Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts

Sunday, October 14, 2012

Sejarah James Bond yang Berliku

Google.com

LONDON, KOMPAS.com--Sebagai acara dokumenter baru, kisah nyata di balik film waralaba James Bond nyaris sama dramatisnya dengan kisah agen rahasia itu sendiri. Penuh dengan kejutan, bentrokan antar individu, pahlawan, penjahat, perempuan cantik, dan jalan keluar yang sempit.

"Everything or Nothing" dirilis di bioskop pada Jumat sekaligus menjadi peringatan "Global James Bond Day", 50 tahun sejak pemutaran perdana "Dr.No" di dunia yang memperkenalkan pada publik tentang agen rahasia yang berkelas serta ramah ciptaan penulis Ian Fleming.

Peringatan James Bond juga melahirkan box set Blu-ray, lelang amal yang megah di Christie, dan parfum lelaki baru bernama "007", menggarisbawahi pesona karakter yang terus menerus diciptakan kembali.

Tokoh fiksi agen rahasia Inggris itu terlihat masih populer, terlihat dari upacara pembukaan Olimpiade London, saat pemeran Bond Daniel Craig dan Ratu Elizabeth berbagi momen bersama dalam adegan singkat nan lucu yang syutingnya dilakukan di Istana Buckingham.

Dua film pertama Craig dalam serial Bond menuai pendapatan sekitar 600 juta dolar di box office. Dan film terbarunya, "Skyfall" yang menjadi film ke-23 dari serial Bond akan ditayangkan di bioskop dalam beberapa minggu ke depan.

Namun, dokumenter baru yang disutradarai Stevan Riley dan menampilkan lima wawancara dari enam aktor pemeran Bond menggarisbawahi bahwa serial itu tidak selamanya tenteram.

"Kami sudah mengalami dua kali kebangkrutan studio, dan juga beragam serangan dari serial serupa jadi kami juga mengalami pasang surut," kata produser Bond Michael G.Wilson menceritakan rintangan yang dialami film 007 itu.

"Ada kalanya juga kami terjebak dalam masalah yang seharusnya bisa dihindari," kata dia pada Reuters dalam wawancara via telepon.

Sutradara Everything or Nothing, Riley, setuju: "Bond selalu hidup untuk bertarung keesokannya dan memang banyak tantangan," kata dia.

"Maksud saya, bagaimana Bond tetap eksis selama..50 tahun? Semua orang menganggap itu berjalan begitu saja, padahal banyak rintangan yang dihadapi sepanjang itu."

Cubby dan Harry

Selain Fleming, dua orang tokoh yang penting dalam sejarah film Bond adalah produser Albert "Cubby" Broccoli dari Amerika Serikat dan Harry Saltzman dari Kanada.

Ketertarikan mereka pada tokoh dan novel Bond adalah alasan mengapa Bond bisa muncul di layar lebar, setelah "Dr No" pada 1962, menyusul pula "From Russia With Love" tahun berikutnya, dan "Goldfinger" pada 1964.

Saat itu James Bond sudah menjadi fenomena budaya internasional yang memperlihatkan tontonan aksi kejar-kejaran penuh adrenalin, kebut-kebutan mobil, perangkat futuristik, setelan jas rapi, perempuan cantik, dan lokasi yang eksotis.

Sean Connery, Bond pertama, lama kelamaan bosan dengan ketenarannya yang mendunia dan dia merasa pengorbanannya tidak setimpal. Jadi, setelah film kelima Bond "You Only Live Twice", sang bintang yang kecewa itu pun mengundurkan diri.

Kepergiannya menjadi salah satu alasan awal dibuatnya audisi besar-besaran dari para produser untuk menemukan pemain yang tepat sebagai Bond.

George Lazenby pun didaulat memerankan film "Oh Her Majesty's Secret Service" sebelum Connery akhirnya kembali dengan "Diamonds Are Forever" lalu disambung oleh Roger Moore yang membintangi tujuh film selanjutnya.

Memerankan 007 tidak selamanya mudah

Lima pemeran Bond -selain Connery- diwawancara untuk dokumenter itu, dan Lazenby mengingat-ingat tentang masa-masa bermain perempuan dan mengakui bahwa dia melewatkan kesempatannya.

Dalam sebuah pesta, Roman Polanski menyebutnya "aktor mubazir" dan Lazenby bercanda bahwa dia mencari arti kata itu di kamus.

Pierce Brosnan blak-blakan menceritakan saat dia dipecat lewat telepon, sementara itu Craig mengatakan dia "terkejut sekaligus kesal" dengan reaksi negatif saat dia mulai memerankan Bond pada 2005.

Saat Moore masih bertahta, Saltzman menginvestasi usaha-usaha baru yang membuahkan hutang sehingga dia terpaksa menjual sahamnya dari waralaba Bond.

Fakta bahwa dia menjualnya ke studio Hollywood United Artists, bukan ke rekan jangka panjangnya membuat Broccoli terkejut sehingga keduanya berpisah.

"Saya kira yang paling kacau dari Harry dan Cubby adalah karena mereka sama-sama membuat kesuksesan, lalu seorang dari mereka mengalami masalah keuangan dan..itu membuat keretakan," kata Wilson, putra angkat Broccoli.

Berpisahnya mereka membuat "The Spy Who Loved Me" yang dirilis pada 1977 menjadi sebuah pertaruhan besar, dan adegan pembukanya saat Bond berski di atas tebing untuk membuka parasut Union Flag, dilihat sebagai metafora betapa besar taruhan yang dimainkan Broccoli.

Pertarungan Bond

Pada 1983, sebuah pertarungan antara "Octopussy" yang dimainkan Moore dan "Never Say Never Again" yang diperankan Connery oleh para produser yang menjadi rival itu dikenal sebagai "pertarungan bond" dan itu dapat merusak franchise Broccoli.

Kevin McClory, salah satu penulis asli untuk plot cerita "Thunderball" sudah lama menjadi onak dalam bagian serial "asli" dan menuntut Fleming ke pengadilan pada 1963 sembilan bulan sebelum pengarang itu meninggal.

Jeda enam tahun antara "License to Kill" dan debut Pierce Brosnan pada 1995 dengan "Golden Eye" bertepatan dengan jatuhnya komunisme dan banyak individu dicari pembuat Bond untuk membuat cerita yang relevan pasca Perang Dingin.

Peran yang dimainkan Brosnan terbukti sukses dan dengan kesehatan Broccoli yang menurun, tugas itu dialihkan pada anaknya Wilson dan Barbara yang hingga kini masih mengontrol franchise tersebut. Broccoli wafat pada 1996.

"Kamu tahu, ini adalah bayi kami dan kami merasa sangat, sangat melindungi franchise Bond," kata Broccoli. "Ini adalah sesuatu yang dimulai oleh ayah kami lebih dari 50 tahun lalu dan kami pun sangat tertarik pada itu dan menjaganya tetap hidup."

Aksi Brosnan sebagai Bond berakhir pada "Die Another Day" 2002, walaupun sukses secara komersial, itu menunjukkan berakhirnya ketergantungan film Bond pada efek spesial, mobil kasat mata yang terkenal serta surfing dalam gelombang pasang dengan layang-layang.

Saat Craig yang tidak terlalu terkenal diumumkan sebagai Bond keenam pada 2005, banyak media Inggris yang protes atas pilihan itu dan mereka berspekulasi bahwa kelanjutan filmnya akan gagal.

Craig lalu membuktikan bahwa pendapat itu salah, walaupun filmnya "Casino Royale" menuai kritik namun tetap laku di pasaran.

Sumber

Sejarah Angkringan


Metrogaya-Angkringan sangat favorit dan menjadi andalan bagi mahasiswa di Jogjakarta. Ketika lapar menyergap tapi tak punya banyak uang, maka angkringanlah salah satu alternatifnya, bagaimana tidak, angkringan menyediakan berbagai makanan dan minuman khas jawa seperti sego sambel, sate usus, tempe bakar dan sebagainya dengan harga yang relatif murah.

Sejarah angkringan di Jogja merupakan sebuah romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan. Angkringan di Jogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota. Ya, ke sini, ke Jogjakarta.

Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja.

Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di emplasemen Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer. Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula.

Kini angkringan sudah menjamur di kota-kota besar maupun kecil di seantero nusantara. Bahkan kabarnya ada lho angkringan yang menerapkan sistem penjualanya dengan franchise atau waralaba.Dan sekedar informasi, berikut adalah rekomendasi angkringan yang mempunyai makanan yang enak dan muantap di sekitaran jogja.

* Angkringan Kali Code
* Angkringan PDAM jogja Sleman
* Angkringan Kridosono
* Angkringan stadion Mandala
* Angkringan pasar sore Malioboro
* Angkringan tugu jogja
* Angkringan Pak min depan gor UNY (siang)
* Angkringan Mc Nduts depan gor UNY (malam) (yc/mysukmana)

Sumber

Negara Mana Pencipta Mie?

Mie Goreng 

Asal usul mie hingga kini masih menjadi bahan perdebatan. Beberapa pendapat mengatakan, mi pertama kali dibuat di daratan Mediteranian. Pihak lain menyebut teknologi pembuatan mie dikembangkan di Timur Tengah.

Ada pula catatan tua yang merekam bahwa mie pertama kali dibuat pada zaman Dinasti Han di China tahun 25-200 M. Kemudian pada 2005 ditemukan mie tertua yang berumur 4.000 tahun di daratan China. Penemuan ini menjadi bukti bahwa penduduk China modernlah yang pertama kali membuat mie. Bisa jadi juga teknologi pembuatannya mengadopsi dari Timur Tengah.

