah meski prosesnya masih belum sebaik 2 bank diatas namun petugasnya sangat koperatif dan bertindak dengan sopan, harapannya semoga bank pemerintah dapat menjadi lebih baik lagi.

Berdasarkan paparan tersebut diatas maka kami menyarankan bahwa asuransi jiwa sebaiknya dibeli secara terpisah, hitunglah semua kredit limit yang anda punya di dalam kartu kredit anda, tambahkan uang pertanggungan anda dengan total kredit limit tersebut dan belilah asuransi tradisional karena asuransi jenis ini memiliki premi yang murah dan uang pertanggungan yang tinggi dan tentunya proses klaimnya lebih mudah dan lebih cepat karena langsung tidak melalui pihak penerbit kartu kredit. Demikian semoga bermanfaat. (Taufik Gumulya, CFP®,Perencana Keuangan, CEO pada TGRM Financial Planning Service)

Sumber

Monday, September 3, 2012

Sumber Pemborosan Tiap Hari

ilustrasi - suaramerdeka.com

Tanpa sadar sehari-hari kita melakukan pemborosan. Kenali apa saja hal kecil yang bisa berpotensi menguras kantong Anda secara diam-diam.

1. Telat bayar tagihan

Denda dengan jumlah yang kecil memang kesannya sepele. Tapi lama-lama tak terasa akan menjadi banyak. Usahakan selalu tepat waktu dalam membayar berbagai tagihan listrik, telepon, Internet, sampai kartu kredit. Gunakan fitur pengingat di kalender ponsel, bila Anda tipe pelupa. Jika lembar tagihan belum datang dan tenggat tagihan sudah dekat, sebaiknya hubungi perusahaan bersangkutan untuk mengetahui jumlah tagihan. Apalagi untuk kartu kredit, terlambat bukan hanya membayar denda, tapi juga bunga.

2. Pembelian yang tidak masuk akal

Sering wanita membeli pakaian yang terlalu besar dengan niat membawanya ke tukang jahit. Atau sebaliknya, terlalu kecil dengan harapan suatu saat akan pas di badan setelah diet habis-habisan. Percayalah, hampir sebagian besar kasus ini tidak akan berakhir sesuai rencana. Kemungkinan Anda terlalu sibuk untuk membawa baju tersebut ke tukang jahit atau tak sempat melakukan diet sehingga baju tersebut hanya akan menjadi penghuni abadi lemari Anda.

3. Terlalu sering makan di luar

Ini merupakan pemborosan terselubung yang tidak terasa. Bukan berarti Anda dilarang makan di luar atau ngopi-ngopi bersama teman usai bekerja. Tetapi ketahui batasan Anda dan jika sudah melebihi jatah bulanan, mau tak mau kompensasikan dengan mengurangi pengeluaran lain. Misalnya sesekali membawa makan dari rumah untuk makan siang di kantor atau berkumpul bersama teman-teman di rumah ditemani cemilan dan makanan buatan sendiri.

4. Biaya ATM

Seringkali Anda harus dihadapkan pada situasi tak ada ATM bank pilihan Anda dan terpaksa tarik tunai di ATM bank lain. Sesekali memang tak ada salahnya, tapi jangan dibiasakan. Jika Anda harus naik dari lantai dasar ke lantai 6 untuk menuju ATM bank Anda sedangkan di depan mata ada ATM bank lain, jangan mudah tergoda. Usahakan menarik uang sebisa mungkin tanpa biaya. Pelajari penawaran dari bank Anda. Beberapa bank menawarkan transaksi gratis dengan syarat tertentu.

5. Pembelian impulsif

Diskon atau promosi kartu kredit seringkali menjadi titik lemah para wanita saat berbelanja. Promosi beli satu dapat satu ekstra, potongan harga jika berbelanja dengan jumlah tertentu, atau hadiah spesial dengan pembelanjaan khusus seringkali merupakan penawaran yang sulit ditolak. Memang kedengarannya klasik, tapi apakah Anda benar-benar membutuhkannya? Jika Anda belum bisa membayangkan menggunakan benda tersebut lebih dari dua kali, sebaiknya lupakan saja niat membeli. Bayangkan ada berapa barang di lemari Anda yang belum pernah dipakai, bahkan sekali pun.

