Showing posts with label Universitaria. Show all posts
Showing posts with label Universitaria. Show all posts

Saturday, September 29, 2012

Kubus Unik dari UPH

Modular Living Gadget karya lima mahasiswa UPH. (Foto: dok. UPH)

JAKARTA - Biasanya, kebutuhan furnitur di kamar terdiri dari tempat tidur, meja belajar, lemari baju, dan rak buku. Namun di tangan lima desainer muda dari Universitas Pelita Harapan (UPH) ini, kebutuhan furnitur tersebut dapat disatukan dalam sebuah kubus unik.

Christina Indraningsih, Marina Tjandra, Jeanne Junita Pertiwi, Angela Johanna Sudarma, dan Stephanie, membuat kubus unik yang menampung fasilitas tempat tidur, meja belajar, rak buku, hingga meja makan. Kubus unik yang dinamai Modular Living Gadget itu pun menyedot perhatian para pengunjung pameran Desain.ID 2012 beberapa waktu lalu.

Christina memaparkan, ide mereka awalnya berupa konsep kecil yang dapat memenuhi kebutuhan dasar seseorang seperti makan, istirahat, dan bekerja. "Kami kemudian mulai mencetuskan ide tentang "gadget" yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut," kata Christina, seperti dilansir laman UPH, Rabu (19/9/2012).

Mahasiswi angkatan 2010 ini menjelaskan, material yang mereka gunakan untuk Modular Living Gadget bersifat ramah lingkungan dan dapat didaur ulang, misalnya kayu. Kelimanya pun lebih memilih elemen kayu ketimbang baja. Untuk pencahayaan, tim Christina menggunakan LED untuk menghemat energi listrik, dan karena penggunaannya yang lebih simpel. Hasilnya, dalam sebulan mereka dapat merampungkan prototipe Modular Living Gadget dan menarik perhatian banyak orang.

"Banyak pengunjung bertanya apakah hasil kerja kami ini dijual. Ada juga yang tertarik menggunakan living gadget untuk kebutuhan di asrama," Christina mengimbuh.

Pembimbing kelimanya, Elaine Steffany bertutur, Modular Living Gadget dapat dirancang ulang sesuai kebutuhan masing-masing individu. "Meski telah menjadi sebuah kesatuan (compact), kita bisa menambahkan berbagai fitur untuk memenuhi kebutuhan dasar seseorang. Jadi ini masih bisa didesain secara kreatif, tergantung fungsi yang dibutuhkan," kata Elaine.

Marina mengaku, meski menyenangkan menggarap Modular Living Gadget bersama-sama, awalnya mereka ragu akan hasil kerja mereka. Tetapi, motivasi dan dukungan dari para dosen pembimbing melecutkan semangat mereka untuk menyelesaikan karya tersebut.

"Ketika hasil kerja kami selesai, ternyata ia mempengaruhi banyak orang. Tadinya kami pikir desain ini hanya akan mempengaruhi sekelompok orang seperti para desainer," ujar Marina.

Anggita tim lainnya juga mengaku mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Terutama, pengalaman tentang bekerja sama di dalam tim tempat mereka saling berbagi ide.

Menurut Elaine, dengan mengerjakan proyek ini, para mahasiswa dapat mempraktikkan langsung ilmu yang mereka dapatkan di kelas. Uniknya, mereka pun berperan langsung sebagai desainer dalam proyek ini, sehingga pekerjaan tersebut terasa lebih nyata. Sehingga, dari awal pengerjaan proyek, pihak kampus menekankan bahwa proyek ini adalah sesuatu yang serius dan tidak main-main. Bahkan, para mahasiswa yang terlibat akan disebut sebagai desainer, entah proyeknya berhasil ataupun gagal.

"Proyek ini digarap senyata mungkin, karena kami ingin memberi tahu orang banyak bahwa yang membuat gadget ini adalah desainer asli yang membawa sesuatu yang baru," imbuhnya.(rfa)

Sumber

Sendok Khusus Penderita Cerebral Palsy

Sri Hartini dan sendok khusus penderita cerebral palsy buatannya. (Foto: dok. UGM)

JAKARTA - Cerebral Palsy (CP) adalah sebuah penyakit yang masih belum diketahui persis penyebabnya. Anak-anak yang terjangkit penyakit tersebut memiliki kelainan pada fungsi otak, laju belajar, serta gangguan panca indera lainnya. Hal ini membuat si penderita kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk dalam urusan makan.

Kekakuan jari tangan menyebabkan para penderita CP kesulitan untuk menggenggam dan memegang sendok ketika makan. Kondisi ini bisa diatasi dengan sendok khusus buatan Sri Hartini, S.Kep., Ns., M.Kes. Bersama timnya, dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) itu merancang sendok dengan derajat kelengkungan yang berbeda dari sendok biasa dan dilengkapi dengan palang penahan.

"Pengukuran terhadap 51 anak CP menunjukkan jarak antara jari sampa mulut para penderita CP berkisar antara 0-11 cm. Dengan jarak itu, dihasilkan sudut pada siku dalam antara 45 sampai 90 derajat. Pengukuran berikutnya menghasilkan angka kelengkungan antara tangkai sendok dan kepala sendok yang sesuai adalah 135 derajat," papar Hartini, seperti dinukil dari laman UGM, Selasa (28/8/2012).

Sementara itu, kata Hartini, sendok ini juga dilengkapi dengan palang penahan yang berfungsi menahan jari penderita CP dalam memegang sendok. "Sendok menggunakan bahan kayu sonokeling yang tahan lama, ringan, dan tentunya tidak mengandung zat-zat kimia yang berbahaya," ungkap Hartini.

Hartini telah mendaftarkan klaim paten atas temuan sendok khusus penderita CP ini. Diharapkan, sendok khusus ini dapat mengatasi masalah kesulitan penderita CP dalam menggunakan sendok.

"Karena berdasarkan survei di lapangan, ditemukan 30 persen penderita CP kesulitan, bahkan tidak bisa, menggunakan sendok yang biasa beredar di pasaran," pungkasnya.(rfa)

Sumber

Bisa Mencoba Baju Tanpa Datang ke Toko

Image: Corbis

SURABAYA - Kecanggihan teknologi memudahkan orang belanja. Orang yang belanja baju, tak perlu repot-repot datang ke toko untuk mencobanya. Karena alat canggih untuk mencoba baju telah diciptakan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (Stikom) Hans Christianto Andhoko.

Karya mahasiswa S-1 ini memudahkan konsumen untuk mengetahui baju-baju di toko tanpa harus mendatangi toko tersebut. Alat ini juga bermanfaat bagi toko, karena baju yang dicoba konsumen tidak berserakan dan kotor. Alat canggih ini diberi nama "Aplikasi Etalase Toko Pakaian Interaktif Menggunakan Teknologi Sensor Gerak Microsoft Kinect".

Berkat karyanya, Hans, panggilan akrab Hans Christianto Andhoko berhasil mendapatkan special mentioned (juara III) dalam ajang Indonesia ICT Award (INAICTA) 2012. Mahasiswa ini mengikuti lomba dalam kategori application untuk mahasiswa perguruan tinggi. Hasil yang diperoleh cukup menggembirakan dan membawa nama baik almamater. "Kami sangat bangga dengan perolehan penghargaan ini," ujar Hans.

