Showing posts with label SPECIAL KIDS. Show all posts
Showing posts with label SPECIAL KIDS. Show all posts

Wednesday, May 19, 2010

MENGENAL ANAK HIPERAKTIF


Seorang ibu datang ke Klinik Perkembangan Anak dengan keluhan bahwa anaknya yang berusia 5 tahun selalu mengganggu teman, tidak bisa diam dan seolah-olah tidak memperhatikan pelajaran di kelas. Oleh guru dinyatakan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas. Anak tersebut bukan anak nakal dan juga bukan anak yang malas atau bodoh, namun anak tersebut mengalami gangguan dalam perkembangannya yaitu gangguan hiperkinetik yang secara luas di masyarakat disebut sebagai anak hiperaktiv.

Apa Itu Anak Hiperaktiv?
Anak hiperaktiv adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome.

Apa Itu Gangguan Hiperkinetik atau GPPH/ADHD ?
Gangguan hiperkinetik adalah gangguan pada anak yang timbul pada masa perkembangan dini (sebelum berusia 7 tahun) dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian, hiperaktiv dan impulsif. Ciri perilaku ini mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa.

Apakah Ada Ciri-ciri Lain Yang Menyertai Gangguan Hiperkinetik (GPPH/ADHD) ?
Ciri-ciri lain yang sering menyertai gangguan hiperkinetik adalah :
§ Kemampuan akademik tidak optimal
§ Kecerobohan dalam hubungan sosial
§ Kesembronoan dalam menghadapi situasi yang berbahaya
§ Sikap melanggar tata tertib secara impulsif
Bilamana Anak Disebut Menderita Gangguan Hiperkinetik (GPPH/ADHD)?
§ Mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam belajar, mendengarkan guru dan permainan.
§ Hiperaktivitas, selalu bergerak dan tidak bisa tenang
§ Impulsivitas, melakukan sesuatu tanpa dipikir terlebih dahulu


Berbagai Tipe Hiperkinetik atau GPPH/ADHD :
§ Tipe sulit konsentrasi
§ Tipe hiperaktiv - impulsiv
§ Tipe kombinasi

Apa Akibatnya Bila Anak Menderita Gangguan Hiperkinetik (GPPH/ADHD)?
§ Anak tidak dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik
§ Anak sering tidak patuh terhadap perintah orang tua
§ Anak sulit didisiplinkan

Apabila Gangguan Hiperkinetik (ADHD) Tidak Diobati maka akan :
Menimbulkan hambatan penyesuaian perilaku sosial dan kemampuan akademik di lingkungan rumah dan sekolah, sehingga dapat mengakibatkan perkembangan anak tidak optimal dengan timbulnya gangguan perilaku di kemudian hari.

Kondisi Lain yang Menyertai Gangguan Hiperkinetik :
§ Gangguan tingkah laku
§ Gangguan sikap menentang
§ Depresi
§ Gangguan cemas
§ Kesulitan belajar
§ Retardasi mental
§ Gangguan pemusatan perhatian (disorder of attention)
§ Gangguan pengendalian motorik (disorder of motor control)
§ Gangguan persepsi (disorder of perception /DAMP)
§ Autisme


Sumber : novartis.com

Sunday, April 25, 2010

CEREBRAL PALSY (CP)


Cerebral palsy (CP) disebabkan oleh kerusakan sel-sel otak yang mengontrol gerakan otot. Ketika sel-sel otak mati, sinyal tidak dapat dikirim ke sel otot. Sejumlah faktor dapat menyebabkan kerusakan sel otak. Ini termasuk kekurangan oksigen (asfiksia), infeksi, trauma (shock), malnutrisi (pola makan yang buruk), obat-obatan atau bahan kimia lain, atau perdarahan (pecah pembuluh darah). Dalam kebanyakan kasus, adalah mustahil untuk menemukan penyebab yang tepat untuk setiap orang seseorang CP. Lahir prematur dianggap sebagai salah satu faktor penting dan umum. Kebanyakan peneliti sekarang percaya bahwa kerusakan sel otak terjadi sebelum kelahiran. Kerusakan ini juga bertanggung jawab untuk kondisi lain yang cenderung terjadi bersama dengan CP.

Ataxia:
Sebuah kondisi di mana keseimbangan dan koordinasi telah mengalami penurunan nilai.

Athetonia:
kondisi yang ditandai dengan lambat, memutar, gerakan otot paksa.

Attention-deficit/hyperactivityDisorder:
Sebuah gangguan perilaku ditandai oleh tidak perhatian, tingkat tinggi kegiatan, dan perilaku impulsif.

Contracture:
Pemendekan otot.

Diplegia:

Kelumpuhan pada lengan dan kaki pada satu sisi tubuh.

Distonia:
Kehilangan kemampuan untuk mengontrol pergerakan otot rinci.

Hemiplegia:
Kelumpuhan satu sisi tubuh.

Hypotonia:
Sebuah kondisi di mana otot-otot menjadi floppy dan kurang kuat.

Quadriplegia:
Kelumpuhan kedua lengan dan kedua kaki.

Kejang:
Sebuah kondisi di mana otot-otot yang kaku, postur mungkin abnormal, dan kontrol otot dapat terganggu.

Asfiksia dapat terjadi sebagai akibat dari berbagai masalah. Pertama, sistem peredaran darah tidak dapat mengembangkan normal sebelum kelahiran. Asfiksia mungkin terjadi selama proses kelahiran, namun asfiksia saat lahir biasanya menunjukkan bahwa bayi baru lahir memiliki masalah neurologis lainnya. Asfiksia setelah lahir dapat disebabkan oleh tersedak, paparan terhadap racun (seperti karbon monoksida), atau tenggelam dekat.

otak seorang anak juga dapat rusak sebelum lahir oleh infeksi diakuisisi oleh ibu. Infeksi ini termasuk rubella (campak Jerman; lihat entri rubella), toksoplasmosis (infeksi darah), cytomegalovirus (virus yang menyebabkan herpes; diucapkan SIE-tuh-MEG-eh-lo-VIE-rus), dan HIV (virus yang menyebabkan AIDS, lihat entri AIDS). Dua jenis infeksi otak, ensefalitis (lihat entri ensefalitis) dan meningitis (lihat entri meningitis), juga bisa menyebabkan CP pada bayi.

trauma fisik (shock) bagi ibu hamil atau janin dapat menyebabkan kerusakan otak yang mengarah ke CP. Trauma dapat disebabkan oleh kecelakaan mobil, kekerasan gemetar, atau kekerasan fisik. Malnutrisi dan menggunakan obat oleh ibu juga dapat menyebabkan kerusakan otak.


Sumber : happyhornets13.wikispaces

Tuesday, April 20, 2010

ANAK LD ?

MEREKA adalah anak atau individu yang memiliki cara atau gaya belajar yang berbeda (learning differences). Pada awalnya dipakai istilah learning disability atau ketidak-mampuan belajar. Sebuah istilah yang dinilai semena-mena dan member! konotasi negatif, seolah-olah mereka adalah anak-anak yang tidak memiliki masa depan dan tidak mampu belajar dengan baik.