6. Benda sekali pakai

Karena ada acara olahraga di kantor, Anda memaksakan diri membeli celana olahraga baru atau membeli gaun berwarna emas agar sesuai dengan tema pernikahan kawan. Lalu apa yang terjadi setelah acara tersebut? Biasanya benda yang dibeli hanya menjadi penghuni lemari. Maksimalkan kreativitas dan koneksi Anda dalam hal ini. Apakah kakak ipar atau sahabat Anda punya benda yang dibutuhkan sehingga bisa dipinjam? Coba lihat kembali lemari Anda siapa tahu ada beberapa benda yang bisa “didaur ulang”.

7. Menggunakan kendaraan untuk jarak dekat

Pergi ke supermarket yang jaraknya hanya dua blok dari rumah tentu tak perlu menggunakan mobil atau motor. Usahakan berjalan kaki atau naik sepeda untuk menuju tempat yang masih terjangkau tenaga. Selain mendapat manfaat karena gerak badan, Anda juga terhindar dari pemborosan yang tidak perlu dengan menggunakan bensin serta kendaraan untuk jarak yang bisa dicapai dengan kaki. Selain hemat, Anda juga membantu mengurangi polusi akibat asap kendaraan.

8. Pemborosan alat listrik

Matikan peralatan listrik atau lampu ketika sedang tidak digunakan. Ini terdengar sepele, tapi baru akan terasa saat Anda membayar tagihan listrik. Untuk apa menyalakan pendingin ruangan saat Anda tak berada dalam ruangan tersebut. Matikan lampu halaman segera saat matahari mulai bersinar. Penghematan penggunaan listrik ini, selain ramah lingkungan juga ramah dompet.


3 Cara Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga

Oleh Yahoo! SHE


ilustrasi - google.co.id

Banyak orang mengeluhkan kecilnya pendapatan yang mereka terima. Pemasukan yang kian sedikit, ditambah pengeluaran yang kian banyak, adalah masalah yang melanda semua orang. Menabung tampak amat sulit dilakukan, tetapi sebenarnya mudah asalkan punya pengetahuan. Berikut ini tiga cara menghemat:

Baca Juga - Eight Healthy Habits That Improve Your Budget

Menyimpan uang

Semua orang pasti tahu bahwa mereka harus menabung. Tapi yang mereka tidak tahu adalah, bagaimana caranya?

Sederhana saja. Yang harus dilakukan pertama kali adalah memiliki keyakinan terhadap diri sendiri. Banyak orang ketakutan hanya karena pikiran tentang menabung. Mereka tidak berani mengambil langkah pertama.

Pertama, Anda harus membuka rekening bank. Ada banyak jenis tabungan, jadi pilihlah yang paling cocok — perhatikan tingkat bunga, syarat dan ketentuan sebelum membuka rekening.

Setelah itu, lakukanlah. Tabung uang Anda di bank. Cara paling mudah? Memotong pengeluaran.

Jika Anda bisa memotong rambut anak Anda, lakukanlah sendiri. Tidak perlu membawanya ke salon. Anda juga bisa memangkas pengeluaran dengan memberhentikan pembantu. Bersihkan rumah sendiri.

Juga, hentikan pengeluaran yang tidak perlu. Pergi makan setiap akhir pekan atau ke bioskop bersama teman jangan lagi jadi prioritas.

Baca Juga - Five Signs That You Have Compulsive Buying Disorder

Membeli cerdas

Perhatikan promosi spesial yang sedang berlangsung. Anda juga bisa membeli secara online (yang tidak hanya menghemat waktu tapi juga uang).

Beberapa orang mungkin enggan membeli barang bekas, tapi sebenarnya bila Anda melihat selisih harganya, Anda akan sadar mengapa pasar barang bekas tetap ramai peminat. Anda bisa menghemat banyak uang dengan membeli barang bekas, terutama mobil, telepon seluler dan barang elektronik lainnya.