Pendapat lain mengatakan, mie berawal dari pasta sehingga menunjuk Italia yang pertama membuat mie. Namun, banyak sejarawan percaya bahwa ketika Marco Polo berkunjung ke China pada abad ke- 13, dia menyukai mie dan membawanya ke Italia, lalu memengaruhi masakan di negaranya. Pada kenyataannya, mie tidak menjadi makanan pokok di Italia sampai abad ke-17 dan 18.

Di benua Asia, mie tidak begitu banyak menyebar sampai kira-kira tahun 100 M. Pada tahun tersebut mie mulai dikenal dan disukai di beberapa negara, seperti Jepang, Korea, Vietnam, Laos, bahkan sampai negara-negara pulau di Asia Tenggara. Meski asal-usul mi masih kabur, yang jelas mie memiliki simbol tersendiri di negara tertentu. Seperti budaya China yang memandang mie sebagai simbol kehidupan yang panjang.

Karenanya, mie secara tradisional sering disajikan pada acara ulang tahun dan saat Tahun Baru China sebagai lambang umur panjang sehingga versi kue ulang tahun China adalah mie ulang tahun. Lain lagi dengan di Jepang, mie dimasukkan ke dalam upacara minum teh dan membuat mie dianggap sebagai seni tersendiri di negara tersebut. Mie bahkan menjadi lebih penting di Jepang setelah Perang Dunia II ketika kekurangan makanan dan hanya mie kering yang tersedia.

Penulis: sri noviarni

Sumber

Lambang RI Mirip Kerajaan Samudera Pasai

Lambang Kerajaan Samudera Pasai (sumber: R Indra S Attahashi)

Lambang negara Indonesia ini meniru lambang Kerajaan Samudera Pasai yang duluan eksis.

Jangan salah duga dua lukisan di atas sekilas mirip. Namun kalau diperhatikan detil sangat berbeda. Keduanya juga merupakan lambang dua negara yang berbeda. Yang pertama Garuda Pancasila lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan yang kedua lambang Kerajaan Samudera Pasai.

Asal muasal penggunaan lambang Garuda Pancasila sebagai lambang negara adalah bermula saat Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II (Sultan Hamid II) memenangi sayembara lambang negara. Sayembara ini diadakan oleh Presiden Soekarno. Sebelumnya ada usulan lambang negara yang diajukan oleh M. Yamin namun ditolak oleh panitia karena masih ada pengaruh Jepang melalui penempatan sinar matahari.

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, baru pada tahun 1950 kita memiliki lambang negara. Jadi selama lima tahun itu Indonesia nirlambang negara. Garuda Pancasila ditetapkan sebagai lambang Negara RI pada 11 Februari 1950 yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No 66 Tahun 1951.

Lalu Presiden Soekarno memperkenalkan lambang itu kepada masyarakat pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes Jakarta. Sebelumnya Garuda juga sudah menjadi lambang kerajaan atau stempel kerajaan di Jawa seperti Kerajaan Airlangga.

Sebelum digunakan secara resmi sebagai lambaga negara RI, Garuda juga sudah dipakai sebagai lambang Kerajaan Samudera Pasai yang dulu kala berpusat di Aceh Utara. Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Sultan Malikussaleh (Meurah Silu) pada abad ke 13 atau pada 1267. Seorang petualang Ibnu Batuthah dalam bukunya Tuhfat al-Nazha menuturkan Samudera Pasai sudah menjadi pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara.

Siapa sebenarnya yang merancang lambang Kerajaan Samudera Pasai? “Lambang Kerajaan Samudera Pasai dirancang oleh Sultan Samudera Pasai Sultan Zainal Abidin. Lambang burung itu bermakna syiar agama yang luas, berani dan bijaksana,” sebut R Indra S Attahashi kepada Beritasatu.com, Sabtu (6/10).

Indra menjelaskan, lambang berisi kalimat Tauhid dan Rukun Islam. Rinciannya, kepala burung itu bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Terakhir, badan burung itu merupakan Rukun Islam.

Pria kelahiran 1974 itu menjelaskan lambang itu disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk Attahashi bin bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi yang merupakan Sultan Muda Aceh yang diangkat pasca peristiwa Perang Cumbok pada 1945. Ketika itu di Aceh Tamiang ada kerajaan sendiri bernama Kerajaan Sungai Iyu.

“Bisa saja disebut, lambang negara Indonesia ini meniru lambang Kerajaan Samudera Pasai yang duluan eksis sebelum kaum Nasionalis Marhaenisme merancang NKRI,” ungkap Indra yang juga generasi ketujuh dari Kerajaan Sungai Iyu.

Indra menjelaskan, lambang Kerajaan Samudera Pasai itu sudah ada dalam silsilah keluarganya lebih dari 100 tahun lalu. Dari kakek atau nenek, lambang itu diwariskan dari generasi ke generasi yang selalu dikisahkan bahwa itu lambang Kerajaan Samudera Pasai.

Disebutkan, asal-usul pendiri Kerajaan Samudera Pasai berasal dari keturunan Turki yakni Al Ghazy Syarif Attahashi yang merupakan panglima memimpin utusan Dinasti Usmaniyah (Ottoman) yang membantu Aceh menghadapi serangan Portugis. Kemudian panglima ketujuh itu menikah dengan seorang putri Sultan Iskandar Muda.

Perihal lambang Negara Indonesia yang mirip dengan lambang Kerajaan Samudera Pasai juga dituturkan oleh Ibrahim Qamarius dosen Universitas Malikussaleh Aceh Utara. Setelah digelar seminar International Conference and Seminar "Malikussaleh; Past, Present and Future di Aceh Utara pada 11-12 Juli 2011, masyarakat mengirim lambang Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan replika.

Lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.

Ibrahim menjelaskan, walaupun lambang Indonesia mirip dengan Kerajaan Samudera Pasai belum bisa dipastikan Indonesia meniru dari Samudera Pasai. Menurutnya, perlu pengkajian lebih lanjut.

“Panitia melakukan pengkajian konprehensif mengenai lambang atau gambar tersebut dan kemungkinan dibahas pada International Conference and Seminar Malikussaleh kedua pada 2013,” ungkap Ibrahim yang mantan ketua panitia konferensi itu kepada Beritasatu.com, Sabtu (6/10).

Terlepas dari klaim inspirasi Garuda dari lambang Kerajaan Samudera Pasai, sejarawan LIPI Aswi Warman Adam menegaskan kalau klaim itu menunjukkan kecintaan bangsa Indonesia. "Ini bukanlah sebuah klaim yang menjurus ke arah negatif. Ini merupakan sebuah bentuk kecintaan bangsa Indonesia, yang dulu saat proses pemilihan lambang negara memang ikut terlibat," kata Asvi.

Penulis: Murizal Hamzah

Sumber

Nih, Asal Usul Kartu Merah dan Kuning Dalam Sepakbola


WartaNews - Apakah penggunaan kartu merah dan kuning sudah dikenal begitu sepak bola modern muncul? Jawabannya tidak. Kartu merah dan kuning baru diperkenalkan pada Piala Dunia 1970.

Namun, inspirasinya muncul pada Piala Dunia 1966, pada perempat final antara tuan rumah Inggris dan Argentina. Wasit yang memimpin pertandingan itu berasal dari Jerman, yakni Rudolf Kreitlein.

Karena melakukan pelanggaran keras, kapten Argentina, Antonio Rattin, dikeluarkan oleh Kreitlein. Namun, Rattin tak paham apa maksud wasit asal Jerman itu. Dia pun tak segera meninggalkan lapangan.

Wasit Inggris yang ikut bertugas di pertandingan itu, Ken Aston, kemudian masuk ke lapangan. Dengan sedikit modal bahasa Spanyol, dia merayu Rattin untuk meninggalkan lapangan. Pasalnya, wasit yang memimpin pertandingan, Rudolf Kreitlein, memutuskan begitu. Karena hanya tahu bahasa Jerman dan Inggris, ia kesulitan menjelaskan keputusannya kepada Rattin.

Karena kasus ini, Ken Aston kemudian berpikir. Harus ada komunikasi universal yang bisa langsung diketahui semua orang, ketika wasit memberi peringatan kepada pemain atau mengeluarkannya dari lapangan. Dengan demikian, wasit tak perlu harus membuat penjelasan dengan bahasa yang mungkin tak diketahui pemain.

Suatu hari, dia berhenti di perempatan jalan. Melihat lampu lalu lintas, dia kemudian mendapatkan ide. Kemudian, dia mengusulkan agar wasit dibekali kartu kuning dan merah. Kartu kuning untuk memberi peringatan keras atau sanksi ringan kepada pemain yang melakukan pelanggaran. Adapun kartu merah untuk sanksi berat, dan pemain yang melakukan pelanggaran berat itu harus keluar dari lapangan.

Ide itu diterima FIFA. Pada Piala Dunia 1970, kartu kuning dan merah kali pertama digunakan. Ironisnya, sepanjang Piala Dunia 1970 tak satu pun pemain yang terkena kartu merah. Hanya kartu kuning yang sempat dilayangkan sehingga kartu merah tak bisa “pamer diri” pada Piala Dunia 1970.

Meski ide tersebut datang dari wasit Inggris, negeri itu tak serta merta menerapkannya di kompetisi mereka. Kartu merah dan kuning baru digunakan di kompetisi sepak bola Inggris pada 1976. Pasalnya, wasit kemudian terlalu mudah mengeluarkan kartu dan diprotes banyak pemain. Oleh sebab itu, penggunaannya sempat dihentikan pada 1981 dan 1987.