Hans menceritakan, untuk membuat peralatan canggih ini, tidak dibutuhkan banyak perangkat, cukup komputer atau laptop dan kamera kinect yang menggunakan sensor. Peralatan ini memiliki fungsi untuk mendeteksi pemakai atau konsumen yang mau mencoba baju. Cara kerja alat ini, komputer atau laptop nantinya dihubungkan dengan kamera kinect sensor. Hasilnya, konsumen yang mencoba baju akan kelihatan.

Jika ingin memakai peralatan ini, konsumen cukup menekan tombol kruser yang telah tersedia. Tidak perlu menunggu lama, hanya butuh waktu sekitar tiga detik. Kemudian terlihat berbagai tawaran dalam mencoba baju-baju yang telah tersedia di database.

"Peralatan ini hanya bisa mencoba baju bagus atau tidak. Cuma untuk mengetahui ukuran besar atau kecil masih belum bisa," katanya, kemarin.

Peralatan ini, ungkap dia, sangat cocok dimiliki toko, karena praktis dan tidak membutuhkan tempat atau rak baju yang banyak. Selain itu, pemilik toko bisa menawarkan berbagai baju yang dijual ke lokasi-lokasi yang diinginkan tanpa membawa baju, yang terpenting, baju-baju yang berada di dalam toko sudah dimasukkan dalam data base. Alat ini sangat membantu penjual baju untuk menawarkan berbagai koleksi baju kepada konsumen.

Misalnya si A memiliki toko baju di satu lokasi, dia bisa menawarkan koleksi-koleksinya ke tempat-tempat lain seperti di kantor atau lokasi yang biasa dibuat berkumpul bersama teman-teman. "Pembuatan peralatan ini tidak terlalu mahal, hanya membeli kamera kinect sekira Rp1,3 juta dan membeli laptop sekira Rp5 juta," beber Hans.

Dalam proses pembuatan alat ini Hans mengaku dibantu dua dosen pembimbingnya yakni Teguh Sutanto dan Anjik Sukmaaji. Kedua pengajar STIKOM ini sangat berperan dalam meraih penghargaan INAICTA 2012. Bahkan Hans masuk nominator delapan besar dari 186 karya mahasiswa se-Indonesia. "Saya sangat senang dengan penghargaan yang diperoleh Hans, tetapi dia harus mengembangkannya," pinta Anjik Sukmaaji.

Anjik menuturkan, sebagai upaya memberi motivasi kepada Hans, dia memberikan tantangan supaya mahasiswa STIKOM bisa mengembangkan peralatan-peralatan yang dimiliki. Misalnya melengkapi alat yang bisa terkoneksi antara baju dan harga yang ditetapkan. Selain itu, pengembangan diarahkan untuk mendeteksi ukuran baju yang akan dicoba. Seperti ukuran S, M, L, atau XL. Ukuran-ukuran ini sebenarnya sudah masuk, tetapi masih belum sempurna. (arief ardliyanto/koran si)(//rfa)

Sumber

Medali Pertama Indonesia di Olimpiade Geografi Internasional

Mahasiswa Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Bintang Rahmat Wananda, meraih medali perak dalam ajang International Geography Olympiad (iGeo) ke-9 yang berlangsung pada 21-27 Agustus 2012 di Koln, Jerman.

BANDUNG, KOMPAS.com - Mahasiswa Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Bintang Rahmat Wananda, meraih medali perak dalam ajang International Geography Olympiad (iGeo) ke-9 yang berlangsung pada 21-27 Agustus 2012 di Koln, Jerman. Ini menjadi prestasi yang membanggakan karena Indonesia baru ikut olimpiade dua tahunan ini untuk pertama kalinya.

"Secara perolehan, medali perak yang diraih oleh Indonesia memposisikan Indonesia sejajar dengan Selandia Baru, Belanda, Inggris, Rusia, China, dan Taiwan, yang masing-masing juga mendapat medali perak," tutur dosen pembimbing tim Indonesia untuk IGEO ke-9, Samsul Bachri, dalam konferensi pers di Gedung Rektorat ITB, Bandung, Senin (10/9/2012).

Samsul mengatakan, panitia penyelenggara bahkan sempat terkejut karena melihat Indonesia sebagai tim yang baru pertama kali mengikuti perlombaan internasional bagi siswa berusia 16-19 tahun itu ternyata mampu menyejajarkan diri dengan negara-negara yang telah lama mengikuti kompetisi tersebut. Bahkan, Indonesia juga mampu menyabet gelar "The Best Presentation" untuk studi kasus "Karst Hydrology in Relation with Drought Problem in Gunung Kidul, Yogyakarta".

Tim Indonesia terdiri dari empat siswa yang dijaring dari seleksi khusus. Pasalnya, belum ada olimpiade geografi di tingkat nasional. Tim pembimbing pun mengumpulkan juara-juara olimpiade geosains dan geografi yang digelar oleh sejumlah universitas dan sekolah rintisan standar internasional dan menyeleksi mereka hingga menghasilkan nama Bintang Rahmat Wananda, Adnan Jati Satria dari SMAT Krida Nusantara, Mohammad Anja Istala dari program studi Geologi Universitas Gadjah Mada, serta Mohammad Ridwan dari SMA Boarding School Sragen.

Sebelum berangkat ke Jerman, para peserta mendapatkan pembinaan selama satu bulan untuk mengasah kemampuan kognitif dan mental di bawah bimbingan Samsul. Pemberangkatan tim, lanjutnya, dilakukan secara swadaya dengan mengumpulkan dana dari beberapa sponsor.

Dia berharap pengiriman tim olimpiade geografi dari Indonesia dapat dilakukan secara rutin dengan anggaran yang berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Olimpiade selanjutnya akan diselenggarakan di Kyoto, Jepang, 30 Juli-5 Agustus 2013.

Sementara itu, Bintang yang meraih medali perak pada olimpiade geografi ke-9 mengatakan soal-soal olimpiade di Jerman itu relatif lebih sulit dibanding olimpiade sebelumnya.

"Tetapi itu wajar mengingat setiap soal olimpiade harus mengalami peningkatan dibanding olimpiade sebelumnya," ungkapnya.

Sumber

Atasi Angin Topan Antarkan ITS Raih Juara di Korea

Ilustrasi : Corbis

JAKARTA - Lagi, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menorehkan prestasi di kancah internasional. Kali ini, dua mahasiswa Jurusan Teknik Informatika berhasil meraih juara dua e-Learning International Contest of Outstanding New ages (e-ICON) World Contest di Incheon dan Seoul, Korea.

Adalah Raden Aditya Brahmana dan Maranu Toto Negoro. Mahasiswa angkatan 2011 ini telah berjuang selama seminggu di Korea sejak Minggu 9 September lalu bersama 20 tim lain dengan total 96 peserta dari 11 negara.

Seleksi awal e-ICON dilakukan dari proposal yang mereka kirimkan pada awal Agustus. Dinyatakan lolos, Pemerintah Korea membiayai semua akomodasi mereka menuju venue perlombaan. ''Dulu kita cuma iseng cari lomba di internet, lalu ikut saja,'' ujar Maranu, seperti dilansir dari ITS Online, Senin (17/9/2012).