Pastikan Anda membeli barang bekas dengan bijak dan dari sumber terpercaya. Supaya tidak rugi.

Baca Juga - Ten Simple Ways to Earn an Extra Buck

Menjual

Ada banyak tempat Anda bisa menjual barang-barang yang sudah tidak lagi Anda perlukan. Daripada telepon atau gadget Anda dibuang, lebih baik dijual dan mendapat sejumlah uang. Atau, Anda bisa juga menjualnya di Amazon atau Kaskus atau website sejenis, seperti yang banyak dilakukan orang.

Jika berencana membeli DVD baru, juallah terlebih dahulu DVD lama dan pakai uang hasil penjualan itu untuk membeli DVD.

Tidak ada jalan lain untuk mengurangi pengeluaran tanpa harus bekerja lembur. Menabung adalah kunci kehidupan bahagia.


10 Kebiasaan Mahal yang Harus Ditinggalkan

Oleh RealBuzz

ilustrasi - groups.yahoo.com

Gym

Keanggotaan gym bisa memberikan banyak keuntungan. Tapi sekalipun kita selalu ingin sehat dan bugar, ini bukan kebutuhan utama. Hindari tagihan besar setiap bulan dan lakukan olahraga di rumah atau di tempat terbuka. Anda bisa berlari di taman atau melakukan sit-up, push-up dan squat jump di halaman rumah. Anda juga bisa berinvestasi dengan membeli alat olahraga yang murah, seperti barbel, kettlebell, dan tali untuk lompat.

Kuku

Jika Anda menyukai kuku yang seksi atau hasil manikur yang rapi dan cantik, Anda mungkin harus melakukannya sendiri untuk menghemat. Salon memasang harga mahal untuk aksesori sederhana dan dengan beberapa latihan Anda bisa mendapatkan tampilan yang sama dengan harga lebih murah. Jika Anda ingin mendapatkan hasil yang profesional, Anda bisa membeli buku panduan untuk nail art.

Makan di luar

Sangat mudah untuk menikmati makanan di restoran favorit atau menelpon layanan pesan antar. Tetapi ingatlah, makan di luar itu mahal dan bisa menambah tagihan Anda. Untuk menghemat, persiapkan makanan kesukaan Anda di hari libur dan taruh di kulkas. Saat Anda lapar, hangatkan saja makanan. Hemat dan cepat.

Mobil

Menggunakan mobil berarti harus ada asuransi, pajak, bensin dan biaya garasi; sederhananya, mobil itu sangat mahal. Kebanyakan orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa mobil karena sudah menjadi bagian penting dalam hidup kita, tapi bisakah kita hidup tanpa mobil? Jika Anda menggunakan mobil untuk mencari teman berpergian, atau jika Anda menggunakannya untuk pergaulan bukannya Anda bisa menggunakan sepeda atau bus? Meninggalkan mobil bisa menghemat jutaan rupiah setiap tahun.

Kopi

Menikmati kopi jenis unik atau yang berasal dari kafe adalah cara memanjakan diri dan membuat hidup Anda lebih cerah, tapi jangan dilakukan sering-sering. Membeli minuman atau makanan kecil dari kedai kopi bisa menjadi kebiasaan yang mahal dan tidak memberikan banyak keuntungan. Jika Anda sangat menyukai kopi, beli kopi instan dan buatlah di rumah. Jika Anda pergi ke kedai kopi untuk duduk-duduk atau bersosialisasi, cari tempat baru di taman.

Minum alkohol

Tanpa menyadarinya, minum-minum bisa dengan mudah menjadi bagian dari gaya hidup kita. Kita membeli wine merah dalam perjalanan pulang atau menikmati koktail setelah pulang kerja; tapi ingat itu akan menambah pengeluaran. Penelitian yang diadakan baru-baru ini menemukan fakta rata-rata rumah tangga di Amerika menghabiskan $ 435 (Rp 4 juta) untuk alkohol per tahun — bayangkan benda lain yang bisa Anda beli dengan uang sebanyak itu?