Yang menarik, ide ini diadopsikan di cabang olahraga hoki. Bahkan, kartu-kartu peringatan di cabang ini menggunakan tiga warna seperti lampu lalu lintas: hijau, kuning, dan merah. Hijau untuk peringatan, kuning untuk mengeluarkan pemain sementara waktu, dan merah untuk mengusir pemain secara permanen. (*/VD)

Sumber

Friday, October 5, 2012

Bahasa Asing Lunturkan Keberadaan Bahasa Indonesia

Bahasa asing masuk ke berbagai sendi kehidupan bangsa dan memengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia.

Ilustrasi papan petunjuk yang lebih mengutamakan bahasa asing lebih dulu dibanding Bahasa Indonesia. (Thinkstockphoto)

Posisi Indonesia sebagai bagian dari globalisasi dunia memberikan berbagai dampak. Salah satunya penggunaan bahasa asing yang menjadi demikian umum di masyarakat.

Bahasa asing masuk ke berbagai sendi kehidupan bangsa dan memengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia. Gejala muncul ini terlihat dari penggunaan bahasa asing di pertemuan resmi, media massa, dan media luar ruang di tempat umum.

Selain bahasa asing, penggunaan bahasa daerah khususnya Melayu Jakarta dan bahasa "gaul" telah mewarnai penggunaan Bahasa Indonesia lisan. Kondisi ini membuat Bahasa Indonesia yang jadi ciri identitas bangsa meluntur.

"World class mindset cenderung meninggalkan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia sebagaimana terlihat dari nuansa ketidakhadiran Bahasa Indonesia di ruang publik," ujar Kepala Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Muhadjir dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Jumat (21/9).

Untuk pengembangan Bahasa Indonesia sebagai bahan rujukan dan peningkatan mutu, diterbitkan beberapa gerakan. Di antaranya pencanangan "Gerakan Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan" pada 2 Mei 2002; Pengembangan Perpustakaan; dan Hari Buku Nasional pada 17 Mei 2002.

Ditambahkan Kabid Pembelajaran Kemendikbud Fairul Zabadi, Bahasa Indonesia wajib disampaikan secara baik dan benar. "Karena salah satu fungsi bahasa adalah sebagai pemersatu dan penanda kepribadian bangsa. Membangkitkan kesetiaan orang terhadap bahasa itu," ujarnya.

Bahasa punah

Bahasa sebagai bagian dari kebudayaan manusia bisa hilang. Paling terancam adalah bahasa yang digunakan di berbagai tempat terpencil di dunia.

Dalam zaman yang kian mengglobal, terhubung, dan homogen, bahasa yang dipakai di tempat terpencil tidak lagi terlindung oleh batas negara atau batas alam dari bahasa yang mendominasi dunia komunikasi dan perdagangan.

Dalam artikel Suara-Suara yang Sirna di National Geographic Indonesia edisi Juli 2012 disebutkan satu bahasa punah setiap 14 hari. Sebelum abad berganti, hampir setengah dari sekitar 7.000 bahasa yang dipakai di bumi mungkin akan punah, karena masyarakat mengganti bahasa ibunya dengan bahasa Inggris, Mandarin, atau Spanyol.

(Zika Zakiya)

Suara-Suara yang Sirna (2 dari 2)

Satu bahasa punah setiap 14 hari. Sebelum abad berganti, hampir setengah dari sekitar 7.000 bahasa yang dipakai di bumi mungkin akan punah, karena masyarakat mengganti bahasa ibunya dengan bahasa Inggris, Mandarin, atau Spanyol. Apa yang hilang ketika suatu bahasa lenyap?

Oleh Russ Rymer
Foto Oleh Lynn Johnson

Ahli bahasa telah mengidentifikasi banyak titik-utama bahasa yang tinggi tingkat keanekaragaman linguistik dan jumlah bahasa yang terancamnya (lihat peta, halaman 90-91). Banyak dari tempat ini yang merupakan tempat yang paling sulit didatangi di dunia, dan biasanya alamnya juga paling keras—seperti Arunachal Pradesh. Aka dan bahasa sekitarnya terlindung karena Arunachal Pradesh merupakan wilayah tertutup bagi orang luar. Jadi budaya mikronya yang rapuh terhindar dari arus tenaga kerja imigran, modernisasi.

Kehidupan kemasyarakatan di Palizi diatur melalui cerita mite dan legenda yang berisi pelajaran akhlak. Kisah-kisah semacam ini diceritakan oleh para tetua dalam bahasa Aka yang sangat formal sehingga orang muda tidak memahaminya. Di daerah terpencil sekalipun, anak muda semakin meninggalkan bahasa ibunya akibat bahasa Hindi di televisi dan bahasa Inggris di sekolah. Sekarang jumlah penutur Aka kurang dari 2.000, termasuk dalam daftar bahasa yang terancam punah.

Suatu malam di Palizi, saya bersama Harrison, Anderson, dan seorang ahli bahasa India duduk bersila mengelilingi tungku di rumah Pario Nimasow, guru berusia 25 tahun di sekolah Yesuit itu. Setelah makan malam Nimasow menghilang sejenak dan kembali membawa bungkusan katun putih kotor. Di dalamnya ada beberapa azimat: rahang harimau, rahang sanca, rahang-bawah ikan sungai bergigi tajam, kristal kuarsa, dan barang lain yang biasa dimiliki dukun. Buntalan ini milik ayah Nimasow sampai dia meninggal pada 1991. “Bapak saya pendeta,” kata Nimasow. Dan sekarang? tanya saya. Apakah dia akan meneruskan tradisi itu? Nimasow menatap azimat itu dan menggeleng. Dia mewarisi peralatan, tetapi dia tidak tahu mantranya; ayahnya meninggal sebelum mengajarinya. Tanpa kata-kata, daya magis pepunden tersebut tidak bisa dikeluarkan.

Harrison mengingatkan kepada saya bahwa sekitar 85 per­sen bahasa di dunia belum terdokumentasikan. Pengetahuan itu dapat memperkaya pemahaman kita tentang sifat universal semua bahasa.

Setiap bahasa menyoroti pengalaman manusia yang berbeda, mengungkapkan berbagai aspek kehidupan yang cenderung kita anggap tetap dan universal, seperti pemahaman kita tentang waktu, jumlah, atau warna. Dalam bahasa Tuva, misalnya, masa lalu selalu disebut sebagai di depan, dan masa depan berada di belakang. “Kami tidak bisa berkata, ‘Ke depan, saya akan melakukan sesuatu,’” kata seorang Tuva kepada saya. Malah, dia berkata, “Ke belakang, saya akan melakukan sesuatu.” Sangat masuk akal jika kita memikirkannya dengan cara Tuva: Jika masa depan berada di hadapan kita, bukankah dapat kita lihat dengan jelas?

Jika bahasa Aka, atau bahasa apa pun, digantikan dengan bahasa baru yang lebih berguna secara universal, kematian bahasa itu dapat mengguncang fondasi suku. “Bahasa Aka merupakan identitas kami,” kata seorang penduduk desa. “Tanpa itu, apa bedanya kami de­ngan suku lainnya?” Namun, haruskah seluruh dunia juga turut berduka? Sulit mengajukan pertanyaan ini dalam bahasa Aka, yang tampaknya tidak memiliki satu kata pun untuk dunia. Namun, orang Aka mungkin mengajukan jawaban, yang terejawan­tah dalam konsep mucrow. Konsep tentang penghargaan terhadap tradisi, pengetahuan turun-temurun, keyakinan bahwa orang tua nan lemah punya se­suatu yang dapat diajarkan kepada pemuda yang kelak memandu hidup generasi selanjutnya.

Seri

Kearifan Hant Iiha Cöhacomxoj

Hancurnya keanekaragaman hayati dunia yang sedang terjadi merupakan metafora yang tepat bagi krisis kepunahan bahasa. Lenyapnya suatu bahasa berarti lenyap pula pengetahuan yang sama berharganya dengan obat ajaib masa depan yang mungkin raib ketika ada spesies yang punah. Bahasa kecil, melebihi bahasa besar, menyimpan kunci untuk membuka rahasia alam, karena penuturnya cenderung hidup a­krab dengan tanaman dan hewan di sekitar mereka, dan pembicaraan mereka mencerminkan pengamatan tersebut. Ketika komunitas kecil me­ninggalkan bahasanya dan beralih menggunakan bahasa Inggris atau Spanyol, ba­nyak kekayaan tradisi yang tidak terwariskan ke generasi selanjutnya—mengenai tanaman obat, budi daya tanaman pangan, teknik irigasi, sistem navigasi, kalender musiman.

Suku Seri di Meksiko adalah kaum seminomaden yang berburu dan meramu di Gurun Sonora barat dekat Teluk California. Kelangsungan hidup mereka bergantung sifat dan perilaku spesies yang hidup di gurun dan laut itu. Keakraban dengan dunia tanaman dan hewan merupakan ciri khas kehidupan suku Seri dan bahasa mereka, Cmiique Iitom.

Biasanya suku Seri, yang menyebut diri mereka Comcaac, tidak memiliki tempat tinggal tetap, sehingga keberadaan mereka bergantung kepada bagian gurun yang menyediakan pangan paling banyak. Kini mereka tinggal di dua permukiman, Punta Chueca dan El Desemboque, masing-masing sekumpulan kecil rumah batako di tengah gurun merah luas di tepi teluk. Rumah-rumah itu dikelilingi oleh kaktus ocotillo berduri.

Setiap hari Armando Torres Cubillas duduk di sudut studio terbuka di tepi pantai di El Desemboque, bersimpuh di tanah berpasir dengan kakinya yang lumpuh. Sesekali dia memandang teluk dan mengiringi kegiatan seni itu dengan lagu taijitiquiixaz tentang percakapan antara kerang pantai kecil dan undur-undur laut atau yutuk. Liriknya khas suku Seri: karunia alam, dan diwarnai dengan nada sendu.