Uniknya, dalam lomba ini, mereka hanya diberi waktu selama tiga hari untuk membuat program pembelajaran dengan media e-learning. Beruntung, mereka telah mempersiapkan konsep ide yang akan digunakan sejak masih di Indonesia. ''Sehingga di sana kami bisa mengerjakannya langsung,'' kata Adit menerangkan.

Ide e-learning yang mengantarkan mereka menjadi jawara adalah tentang pembelajaran iklim dan cuaca. Usut punya usut, mereka berdua sengaja memilih tema tersebut lantaran terjadi bencana alam typhoon alias angin topan sekitar seminggu sebelum lomba dihelat. Maka mereka memasukkan tips dalam menghadapi typhoon. Bahkan edukasi tentang cara mengetahui arah datangnya typhoon pun mereka masukkan dalam program.

Berbagi pengalaman selama perlombaan pada mahasiswa baru, Maranu mengatakan kekompakan tim menjadi kunci sukses utama. Pasalnya, dalam perlombaan tersebut mereka didampingi oleh dua mahasiswa Korea sehingga mereka harus memahami perbedaan budaya yang ada. ''Di sana, kita benar-benar melakukan kolaborasi internasional,'' paparnya.(mrg)

Sumber

Friday, September 14, 2012

Kampus UMN Perkenalkan Teknologi "Double Skin"

KOMPAS IMAGES/MAZMUR A SEMBIRING - Kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Serpong, Tangerang, Banten.

TANGERANG, KOMPAS.com - Perancang gedung tersebut, Budiman Hendropurnomo, mengatakan bahwa penghematan energi dalam gedung ini dapat mencapai 49 persen, jika dibandingkan dengan pemakaian energi di gedung yang tidak hemat energi. Budiman berani membuktikannya.

Konsep gedung New Media Tower bukan hanya tampak unik. Gedung dengan bentuk oval menyerupai telur ini juga memanfaatkan teknologi sederhana, namun efektif untuk mengurangi pemakaian energi.

Lapisan berwarna abu-abu di bagian terluar gedung ini merupakan salah satu ciri khas New Media Tower dan gedung-gedung lain di kompleks UMN. Lapisan ini disebut dengan atau "kulit luar". Enam gedung dalam komplek UMN ini akan rampung pada 2028 mendatang.
Hampir sama seperti apa yang dilakukan pada Edogawa Garage Club di Jepang, gedung baru UMN ini juga "melapisi" gedungnya dengan teknologi double skin facade. Dengan demikian, teknologidouble skin telah resmi sampai dan digunakan di Indonesia.

Budiman mengatakan, teknologi double skin pada New Media Tower merupakan salah satu upaya mengurangi efek teriknya sinar matahari. Double skin memanfaatkan material aluminium perforatedyang didesain dengan pola tertentu. Pola ini mampu membantu mereduksi panas matahari langsung.
"Selain itu juga memberikan penerangan yang optimal terhadap ruang-ruang kelas di dalamnya," ujar Budiman di sela peresmian gedung baru New Media Tower di kampus UMN, Serpong, Tangerang, Sabtu (8/8/2012).
Pemakaian aluminium perforated "menghalangi" 50 persen cahaya yang masuk ke jendela kaca  pada "kulit kedua" yang berbentuk jendela jungkit. Kulit dalam ini dapat dibuka dan ditutup untuk kebutuhancross ventilation.
Di antara kedua kulit tersebut terdapat jarak 70 cm untuk mempermudah pembersihan kaca. Selain itu, jarak ini juga memudahkan pergerakan untuk membuka jendela jungkit. Budiman menegaskan, penggunaan double skin yang seolah "menutup pemandangan" dari dalam gedung ini adalah langkah tepat.
"Mulai banyak gedung perkuliahan menggunakan kaca. Ternyata gedung perkuliahan menggunakan kaca tidak terlalu cocok, khususnya untuk ruang kuliah. Akhirnya ditutup korden juga karena terlalu silau," kata Budiman. 
"Gedung-gedung kaca biasanya membuat penerangan terlalu terang dan energi yang digunakan untuk AC juga terlalu besar," ujarnya.
Menurut dia, karyawan dalam gedung perkantoran juga membutuhkan jendela-jendela besar agar dapat melihat pemandangan di luar. Ini dilakukan sekedar mencari inspirasi atau menghilangkan stres menghadapi runititas sehari-hari.
Namun, berbeda dengan gedung perkantoran, fokus yang ingin dicapai dalam kegiatan perkuliahan justru lain. Dalam kegiatan belajar-mengajar, mahasiswa seharusnya berkonsentrasi penuh pada materi, bukan pemandangan. Terlebih lagi, banyaknya cahaya masuk ketika menggunakan proyektor dalam kegiatan belajar justru akan menyulitkan.
"Dengan menggunakan double skin, pendingin udara hanya dialirkan pada ruang-ruang kelas. Lorong-lorong di luar kelas tidak memerlukan pendingin udara, karena angin dapat lewat dengan bebas," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Universitas Multimedia Nasional (UMN), Sabtu (8/8/2012) kemarin, meresmikan gedung baru New Media Tower. Gedung ini berada di dalam lingkungan kampus UMN di Serpong, Tangerang. Pendiri UMN dan Harian Kompas Jakob Oetama sendiri yang meresmikan gedung tersebut dengan melepas beberapa ekor burung merpati di lantai dasar New Media Tower.

Sumber

Yogi Ahmad Erlangga, Sang Pemecah Persamaan Helmholtz

JAKARTA, itb.ac.id - Dr. Yogi Ahmad Erlangga, alumni Teknik Penerbangan ITB 1993 dianugerahi penghargaan Achmad Bakrie untuk kategori ilmuwan muda berprestasi. Penghargaan Achmad Bakrie X tersebut diberikan oleh Freedom Institute pada Minggu (12/08/12). Yogi yang merupakan dosen di Program Studi Teknik Penerbangan ITB ini mendapatkan gelar tersebut atas prestasinya menyelesaikan persamaan Helmholtz menggunakan matematika numerik secara cepat (robust).

Penelitian yang dilakukan sebagai riset PhD-nya itu menggunakan metode "Ekuasi Helmholtz". Metode tersebut merupakan cara untuk menginterpretasi data pengukuran gelombang akustik. Buah dari risetnya tersebut dapat mempercepat pemrosesan data seismik dalam survey cadangan minyak bumi. Tidak heran bila salah satu perusahaan minyak internasional antusias memberikan dana untuk menyelesaikan riset tersebut.

Yogi berhasil mempertahankan tesisnya di auditorium Delft University of Technology (DUT), Belanda dihadapan para penguji pada Desember 2005. Dari temuannya itu, persamaan Helmholtz yang digunakan dalam pemrosesan data seismik menjadi seratus kali lebih cepat. Hal ini menjadi angin segar bagi perusahaan minyak karena metode ini terbukti lebih baik dan cepat daripada yang biasa digunakan.

Sarjana Aeronotika Tekuni Matematika Terapan 

Mendapat gelar sarjana teknik di Program Studi Aeronotika dan Astronotika ITB pada 1998, Yogi melanjutkan studinya di DUT, Belanda. Gelar master dan doktor didapatkannya di bidang matematika terapan dari universitas yang sama.