Dalam perkembangannya, penggunaan istilah learning disability menjadi tidak populer dan tidak pernah digunakan lagi. Kini lebih sering digunakan istilah yang lebih manusiawi, learning differences, yang dalam bahasa Indonesia diartikan"Perbedaan cara belajar". Istilah lain yang sering digunakan adalah anak dengan kebutuhan khusus (children with special needs).





Anak LD adalah anak yang memiliki disfungsi minimum otak (DMO), sehingga menyebabkan tercampuraduknya sinyal-sinyal di antara indera dan otaknya, termasuk di dalamnya mereka yang memiliki gangguan konsentrasi dan hiperaktivitas (ADD dan ADHD). Jelasnya, anak LD adalah individu yang memiliki kecerdasan normal bahkan di atas normal, namun memiliki masalah dalam pemrosesan di otaknya ketika menerima stimulasi melalui indera. Karena masalah yang dialaminya, sering ditemukan perbedaan yang nyata antara hasil tes IQ dengan prestasi akademiknya di sekolah.

Anak LD biasanya tampil kurang dewasa dibanding anak lain yang seusia. LD cenderung mempengaruhi koordinasi fisik dan perkembangan emosional mereka. Kebanyakan anak LD juga sulit mengenali hal-hal yang memungkinkan manusia mampu berfungsi dengan tepat dalam situasi sosial, akibatnya anak LD terlihat seperti mempunyai kebiasaan sosial yang berbeda sehingga sulit diterima oleh anggota masyarakat di sekitarnya.
Mereka memang memiliki masalah di dalam dirinya yang kadang-kadang mem-buat masyarakat di lingkungannya merasa terganggu. Akibatnya, kehadirannya ditolak, bahkan tidak jarang memperoleh stigma negatif, misalnya bodoh, nakal, jahat, troublemaker, dan lain-lain.
Untuk memahami mereka, barangkali kita bisa menganalogikan dengan seseorang yang sedang belajar bahasa asing. Sebelum faham benar, sudah dipaksa untuk menerjemahkan. Anak LD selalu"menerjemahkan" sesuatu ke dalam "bahasa" yang bisa diterima dan dimengerti oleh otaknya.

MENGENALI ANAK AUTIS


Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan , dan angka kejadian anak autisme masih terus meningkat diseluruh dunia. Saat ini sering timbul kekuatiran para orang tua jika anak kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak lazim , apakah anak menderita autisme?, Marilah mengenal lebih dalam tentang Autisme pada anak.

Sering timbul kekuatiran jika anak kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak lazim , apakah anak menderita autisme. Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan , angka kejadian di seluruh dunia terus meningkat. Banyak penyandang autisme terutama yang ringan masih tidak terdeteksi dan bahkan sering mendapatkan diagnosa yang salah , atau bahkan terjadi overdiagnosis . hal tersebut tentu saja sangat merugikan anak.

A. Apakah autisme itu ?
Kelainan perkembangan yang luas dan berat, dan mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan tersebut mencakup bidang interaksi sosial , komunikasi , dan perilaku.

B. Kapan deteksi dini autisme pada anak ?
Gejala autisme mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia 3 tahun , secara umum gejala paling jelas terlihat antara umur 2 – 5 tahun.
Pada beberapa kasus aneh gejala terlihat pada masa sekolah.

Berdasarkan penelitian lebih banyak didapatkan pada anak laki-laki dari pada anak perempuan. Beberapa tes untuk mendeteksi dini kecurigaan autisme hanya dapat dilakukan pada bayi berumur 18 bulan ke atas.

C. Waspadai gejala – gejala autisme
Gejala autisme berbeda – beda dalam kuantitas dan kualitas ,penyandang autisme infantil klasik mungkin memperlihatkan gejala dalam derajat yang berat , tetapi kelainan ringan hanya memperlihatkan sebagian gejala saja.

Kesulitan yang timbul, sebagian dari gejala tersebut dapat muncul pada anak normal, hanya dengan intensitas dan kualitas yang berbeda.




D. Gejala – gejala pada autism mencakup gangguan pada :
1. Gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal
• Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara
• Mengeluarkan kata – kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet
• Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata – kata dalam konteks yang sesuai
• Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
• Meniru atau membeo , beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian , nada , maupun kata katanya tanpa mengerti artinya
• Kadang bicara monoton seperti robot
• Mimik muka datar
• Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat

2. Gangguan pada bidang interaksi sosial
• Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
• anak mengalami ketulian
• Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk
• Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang
• Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya.
• Bila didekati untuk bermain justru menjauh
• Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain
• Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun
• Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan terhadap orang tuanya

3. Gangguan pada bidang perilaku dan bermain
• Seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang – ulang sampai berjam – jam
• Bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh
• Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil – mobilan terus menerus untuk waktu lama)atau sesuatu yang berputar
• Terdapat kelekatan dengan benda – benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana- mana
• Sering memperhatikan jari – jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak
• Perilaku ritualistik sering terjadi
• Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana sini, melompat – lompat, berputar – putar, memukul benda berulang – ulang
• Dapat juga anak terlalu diam

4. Gangguan pada bidang perasaan dan emosi
• Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya
• Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata
• Sering mengamuk tidak terkendali ( temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif .

5. Gangguan dalam persepsi sensoris
• Mencium – cium , menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja
• Bila mendengar suara keras langsung menutup mata
• Tidak menyukai rabaan dan pelukan . bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan
• Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu

E. Apa yang sebaiknya anda lakukan?
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anda jika mencurigai adanya satu atau lebih gejala di atas pada anak anda. Tetapi jangan juga cepat – cepat mennyatakan anak anda sebagai penderita autisme.

Diagnosis akhir dan evaluasi keadaan anak sebaiknya ditangani oleh suatu tim dokter yang berpengalaman , terdiri dari ; dokter anak , ahli saraf anak, psikolog, ahli perkembangan anak, psikiater anak, ahli terapi wicara. Tim tersebut bertanggung jawab dalam menegakan diagnosis dan memberi arahan mengenai kebutuhan unik dari masing – masing anak , termasuk bantuan interaksi sosial , bermain, perilaku dan komunikasi .

© Dr. Suriviana- www.infoibu.com

INTERVENSI DIET SEBAGAI TERAPI PADA PENDERITA AUTIS

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autis hingga saat ini masih belum jelas penyebabnya. Dari berbagai penelitian klinis hingga saat ini masih belum terungkap dengan pasti penyebab autis. Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa Autis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh muktifaktorial dengan banyak ditemukan kelainan pada tubuh penderita.