Ketika ahli bahasa dari Amerika Edward Moser dan Maria Beck Moser datang untuk tinggal bersama suku Seri pada 1951 di El Desemboque, nasib suku ini sedang nahas—wabah campak dan influenza menurunkan jumlahnya menjadi sekitar dua ratus orang.

Maria Moser bekerja sebagai perawat dan bidan bagi suku itu. Setelah membidani banyak kelahiran, sesuai adat, keluarga bayi memberinya sepotong tali pusar bayinya yang sudah dikeringkan, yang disimpan Mary di dalam “botol pusar”. Mereka juga memberinya kepangan panjang dari delapan ikat rambut, jati diri Indian. Para pria Indian merasa harus memotongnya saat pergi ke kota-kota Meksiko. Kepangan itu seperti tali pusar budaya, hubungan yang terputus antara yang lama dan yang baru.

Pasangan Moser memiliki seorang putri, Cathy, yang tumbuh di tengah suku Seri di El Desemboque dan menjadi seniman grafis dan ahli etnografi. Dia dan suaminya, Steve Marlett, melanjutkan penelitian pasangan Moser tentang bahasa Seri. Sekarang komunitas ini telah pulih menjadi antara 650-1.000 penutur. Mereka berhasil mempertahankan bahasa me­reka, sebagian berkat permusuhan terhadap budaya mayoritas yang ada di Meksiko. Pada 1773 mereka membunuh misionaris Katolik. Vatikan tidak melanjutkan upaya itu sehingga suku Seri tidak pernah dikatolikkan.

Kemewahan modern milik suku Seri diimpor tanpa disertai nama Spanyolnya. Mobil, misalnya, telah memicu banjir kata baru. Peredam knalpot mobil Seri disebut ihíisaxim an hant yaait, atau “pernapasan turun ke dalamnya”, sementara istilah Seri untuk tutup busi dikaitkan dengan ikan pari listrik yang berenang di Teluk California yang bisa menyetrum. Ibarat tanaman ocotillo yang terpancang di pasir: Leksikon Iitom Cmiique masih hidup, dan seiring pertumbuhannya, bahasa itu menciptakan pagar hidup di sekeliling budayanya.

René Montano bercerita tentang hant iiha cöhacomxoj, orang yang telah diberi tahu tentang pusaka bumi, semua hal kuno. “Diberi tahu” disertai dengan perintah: Turunkan pe­ngetahuan itu. Berkat itu, kita semua menjadi ahli waris pengetahuan yang diabadikan dalam bahasa Cmiique Iitom. Peribahasa rakyat dan bahkan kata-kata mengabadikan pengamatan mendalam berabad-abad terhadap spesies yang baru mulai dipelajari para ilmuwan-tamu pada beberapa dasawarsa terakhir.

Para ahli menggolongkan bahasa Seri sebagai bahasa isolat, tetapi mungkin istilah yang lebih tepat adalah “satu-satunya yang selamat”. “Suku Seri merupakan pintu masuk ke dunia suku teluk yang hilang,” kata Steve Marlett. “Banyak suku lain yang sudah punah,” katanya, dan sa­yangnya, punah sebelum didokumentasikan.

Salah satu cara melestarikan bahasa adalah mengabadikannya dalam tulisan dan menyusun kamus. David Harrison dan Greg Anderson menyusun kamus Tuva-Inggris pertama dan bangga melihat gairah penutur asli terhadap buku itu. Steve dan Cathy Marlett bekerja sampai pada 2005 menyelesaikan kamus Cmiique Iitom yang diawali oleh kedua orang tua Cathy pada 1951.

Pengumpulan kosakata, lafal, dan sintaksis yang dilakukan ahli bahasa lapangan di tempat-tempat terpencil membantu menjaga bahasa tetap hidup. Namun, penyelamatan bahasa tidak dapat dilakukan oleh ahli bahasa, karena keselamatan harus berasal dari dalam.

Jawabannya mungkin terletak pada apa yang disaksikan Harrison dan Anderson di Palizi, ketika seorang warga desa berusia 20-an tahun datang bersama temannya untuk bernyanyi. Kedua ahli bahasa itu cukup terkejut ketika kedua pemuda menyanyikan lagu rap bergaya L.A. tulen. Mereka lengkap dengan gerakan tangan geng, anggukan kepala, dan gayanya, penampilan seni jalanan Amerika yang sempurna, dengan satu penyesuaian: Mereka menyanyi rap berbahasa Aka.

Apakah para ahli bahasa kecewa? Saya bertanya. Sebaliknya, Harrison mengatakan. “Anak-anak ini fasih berbahasa Hindi dan Inggris, tetapi mereka memilih bernyanyi rap dalam bahasa yang hanya digunakan oleh beberapa ribu orang.” Kooptasi dan penyerapan bahasa dapat terjadi dua arah, dan bahasa kecil kadang berperan sebagai penjajah. “Satu hal yang diperlukan untuk kebangkitan bahasa,” kata Pastor D’Souza, “adalah kebanggaan”.

Saat terlibat soal bahasa yang kian pupus, se­kalipun hanya sebagai wartawan, kami juga mau tak mau merenungkan rapuhnya kehidupan suku tradisional. Sejak kunjungan saya selama dua tahun terakhir ke Palizi; Pario Nimasow muda, yang memperlihatkan isi bungkusan azi­­mat ayahnya kepada saya, tewas akibat tanah longsor. Seminggu usai saya menulis paragraf tentang nyanyian Armando Torres, saya menerima surel dari Cathy Marlett. “Berita duka,” demikian judulnya. Torres wafat karena serangan jantung pada usia 67 tahun.

Kefanaan mereka mengingatkan kita tentang kefanaan budaya mereka. Sebuah pengingat bahwa dengan kematian setiap penutur, terputus pula satu lagi nadi penting.

Sejumlah hal yang menghalangi kemung­kinan pu­pus­­­nya bahasa milik mereka adalah keteguhan yang disertai rasa bangga, rasa hor­mat kepada para pen­da­hulu, kesadaran bahwa kunci masa depan ada di belakang kita. Itu, dan bahwa keyakinan te­guh, bahasa dengan penutur paling sedikit pun ma­sih menyimpan banyak hal yang dapat disampaikan.

Sumber 4, Sumber 5 dan Sumber 6

Suara-Suara yang Sirna (1 dari 2)

Satu bahasa punah setiap 14 hari. Sebelum abad berganti, hampir setengah dari sekitar 7.000 bahasa yang dipakai di bumi mungkin akan punah, karena masyarakat mengganti bahasa ibunya dengan bahasa Inggris, Mandarin, atau Spanyol. Apa yang hilang ketika suatu bahasa lenyap?

Oleh Russ Rymer
Foto Oleh Lynn Johnson

Bahasa Tuva 

WELAS ASIH
Khoj Özeeri

Suatu pagi di awal musim gugur Andrei Mongush dan kedua orang tuanya mulai melakukan persiapan untuk makan malam. Mereka memilih seekor piaraan, domba muka hitam berekor gemuk, lalu membaringkannya di atas terpal. Rumah keluarga Mongush terletak di taiga Siberia, di tepi hamparan stepa sejauh mata memandang, di balik cakrawala Kyzyl, Ibu Kota Republik Tuva, di Federasi Rusia. Mereka tinggal di dekat pusat geografis Asia, tetapi secara linguistik dan hubungan kemasyarakatan, keluarga ini hidup di pinggiran, tapal batas antara kemajuan dan kekolotan. Sejak dahulu suku Tuva hidup sebagai penggembala nomaden, membawa aal—kumpulan tenda yurt—beserta domba, sapi, dan rusa kutub mereka dari satu padang rumput ke padang rumput lainnya. Kedua orang tua Andrei, yang kembali ke aal mereka di padang rumput setelah bekerja di kota, dapat berbicara bahasa Tuva dan Rusia. Andrei dan istrinya juga dapat berbicara bahasa Inggris. Mereka bekerja sebagai musisi di Orkestra Nasional Tuva, ansambel yang menggunakan melodi dan alat musik tradisional Tuva dalam aransemen simfoni. Andrei menguasai musik Tuva yang paling khas: nyanyian tenggorokan, atau khöömei.

Ketika saya menanyai mahasiswa di Kyzyl tentang kata Tuva yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Rusia, mereka mengusulkan khöömei dan khoj özeeri, cara orang Tuva menjagal domba. Jika penyembelihan ternak dapat dilihat sebagai bagian dari kedekatan manusia dengan hewan, khoj özeeri merupakan versi yang luar biasa akrab. Melalui sayatan di kulit domba, penyembelih memutus nadi penting dengan jarinya, sehingga hewan itu mati tanpa terkejut, demikian tenang. Dalam bahasa suku Tuva, khoj özeeri tidak hanya berarti menyembelih, tetapi juga welas asih, kemanusiaan, dan adab saat orang menjagal, hingga menggarami kulitnya, mengolah dagingnya, serta membuat sosis dengan darah.

Khoj özeeri menyiratkan hubungan dengan satwa yang mencerminkan sifat yang dimiliki suku ini. Hal ini seperti penjelasan seorang mahasiswa, “Jika orang Tuva membunuh binatang seperti yang dilakukan di tempat yang lain”—dengan pistol atau pisau—“dia akan ditangkap atas tuduhan kekejaman”.

Tuva merupakan salah satu bahasa kecil di dunia. Penduduk bumi yang tujuh miliar menggunakan sekitar 7.000 bahasa, setiap bahasa-hidup mendapat sejuta penutur, jika dibagi rata. Kenyataannya, tujuh puluh delapan persen populasi dunia menggunakan 85 bahasa terbesar, sementara 3.500 bahasa terkecil hanya dipakai oleh total 8,25 juta penutur. Jadi, sementara bahasa Inggris digunakan 328 juta orang sebagai bahasa utama, dan Mandarin 845 juta, penutur Tuva di Rusia hanya 235.000 orang. Ketika pergantian abad nanti, menurut ahli bahasa, hampir setengah dari bahasa di dunia saat ini mungkin punah. Lebih dari se­ribu yang digolongkan kritis atau sangat genting.