Facial

Semua orang menyukai perasaan segar dan bersih yang didapat setelah melakukan facial. Tapi perawatan kecantikan ini sangat mahal dan jika Anda ingin berhemat ini saatnya mempertimbangkan alternatif lain. Bahkan jika Anda bukan orang yang praktis, Anda bisa menggunakan masker wajah yang tidak mahal dan efektif. Beberapa masker hebat terdiri dari campuran madu manuka dan aspirin atau hanya masker yoghurt biasa.

Pergi ke bioskop

Jika Anda suka pergi ke bioskop berarti Anda akan menyukai situs-situs yang menawarkan tiket diskon. Cari situs diskon terbaik dan lakukan pembelian di sana. Anda juga bisa bergabung dengan situs tertentu yang mengumumkan bila ada tiket diskonan, supaya Anda bisa mendapat harga yang lebih murah dibandingkan orang lain.

Potong rambut

Ingin rambut berkilau tapi tidak sanggup membayar salon? Jangan khawatir, kami akan memberitahu suatu rahasia: cari murid sekolah penata rambut yang bersiap menghadapi ujian akhir. Ketika mereka dalam tahapan itu, mereka harus berlatih dengan model sungguhan. Memang sih mereka sedikit gugup dan menghabiskan waktu lebih lama. Tapi harganya lebih murah.

Memulai hobi baru

Semua orang menikmati hobi unik, tapi untuk memulai hobi baru itu menguras uang. Anda membutuhkan alat-alat yang pas, perangkat yang benar atau helm baru. Sebelum membeli semua peralatan itu pastikan kalau Anda akan melanjutkan hobi ini. Kemudian, setelah mencoba selama sebulan, barulah beli barang yang Anda butuhkan. Tanyakan pada orang lain di daerah Anda di mana bisa mendapatkan harga yang pas atau apakah mereka menjual barang yang sudah tidak lagi dipakai. Anda juga bisa mencari perlatan bekas di internet.

Tujuh Kesalahan Finansial Terbesar Pasangan Suami-Istri

Oleh: Babble.com

ilustrasi - ayahbunda.co.id

Uang bisa menimbulkan masalah bagi pasangan. Dalam beberapa kasus, masalah keuangan bahkan bisa merenggangkan hubungan.

Mary Claire Allvine, seorang perencana keuangan dan penulis buku “The Family CFO: The Couple's Business Plan for Love and Money” mengatakan kepada SmartMoney Magazine, “Orang cenderung emosional dan reaktif tentang uang."

Sebagian besar orang tidak akan memperhatikan masalah finansial jika belum menghadapi kesulitan. Dalam sebuah usaha untuk memperbaiki keuangan, kami memaparkan tujuh kesalahan finansial terbesar pasangan suami-istri, dan juga solusi masalah tersebut.

1. Memisahkan keuangan pasangan

Tidak ada lagi “punyamu punyamu” atau “punyaku punyaku” dalam hubungan suami-istri. Membedakan biaya tagihan dengan rekening terpisah membuat kalian lebih mirip teman tidur belaka, bukan pasangan suami-istri.

Menurut Huffpost Wedding, pemisahan biaya kebutuhan rumah tangga bisa menimbulkan kebencian dalam sebuah pernikahan ketika seorang pasangan mengeluarkan uang lebih banyak dari yang lainnya. Hal itu juga mendorong orang yang berkontribusi lebih banyak untuk mendominasi masalah keuangan.

Pelajari cara mengatur keuangan sejak awal pernikahan guna menghindari masalah besar di kemudian hari.

Baca Juga : 10 things you should know before you start couponing

2. Tidak peduli masalah utang pasangan 

Menurut survei yang dilakukan SmartMoney, utang adalah penyebab utama perdebatan antara suami-istri. Kecuali jika Anda telah melindungi aset-aset Anda dari kreditor pasangan Anda ketika sedang dalam masa perceraian, cara terbaik untuk Anda adalah menemukan cara memecahkan masalah utang bersama-sama.