• PENANGANAN AUTIS HARUS BERSIFAT HOLISTIK (SECARA MENYELURUH), DIANATARANYA TERAPI OKUPASI, BIOMEDIS DAN PENDEKATAN DIET. BILA DILAKUKAN HANYA SEBAGIAN SERINGKALI TIDAK OPTIMAL.
• BANYAK PENELITIAN BIDANG SEROTONIK, IMUNOLOGI DAN ENDOKRINOLOGI TERBARU DAN MUTAKHIR MENUNJUKKAN BAHWA DENGAN PENDEKATAN DIET UNTUK MEMPERBAIKI GANGGUAN SALURAN CERNA SEBAGAI PENYEBAB GANGGUAN FUNGSI OTAK PADA AUTIS DAPAT DIMINIMALKAN. PENDEKATAN DIET DAPAT MEMINIMALKAN GANGGUAN PERLAKU PADA AUTIS.
• SAYANGNYA KEMAJUAN PENELITIAN YANG ADA INI SERING BAHKAN MASIH MENJADI KONTROVERSI DIKALANGAN MEDIS SENDIRI SEHINGGA BANYAK PENDERITA AUTIS SERING MENGALAMI KETERLAMBATAN PENANGANAN ATAU KETIDAKOPTIMALAN PENANGANAN. KARENA BANYAK DOKTER ATAU KLINISI DI BIDANG AUTIS YANG MASIH BELUM MAU MENERAPKAN PENDEKATAN DIET TERHADAP PASIENNYA. BAHKAN BANYAK TERJADI ORANGTUA PENDERITA AUTIS MELAKUKAN PENDEKATAN DIET SETELAH BERUSIA 5 TAHUN LEBIH, PADAHAL BILA DILAKUKAN LEBIH DINI AKAN SEMAKIN BAIK.
• KESALAHAN LAIN YANG SERING TERJADI DALAM SEHARI-HARI PENDERITA MELARANG DAN MEMBOLEHKAN BERDASARKAN TES KULIT ATAU TES DARAH. PADAHAL UNTUK MENCARI DAN MEMASTIKAN PENYEBAB HIPERSENSITIVITAS MAKANAN BUKAN BERDASARKAN PEMERIKSAAN DARAH ATAU TES KULIT.
• KEJANGGALAN LAIN YANG TERJADI DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI :
SEBENARNYA UNTUK MEMASTIKAN DIAGNOSIS AUTIS DAN HIPERSENSITIVITAS MAKANAN ADALAH DIAGNOSIS KLINIS (MELAKUKAN WAWANCARA DAN PENGAMATAN TERHADAP RIWAYAT DAN GEJALA KLINIS), PEMERIKSAAN LABORATORIUM YANG BERMACAM-MACAM ITU (SEPERTI MRI, EEG, TES RAMBUT, TES DARAH ALERGI, TES LOGAM BERAT DLL) BUKAN UNTUK MEMASTIKAN DIAGNOSIS AUTIS DAN BUKAN YANG UTAMA DALAM PENANGANAN AUTIS. SAYANG SEKALI, DENGAN BIAYA YANG SANGAT MAHAL TERSEBUT TERNYATA MANFAAT KLINIS TIDAK TERLALU BESAR. PEMERIKSAAN TERSEBUT MUNGKIN HANYA PENTING DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN PENELITIAN.
• POLA PENDEKATAN DIET SANGAT BANYAK DAN BERVARIASI, YANG MANA YANG PALING BAIK ?
• Deteksi gejala alergi atau hipersensitivitas makanan dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini pada anak harus dilakukan. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap autism atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan sejak dini. SANGATLAH PENTING UNTUK MENGETAHUI DAN MENGENALI GANGGUAN “SALURAN CERNA KRN HIPERSENSITIVITAS MAKANAN” DAN GEJALA AUTIS SEJAK DINI.
MENGAPA PENDERITA AUTIS HARUS MELAKUKAN DIET ?
• BANYAK PENELITIAN MENUNJUKKAN TERNYATA KELAINAN SALURAN CERNA YANG TERJADI PADA HAMPIR SEMUA PENDERITA AUTIS SANGAT BERPERANAN DENGAN GANGGUAN FUNGSI OTAK YANG MENGAKIBATKAN GANGGUAN PERILAKU
• BERBAGAI PENELITIAN MENUNJUKKAN SEBAGIAN BESAR PENDERITA AUTIS MENGALAMI GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA ATAU MENGALAMI LEAKY GUT (KEBOCORAN SALURAN CERNA).
• SEBAGIAN AHLI BERPENDAPAT BAHWA GANGGUAN INI SANGAT BERKAITAN DENGAN “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY” ARTINYA PENGARUH REAKSI MAKANAN TERTENTU YANG MENGGANGGU SALURAN CERNA TUBUH SENDIRI.
• MEMPERBAIKI GANGGUAN SALURAN CERNA TERSEBUT BUKAN HANYA SEKEDAR PEMBERIAN ENSIM DAN OBAT-OBATAN.
• PEMBERIAN OBAT-OBATAN DAN TERAPI OKUPASI TIDAK AKAN BERPENGARUH OPTIMAL BILA PENGARUH MAKANAN YANG MENGGANGGU SALURAN CERNA PADA PENDERITA AUTISM TIDAK DIKENDALIKAN.

















MENGAPA DIET ATAU GANGGUAN SALURAN CERNA BERPENGARUH PADA OTAK ATAU AUTIS ?

Mekanisme bagaimana alergi atau hipersensitivitas makanan mengganggu sistem susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun ada beberapa teori mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah teori gangguan organ sasaran, pengaruh metabolisme sulfat, teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis) dan pengaruh reaksi hormonal pada alergi. Tetapi pada umumnya proses mekanisme terjadinya gangguan tersebut melalui proses penyimpangan proses metabolisme di saluran cerna dan sering terjadi pada penderita “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY”.


ALERGI MENGGANGGU ORGAN SASARAN.
Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks. Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia. Rendahnya TH1 akan mengakibatkan kegagalan kemampuan untuk mengontrol virus dan jamur, menurunkan aktifitas NK cell (sel Natural Killer) dan merangsang autoantibodies dengan memproduksi berbagai macam antibody antibrain (menggangu ke otak) dan organ tubuh lainnya.
Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai urtikaria, bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama yang kompleks.

TEORI METABOLISME SULFAT
Pada penderita hipersensitvitas makanan, mungkin juga pada alergi makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan metabolisme sulfur. Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan kulit (gatal) pada penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan zat kimiawi dan beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat mengganggu otak.

TEORI HUBUNGAN PENCERNAAN DAN OTAK (ENTERIC NERVOUS SYSTEM, GUT-BRAIN AXIS DAN ABDOMINAL BRAIN THEORY)
Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan Sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak adalah :
• KEKURANGAN ENSIM DIPEPTIDILPEPTIDASE
Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV). pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang otak.
• TEORI PELEPASAN OPIOID
Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut. ]
• TEORI ABDOMINAL EPILEPSI. Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi, yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut berulang pada penderita berhubungan dengan kejadian epilepsi.
• TEORI KETERKAITAN HORMONAL DENGAN ALERGI
Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah, kecemasan, panik, sakit kepala, migraine dan keluhan lainnya.