Di zaman yang kian mengglobal, terhubung, dan homogen ini, bahasa yang dipakai di tempat terpencil tidak lagi terlindung oleh batas negara atau batas alam dari bahasa yang mendominasi dunia komunikasi dan perdagangan. Jangkauan bahasa Mandarin, Inggris, Rusia, Hindi, Spanyol, dan Arab tampaknya meluas ke kampung-kampung, tempat bahasa ini bersaing dengan bahasa Tuva, Yanomami, dan Altai dalam pertempuran di setiap rumah. Orang tua di pedalaman sering mendorong anaknya supaya meninggalkan bahasa suku yang dipakai leluhur dan menggunakan bahasa yang dapat dipakai untuk meraih pendidikan dan kesuksesan yang lebih tinggi.

Siapa yang bisa menyalahkan mereka? Saat ini semua bahasa yang memiliki stasiun televisi dan mata uang dapat melenyapkan bahasa yang tidak memilikinya. Jadi penduduk Tuva harus bisa berbicara bahasa Rusia dan Mandarin jika ingin berhubungan dengan dunia sekitarnya. Serbuan dominasi Rusia ke Tuva terlihat jelas dalam kemampuan berbahasa generasi Tuva yang dibesarkan pada pertengahan abad ke-20, saat tren berbicara, membaca, dan menulis bahasa Rusia mewabah.

Namun bahasa Tuva cukup sehat bila dibandingkan bahasa lain yang lebih rapuh, sebagian penuturnya tinggal seribu, atau sepuluh, atau bahkan satu orang. Bahasa seperti Wintu, bahasa asli di California, atau Siletz Dee-ni, di Oregon, atau Amurdak, logat Aborigin di Wilayah Utara Australia, hanya memiliki satu atau dua penutur fasih atau setengah fasih. Penutur terakhir yang tidak punya teman bicara pasti merasakan kesepian yang tidak terucapkan.

Untungnya, Tuva tak termasuk bahasa yang terancam punah di dunia. Sejak pecahnya Uni Soviet, bahasa ini mencapai kestabilan. Bahasa Tuva kini punya “tentara bersenjata lengkap”—belum ada stasiun televisi atau mata uang, tetapi punya surat kabar dan 264.000 penutur (beberapa di Mongolia dan Tiongkok). Sementara itu Tofa, bahasa Siberia di dekatnya, sekarang hanya digunakan oleh 30 penutur.

Arti penting bahasa Tuva bagi pemahaman kita tentang bahasa yang punah terletak pada perta­nyaan lain yang sulit dijawab para ahli linguistik: Apa yang membuat satu bahasa berkembang sementara yang lain menyusut atau punah?

Aka

Penghormatan terhadap Mucrow

Dengan hati pilu saya menyaksikan konsekuensi kehancuran bahasa di tengah suku Aka di Palizi, sebuah dusun kecil di lereng gunung di Arunachal Pradesh, negara bagian nan terjal di perbatasan utara India. Terpencilnya suku ini melahirkan swasembada radikal, terlihat dari ketiadaan kata Aka untuk pekerjaan, dalam arti kerja yang digaji.

Orang Aka mengukur kekayaan dengan mithan, sejenis lembu seladang Himalaya. Harta suku Aka yang dianggap paling berharga adalah kalung tradzy—setara dengan dua mithan—terbuat dari batu kuning dari sungai di dekat situ, yang diwariskan kepada anak-anak mereka. Batu kuning untuk kalung tradzy tidak lagi dapat ditemukan di sungai itu, jadi satu-satunya cara untuk memiliki kalung berharga ini adalah dengan mewarisinya.

“Saya memandang dunia melalui sudut pandang bahasa ini,” kata Pastor Vijay D’Souza, yang mengelola sekolah Yesuit di Palizi. Serikat Yesuit mendirikan sekolah itu karena mengkhawatirkan kerapuhan bahasa dan budaya Aka dan ingin mendukungnya (meskipun menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar di sekolah). D’Souza berasal dari selatan India, dan bahasa ibunya Konkani. Ketika dia datang ke Palizi pada 1999 dan mulai berbicara bahasa Aka, bahasa itu mengubahnya.

“Bahasa ini mengubah pola pikir dan pandangan kita,” katanya kepada saya suatu hari di kantor kepala sekolah. Satu contoh kecil: mucrow. Kata itu dalam bahasa ibu D’Souza merupakan penghinaan, artinya “gaek”. Dalam bahasa Aka, “mucrow” memiliki arti yang lebih luas. Itu panggilan yang menunjukkan rasa hormat, segan, sayang. Orang Aka dapat menyebut seorang wanita dengan mucrow untuk menunjukkan kebijaksanaan wanita itu dalam urusan kemasyarakatan. Kata D’Souza, “Seorang istri suku Aka memanggil suaminya mucrow, sekalipun sang suami masih muda,” dan mengucapkannya dengan rasa sayang.

Ahli bahasa dari Amerika David Harrison dan Greg Anderson datang ke Arunachal Pradesh untuk meneliti bahasanya sejak 2008. Mereka merupakan anggota Proyek Enduring Voices National Geographic. Beberapa kelompok linguis di seluruh dunia terlibat dalam penelitian bahasa yang terancam punah. Ada peneliti yang memiliki afiliasi akademik dan institusi, sementara yang lain mungkin bekerja untuk masyarakat Alkitab yang me­nerjemahkan Injil ke ber­bagai bahasa baru. Para penelitinya mungkin memiliki tujuan yang terpisah—untuk mengabadikan tata bahasa dan kosakata suatu bahasa sebelum sirna atau terkontaminasi—atau mung­kin juga intervensionis, untuk mem­bangun sistem tulisan bagi bahasa lisan, menyusun kamus, dan mengajari penutur asli untuk menulis.

Sumber 1, Sumber 2 dan Sumber 3

Tari Cokek, Kesenian Betawi yang Hampir Punah


Sebagai salah satu etnis yang pertamakali bersentuhan dengan budaya luar lewat Pelabuhan Sunda Kelapa, warga Betawi memiliki banyak tradisi dan budaya yang merupakan hasil akluturasi budaya dengan bangsa luar tersebut. Salah satu hasil adaptasi dengan budaya luar itu di antaranya adalah Tari Cokek, yang dulu begitu terkenal di tanah Betawi kini keberadaannya semakin terpinggirkan dan terancam dalam kepunahan.

Pengurus Sanggar Tari Firman Muntako, Fifi Muntako mengatakan, Tari Cokek merupakan tarian tradisional perpaduan berbagai unsur budaya baik di antaranya budaya Betawi, Banten, hingga Cina. Asal usul tarian ini sudah ada sejak awal abad 19 di daerah Teluknaga, Tangerang yang dibawa oleh saudagar Cina bernama Tan Sio Kek. Jika di Jakarta tari itu sudah mulai susah dijumpai, tidak demikian halnya di Tangerang.

"Tari tersebut, saat ini masih dapat dijumpai saat warga Cina Benteng, Tangerang melakukan kegiatan acara seperti hajatan maupun kawinan," kata Fifi, Rabu (19/9).

Dikatakan Fifi, awalnya Tari Cokek dimainkan oleh tiga orang penari wanita. Kini, pertunjukan Tari Cokek seringkali dimainkan oleh 5 hingga 7 orang penari wanita dan beberapa orang laki laki sebagai pemain musik dan sebagian ikut mengiringi tarian wanita. Sehelai selendang yang mengikat di pinggang penari perempuan merupakan salah satu ornamen baju utama para penari wanita dipadu kebaya warna mencolok. "Tarian ini sering dimainkan pada awal acara karena sebagai tari penyambutan bagi tamu kehormatan," ucapnya.

Ia menjelaskan, salah satu yang menarik dari Tarian Cokek ialah iringan musik Gambang Kromong ditambah gerakan penari perempuan yang terlihat lemah gemulai menjadi ciri khas dari pertunjukan Tari Cokek. Ditambah dengan ajakan penari kepada penonton untuk menari bersama semakin menambah meriah pertunjukan tersebut.

"Tari Cokek termasuk dalam bagian keanekaragaman tari tradisional, karena tari ini terlahir dan dihidupkan oleh komunitas etnik sehingga tumbuh dan berkembang di kalangan rakyat jelata. Kami harap generasi muda dapat melestarikan seni tari yang sudah terpinggirkan dari ibu kota ini agar tidak punah keberadaannya," imbuhnya.

Sumber

Kata BBM Resmi Masuk Collins English Dictionary


CHIP.co.id - BBM, nama lain untuk aplikasi populer BlackBerry Messenger, telah resmi memasuki ranah vernakular modern, dengan diumumkannya bahwa nama itu telah dimasukkan dalam edisi terbaru Collins English Dictionary.

Masuknya nama BBM ini mencerminkan popularitas yang luar biasa untuk layanan global BBM. Dari asal-usul sederhana sebagai alat bisnis, saat ini BBM digunakan oleh lebih dari 56 juta orang di seluruh dunia, dengan 70% dari pengguna melakukan 'BBMing' setiap hari untuk berkomunikasi dengan teman-teman, keluarga dan rekan kerja. Di Indonesia, sebagai negara yang sering disebut sebagai ‘BlackBerry Nation’, dimana BlackBerry mendominasi pasar smartphone, BBM merupakan aplikasi instan messaging yang paling digemari dan paling banyak digunakan.