Yogi yang sempat mengikuti program di Jerman tercatat pernah mejadi asisten profesor bidang matematika di Universitas Alfaisal, Arab Saudi. Saat menjadi asisten profesor, Yogi banyak melakukan penelitian di bidang aljabar linier dan analisis matriks.

Penemuan besar ini sempat menjadi buah bibir di kalangan ilmuwan dunia. Profesor pembimbing Yogi, Dr. Vees Vuik mengaku bangga atas keberhasilan risetnya. "Berdasarkan respon-respon yang kami terima dari industri maupun universitas-universitas asing, kami yakin bahwa karya itu telah memecahkan masalah yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun," ungkap Vuik dalam siaran Pers DUT.
Penghargaan Achmad Bakrie diberikan oleh Freedom Institute yang didirikan oleh Aburizal Bakrie. Dalam pembuka acara, Aburizal memaparkan alasan diberikannya penghargaan tersebut. "Tokoh-tokoh ini telah memberikan dedikasi, dharma bakti, dan sumbangan positif dalam bidang ilmu dan pengabdian masing-masing," ujar Aburizal Bakrie.

Riset yang dilakukan Yogi tersebut ternyata tidak hanya berbuah manis dalam industri minyak bumi saja tetapi juga industri-industri lainnya. Karena persamaan Helmholtz mendeskripsikan perilaku gelombang secara umum maka penemuan ini berimbas juga pada industri yang menggunakan sifat gelombang seperti industri radar untuk penerbangan dan juga aplikasi laser. Selain itu ternyata hasil riset ini juga mampu mengembangkan industri blue-ray disc karena dapat menambah kapasistas penyimpanan data.

Sumber

Prof. Dr. Terry Mart, Guru Besar Fisika UI Yang Berkiprah Di Dunia Internasional


Rabu, 14 Maret 2012 menjadi tanggal bersejarah bagi Prof. Dr. Terry Mart. Pada hari tersebut Dosen Fisika Universitas Indonesia yang telah mengabdikan diri di Departemen Fisika FMIPA UI sejak tahun 1990 ini dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Fisika pada FMIPA UI. Pidato Upacara Pengukuhan yang dibacakan oleh bapak dari dua orang anak ini berjudul “Produksi Elementer Partikel Kaon serta Aplikasinya”, yang merupakan salah satu topik penelitian yang ditekuninya sejak 25 tahun terakhir. Upacara pengukuhan tersebut dihadiri oleh Rektor Universitas Indonesia – Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Sekretaris Dewan Guru Besar –Prof. Dr. Rosari Saleh, rer. nat., Ketua Senat Akademik Universitas – Prof. Sudianto Kamso, Dekan FMIPA – Dr. Adi Basukriadi, M.Sc., beserta seluruh jajaran Guru Besar Universitas Indonesia.

Turut hadir pula dalam Pengukuhan Guru Besar ini, Ketua LIPI –Lukman Hakim, mantan Mendiknas – Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, mantan Menristek – Bapak Suharna Surapranata, Ketua Majelis Wali Amanat UI – dr. Purnomo Prawiro, wakil dari Kementrian Pendidikan Nasional – Bapak Nurdin, wakil dari anggota Komisi XI – Ibu Dina Hawadi, turut hadir juga sebanyak 6 orang Guru Besar Tamu yaitu, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, 2 orang Guru Besar dari Universitas Gadjah Mada, Guru Besar dari FMIPA departemen Biologi Universitas Nasional, Guru Besar dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin dan Guru Besar dari Goethe Universitet Frankfurt Germany.

“Salah satu proses yang digunakan untuk meneliti dinamika derajat kebebasan bilangan kuantum keanehan (strangeness) adalah proses produksi pasangan partikel kaon dan hyperon melalui reaksi elektromagnetik. Proses ini menggunakan electron berenergi tinggi yang ditumbukkan pada target proton. Secara teoritis proses ini dijelaskan oleh sejumlah diagram Feynman yang memenuhi hukum kekekalan bilangan-bilangan kuantum di awal dan akhir proses. Model yang menggunakan teknik ini sering disebut sebagai modelisobar. Dari diagram ini beberapa besaran yang dapat diukur secara eksperimen yang biasa disebut observable, dapat dihitung. Meski demikian, cukup banyak parameter reaksi yang terdapat di dalam diagram Feynman tersebut tidak diketahui, baik secara teoritis maupun secara eksperimental. Untungnya data-data eksperimen dengan akurasi tinggi yang mulai berlimpah sejak dioperasikannya akselerator-akselerator modern di tiga benua ini mengizinkan kita untuk mengekstrak parameter-parameter tersebut”. Itulah nukilan yang diambil dari buku pidato pengukuhan hari itu.


Staf Pengajar Departemen Fisika FMIPA UI ini menamatkan pendidikan S3 di Institut fur Kernphysik, Universitat Mainz, Mainz, Jerman. Sampai saat ini beliau telah menyelesaikan lebih dari 117 Publikasi Ilmiah di tingkat Internasional selama kurun waktu 1989 - 2012, di mana lebih dari 30 publikasi ilmiah beliau hasilkan dalam waktu 5 tahun terakhir. Selain publikasi ilmiah, beliau juga masih menyempatkan diri untuk menulis publikasi artikel popular di koran dan majalah. Tidak kurang dari 28 publikasi artikel popular telah beliau tuliskan di berbagai koran dan majalah. Selain itu, sejumlah seminar, konferensi, dan simposium tingkat internasional sudah menjadi hal rutin bagi beliau. Tidak kurang dari 48 seminar, konferensi, dan simposium tingkat internasional sudah beliau hadiri sejak 1989 - 2012, baik sebagai peserta maupun sebagai pembicara.

Keseriusan Prof. Terry Mart dalam bidang penelitian fisika telah menjadikan beliau ini termasuk dalam 100 Fisikawan yang paling berpengaruh di dunia. Prestasi anak bangsa kelahiran Palembang, 3 Maret 1065 ini tentu sangat membanggakan bagi Indonesia. Penghargaan yang pernah diterima oleh Prof. Terry Mart antara lain Habibie Award Bidang Ilmu Dasar tahun 2001, Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dari pemerintah RI tahun 2007, Leading Scientists and Engineers dari Komisi Teknologi (Comstech) Organisasi Konferensi Islam tahun 2008, Outstanding Southeast Asian Scientists dari South East Asia – European Union Network tahun 2009, Ganesa Widya jasa Adiutama dari ITB tahun 2009, dan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa dari Kementrian Pendidikan Nasional RI tahun 2009.

Selamat untuk Prof. Terry Mart, semoga karya-karyanya semakin mengharumkan nama bangsa Indonesia di dunia Internasional.

Sumber

Roby Muhamad: “Orang Hebat Bukan Segalanya!”


Netsains.Com – Menolak pengelompokan sains eksak dan non eksak, Roby Muhamad pasti punya alasan. Ya, sebab alumni Fisika ITB ini memang sejak awal tak terpikir akan membelot jadi ilmuwan sosial. Sejak kecil sudah terpatri bahwa ilmuwan itu identik dengan ilmu alam. Faktanya, ayah dari Toby ini kini tengah menyelesaikan disertasi bidang sosiologi di Columbia University.

Berikut adalah hasil interviu jarak jauh Netsains.Com dengan peneliti bidang jejaring sosial yang juga rajin menulis di berbagai media ini.