APA SAJAKAH GANGGUAN YANG BISA TERJADI AKIBAT PENGARUH MAKANAN?
Bila makanan mengganggu saluran cerna secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi fungsi otak, gejala yang bisa timbul adalah :
• Gangguan neuroanatomis seperti sakit kepala, migraine, vertigo, tick (mata sering berkedip), lumpuh sesaat (salah satu kaki seperti jalan pincang hanaya sesaat), breath holding spel, short memory lost (mudah lupa) atau kejang tanpa disertai gangguan EEG dan CT scan/MRI.
• Gangguan neurofungsional yang bisa terjadi adalah gangguan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, impulsive, depresi, gangguan konsentrasi, gangguan belajar dan memperberat gejala autism dan ADHD.


MELIHAT BEBERAPA TEORI DAN FAKTA TERSEBUT TAMPAKNYA PARA ORANGTUA HARUS MEWASPADAI GANGGUAN SALURAN CERNA PADA ANAK TERNYATA DAPAT MEMPENGARUHI OTAK DAN PERILAKU ANAK TERMASUK MEMPERBERAT GANGGUAN PERILAKU YANG SUDAH TERJADI PADA AUTISM DAN ADHD ATAU GANGGUAN PERILAKU LAINNYA

APAKAH “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY” ?
• “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY“ atau hipersensitifitas makanan pada saluran cerna adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai sistem saluran cerna yang ditimbulkan oleh reaksi simpang terhadap makanan. ]
• Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Reaksi tersebut dapat diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi, farmakologi, toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme serta neuropsikologis terhadap makanan. Dari semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan dan zat aditif makanan sekitar 20% disebabkan karena alergi makanan. Tidak semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter atau masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi yang tidak diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologis.
• REAKSI SIMPANG MAKANAN TERSEBUT TERDIRI DARI :
1. ALERGI MAKANAN (bereaksi terhadap susu sapi, udang, telor, buah dan sebagainya.
2. INTOLERANSI MAKANAN (bereaksi terhadap zat warna, pengawet dan zat kimiawi tertentu di dalam makanan)
3. CELIAC (bereaksi terhadap terigu dan sebagainya)
4. ATAU REAKSI HIPERSENSITIVITAS LAINNYA
Menurut cepat timbulnya reaksi terhadap makanan dapat berupa reaksi cepat (Immediate Hipersensitivity/rapid onset reaction) dan reaksi lambat (delayed onset reaction). Reaksi cepat, reaksi terjadi berdasarkan reaksi kekebalan tubuh tipe tertentu. Terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan atau terhirup pajanan makanan. Reaksi Lambat, terjadi lebih dari 8 jam setelah makan bahan penyebab reaksi simpang tersebut.


APAKAH TANDA DAN GEJALA “GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY” ?
• GANGGUAN SALURAN CERNA SECARA PRAKTIS SULIT DIKETAHUI, MUNGKIN DENGAN CARA BIOPSI DISERTAI PEMERIKSAAN BIOMOLEKULER PADA SALURAN CERNA PENDERITA AKAN DAPAT DIKETAHUI GANGGUAN TERSEBUT. TETAP PEMERIKSAAN TERSEBUT HANYA DALAM KEGIATAN PENELITIAN. DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI SULIT DILAKUKAN.
• SECARA MUDAH BISA DIAMATI POLA GANGGUAN BUANG AIR BESAR ANAK : BERAK SULIT (NGEDEN ATAU TIDAK TIAP HARI), FESES WARNA GELAP, KERAS DAN BERBAU TAJAM ATAU CAIR.
• GEJALA SALURAN CERNA (TERMASUK GIGI/MULUT) LAIN YANG HARUS DIWASPADAI :
1. PADA BAYI : SALURAN CERNA:Gastrooesephagealrefluks/GER): Sering MUNTAH/gumoh), kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB TIDAK TIAP HARI. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah sering timbul putih, bibir kering
2. PADA ANAK YANG LEBIH BESAR : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. SERING BAB 3 kali/hari atau lebih, SULIT BAB, TIDAK BAB TIAP HARI, berat ngeden, kotoran bulat hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin,bau tajam. Sering NYERI PERUT.
3. GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, MULUT BERBAU, air liur berlebihan.

GEJALA LAIN YANG MENYERTAI :
1. GANGGUAN KULIT : KULIT : KULIT KERING DAN KASAR, TIMBUL BINTIL kemerahan dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk, Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik/memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna). Anus dan ujung penis sering merah gatal
2. GANGGUAN ALERGI LAINNYA SEPERTI : SERING PILEK, BATUK, SESAK ATAU ASMA
APAKAH HIPERSENSITIF SALURAN CERNA TERSEBUT BERSIFAT TURUNAN ?
• HIPERSENSITIFITAS MAKANAN SANGAT BERAGAM, MESKIPUN TIDAK SEMUA TAPI DIDUGA SEBAGIAN BESAR MENURUN DARI SALAH SATU ORANG TUA TERUTAMA PADA KASUS ALERGI.
• DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI PENULIS SERING MENEMUKAN SALAH SATU ORANG TUANYA TERUTAMA YANG MEMPUNYAI FISIK (WAJAH) ATAU GOLONGAN DARAH SAMA DENGAN PENDERITA JUGA MEMPUNYAI RIWAYAT PENCERNAAN YANG SENSITIF. GANGGUAN TERSEBUT ADALAH “GEJALA MAG”, SERING MUAL ATAU “MASUK ANGIN”, NYERI PERUT, SULIT BUANG AIR BESAR ATAU MALAH TERLALU GAMPANG BUANG AIR BESAR. DAN YANG MENARIK ORANGTUA TERSEBUT BIASANYA JUGA MEMPUNYAI KELUHAN FUNGSI NEUROFUNGSIONAL OTAK JUGA SEPERTI : MIGRAIN, SERING SAKIT KEPALA ATAU VERTIGO.
BAGAIMANA MENGETAHUI ATAU MEMASTIKAN MAKANAN YANG MENGGANGGU
• KESULITAN YANG SERING DIALAMI DALAM PRAKTEK SEHARI-HARI ADALAH MENENTUKAN MAKANAN MANA YANG MENGGANGGU. BANYAK KONTROVERSI TERJADI : sebagian pendapat bahwa anak autis tidak bolah makan apel, orang tua lainnya bilang boleh makan apel, ahli lain menyarankan tidak boleh minum susu sapi, sedangkan dokter mengadviskan boleh makan semua atau bahkan dokter lain melarang hampir semua makanan. HAL INI MEMBUAT ORANG TUA SEMAKIN BINGUNG.
• BILA MELIHAT TEORI TERSEBUT DI ATAS TAMPAKNYA HAMPIR SEMUA MAKANAN DAPAT MENGGANGGU SALURAN CERNA PENDERITA AUTIS, TETAPI SEBENARNYA TIDAK SEMUA MAKANAN MENGGANGGU PENDERITA AUTIS. SETIAP ANAK BERBEDA DALAM MENGHADAPI REAKSI YANG DITIMBULKAN TERHADAP MAKANAN. Contoh : ada seorang anak yang bereaksi terhadap apel tetapi anak lainnya mengkonsumsi apel tidak masalah.
• UNTUK MEMASTIKAN ADANYA REAKSI HIPERSENSITIVITAS MAKANAN ADALAH DENGAN berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala reaksi makanan sejak bayi dan dengan dengan eliminasi dan provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC).
• Mengingat cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap metode pemeriksaan tersebut. Allergy Astma Clinic dan Allergy behaviour Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Dalam diet sehari-hari dilakukan eliminasi atau dihindari beberapa makanan penyebab hipersensitifitas makanan selama 2-3 minggu, penderita hanya boleh berbagai makanan yang relatif aman. Setelah 3 minggu bila keluhan saluran cerna dan gangguan perilaku berkurang maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai. Setelah itu dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu bila timbul gejala dicatat dalam buku harian. Disebut sebagai penyebab hipersensitifitas bila dalam 2-3 kali provokasi menimbulkan gejala saluran cerna dan perilaku anak. ELIMINASI PROVOKASI MAKANAN DAPAT SEBAGAI ALAT DIAGNOSIS DAN SEKALIGUS TERAPI (TERAPI TANPA OBAT)
• PEMERIKSAAN LAINNYA TIDAK MEMASTIKAN PENYEBAB MAKANAN !!!! :