Pengumuman dari Collins tersebut memperkuat referensi budaya-budaya baru pada 'BBM', seperti baru-baru ini dari sprinter Jamaika, Usain Bolt. Beberapa saat setelah memenangkan medali emas di 100 meter Olimpiade London 2012, pemegang rekor dunia ini memberikan wawancara televisi dan ia berkata: "Yang saya harus lakukan adalah berterima kasih kepada beberapa orang yang memberi ucapan selamat melalui BBM saya dan itu cukup banyak". Artis musik seperti Tinie Tempah dan Sean Kingston bahkan menyebutkan BBM dalam lagu-lagu mereka yaitu 'Miami to Ibiza' dan, yang sangat pas berjudul 'BBM'."

Dimasukkannya BBM ke dalam Collins English Dictionary berarti mengakui statusnya sebagai salah satu jaringan yang paling populer di dunia jaringan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah 'BBM' telah melampaui asal teknologi untuk menjadi merek yang merupakan bagian dari bahasa sehari-hari jutaan orang di seluruh dunia. Layanan itu sendiri terus berkembang, dengan kemampuan dari para 'BBMers' untuk berbagi konten, membuat grup dan bahkan memasang pembaruan status ke situs jejaring sosial seperti Facebook® dan Twitter® dari aplikasi BBM langsung. Kami merasa terhormat bahwa kata yang digunakan sehari-hari oleh jutaan pelanggan kami telah resmi diterima ke dalam bahasa Inggris," ujar T.A. Mc Cann, Wakil Presiden BBM dan Komunitas Sosial RIM.

Sumber

Sengketa Nama Laut Cina Selatan atas Kepulauan Spartly dan Paracel Ungkap Konflik yang Lebih Dalam

Personel angkatan laut Vietnam berpatroli di Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan. Banyak negara di kawasan itu menyatakan klaim atas laut dan kepulauan-kepulauan tersebut. Klaim ini tercermin dari penggunaan nama yang berbeda-beda untuk menyebut laut dan kepulauan itu. [Reuters]

Sengketa berkelanjutan mengenai hak teritorial atas Kepulauan Spratly dan Paracel, Bantaran Sungai Macclesfield, dan Karang Scarborough antara Republik Rakyat Cina, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan telah berkembang menjadi sengketa nama untuk Laut Cina Selatan.

Negara-negara di kawasan itu telah memberi nama yang berbeda-beda untuk laut tersebut selama sejarah navigasi dan perdagangan yang panjang di daerah itu. Dalam bahasa Inggris, laut tersebut selalu disebut sebagai Laut Cina Selatan, atau persamaannya dalam kebanyakan bahasa Eropa.

Orang Eropa pertama yang melayari dan memberi nama untuk kawasan tersebut adalah marinir Portugis yang menamakannya Laut Cina, atau Mar da China. Mereka kemudian mengubahnya menjadi Laut Cina Selatan. Sekarang, Organisasi Hidrografik Internasional menyebutnya Laut Cina Selatan atau Nan Hai (Laut Selatan) dalam bahasa Cina.

Nama laut bisa ditelusuri hingga 2.000 tahun yang lalu

Nama yang diberikan oleh Cina untuk laut tersebut bisa ditelusuri hingga 2.000 tahun yang lalu pada zaman Dinasti Han, yang satu zaman dengan Republik Romawi dan Kerajaan Romawi. Laut tersebut dinamakan Zhang Hai, atau Laut Busung, dan seribu tahun kemudian menjadi Laut Bergolak di bawah zaman pemisahan antara Dinasti Utara dan Selatan. Nama Nan Hai yang sekarang ini telah digunakan selama lebih dari 300 tahun sejak awal era Dinasti Qing [Manchu].

Meskipun demikian, setidaknya semenjak 500 tahun yang lalu, dan bahkan mungkin lebih lama, penduduk Asia Tenggara sering menyebutnya sebagai Laut Champa atau Laut Cham, menamakannya seperti kerajaan maritim Champa yang terletak di bagian selatan dan tengah Vietnam sampai ke Kamboja sejak abad ke-7 sampai tahun 1832.

Ketika Jepang menjajah Indocina pada tahun 1941, laut tersebut dinamakan laut Minami Shina Kai atau Laut Cina Selatan. Dan Jepang masih menggunakan nama itu sampai sekarang.

Nelayan Filipina melambaikan tangan mereka dari sebuah kapal ikan yang siap menangkap ikan di dekat Karang Scarborough di Masinloc, Zambales. Masinloc adalah pulau terdekat, sekitar 128 mil laut dari Karang Scarborough yang disengketakan. [Reuters]

Bagi bangsa-bangsa modern yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, Filipina, dan Malaysia, laut tersebut disebut sebagai Laut Cina Selatan dalam bahasa lokal mereka -- Dagat Timog Tsina dalam bahasa Tagalog di Filipina dan Laut China Selatan dalam bahasa Melayu. Orang Filipina menyebut bagian yang terletak di dalam laut teritorialnya sebagai Laut Luzon atau Dagat Luzon.

Namun, ketika sengketa antara Filipina dan Cina atas klaim yang bertentangan atas Kepulauan Spratly meningkat pada tahun 2011, departemen dan juru bicara pemerintah Filipina mulai menyebut seluruh kawasan laut tersebut sebagai Laut Filipina Barat. Layanan Administrasi Atmosferik, Geofisika, dan Astronomik Filipina [PAGASA] bersikukuh pada posisi bahwa kawasan tersebut akan selalu disebut sebagai Laut Filipina.

Pulau-pulau kecil yang disengketakan di laut tersebut juga disebut dengan berbagai nama yang bertentangan, dengan klaim kedaulatan pelik yang bertentangan atas mereka yang sudah terjadi selama ratusan tahun. Bangsa-bangsa Barat menyebut satu kumpulan pulau sebagai kepulauan Spratly. Cina menyebutnya Kepulauan Nansha.

Filipina menyebut Karang Scarborough sebagai Beting Panatag, Bajo de Masinlóc atau Karburo. Cina telah menamakannya sebagai Kepulauan Huangyan sejak tahun 1983. Pada tahun 1947, pemerintah Kuomintang dari Republik Cina menyatakan kedaulatan atas karang tersebut dan menamakannya Minzhu Jiao atau Karang Demokrasi. Nama Baratnya berasal dari kapal dagang Scarborough milik Perusahaan Hindia Timur Britania yang tenggelam tanpa ada yang selamat setelah menabrak karang tersebut pada tahun 1784.

Filipina berusaha menyatakan kedaulatannya atas Karang Scarborough selama setengah abad, dengan membangun sebuah menara setinggi 27,23 kaki [8,3 meter] di sana pada tahun 1965.

Para astronom mengunjungi Karang Scarborough pada tahun 1279

Meskipun demikian, Cina bersikukuh bahwa klaimnya atas karang tersebut sudah ada sejak tahun 1279 ketika astronom Guo Shoujing mengunjungi situs tersebut selama Dinasti Yuan.
Cina memberi nama kepada kumpulan pulau-pulau yang berbeda di Laut Cina Selatan menurut lokasi mereka yang dibagi menjadi empat: Kepulauan Paracel adalah Kepulauan Xisha atau Pantai [atau Pasir] Barat; Kepulauan Spratly disebut Nansha atau Pantai Selatan; pulau-pulau lain dinamakan Dongsha, dikenal juga dengan nama Prata. Bantaran Sungai Macclesfield dinamakan Kepulauan Zhongha, atau Pantai [atau Pasir] Tengah. Cina telah menyatakan kedaulatan atasnya sejak tahun 1935. Klaim awal oleh pemerintah Kuomintang Jiang Jieshi [Chiang Kai-shek] telah dipertahankan oleh Republik Rakyat Cina.

Nama Paracel bisa ditelusuri hingga 400 tahun yang lalu pada masa pedagang Portugis pada akhir abad ke-16. Namun Cina menyebutnya kepulauan Wanglishitang, atau Sepuluh Ribu Mil Kolam Berbatu pada masa Dinasti Yuan, 750 tahun yang lalu. Nama kepulauan ini juga digunakan oleh para pelayar dan penjelajah Cina yang terkenal, Zheng He di dalam petanya pada tahun 1430 pada masa Dinasti Ming.

Vietnam juga menyatakan klain atas laut

Vietnam juga memiliki kumpulan nama untuk wilayah kecil di Laut Cina Selatan tersebut. Perancis menyatakan klaim atas kepulauan Spratly dan Paracel pada tahun 1887 dan menegaskan kembali klaim mereka pada tahun 1933. Orang Vietnam telah menyebut kepulauan tersebut dengan Hoang Sa, atau Pasir Kuning sejak abad ke-15. Di dalam bahasa Vietnam modern, nama tersebut dieja Hoàng Sa atau Cát Vàng. Nama-nama tersebut memiliki makna yang sama, yaitu Pasir Kuning atau Beting Kuning. Di bawah Kaisar Vietnam Minh Mang [1820-1841] pada abad ke-19, kepulauan Spratly disebut sebagai Vạn LýTruong Sa, atau Beting Sepuluh Ribu Liga.

Untuk menambah persoalan, pada paruh pertama abad ke-19, Cina dan Vietnam menyatakan klaim atas kepulauan Spratly dan Paracel secara bersamaan tetapi tidak menyadari bahwa masing-masing melakukan hal yang sama. Pada bulan Juli 2012, Majelis Nasional Vietnam menyetujui undang-undang yang memperluas perbatasan laut negara tersebut dengan memasukkan rangkaian kepulauan Spratly dan Paracel ke dalamnya.