“Penelitian utama saya adalah mengenai jejaring sosial. Spesifiknya saya meneliti mengenai bagaimana orang bisa menggunakan jejaring sosial untuk menemukan sesuatu; misal pekerjaan, investor, jodoh. Saya juga tertarik meneliti bagaimana sesuatu menyebar di jejaring sosial; terutama dalam proses politik seperti mobilisasi untuk gerakan sosial, demonstrasi, atau kampanye politik. Saya juga sedang belajar landasan moral kapitalisme modern,” papar penggemar Dostoevsky ini mengenai kesibukannya terkini.

Menjadi ilmuwan memang sesuai dengan cita-cita sejak kecil, sebab Roby dibesarkan di keluarga akademisi, sehingga menekuni sains memang menjadi hal natural baginya.

Bagi Robi, yang utama dibutuhkan dalam mewujudkan cita-cita adalah keberanian untuk mengikuti rasa ingin tahu. “Saya sebut keberanian karena sering kali apa yang kita tertarik itu bukan hal populer diantara teman-teman kita, dan melawan pendapat populer perlu keberanian. kKita harus berani mengambil pilihan sendiri meskipun kita dilihat berbeda oleh orang-orang di sekitar kita,” tambahnya.

Jika dikatakan minat sains anak Indonesia kurang, ayah dari Toby ini tidak setuju.

Sekian tahun tinggal di Amerika, Roby justru melihat bahwa minat remaja Indonesia terhadap sains lebih besar dibanding minat anak-anak Amerika terhadap sains. Tetapi masalahnya adalah mereka yang berminat thd sains ini sulit menemukan “role model” ilmuwan. Meskipun ilmuwan di Indonesia terus bertambah secara kuantitas dan kualitas, tapi masih relatif sedikit. Sehingga sulit bagi mereka untuk menyalurkan minatnya ini secara serius karena kesulitan mendapatkan pembimbing yang baik. Jadinya meskipun mereka berminat tinggi pada sains, jika mereka kurang mengerti bagaimana sebetulnya sains dihasilkan dan ilmuwan bekerja, sulit bagi mereka untuk memilih sains sebagai mata pencaharian.

Hebat Bukan Segalanya

Menurutnya, semua orang di Indonesia setuju bahwa sains dan pendidikan adalah penting. Yang perlu dilakukan adalah menunjukkan bahwa hasil penelitian sains itu berguna dalam arti seluas-luasnya bagi kehidupan kita.

Fenomena yang terjadi saat ini adalah, anak muda di manapun punya kecenderungan serupa, yaitu cenderung tidak tertarik pada sains. Yang menjadi saintis memang hanya sedikit saja. Tapi bedanya di negara yang lebih maju, mereka yang sedikit ini mampu mengembangkan minatnya secara maksimal.

Indonesia sendiri sebenarnya punya SDM sangat hebat, dan pastinya banyak potensi-potensi tersembunyi yang belum digali dari manusia Indonesia. Tapi negara kita tetap miskin terus, politik dan ekonominya amburadul. Roby beranggapan bahwa itu adalah bukti bahwa oranghebat bukan segalanya. “Yang lebih penting adalah menciptakan sistem di mana setiap orang dapat berkontribusi dalam penyelesaian masalah di sekitarnya. Sehebat apapun seseorang, ia tetap kerdil jika dibandingkan dengan masalah yang dihadapi Indonesia,” jelas suami dari Tika Sukarna ini.

Roby juga setuju bahwa ilmuwan harus lebih peduli dan mau terlibat proses politik dan mau secara sungguh-sungguh melakukan pendekatan ke publik.

Lantas, kenapa Roby tidak setuju dengan adanya paradigma pemisahan sains antara eksak dan non eksak? Ia berpikir pemisahan itu adalah suatu kekeliruan. Ia beranggapan bahwa ains adalah metode untuk memecahkan masalah. Masalah yang dipecahkan bisa mengenai masalah gerak planet, dinamika protein, masalah kemiskinan, hingga masalah konflik etnis. Jika kita melihatnya seperti itu, maka kita bisa lihat bahwa sains apapun perlu didukung untuk membantuk menyelesaikan segala masalah yang kita hadapi.

Ilmuwan Harus Komunikatif

Nah, bagaimana agar Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya di bidang sains dan teknologi?

“Saya pikir sangat perlu untuk para saintis mau berkomunikasi lebih banyak dengan publik, mau berbagi pengetahuannya dengan publik sehingga publik bisa mengerti relevansi pengetahuan tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Jika publik bisa melihat dan merasakan langsung bahwa sains dan teknologi bisa membuat hidup lebih baik – bukan hanya sebagai ‘mainan’ segelintir saintis – maka baik sainsnya itu sendiri dan komunitas saintis juga akan semakin maju.,” ujar Roby.

Roby pastinya hanya satu di antara sekian banyak orang Indonesia yang menuntut ilmu ke luar negeri, atau bahkan bekerja dan menetap di negara lain. Selama ini banyak pandangan skeptis yang mengatakan bahwa orang Indonesia yang sudah menuntut ilmu ke negara lain, haruslah kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmunya. Jika tidak, maka ia dicap kurang cinta pada Indonesia, bahkan disebut ‘penghianat’. Menyikapi hal ini, lelaki pemilik situs Berjejaring.Com ini tudak setuju. Menurutnya, menghakimi orang dengan cap “pengkhianat” secara umum tentunya tidak baik. Kondisi setiap orang berbeda-beda sehingga pilihan pulang atau tidak adalah keputusan pribadi masing-masing yang harus dihormati.

“Meskipun demikian, kita harus ingat bahwa mesin utama kemajuan sains dan teknologi adalah kebutuhan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi secara komprehensif. Hal ini bisa dicapai jika solusi sains dan teknologi muncul secara organik dari kebutuhan lokal. Jadinya komunitas saintis dan sains yang dihasilkan memiliki akar yang kuat di lingkungan masing-masing. Jadi meskipun para saintis asal Indonesia yang menetap di luar negeri masih bisa membantu membangun komunitas ilmiah ini, tetap perlu ada ilmuwan-ilmuwan yang kembali ke Indonesia dan membangun komunitas ilmuwan local,” ujar Roby menutup obrolan.

Foto: dokumen pribadi Roby Muhamad

Sumber

Arkeolog: Nenek Moyang Madagaskar Orang Indonesia


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Arkeolog Prof Naniek H Wibisono meyakini, nenek moyang orang Madagaskar adalah orang-orang Indonesia yang 1.200 tahun lalu datang ke negara pulau di lepas pesisir timur Afrika itu untuk melakukan misi dagang.

“Saya yakin mereka (orang-orang Indonesia) datang ke Madagaskar dalam rangka dagang,” kata peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional itu dalam diskusi tentang keragaman genetik manusia dan pengembaraannya di Jakarta, Senin (16/4).

Dalam seminar yang diselenggarakan Lembaga Eijkman dan sejumlah lembaga ilmiah seperti Massey University (Selandia Baru), University of Arizona (AS) dan Universite de Toulouse (Prancis) itu Naniek menjelaskan, hal itu antara lain tampak dari kemiripan benda-benda bersejarah di Madagaskar dan Indonesia.