TERDAPAT BERBAGAI PEMERIKSAAN YANG DIKATAKAN DAPAT MENGETAHUI PENYEBAB MAKANAN YANG MENGGANGGU ATAU MENGETAHUI ALERGI MAKANAN. TERNYATA UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB REAKSI SIMPANG MAKANAN BERBAGAI PEMERIKSAAN TERSEBUT AKURASINYA TIDAK TINGGI ATAU MEMPUNYAI SPESIFITAS DAN SENSITIFITAS YANG TIDAK TINGGI, SEHINGGA SERING TERJADI “FALSE NEGATIF” DAN “FALSE POSITIF”. Artinya negatif : belum tentu tidak alergi atau cocok, positif : belum tentu alergi atau tidak cocok.

• Pemeriksaan yang dilakukan untuk mencari penyebab reaksi simpang makanan sangat banyak dan beragam. Baik dengan cara yang ilmiah hingga cara alternatif, mulai yang dari yang sederhana hingga yang canggih.
1. CARA ILMIAH : diantaranya adalah uji kulit alergi (skin test alergi), pemeriksaan darah (IgE, RASt) pemeriksaan ini hanya memastikan adanya bakat alergi atau tidak tetapi tidak bisa memastikan makanan penyebab alergi.
2. Pemeriksaan IgG (harus dikirim ke Amerika Serikat), pemeriksaan antibodi Gliadin, lemak tinja, Antibody monoclonal dalam sirkulasi, Pelepasan histamine oleh basofil (Basofil histamine release assay/BHR), Kompleks imun dan imunitas seluler, Intestinal mast cell histamine release (IMCHR), Provokasi intra gastra melalui endoskopi, biopsi usus setelah dan sebelum pemberian makanan. Pemeriksaan ini tidak terbukti secara ilmiah,
3. Pemeriksaan alternative atau ”unproven” untuk mencari penyebab alergi makanan diantaranya adalah kinesiology terapan (pemeriksaan otot), Alat Vega (pemeriksaan kulit elektrodermal, bioresonansi, biotensor), Metode Refleks Telinga Jantung, Cytotoxic Food Testing, ELISA/ACT, Analisa Rambut, Iridology dan Tes Nadi. PEMERIKSAAN INI SEBENARNYA TIDAK DIREKOMENDASIKAN OLEH BEBERAPA ORGANISASI ALERGI DUNIA, SELAIN MAHAL JUGA SERING MENYESATKAN. TETAPI FAKTANYA MASIH SERING DIPAKAI OLEH KLINISI DAN PARA DOKTER.
FAKTA YANG TERJADI SKIN TEST ATAU RAST (PERIKSA DARAH UNTUK ALERGI) :
• Seorang penderita autis setelah dilakukan eliminasi provokasi makanan, banyak didapatkan kemajuan. Tetapi orang tua sempat frustasi karena mendengar berbagai informasi akhirnya berobat ke Singapura. Dengan cekatan tim dokter di sana melakukan pemeriksaan mulai MRI atau CT scan, skin test allergy dan test darah alergi (RAST dan Ig). Kesimpulannya semua normal, advis tim dokter semua boleh makan bebas. Kalau menghindari makanan akan kurang gizi. Tapi apa lajur, 1-2 minggu setelah makan bebas ternyata perilaku anak menjelek lagi, tidur malamnya gelisah lagi, pencernaannya kacau lagi.