Kapten Angkatan Laut Inggris James George Meads menyatakan klaimnya sendiri atas kepulauan tersebut pada tahun 1870-an dan memproklamasikan negaranya sendiri Morac-Songhrati-Meads atasnya. Menambah sedikit kelegaan terhadap perseteruan yang rumit dan tegang atas kedua kepulauan sekarang, keturunan Meads terus berusaha menyatakan klaim atas kuasa dan kepemilikan mereka atas kedua kepulauan tersebut. Klaim mereka juga mencakup potensi cadangan minyak, gas, dan mineral berharga di bawah dasar laut di sekitarnya yang mencakup radius sepanjang 200 mil.
Bahkan Jepang juga sempat terllibat dalam pemindahan klaim atas kepulauan Paracel. Jepang menjajah rangkaian pulau tersebut pada tahun 1939 dan sampai tahun 1945 menyebutnya sebagai Shinnan Shoto, atau Kepulauan Baru Selatan. Di dalam Traktat Perdamaian San Fransisco pada tahun 1951 pada akhir masa penjajahan AS, Jepang mencabut semua klaim atas Spratly, Paracel, dan pulau-pulau lain di Laut Cina Selatan. Cina kemudian mengulang kembali klaim kedaulatan sebelumnya atas pulau-pulau tersebut.

Republik Cina yang dikuasai oleh pemerintah Kuomintang untuk waktu yang singkat menjajah kepulauan Spratly dan Paracel dari tahun 1945 sampai 1949, tetapi meninggalkan sebagian besar ketika merelokasi ke Taiwan setelah kemenangan komunis pada tahun 1949 dalam Perang Sipil Cina. Republik Cina menarik sisa pasukannya dari Pulau Taiping pada tahun 1950, tetapi mengirim mereka kembali pada tahun 1965.

Sengketa atas pulau-pulau tersebut, terutama antara Cina dan Filipina dan Vietnam, tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda karena sejarah yang panjang dan rumit mengenai klaim dan klaim balasan teritorial atas wilayah laut. Sengketa ini akan terus berlanjut -- dan kemungkinan akan meningkat -- kecuali jika bangsa-bangsa yang bersengketa ini bekerja sama secara kolaboratif dan diplomatis untuk menyelesaikan klaim tanpa paksaan, intimidasi, atau penggunaan kekuatan -- contohnya menyetujui "Kode Etik" yang disponsor oleh ASEAN. Semua partai harus memperjelas dan melanjutkan klaim teritorial dan maritim mereka sesuai dengan hukum internasional, seperti yang disebutkan dalam Konvensi PBB untuk Hukum Laut [UNCLOS]. Situasi yang sangat mudah berubah ini tidak akan terselesaikan kecuali jika semua pihak menjelajah setiap kesempatan diplomatis untuk mencapai sebuah penyelesaian, termasuk penggunaan arbitrasi atau hukum internasional.

Sumber

Induk Semua Padi Budidaya Berasal dari Sungai Mutiara China

int

SEBUAH "peta" DNA yang disiarkan Rabu (3/10) mengungkapkan induk semua padi yang ditanam oleh orang ditanam di daerah Sungai Mutiara China.

Jenis padi pertama yang ditanam adalah Oryza sativa japonica, yang ditanam ribuan tahun lampau dengan memanfaatkan bibit liar di tengah Sungai Mutiara, China Selatan, papar studi tersebut yang disiarkan jurnal Nature.

Satu dari tanaman-tanaman "Tiga Besar" yang memberi makan penduduk dunia berikut dengan gandung dan jagung, padi dewasa ini telah berkembang menjadi ratusan varietas.

Asal usul pangan penting ini telah memicu debat ilmiah yang panjang.

Para periset saling bersitegang leher menyangkut asal usulnya dan kapan varietas pertama ditanam. Sebagian bahkan berpendapat penanaman itu merupakan suatu kejadian ganda di mana dua jenis berbeda muncul pada waktu bersamaan.

Padi yang ditanam orang terbagi jadi dua sub-species utama -- Oryza sativa japonica yang berbulir pendek dan lengket, dan Oryza sativa indica, yang berbulir panjang dan tidak lengket.

Para periset di bawah pimpinan Bin Han dari Shanghai Institute for Biological Sciences menghimpun sebuah database raksasa untuk membandingkan perubahan-perubahan kecil pada DNA beras.

Penelitian mereka meliputi 446 jenis padi liar yang berasal dari berbagai wilayah (Oryza rufipogon) -- cikal bakal padi yang dibudidayakan secara komersial -- dan 1.083 varietas japonica dan indica.

Dengan menyatukan sebuah silsilah keluarga, para periset tersebut mengatakan mereka bisa menerima perbedaan pendapat tentang teori-teori bahwa padi indica dibudidayakan secara terpisah dari padi liar.

Sebaliknya, indica pertama merupakan suatu persilangan antara japonica dan padi liar.

Jenis padi hasil persilangan ini kemudian menyebar ke Asia Tenggara dan Asia Selatan, tempat para petani mengembangkan varietas-varietas untuk mengatasi berbagai kondisi lokal, sehingga dengan begitu menciptakan kelompok indica khas.

Pembandingan genome itu hendaknya jadi suatu sumber daya penting bagi para pembiak tanaman, sehingga membantu mereka mengetahui 55 jenis genetik yang telah memasuki genome tersebut melalui seleksi oleh manusia, ungkap periset.

Hasil penelitian tersebut di Nature tidak menyebutkan tanggal pasti tentang pembudidayaan padi itu. Kendati demikian, riset yang dipublikasikan oleh jurnal AS Proceedings of the Academy of Sciences (PNAS) pada tahun lalu mengungkapkan padi pertama ditanam sekira 8.200 tahun lampau, suatu tanggal yang cocok dengan bukti arkeologis dari Lembah Yangtze China. (afp/bh)

Sumber

Friday, August 31, 2012

Indonesia Pengguna Browser Opera Tiga Besar Dunia

 IST

INILAH.COM, Jakarta - Indonesia disebut oleh pihak Opera Software ASA sebagai pengguna browser Opera tiga besar dunia. Benarkah?

"Indonesia berada di urutan ketiga besar dunia untuk kategori pengguna browser Opera Mini (mobile), setelah Rusia dan India," ungkap Agnes Agastia, Communications Manager, Opera Software ASA di acara temu media, Jakarta, Selasa malam (17/7).

Agnes juga mengatakan bahwa Indonesia sempat berada di urutan pertama untuk pengguna Opera Mini dunia pada 2010. Namun pencapaian tersebut menurun.

Agnes menjelaskan bahwa pencapaian baik Opera Mini di Indonesia ini terbantu dengan kerjasama mereka dengan Telkomsel untuk paket bundling layanan data.

Pencapaian baik Opera Mini ini tidak diikuti dengan Opera untuk PC atau Dekstop, karena browser ituhanya menguasai sekira tiga persen marketshare untuk pasar browser Indonesia.

Opera Software yang bermarkas pusat di Oslo, Norwegia ini baru saja meluncurkan browser Opera Mini 7.0 (mobile) dan Opera 12 (desktop). [mor]

Sumber 

Firefox 15 Hadir Tawarkan Keuntungan untuk Gamer

 Pocket-lint

INILAH.COM, London - Mozilla baru saja memperkenalkan browser Firefox 15 yang menawarkan kemampuan terbaik untuk para gamer.

Dilansir Pocket-lint, Mozilla melalui Firefox 15 ini diklaim memiliki kecepatan navigasi lebih baik dan lebih stabil.

"Firefox 15 membuat pengalaman internet anda menjadi lebih cepat dengan mengurangi penggunaan memori ketika browsing dengan beberapa add-on tertentu, yang membuat pengalaman browsing menjadi lebih cepat dan responsif, dan juga lebih mudah bagi para pengembang," tulis pihak Mozilla di postingan blog mereka.

Dunia gaming kini dilirik sebagai medan pertempuran terbaru bagi para pembuat browser, karena dunia itu membutuhkan akses cepat.

Update tersebut tersedia dengan membuka browser Firefox yang sebelumnya sudah digunakan, atau melalui situs Mozilla. [ikh]

Sumber 

Surabaya Canangkan Diri sebagai Kota Peduli Perempuan

Kota Surabaya mencanangkan diri sebagai Kota Peduli Perempuan di awal tahun 2012, sebagai bentuk komitmen dan keinginan untuk semakin memberdayakan kaum perempuan di dalam pembangunan. 

Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Emmy Rachmawati memasangkan PIN "Surabaya Kota Peduli Perempuan" kepada Walikota Surabaya Tri Rismaharini (19/1).

Beberapa kebijakan serta upaya pelibatan kaum perempuan telah dilakukan pemerintah kota (Pemkot) Surabaya, termasuk memberikan kesempatan serta membuka pintu yang sama kepada kaum perempuan untuk memperoleh hak-haknya.

Pemkot Surabaya meluncurkan pencanangan "Surabaya Kota Peduli Perempuan" yang dihadiri Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pencanangan ini sebagai bentuk tekad pemerintah kota Surabaya dalam mewujudkan kota Surabaya yang ramah perempuan, serta menjadikan persamaan gender sebagai isu untuk mengangkat derajat perempuan, yang selama ini tertinggal dibandingkan kaum pria.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan, berbagai program kebijakan pemerintah kota saat ini diarahkan pada kesetaraan gender, yang memberdayakan perempuan sebagai bagian penting sebuah pembangunan.

Tri Rismaharini menjelaskan, “Dari semua program yang ada di kota Surabaya ini memang mengarah untuk kesetaraan gender, itu yang kemudian kami beranikan diri untuk melaunching kota peduli perempuan. Di Surabaya ini sudah sampai Kelurahan dan Kecamatan, itu kami punya pos-pos di mana kaum perempuan bisa mengadukan atau memperoleh hak-haknya. Kemudian yang kedua kami di program kesehatan, mulai ibu hamil, melahirkan, sampai kemudian putra-putrinya sampai usia tiga bulan, itu dalam perlindungan program Pemkot.”

Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Emmy Rachmawati mengatakan, keberadaan sebuah kota yang peduli terhadap perempuan selalu ditandai dengan keikutsertaan kaum perempuan dalam pembangunan, meskipun tidak meninggalkan kewajibannya di rumah tangga.

“Dengan terikutnya perempuan untuk memikirkan berbagai bidang pembangunan, itulah sebetulnya inti daripada suatu kota peduli perempuan adalah perempuan ikut diberdayakan dan ikut memikirkan kemajuan bangsa ini,” ujar Emmy Rachmawati.

Sementara, Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pingky Saptandari mengungkapkan, perlu kerjasama dari semua pihak untuk mewujudkan kota yang betul-betul peduli perempuan, karena kasus kekerasan terhadap perempuan masih banyak dijumpai hingga saat ini.

“Ini kan seperti kota layak anak itu belum ada di Indonesia yang benar-benar kota layak anak, menuju kota layak anak. Dan ini juga menuju kota peduli perempuan gitu. Jadi artinya inisiatif, kemauan, komitmen, di dorong untuk menuju kesana. Bahwa masih banyak masalah ya itu yang harus diatasi nantinya. Tapi kalau komitmennya gak ada kan masalahnya tambah banyak,” demikian penuturan Pingky Saptandari.

Sumber 

Taman Safari Pasuruan Sukses Kawinkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa

Seekor anak Sapi Bali dari hasil perkawinan dengan pejantan Banteng Jawa, berhasil dilahirkan dengan sehat di Taman Safari Indonesia II, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. 

Induk Sapi Bali bernama Delta, bersama anak Sapi hasil kawin silang dengan banteng Jawa yang baru lahir.

Kelahiran anak Sapi jenis ras Sapi Bali dengan pejantan Banteng Jawa, menjadi peristiwa langka dalam hal konservasi satwa, khususnya dibidang pengembangan genetika satwa karena merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia. Upaya mengkawin silangkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa ini, merupakan upaya menghasilkan keturunan sapi yang memiliki keunggulan secara genetik dan ketahanan fisik.

Peristiwa ini membuktikan garis keturunan yang sama antara Sapi Bali dengan Banteng Jawa, yang diharapkan mampu menghasilkan keturunan berkualitas untuk Sapi di Jawa Timur.

Kurator Satwa Taman Safari Indonesia, Prigen, Ivan Candra mengatakan, hasil kawin silang tersebut diharapkan menghasilkan anak Sapi jenis unggul dibandingkan Sapi biasa, yang didapatkan dari genetik Banteng Jawa.

Ivan Candra mengatakan, “Ada peningkatan genetik dan performance, nah kita harapkan juga ketahanan terhadap penyakitpun juga lebih baik, variasi genetiknya semakin tinggi, sehingga bisa menambah performance dan produktivitas dari keturunan-keturunan selanjutnya.”

Pejantan Banteng Jawa yang bernama Matos (warna hitam).

Kawin silang antara Sapi Bali dengan Banteng Jawa, sejak awal telah mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, keberhasilan mengembangbiakkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa diyakini mampu meningkatkan kualitas Sapi di Jawa Timur, melalui pengembangbiakkan Sapi Bali secara massal.

“Ini menjadi diperbanyak, diakan jenis baru yang insya Allah tahan penyakit, Banteng itu kan tahan penyakit, penyakit kuku, mulut, kan gak ada. Jadi ini baru dan memang saya support sejak awal, kalau bisa nanti inseminasi buatan untuk itu,” ungkap Soekarwo.

Soekarwo menegaskan, keberhasilan mengkawinsilangkan Sapi Bali dengan Banteng Jawa sehingga melahirkan keturunan, menjadi harapan akan swasembada daging Sapi di Jawa Timur. Dengan berat Sapi Bali per ekor yang mencapai lebih dari 400 kilogram, anak Sapi hasil kawin silang ini diyakini akan menambah produksi Jawa Timur untuk daging Sapi.

Sementara itu, Ivan Candra menambahkan, kelahiran anak Sapi dari Induk Sapi Bali dan pejantan Banteng Jawa membuktikan garis keturunan yang sama antara kedua hewan tersebut, sehingga keturunan yang dihasilkan dapat berkembangbiak dengan baik tanpa masalah dalam hal kesehatan maupun kesuburan.

“Setelah sang anak ini lahir, kita buktikan sama-sama, setelah dewasa nanti, kawin, otomatis dan pengharapan kitapun dia bisa kawin, baik itu dengan Sapi Bali yang sudah disiapkan, maupun dengan Banteng, kita akan menganggap itu fertile, subur, bukan steril. Nah itu membuktikan bahwa baik Sapi Bali maupun Banteng sedarah atau seketurunan,” demikian jelas Ivan Candra.

Sumber 

Ilmuwan Temukan Tikus Nyaris Ompong di Indonesia

Paucidentomys vermidax, atau 'tikus dengan sedikit gigi' ditemukan dalam hutan tropis di Gunung Latimojong, Sulawesi selatan dan hidup dengan memakan cacing tanah.

Spesies unik tikus nyaris ompong dengan moncong panjang dan runcing (paucidentomys vermidax) ditemukan di hutan Gunung Latimojong, Sulses (foto: dok).

Satu spesies unik tikus nyaris ompong yang hidup dari makan cacing tanah dan tidak mengunyah atau mengerat ditemukan di Indonesia.

Tikus dengan moncong panjang dan runcing itu digambarkan di internet dalam jurnal Biology Letters di Inggris pekan ini.

Dikatakan, Paucidentomys vermidax, yang artinya "tikus dengan sedikit gigi" dan "pemakan cacing," itu adalah satu-satunya binatang pengerat dari lebih 2.200 spesies yang diketahui tidak punya geraham, dan hanya punya gigi seri atas.


Paucidentomys vermidax, satu-satunya binatang pengerat yang tidak punya geraham dan hanya punya gigi seri atas (foto: dok).

Dua tikus seperti itu ditemukan dalam hutan tropis pegunungan di Sulawesi selatan tahun lalu di Gunung Latimojong dan 100 kilometer barat laut di Gunung Gandangdewata.

Karena tidak memiliki gigi geraham, tikus itu menyedot cacing tanah, memotongnya dengan gigi seri sebelum menyemburkan cacahan itu, kemudian menelannya sekaligus, papar penulis kedua jurnal tersebut, Anang Achmadi dari Museum Zoologicum Bogoriense hari Kamis.

Sumber 

Produk dengan Label Peringatan Aneh dan Menyesatkan

Di Amerika ada sebuah kelompok yang memantau label-label peringatan yang kadang-kadang menyesatkan dan tidak masuk akal dan memberikan hadiah bagi label yang paling aneh. 

Label peringatan pada serbet kertas yang bergambar peta perairan di sekitar wilayah Hilton Head Island di South Carolina bertuliskan "Peringatan: Tidak untuk Digunakan sebagai Navigasi" (foto: dok).

Label peringatan pada produk bisa beragam bunyinya, namun kadang-kadang menyesatkan dan aneh. Itulah sebabnya, setiap tahun kelompok Center For America yang kritis akan perkara sepele memilih apa yang disebut “label peringatan aneh” tahun ini.

Contohnya, lembaga itu pernah menemukan saran tegas pada kemasan racun tikus yang berbunyi “Peringatan: Telah didapati menyebabkan kanker pada tikus laboratorium”.
 
Pemenang label aneh tahun ini diumumkan. Pemenang label aneh ini termasuk peringatan pada alat pencukur listrik yang berbunyi “Jangan pernah digunakan sembari tidur”.
 
Ada lagi aksesoris meja kantor yang menyerupai setir mobil berbunyi “Jangan pernah gunakan produk ini sembari mengemudi”. Tetapi, hadiah utama sebesar 1.000 dolar jatuh pada orang yang menemukan peringatan pada bola dunia hiasan yang berbunyi “Bola dunia ini tidak boleh dipakai untuk navigasi”.
 
Label-label peringatan bisa berguna jika memperingatkan kita akan bahaya yang tidak kentara.
 
Tetapi jika kita membaca label-label seperti ini pada mainan, peralatan rumah tangga, dan alat teknologi yang dijual di Amerika, kita akan menarik kesimpulan bahwa pembuat produk itu menganggap kita tidak cerdas.
 
Tampaknya perusahaan-perusahaan itu mengeluarkan peringatan-peringatan ini karena khawatir orang akan melakukan tindakan bodoh dengan produk mereka seperti membahayakan diri mereka sendiri dan menyalahkan perusahaan itu.
 
Pesan yang mengatakan hal-hal seperti “Jangan bawa alat pemanggang ini ke bak kamar mandi Anda” atau “Jangan operasikan pesawat ini kecuali anda sudah belajar terbang”.
 
Selama bertahun-tahun orang Amerika melihat label peringatan, seperti yang terdapat pada skuter anak-anak, “produk ini bergerak sewaktu digunakan”. Sepertinya kita tidak mengetahui hal itu.
 
Ada lagi, alat penghancur makanan yang menghaluskan, memotong dan mengiris. Labelnya bertuliskan  “Jangan pernah mengangkat makanan dari mata pisau sewaktu produk ini sedang bekerja”.
 
Ada label pada alat penggulung rambut listrik yang berbunyi “Hanya untuk penggunaan eksternal,” dan label pada kotak palu berbunyi  “bisa berbahaya jika ditelan.”
 
Jadi jika Anda berkesempatan datang ke Amerika, anggap saja Anda sudah diperingatkan dengan peringatan “Agar kunjungan Anda aman, jangan sentuh apapun”.

Sumber