3. Menyembunyikan rahasia keuangan dari pasangan 


Keintiman fisik dalam sebuah sebuah pernikahan itu bagus, namun di lain sisi, keintiman dalam hal finansial tidak terlalu bagus. Mengeluarkan uang tanpa sepengetahuan pasangan Anda bisa menimbulkan rasa benci dan tidak percaya.

Money Talk News menganjurkan pembayaran tagihan rumah tangga sebaiknya diambil dari akun bersama yang memperbolehkan setiap pasangan untuk mengetahui keuangan pribadi, dengan demikian, Anda tidak perlu merahasiakan keuangan masing-masing.

4. Tidak mengambil tanggung jawab finansial sendiri


Meskipun dalam sebagian besar hubungan, tanggung jawab keuangan dipegang oleh satu orang, pasangan suami-istri harus berbagi tanggung jawab finansial. Pasangan suami-istri harus sama-sama mengetahui PIN ATM, catatan keuangan, dan informasi keadaan finansial.

Erin Burt, Kontributor Editor Kiplinger.com, menyarankan agar Anda membicarakan pengeluaran bulanan dengan pasangan Anda sebagai salah satu cara untuk membagi tanggung jawab finansial.

Baca Juga : 11 reasons I'm happy my husband is unemployed 

5. Masalah kebiasaan pengeluaran pasangan

Suami bisa berhemat, sementara istri tipe orang yang boros, apa ada harapan untuk pasangan itu? Nancy Anderson dari Forbes.com, mengatakan, “...pasangan yang sukses adalah pasangan yang tidak mencoba mengubah pasangan satu sama lain. Mereka menyesuaikan pengeluaran dari pasangan masing-masing agar dapat berhasil untuk keduanya.”

6. Tidak memiliki anggaran keuangan

Menetapkan sebuah anggaran finansial tidak hanya memungkinkan pasangan untuk membicarakan keadaan keuangan mereka, tapi juga memfasilitasi pembicaraan tentang tujuan finansial masa depan dan rencana bersama yang harus diwujudkan.

7. Tidak membicarakan investasi finansial

Salah satu dari Anda mau mengambil sebuah investasi yang lebih berisiko dari pasangan, lalu kenapa? SmartMoney menyarankan agar pasangan suami-istri memikirkan itu sebelum mengambil keputusan. Komunikasi dan saling mengutarakan tujuan memegang peran penting pada keinginan kedua pasangan untuk berkompromi dan terlibat secara aktif dalam meraih kesuksesan finansial bersama.

Sumber

4 Kesalahan Besar Pengelolaan Uang yang Anda Lakukan

Cermat menghitung uang THR/ilustrasi

Tak semua orang bisa mengelola uang dengan baik. Banyak di antara kita yang tak punya tabungan, tak punya dana darurat, dan tenggelam dalam tumpukan utang. Kami bertanya pada pengusaha dan blogger finansial Fitz Villafuerte: apa kesalahan utama kita, dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya?

1. Kita memprioritaskan pengeluaran daripada simpanan sehingga tidak menyisakan apapun.

"Setiap mereka mendapatkan gaji mereka, mereka biasanya membelanjakan terlebih dahulu, dan kalau ada sisanya, itulah yang akan mereka tabung," kata Fitz Villafuerte. "Pada umumnya, tidak ada yang tersisa pada akhir bulan."

Solusi: Balik prosesnya. Pertama pisahkan sebagian dari gaji Anda untuk menabung, kemudian silakan habiskan sisanya. Villafuerte juga merekomendasikan untuk minta HRD perusahaan Anda untuk membantu: "Kamu bisa mendebet tabungan Anda secara otomatis. Minta HRD Anda untuk mengirimkan sebagian dari gaji Anda ke rekening lain di bank penggajian (payroll) kantor Anda." Metode proaktif ini membuat menabung tidak begitu menyusahkan. "Dengan begitu Anda tidak merasa kalau Anda menabung," kata Villafuerte. "Kamu tidak merasa bersalah jika menghabiskan apa yang tersisa. Menabung terasa lebih ringan dan menguntungkan."