FAKTA YANG TERJADI PADA PEMERIKSAAN IgG yang dikirim ke Amerika Serikat (yang saat ini banyak dilakukan penderita autis) :
1. FAKTA PERTAMA : SEORANG PENDERITA MELAKUKAN PEMERIKSAAN IgG DENGAN DARAH YANG SAMA DAN DALAM WAKTU YANG SAMA KE TIGA TEMPAT DI AMERIKA SERIKAT, HASILNYA : KETIGANYA BERBEDA , kesimpulannya tempat pertama melarang minum susu sapi, tempat ke dua membolehkan minum susu sapi tempat ke tiga boleh minum hanya sedikit. BINGUNG KHAN ?
2. FAKTA KE DUA : pada usia 15 bulan hasil pemeriksaan IgG di Amerika Serikat menyimpulkan banyak makanan yang dinyatakan negatif dan anak dibolehkan mengkonsumsi semua makanan tersebut, tetapi ternyata 1 tahun kemudian gejala autism semakin memburuk. Setelah dicek ulang usia 21/2 tahun hampir semua makanan dinyatakan alergi. BINGUNG KHAN?
PENANGANAN AUTIS DENGAN PENDEKATAN DIET
• Masih banyak perbedaan dan kontroversi dalam intervensi makanan pada penderita autis sesuai dengan pengalaman klinis dan wawasan ilmiah tiap klinisi. Sehingga banyak tercipta pola dan variasi pendekatan diet yang dilakukan oleh para ahli dalam menangani hipersensitivitas makanan pada autis. Banyak kasus pengendalian alergi makanan tidak berhasil optimal, karena penderita menghindari beberapa penyebab hopersensitivitas makanan hanya berdasarkan pemeriksaan yang bukan merupakan baku emas atau “Gold Standard” atau ELIMINASI PROVOKASI.
• Pendekatan diet pada autis terdiri dari berbagai macam, seperti DIET FEINGOLD, DIET ALERGI, DIET ROTASI, DIET BEBAS GLUTEN DAN KASEIN, DIET BEBAS GULA DAN BERBAGAI POLA PENDEKATAN DIET LAINNYA. MANA YANG TERBAIK? SECARA BUKTI ILMIAH MASIH SULIT DIKATAKAN MANA YANG TERBAIK. SEMUA MEMPUNYAI KELEMAHAN DAN KELEBIHAN. CONTOH : DIET ROTASI : kelemahannya pengaturan diet berdasarkan pemeriksaan darah yang akurasinya tidak tinggi dan belum tentu benar,dan makanan yang mengganggu juga tetap diberikan. DIET FEINGOLD : kelemahan hanya menghindari zat pengawet dan zat warna, tidak memperhatikan alergi makanan. DIET ALERGI MAKANAN : kelemahan dasarnya tes kulit dan darah belum memastikan dan tidak memperhitungkan intolransi makanan lainnya seperti gluten dan zat warna (gluten dan zat warna bukan reaksi alergi). DIET BEBAS GLUTEN DAN CASEIN : kelemahan tidak mempertimbangkan alergi makanan dan intoleransi makanan lainnya.
• POLA PENDEKATAN DIET YANG PALING IDEAL TAMPAKNYA ADALAH DENGAN MENGIDENTIFIKASI SECARA PASTI SEMUA MAKANAN YANG BERPOTENSI MENGGANGGU SALURAN CERNA BAIK UNTUK ALERGI MAKANAN, INTOLERANSI MAKANAN, CELIAC ATAU REAKSI HIPERSENSITIFITAS LAINNYA. PENANGANAN SEPERTI ITU TIDAK ADA CARA LAIN KECUALI DENGAN MENGGUNAKAN “ELIMINASI PROVOKASI HIPERSENSITIVITAS MAKANAN” YANG BERTUJUAN MENCARI SATU PERSATU DENGAN CERMAT DAN TELITI MELALUI BUKU HARIAN MAKANAN MANA YANG MENGGANGGU (TRIAL AND ERROR).
• ELIMINASI PROVOKASI MAKANAN BUKAN BERARTI TIDAK BOLEH MAKAN MAKANAN TERTENTU SETERUSNYA, TETAPI SUATU ALAT DIAGNOSIS UNTUK MENGIDENTIFIKASI MAKANAN YANG MENGGANGGU DAN MAKANAN YANG AMAN SECARA BERTAHAP.
• Penanganan autism dengan disertai adanya hipersensitivitas makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi makanan. Paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut. Pemberian obat anti alergi, anti jamur dan anti bakteri jangka panjang berarti terdapat kegagalan dalam mengendalikan penyebab hipersensitifitas makanan.
KURANG GIZIKAH BILA MELAKUKAN ELIMINASI PROVOKASI MAKANAN
Memang beberapa makanan yang sering mengganggu mempunyai kadar gizi yang baik. Banyak orangtua dan sebagian klinisi kawatir resiko kekurangan gizi pada anak autis. Kekawatiran tersebut tidak perlu terjadi karena semua makanan yang dihindari ada pengganti makanan yang juga tak kalah gizinya. Misalnya : udang, cumi diganti ikan air tawar atau salmon, telor diganti daging sapi, susu sapi diganti susu kedelai atau susu beras. Bahkan bila mengkonsumsi makanan yang aman gangguan saluran cerna akan membaik maka nafsu makan akan membaik sehingga berat badan justru malah bertambah.
”EVEN THE BEST FOOD CAN MAKE YOUR CHILDREN SICK”.
PILIH MANA MAKAN ENAK ATAU ANAK SAKIT ? ANDA YANG MENENTUKAN,TAPIJANGAN KORBANKAN ANAK.


BAGAIMANA MENYIKAPI KONTROVERSI DIKALANGAN MEDIS
• KONTROVERSI DI BIDANG MEDIS ADALAH HAL BIASA KHUSUSNYA DALAM MELAKUKAN PENDEKATAN TERHADAP PENGOBATAN SUATU PENYAKIT, TERGANTUNG PENGALAMAN KLINIS, WAWASAN ILMIAH DAN PENELITIAN YANG DILAKUKAN SANG KLINISI ATAU DOKTER. DEMIKIAN PULA KONTROVERSI YANG TERJADI DI KALANGAN MEDIS DALAM MENYIKAPI PENDEKATAN DIET PADA PASIEN AUTIS. Satu dokter membolehkan makan semua makanan yang bergizi pada anak autis, dokter lainnya melarang semua makanan, sedangkan dokter lainnya melakukan dengan cermat dan teliti makanan mana yang boleh dan tidak. Hal inilah sering menjadi orangtua bingung harus mengikuti yang mana.
• Bila ini terjadi orang tua bisa membuka wawasan dengan melihat internet dengan membuka fakta ilmiah penelitian yang ada baik di Indonesia (meskipun sangat minim) dan di luar negeri. Atau, melakukan sharing dengan orangtua lainnya setelah melakukan pendekatan diet yang ideal (dengan elminasi provokasi bukan dengan pola diet lainnya seperti rotasi dll), ATAU kemudian melakukan sendiri terhadap anaknya dengan melakukan pendekatan eliminasi provokasi.
• SETELAH MENGALAMI SENDIRI MUNGKIN KITA BARU PERCAYA FAKTA, BAHWA MEMANG BEBERAPA MAKANAN SANGAT JAHAT DAN SELAMA INI MENGGANGGU ANAK KITA.
APAKAH HARUS DIET SEUMUR HIDUP
• Bila dalam proses eliminasi provokasi ditemukan makanan yang mengganggu maka penderita harus menunda atau menghindari makanan tersebut sementara. Kenapa hanya sementara karena dengan pertambahan usia sensitif tersebut bisa berkurang.
• Meskipun tidak bisa hilang sepenuhnya, tetapi hipersenitifitas makanan biasanya akan membaik pada usia tertentu. Setelah usia 2 – 7 tahun biasanya imaturitas saluran cerna akan membaik. Sehingga setelah usia tersebut gangguan saluran cerna karena hipersensifitas makanan juga secara bertahap akan ikut berkurang. Bila gangguan fungsi saluran cerna akan membaik maka biasanya gangguan perilaku yang terjadipun akan berkurang.
• Perbaikan gejala hipersensitifitas makanan dengan bertambahnya usia inilah yang menggambarkan bahwa gejala autis biasanya akan tampak mulai berkurang sejak periode usia di atas 2-7 tahun. Meskipun hipersensitivitas makanan tertentu biasanya akan menetap sampai dewasa, seperti udang, coklat, kepiting atau kacang tanah.