Peninggalan bersejarah di Madagaskar yang mirip dengan benda-benda bersejarah Indonesia antara lain perahu bercadik, instrumen musik seperti gamelan, bukti budaya seperti teknik memproses besi serta bercocok tanam padi dan umbi-umbian.

Hal senada dikatakan Prof Herawati Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang meneliti pengembaraan manusia Indonesia (Austronesia) dari sisi genetik. Ia mengatakan, orang Madagaskar (Malagasi) adalah keturunan dari moyang campuran antara orang Afrika dan Indonesia.

“Nenek moyang orang Madagaskar asal Indonesia itu, berdasarkan studi genetik, datang ke pulau itu pada 1.200 tahun lalu, namun belum diketahui secara khusus datang dari wilayah Indonesia yang mana,” kata Herawati.

Penelitian Herawati yang melihat marka genetik DNA Mitokondria juga menunjukkan dari 2.745 sampel nenek moyang Madagaskar, sebanyak 30 di antaranya perempuan Indonesia.

“Kami sedang dalam proses menganalisis DNA dari kromosom Y yang bisa menjawab pertanyaan tentang moyang laki-laki dari Indonesia. Karena kami juga ingin tahu bagaimana 30 perempuan itu bisa datang ke Madagaskar 1.200 tahun lalu. Apakah mereka datang bersama para laki-laki juga,” katanya.

Ditambahkannya, selain sampel dari 2.745 individu dari 12 pulau Indonesia (Sumatera, Nias, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Alor, Pantar dan Timor) juga diambil sampel 266 individu berasal dari tiga populasi di Madagaskar.

“Yakni Mikea yang merupakan pemburu di hutan, Vezo nelayan di pantai dan Merina yang hidup di dataran tinggi. Ketiga populasi ini sengaja diambil dari etnik yang terisolasi karena lebih murni belum bercampur dengan banyak etnis lain,” katanya.

Hasil riset genetik juga menunjukkan, 70 persen Malagasi memiliki ikatan maternal dengan kepulauan Asia Tenggara.

“Pulau Madagaskar yang memiliki luas 592.800 kilometer persegi berjarak 400 kilometer dari pantai timur Afrika dan 6.400 kilometer dari ujung barat Indonesia namun secara genetik, bahasa dan budayanya didominasi oleh Indonesia,” tuntas Herawati.

Dr. Eng. Khoirul Anwar, Tunas Bangsa yang Mekar di Jepang


Hari ini membaca berita di Tempo (14/8/2012) mengenai 10 Tokoh Penemu Nasional Versi Majalah Tempo, saya terpatung pada sebuah nama pada urutan ke tujuh, yaitu Khoirul Anwar, yang menemukan teori 4G tanpa Cyclic Prefix, cikal bakal teknologi 4G. Alasannya sederhana karena baru pekan lalu saya bertemu beliau, berbincang dan berdiskusi dalam gelaran acara buka puasa bersama yang kami adakan atas nama PPI Jepang Komisariat Toyama.

Singkatnya, kami dari PPI Toyama mengadakan acara buka puasa bersama dengan mengundang teman-teman muslim se-daerah Hokuriku yang mencakup wilayah Kanazawa, Fukui, dan Toyama sendiri. Pada awalnya kami tak mengundang beliau secara khusus, karena selain belum akrab, kami pikir beliau juga pasti sangat sibuk. Tetapi takdir Allah telah terancang sempurna. Ketika kami membutuhkan seseorang yang kapabel untuk memberikan tausiah dalam acara buka puasa, kami diarahkan untuk menghubungi beliau. Saya pun mencoba mengontak beliau dan pada saat itu telpon saya tidak diangkat (belakangan saya ketahui beliau lagi meeting). Dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak menghubungi beliau lagi karena takut mengganggu (terlebih segan). Tetapi tepat pada hari H, saya diminta menghubungi beliau lagi karena ternyata beliau akan datang ke acara kami. What a surprise !!!. Dan bertepatan pada pagi itu juga saya membaca hasil wawancara beliau dengan majalah KOMOREBI, majalah online petama KAMMI, Jepang, sehingga bisa lebih kenal mengenai beliau. Jadilah saya menghubungi beliau, dengan meminta maaf atas keterlambatan saya menelpon beliau, dan alhamdulillah, beliau pun bersedia mengisi tausiah diacara buka puasa kami.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya bertemu beliau, karena tiga pekan lalu saya juga sempat bertemu beliau di Kongres PPI Jepang yang dilaksanakan di Kobe, walaupun saat itu saya tidak sempat ngobrol dan berkenalan dengan beliau. Jadilah pertemuan diacara buka puasa itu adalah kali pertama saya berkesempatan langsung berdiskusi banyak hal dengan beliau. Kesan saya terhadap pria kelahiran Kediri tahun 1978 ini adalah ada aura ketenangan ketika menatap beliau. Kecerdasan nampak dari tutur katanya yang terjaga, dan hanya dengan mengobrol dengan beliau maka semburat semangat seolah-olah terpancarkan ke dalam diri saya. Saya hanya selalu berucap subhanallah, begitu baik aura ayah 4 anak ini.

Saya akan mencoba menguraikan beberapa hal yang saya ketahui mengenai beliau (yang selanjutnya mungkin akan saya sebut dengan nama) dari hasil membaca profil beliau yang tersebar di internet, hasil wawancara beliau dengan majalah KOMOREBI dan hasil diskusi saya sendiri dengan beliau. Berikut sekilas kisah Tunas Bangsa yang Mekar di Jepang ini.
Khoirul Anwar lahir dari pasangan Sudjiarto (alm) dan Siti Patmi yang berprofesi sebagai petani yang tak memiliki riwayat pendidikan. Pada saat baru saja lulus dari Sekolah Dasar (1990), Khoirul menjadi yatim setelah ayahnya meninggal karena sakit. Biaya hidup dan sekolahnya kemudian hanya ditanggung oleh ibunya seorang.

Dari SD hingga kuliah, Khoirul Anwar selalu berprestasi sehingga ia meraih bea siswa yang dapat meringankan orang tuanya. Walaupun didera kemiskinan, dia selalu memiliki jalan untuk terus melanjutkan pendidikannya. Bahkan ketika dia harus melanjutkan studi SMA nya di Kediri, tiba-tiba saja ada yang menawarinya kosan secara cuma-cuma.

Satu hal yang dia selalu ingat adalah ketika ingin mendaftar masuk ITB dia diharuskan membayar uang registrasi (pembangunan) sebesar Rp. 850. 000,- pada saat itu dan untuk itu kakeknya rela menjual sapinya untuk membiayai Khoirul.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di ITB selama 4 tahun dengan gelar Cum Laude, Khoirul Anwar bekerja selama 2 tahun di PT. Astra Graphia Information Technology, Sunter, Jakarta, sebelum mendaftar beasiswa Panasonic untuk studi lanjut program magister ke Jepang. Khoirul Anwar menjadi salah satu dari lima orang penerima Panasonic Scholarship. Alasannya memilih Jepang sederhana karena beliau terisnpirasi oleh penemu Yagi-Uda Array Antenna yang banyak digunakan di Indonesia. Antena yang berbentuk panah yang digunakan untuk menangkap siaran televisi ini ditemukan oleh Yagi-Uda Sensei (yang monumennya dapat ditemukan di Tohoku University).