2. Kita berinvestasi sebelum membuat dana darurat.

Villafuerte mengamati kalau kesalahan kedua yang sering dilakukan orang ketika mereka mendapatkan uang ekstra adalah berinvestasi sebelum mereka menyisihkan sebagian untuk dana darurat. "Mereka tidak menggunakannya terlebih dahulu untuk menyiapkan dana darurat," katanya. Dana darurat adalah fondasi dasar dari portfolio setiap orang, yang jumlahnya adalah: uang senilai enam kali biaya pengeluaran bulanan rumah tangga Anda, disimpan untuk kebutuhan darurat.

Solusi: Villafuerte merekomendasikan memiliki dana tersebut sebelum Anda menginvestasikan uang Anda. Bukannya dia tidak menganggap penting untuk membuat uang Anda bertambah, namun seperti masalah sebelumnya, masalah yang akan dihadapi ini adalah sesuatu yang merupakan prioritas. "Biaya rumah sakit, perbaikan mobil atau rumah yang mendadak tidak bisa Anda kesampingkan." Tanpa adanya dana darurat, kamu akan mencari utang atau mencairkan investasi Anda dengan segera.

3. Kita menghindari bursa saham.

Villafuerte menganggap bursa saham disalahartikan banyak orang. "Ketika Anda berbicara mengenai bursa saham, orang berpikir mengenai perdagangan saham, dan mereka jadi ketakutan, karena mereka pikir itu seperti berjudi," jelasnya. "Itu alasan mengapa hal itu kurang diberdayakan sebagai kendaraan investasi."

Selalu ingat: Perdagangan saham hanya merupakan sebagian kecil dari bursa saham. "Terdapat juga investasi bursa saham, yang lebih berupa jangka panjang," papar Villafuerte. "Jika warga lebih terdidik mengenai investasi [mengenai membeli saham atau menahannya untuk lima sampai tujuh tahun] Anda akan melihat kalau Anda mendapatkan lebih banyak dibandingkan jika Anda hanya menaruh uang Anda di deposito berjangka."

Namun Vilafuerte tidak mau memberikan nasihat mengenai bursa saham. Ia lebih memilih untuk mereferensikan brokernya: "Mereka menawarkan seminar gratis mengenai investasi bursa saham." Terdapat banyak masukan berkualitas di luar sana — namun Anda harus teliti mengenai hal itu.

4. Kita mendapatkan saran finansial dari orang yang salah.

Villafuerte telah melihat ini terlalu sering — pengusaha baru yang bertanya kepada temannya untuk nasihat bisnis gratis dan kena batunya. "Kita suka mengambil jalan pintas," tambahnya. "Mereka tidak melihat segala hal dari segi bisnis; mereka tidak bertanya kepada seorang pengusaha, 'bagaimana Anda menjalankan bisnis Anda?' jadi hal itu meningkatkan resiko kegagalan mereka."

Selalu ingat: Ada alasannya mengapa informasi tertentu gratis dan mudah didapatkan, kata Villafuerte: "Karena hal itu bukanlah nasihat terbaik yang bisa Anda dapatkan." Informasi bisnis yang berkualitas lebih sulit didapatkan. Ia teringat pada teman-temannya yang ingin berbisnis laundry dan meminta nasihatnya.

"Aku mengatakan kepadanya mengenai seminar operasi toko laundry di Nagoskwela: 'Kenapa kamu tidak hadir disana? Kamu akan mendapatkan nasihat dari orang-orang yang mengetahui bisnis itu.'" Temannya itu tidak menanggapi ide tersebut.

"Untungnya bisnisnya tidak hancur, namun memerlukan tiga tahun sebelum bisnis itu stabil." Dibandingkan dengan temannya yang lain yang menghadiri seminar laundry itu. "Ia menghadiri seminar toko laundry itu -- tokonya baru dibuka baru tiga bulan, namun sudah stabil," kenang Villafuerte. "Dari situ Anda dapat melihat perbedaannya: meminta nasihat mengenai uang, bisnis, atau investasi, dari orang yang cuma Anda kenal, dibandingkan mendapatkannya dari orang yang memang ahli di bidang itu."