END POINT
1. Permasalahan gangguan saluran cerna pada anak tampaknya tidak sesederhana seperti yang diketahui. Sering berulangnya penyakit, demikian luasnya sistem tubuh yang terganggu dan bahaya komplikasi yang terjadi termasuk pengaruh ke otak dan perilaku pada anak. Pengaruh hipersensitifitas makanan ke otak tersebut ternyata sebagai salah satu faktor yang memperberat penyakit Autis.
2. KONTROVERSI YANG TERJADI DI KALANGAN MEDIS DALAM MENYIKAPI PENDEKATAN DIET SERING TERJADI. SETELAH MENGALAMI SENDIRI KITA HARUS PERCAYA FAKTA INI, BUKAN PERCAYA YANG LAIN BAHWA MEMANG MAKANAN TERSEBUT SELAMA INI JAHAT DAN MENGGANGGUN ANAK KITA.
3. Eliminasi makanan tertentu dapat mengurangi gangguan perilaku pada penderita Autis. Diagnosis pasti hipersensitifitas makanan hanya dipastikan dengan Double Blind Placebo Control Food Chalenge (DBPCFC). Penghindaran makanan penyebab alergi tidak dapat dilakukan hanya atas dasar hasil tes kulit alergi atau tes alergi lainnya. Seringkali hasil yang didapatkan tidak optimal karena keterbatasan pemeriksaan tersebut dan bukan merupakan baku emas atau gold Standard dalam menentukan penyebab alergi makanan.
4. Penanganan terbaik pada penderita hipersensitifitas makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan ensim, obat alergi dan sejenisnya dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala gastrointestinal food hypersensitivity dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan autisme dapat dikurangi.
5. SEBENARNYA UNTUK MENDIAGNOSIS AUTIS TIDAK MEMERLUKAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM YANG BERMACAM-MACAM DENGAN BIAYA YANG SANGAT BESAR DAN PEMERIKSAAN ITU TIDAK BISA MEMASTIKAN MENCARI PENYEBAB MAKANAN. YANG UTAMA ADALAH DIAGNOSIS KLINIS ATAU KEJELIAN DOKTER DALAM MENILAI RAWAYAT DAN PENAMPILAN PERILAKU PASIEN.
6. Dengan melakukan deteksi gejala saluran cerna dan gangguan perkembangan dan perilaku sejak dini maka pengaruh hipersensitivitas makanan terhadap autism atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan. Sehingga sangatlah penting untuk mengetahui dan mengenali tanda dan gejala gangguan saluran cerna dan autism sejak dini.
7. SECARA JANGKA PANJANG KITA HARUS MENCERMATI DAN MEMINIMALKAN GANGGUAN SALURAN CERNA PADA PENDERITA AUTIS. BILA HAL TERSEBUT CERMAT DILAKUKAN BERARTI DAPAT MEMINIMALKAN GANGGUAN PERILAKU PADA AUTIS SECARA JANGKA PANJANG. AWASI KELUHAN GANGGUAN SALURAN CERNA DAN AMATI CERMAT POLA FESES ANAK.
8. JANGAN ANGGAP REMEH GANGGUAN SALURAN CERNA, HARUS DI DETEKSI DAN DIMINIMALKAN SEJAK DINI. GANGGUAN INI TERNYATA JUGA DAPAT MENINGKATKAN GANGGUAN PERILAKU PADA PENDERITA AUTIS DAN NON-AUTIS. MESKIPUN GANGGUAN YANG TERJADI PADA PENDERITA NON-AUTIS TIDAK LEBIH BERAT.

AUTIS MASA KANAK-KANAK


Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan yang terganggu adalah dalam bidang :

1. Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti ditunjukkan dibawah ini :
• Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang.
• Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.
• Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
• Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
• Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.

2. Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas interaksi social :
• Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak.
• Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama.
• Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
• Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.
3. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulang-ulang dan
stereotipik seperti dibawah ini :
• Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.
• Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang.
• Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
• Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu
Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar.

Kecuali gangguan emosi sering pula anak-anak ini menunjukkan gangguan sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk mencium-cium/menggigit-gigit benda, tak suka kalau dipeluk atau dielus.

Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1

Gangguan Perkembangan Pervasif YTT (PDD-NOS)
PDD- NOS juga mempunyai gejala gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi, interaksi maupun perilaku, namun gejalanya tidak sebanyak seperti pada Autisme Masa kanak.
Kualitas dari gangguan tersebut lebih ringan, sehingga kadang-kadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi fasial tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak bergurau.

Sindroma Rett
adalah gangguan perkembangan yang hanya dialami oleh anak wanita. Kehamilannya normal, kelahiran normal, perkembangan normal sampai sekitar umur 6 bulan. Lingkaran kepala normal pada saat lahir.

Mulai sekitar umur 6 bulan mereka mulai mengalami kemunduran perkembangan. Pertumbuhan kepala mulai berkurang antara umur 5 bulan sampai 4 tahun. Gerakan tangan menjadi tak terkendali, gerakan yang terarah hilang, disertai dengan gangguan komunikasi dan penarikan diri secara sosial. Gerakan-gerakan otot tampak makin tidak terkoordinasi.Seringkali memasukan tangan kemulut, menepukkan tangan dan membuat gerakan dengan dua tangannya seperti orang sedang mencuci baju.. Hal ini terjadi antara umur 6-30 bulan.

Terjadi gangguan berbahasa, perseptif maupun ekspresif disertai kemunduran psikomotor yang hebat. Yang sangat khas adalah timbulnya gerakan-gerakan tangan yang terus menerus seperti orang yang sedang mencuci baju yang hanya berhenti bila anak tidur.

Gejala-gejala lain yang sering menyertai adalah gangguan pernafasan, otot-otot yang makin kaku , timbul kejang, scoliosis tulang punggung, pertumbuhan terhambat dan kaki makin mengecil (hypotrophik). Pemeriksaan EEG biasanya menunjukkan kelainan.

ABK ( Anak Berkebutuhan Khusus )

PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
** Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang terkena disfungsi otak.
** Disfungsi otak merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyatakan akibat dari adanya cedera atau kerusakan, kelainan perkembangan gangguan keseimbangan biokimiawi atau gangguan aktifitas listrik dalam otak.

FUNGSI BELAHAN OTAK
** Otak terdiri dari belahan kanan dan belahan kiri
** Belahan otak kiri : komunikasi verbal, linguistik, logis, analitis, praktis.
** Belahan otak kanan : komunikasi non verbal, pragmatik, orientasi ruang (visual – spesial), imajinasi, kreasi, spiritual, seni, holistik – intuitif.



PENYEBAB ANAK KEBUTUHAN KHUSUS
Banyak faktor penyebab disfungsi otak : mulai dari masa kehamilan ibu (kurang gizi, merokok, mengalami pendarahan), saat melahirkan (kelahiran yang sulit, lahir premature), atau saat bayi lahir (tidak langsung menangis, nampak biru, pucat, kuning) dan setelah bayi lahir (mengalami radang otak atau cedera kepala).

YANG TERMASUK KEDALAM ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

1. Keterbelakangan mental (Tuna Grahita)
Gejala yang timbul pada umumnya nyata berupa keterlambatan hampir semua aspek perkembangan anak seperti perkembangan motorik kasar dan halus, kognitif, wicara-bahasa, sosial dan bantu diri. Contoh : anak sindrom Down, Mental retardasi.