Khoirul Anwar mengakui bahwa tahun pertamanya di Jepang begitu sulit, disamping karena baru menyesuaikan diri, pada saat itu juga dia harus belajar bahasa Jepang dan mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas. Karena jika gagal berarti dia harus kembali ke Indonesia. Diapun berpesan bahwa dalam belajar di Jepang, kita harus tahu nilai-nilai filosofis dari sebuah materi yang hanya dapat diketahui dengan banyak bertanya ‘mengapa demikian’. Karena menurutnya, soal-soalnya ujian pasca sarjana tidak susah dan ‘hanya’ mencakup nilai-nilai filosofis tersebut.

Selama studi magister Khoirul Anwar mengikuti seminar presentasi (gakkai) sebanyak 20 kali yang artinya kurang dari dua bulan sekali ada hasil baru yang mampu dia publikasikan. Sebuah pencapaian luar biasa. Menurut beliau, hal ini bisa dia capai karena kemanapun dia pergi, misalnya lagi menunggu kereta, diatas kereta atau bus, ke tempat belanja, beliau selalu membawa jurnal-jurnal ilmiah untuk dibacanya dan ketika dia mendapatkan ide, dia kemudian langsung kembali ke laboratorium untuk mengaplikasikan ide-idenya. Ketika berhasil segera dia menuliskannya kedalam bentuk jurnal ilmiah yang siap dipresentasikan. Pencapaiannya saat master ini membuat senseinya sendiri takjub.

Alasan beliau bekerja begitu keras saat itu, karena beliau berpikir bahwa bea siswanya hanya mencakup bea studi magister, sehingga beliau berpikiran stelah master beliau akan kembali ke Indonesia, maka dari itu beliau ingin mengetahui sebanyak mungkin ilmu yang bisa dia dapatkan. Dia juga bercanda mengatakan bahwa dengan banyaknya hasil riset penelitian dia bisa berkeliling dunia gratis karena mengikuti berbagai seminar. Maret 2005, pria yang mengangumi Eisnten dan Thomas Alfa Edison ini, menyelesaikan studi masternya hanya dalam waktu 1,5 tahun (di jepang normalnya 2 tahun) sebagai salah satu wisudawan terbaik.

Karena prestasinya, Khoirul Anwar mendapatkan bea siswa dari sebuah perusahaan Jepang untuk melanjutkan studi S3 nya di kampus yang sama, Nara Institute of Science and Technology (NAIST). Meskipun mengaku lebih menahan diri dalam berkarya saat studi doktoral tetap saja progresifitasnya dalam berkarya dan berprestasi tidaklah berkurang. Maret 2008, Khoirul Anwar pun kembali tercatat sebagai salah satu wisudawan terbaik pada program doktor Graduate School of Information Science, NAIST. Dari disertasinya dia memiliki hak paten dari Jepang dan Amerika dan kini teknologi tersebut digunakan oleh sebuah perusahaan satelit di Tokyo.

Sangat menarik mengetahui pandangan Khoirul Anwar mengenai paten ini. Dia ingin karyanya bisa digunakan oleh semua kalangan sehingga dia tidak berniat memperpanjang masa berlaku paten karyanya (patennya berusia 25 tahun) walaupun itu memungkinkan. Baginya paten bukan untuk membuat orang terkenal tetapi bagaimana dengan paten tersebut bisa mendorong para peneliti untuk bisa terus berkarya.

Royalti paten pertamanya dia persembahkan untuk ibunya tercinta yang kini berada di Kediri sebagai bentuk penghargaannya kepada orang tua.

Setelah mendapatkan gelar doktornya Khoirul sempat hendak pulang ke Indonesia untuk berkarya. Dia pun mencoba peruntungannya ke ITB, almamaternya. Tetapi dari pihak ITB, Khoirul diminta untuk menunggu hingga bulan oktober, padahal saat itu adalah bulan maret. Lalu panggilan untuk menjadi asisten professor di NAIST tiba dan Khoirul pun akhirnya menyetujuinya. Diapun menjadi asisten professor di NAIST selama dua tahun. Setelah menyelesaikan kontraknya, kemudian dia dilamar oleh Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST) untuk juga menjadi asisten professor hingga kini.

Sumber

UGM Kembangkan Vaksin Rotavirus

foto: indonesiaproud.wordpress.com
Prof. dr. Sri Suparyati,Sp.A.(K),Ph.D.

Strain rotavirus di Indonesia berubah menjadi G9 yang langka. YOGYAKARTA --Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Melbourne University bekerja sama dengan Biofarma tengah membuat vaksin rotavirus. Saat ini, vaksin tersebut sedang dalam tahap uji laboratorium Fase II (melihat daya proteksi) dan disusul uji klinis di Indonesia tahun depan.

Rotavirus adalah virus yang mengakibatkan diare pada anak. Di Indonesia, kata Ketua Tim Peneliti Rotavirus UGM dr. Sri Suparyati Soenarto, PhD, SpA(K) kepada Republika, pekan lalu, kematian anak yang mengalami diare akibat rotavirus cukup tinggi. Sedikitnya satu dari lima anak diare itu akibat rotavirus. Rotavirus ditemukan pertama kali oleh Ruth Bishop (Australia) tahun 1973. Di Indonesia rotavirus ditemukan pada 1976, setelah Yati bekerjasama dengan Ruth Bishop. Rotavirus kemungkinan masuk ke tubuh manusia bukan hanya lewat oral tapi juga melalui saluran pernafasan. Itu, kata Yati, panggilan dr Sri Suparyati, karena sebagian dari kasus-kasus rotavirus ada batuk pileknya. 'Kalau hanya ditularkan secara oral seperti disentri, maka dengan gerakan cuci tangan dengan air bersih dan sabun kejadiannya jauh lebih rendah.' Karena itu pula rotavirus masih tetap menjadi momok di negara maju. Untuk mencegahnya, selain dengan gerakan cuci tangan dengan sabun demi menghindari disentri juga harus menggunakan vaksin rotavirus. Sayangnya di Indonesia, vaksin ini belum ada. Namun karena rotavirus generasi awal itu strainnya sama dengan yang di dunia, G1, G2, G3, dan G4, maka vaksin yang sudah ada di negara lain bisa digunakan. 'Tahun 2005, strain rotavirus di Indonesia berubah menjadi G9. Ini jenis jarang meski sempat ditemukan di India,' kata Yati lagi. Saat ini Amerika, hampir di semua negara Eropa, Cina, India, Bangladesh dan Filipina, sudah menggunakan vaksin rotavirus. Bahkan di Filipina dan Amerika vaksinasi rotavirus termasuk diwajibkan.