2. Sindrom Down Manifestasi klinis
Wajah sangat khas dan tidak tergantung ras.
- Wajah tampak datar
- Jembatan hidung yang lebar dan datar.
- Garis mata cendrung miring keatas.
- Lidah cendrung menjulur keluar, karena maksli kecil dan palatum sempit.
- Telinga kecil dan letak rendah.
- Sering diikuti gangguan refraksi mata.
- Kepala berbentuk brakisefali dan kecil.
- Jari tangan kelima biasanya melengkung dan pendek.
- Garis simian.
- Tangan lebar dan jari tangan pendek.
- Terdapat celah lebar antara jari kaki I dan II
- 40% disertai kelainan jantung : VSD, ASD, PDA.
- Kadang-kadang disertai atresia ani, atresia duodenum, hirschprung.
- Retardasi mental bervariasi
- Keterlambatan perkembangan motor, adaptif, dan sosialisasi sebelum usia 1 tahun.
- Pemeriksaan neurologis pada bayi : sering sulit minum dan apatik, hipotonia, refleks lambat, ikterus fisiologis yang memanjang.
- Kejang berkisar antara 2 - 9%.
- Gangguang fungsi kel teroid pada beberapa pasien.
- Tinggi badan biasanya kurang dari rata-rata.

Kriteria diognostik retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu :2
1. Fungsi intelektual yang secara signifikan dibawah rata-rata .IQ kira-kira 70 atau dibawahnya pada individu yang dilakukan test IQ.
2. Gangguan terhadap fungsi adaptif paling sedikit 2 misalnya komunikasi , kemampuan menolong diri sendiri , berumah tangga, sosial , pekerjaan, kesehatan dan keamanan.
3. Onsetnya sebelum usia 18 tahun.

3. Autisme
- Gejala yang dijumpai adalah tidak adanya kontak mata, menyendiri, (sulit bersosialisasi), adanya perilaku yang stereotipik seperti terpaku pada objek tertentu (putaran kipas angin) , menolak suatu perubahan, terlambat perkembangan bicara membeo, sulit berdialog, sering disertai hiperaktivitas.
- Kreteria diagnosis 299.00 gangguan autistic
Enam atau lebih gejala (1), (2), dan (3), dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari masing-masing (2) dan (3).
1. Gangguang kualitatif interaksi sosial, yang terlihat sebagai paling sedikit 2 dari gejala berikut:
1.1 Gangguan yang jelas dalam perilaku non verbal (perilaku yang dilakukan tanpa bicara) Misalnya kontak mata. Ekspresi wajah, posisi tubuh, dan mimik untuk mengatur interaksi sosial.
1.2 Tidak bermain dengan teman seumurnya, dengan cara yang sesuai.
1.3 Tidak berbagi kesenangan, minat atau kemampuan mencapai sesuatu hal dengan orang lain, misalnya tidak memperlihatkan mainan kepada orang tua, tidak menunjuk kesuatu benda yang menarik , tidak berbagi kesenangan dengan orang tua.
1.4 Kurangnya interaksi sosial timbal balik misalnya: tidak berpartisipasi aktif dalam bermain, lebih senang bermain sendiri.

2. Gangguan kualitatif komunikasi yang terlihat sebagai paling tidak satu dari gejala berikut:
2.1 Keterlambatan atau belum dapat mengucapakan kata-kata berbicara, tanpa diserta usaha kompensasi dengan cara lain misalnya mimik dan bahasa tubuh.
2.2 Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau mempertahankan komunikasi dengan orang lain.
2.3 Penggunaan bahasa yang streotipik dan berulang, atau bahasa tidak dapat di mengerti.
2.4 Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau bermain meniru secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya.

3. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang dan tidak berubah (stereotipik), yang ditunjukan dengan adanya 2 dari gejala berikut.
3.1 Minat yang terbatas, stereotipik, menetap dan abnormal dalam intensitas dan fokus.
3.2 Keterikatan pada suatu ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak fleksibel.
3.3 Gerakan motorik yang stereotipik dan berulang, misalnya : Flapping tangan dan jari, gerakan tubuh yang kompleks
3.4 Preokupasi terhadap bagian dari benda
4.Keterlambatan atau fungsi abnormal pada keterampilan berikut, yang muncul sebelum umur 3 tahun.
4.1 Interaksi sosial
4.2 Bahasa yang digunakan sebagai komunikasi sosial.
4.3 Bermain simbolik atau imajinatif.

4. Attention Deficit Hiperaktivity Disorders (ADHD)
Ciri –Cirinya :
- Tidak bisa mempertahankan perhatian, Mereka sangat mudah beralih, Perhatiannya pada hal-hal disekitarnya, Mudah bosan, Kemampuan ingatan jangka pendek rendah.
- Impulsif
Ketidakmampuan untuk mengontrol diri, Mereka sering dicap anak yang agresif, tidak tahu aturan, suka merebut barang teman, tidak sabar menunggu.
- Hiperaktif
Efek hiperaktifitas ini menjadi lebih buruk karena gabungan dengan impulsifitas. Kondisi ini menyulitkan anak saat belajar, duduk tenang, mendengarkan guru, mengerjakan tugas.
- Tidak terpuaskan
Butuh stimulasi dan perhatian yang terus menerus, dan harus segera terpenuhi.
- Kurang mampu melakukan interaksi sosial
Tidak mengerti cara berinteraksi dengan baik, sering berprilaku kasar dan menjengkelkan teman, sering mengatakan hal yang tidak tepat.
-Koordinasi motorik halus buruk
Tulisan sulit dibaca, kesulitan mewarnai, dan mengikat tali sepatu.
- Tidak teratur
Umumnya tidak terorganisir, tidak rapi berpakaian, mengurus alat sekolah, dll. Pelupa, senang menunda tugas.
- Self esteem rendah dikarenakan kegagalan yang terus menerus serta komentar orang sekitar tentang anak GPPH.
- Mengalami kesulitan belajar, termasuk kesulitan dalam membaca, menulis, bahasa, matematika, atau kombinasi. Dari tes intelegensi : prestasinya jauh dibawah potensi yang dimiliki.

5. Cerebral palsy (CP)
Adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya.
Gambaran klinis CP :
a. Paralisis
Kelumpuhan dapat berupa : Flacid (layuh), spastic (kaku), dapat berbentuk hemiplegi (separuh badan kanan/kiri), Quariplegi (empat anggota gerak , Diplegi (dua kaki), monoplegi (1 anggota gerak).
b. Gerak involunter
Yaitu gerakan yang tidak terarah dan tidak sesuai pola gerak .
c. Ataxia
Yaitu gangguan koordinasi karena kerusakan otak kecil.
Contohnya : Jalannya lambat dan semua pergerakan menjadi canggung.
d. Kejang
Dapat bersifat umum (seluruh tubuh) atau fokal (satu bagian tubuh).
e. Gangguan mental
Ditemukan dari 1/3 anak penderita CP.