Sementara itu di Indonesia vaksinasi rotavirus belum ada. Rotavirus diberikan 2-3 kali pada bayi usia 6-8 minggu. Harganya memang masih mahal Rp 300 ribu-500 ribu satu kali vaksin. Jika digunakan massal, menurut Yati bisa lebih murah sebagaimana hepatitis B. Saat ini vaksin rotavirus buatan Merck dan GSK) sudah masuk proses izin di BPPOM. 'Apabila disetujui Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan), kami sudah menyiapkan delapan rumah sakit (enam rumah sakit pendidikan, RSUD Kodya Yogyakarta dan RSUD Purworejo) untuk post marketing surveillens vaksin rotavirus,'kata dr. Yati. Vaksin diharap bisa mengurangi diare akibat rotavirus. Berdasar metaanalisis di seluruh dunia, setiap anak minimal mengalami diare satu kali setiap tahun. Dari setiap lima pasien anak yang datang karena diare, satu di antaranya akibat rotavirus. Kemudian, dari 60 anak yang dirawat di rumah sakit akibat diare satu di antaranya juga karena rotavirus. 'Ini angka yang cukup tinggi,' kata dr. Yati. Di Jakarta dan Surabaya sekitar 21-42 persen balita meninggal akibat diare dari rotavirus. Persentase yang lebih tinggi ditemui di tingkat Asia. Rata-rata dengan angka di atas 50 persen. Di Korea bahkan kasus diare akibat rotavirus 73 persen. Untuk tingkat dunia, 440 ribu kematian anak setiap tahun meninggal akibat rotavirus. Di Indonesia kematian anak mencapai 240.000 orang per tahun. Kematian anak karena diare 50.400 orang. Dari jumlah itu 10.088 anak di antaranya akibat rotavirus.

'Rotavirus menyebabkan diare berat. Jadi jika pasien tidak dirawat di sarana kesehatan yang memadai, kemungkinan besar ia meninggal,' kata Ketua Program Studi Kesehatan Anak FK UGM/RS. Dr Sardjito ini. Fakta Angka 50.400 Kematian anak akibat diare per tahun di Indonesia (nri )

Tambahan (Red)
Kiprahnya dalam meneliti penyakit diare pada anak ternyata menghasilkan ide untuk memproduksi vaksin rotavirus yang diproduksi sendiri oleh Indonesia. Vaksin yang dijual saat ini relatif mahal. Bekerja sama dengan Melbourne University dan PT. Biofarma, vaksin produksi Indonesia ini disepakati akan dipasarkan pada tahun 2012.

Evvy Kartini: Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas


Di kalangan internasional, Dr. Evvy Kartini memiliki reputasi terhormat. Ia dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik berbahan gelas dengan teknik hamburan netron yang berdaya hantar sepuluh ribu kali lipat dari bahan sebelumnya. Penemuannya itu membuka peluang produksi baterai mikro isi ulang. Material kaca yang lebih elastis, secara logika bisa dibentuk semungil dan setipis mungkin. Revolusi baterai pun di depan mata. Baterai tidak lagi identik berpenghantar elektrolit cair.

Sebelum menemukan bahan-bahan gelas berpenghantar listrik superionik, dibutuhkan percobaan mahal. Inilah yang sempat membuatnya hampir putus asa. Biaya dan fasilitas penelitian di Indonesia, termasuk Batan, tidak memungkinkannya. Beruntung, Evvy, penerima penghargaan Indonesia Toray Science Foundation/ITSF 2004 ini bukanlah tipe yang mudah putus asa. Dikirimkannya proposal itu ke lembaga penelitian di Kanada.

Ketertarikan sarjana Fisika lulusan ITB itu terhadap pengembangan material gelas berawal pada saat ia magang di Hahn Meitner Institute (HMI) di Berlin, Jerman, 1990. Ia dibimbing ahli hamburan netron Prof Dr Ferenc Mezei.

Karier penelitiannya dimulai saat menyelesaikan S2-nya di Universitas Teknik Berlin. Ia berhasil menemukan model baru difusi dalam material gelas. Penemuan itu dipresentasikan pada Konferensi Internasional Hamburan Netron (ICNS) Jepang. Maka namanya mulai tercatat dalam jurnal penelitian internasional bergengsi seperti Physica B (1994). Sejak itu, tawaran presentasi dan konferensi mengalir deras.

Tahun 1996, melalui kolaborasinya dengan profesor dari Universitas Mc Master, Kanada, Evvy kembali menemukan hal baru: adanya puncak Boson pada saat energi rendah. Temuan itu dipresentasikannya pada 600 peserta konferensi hamburan netron Eropa I/ECNS di Interlaken, Swiss. Namanya kembali tercatat dalam jurnal internasional, Canadian Journal of Physics (1995), Physical Review B (1995), dan Physica B (1997).

Ia pun mulai berkolaborasi dengan profesor dari Organisasi Sains dan Teknologi Nuklir Australia (ANSTO). Profesor itulah yang membuka jalan untuk berkolaborasi dengan banyak profesor lain di negara maju.

Penelitian tentang bahan-bahan superionik berbahan gelas ia mulai tahun 1996, sepulang dari Jerman. Ia sempat frustrasi karena terbatasnya fasilitas, tetapi tetap tekun menyiapkan eksperimen, seperti difraksi Sinar X dan pengukuran suhu serta konduktivitasnya, untuk dikirim ke Chalk River Laboratory, Kanada.

Tahun 1998 ia menerima penghargaan Riset Unggulan Terpadu (RUT) VI dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi atas penelitiannya berjudul "Sintesa dan Karakterisasi Bahan-bahan Gelas Superionik (AgI)x(AgPO3)1-x". Tahun itu juga, ia menerima tawaran program postdoctoral di Kanada.

Sungguh kebetulan. Ia tidak perlu menyupervisi contoh yang akan dieksperimen di Kanada. Bersama Prof Dr MF Collins, ia mencoba memahami mekanisme konduksi dari bahan gelas bersifat superionik dan mengamati ketergantungan suhu bahan-bahan superionik.

Saat itu pula ia mulai berkolaborasi dengan para profesor peneliti netron dari Jepang dan Inggris, negara-negara terkemuka dalam penelitian netron. Kolaborasi menghasilkan fenomena dinamika ion dalam bahan-bahan gelas. Penemuan besar yang dicari para ilmuwan dari berbagai belahan dunia.

Dalam tempo dua tahun, 1998-2000, namanya tercatat di sepuluh jurnal bergengsi sebagai peneliti utama. Selain tercatat di jurnal Physica B, Evvy juga menulis buku Solid State Ionics (2001) bersama profesor dari Jepang.

Di tengah kepopulerannya di kalangan fisikawan negara maju, dan berbagai bujukan dengan segala fasilitas untuk berkiprah di luar negri, namun istri Dr Ir Pratondo Busono (Kepala Bidang Instrumentasi Kedokteran BPPT) mengatakan tetap ingin bertahan di Indonesia. Ia mengaku masih ingin bebas meneliti dan memberikan ilmunya untuk kemajuan negeri ini.

Sumber

Nurul Taufiqu Rochman: Pembuat Alat Berteknologi Nano dari Kekayaan Alam Indonesia


Bongkahan batu alam tergeletak di dalam kardus di ruangan yang tak terlalu luas itu. Serbuk silika berwarna kuning, pasir besi, beberapa alat pemotong besi, dan pemisah magnet tampak berserakan di lantai berlapis kayu. “Beginilah kalau sedang bekerja, berantakan,” ujar Dr Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng. Di ruang berukuran 5 x 8 meter itulah peneliti fisika di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspiptek Serpong, Tangerang, ini melakukan riset teknologi nano.

Ruangan yang terletak di lantai dua Pusat Penelitian Fisika LIPI itu nyaris seperti kapal pecah. Sejumlah diktat dan proposal berserakan di atas meja. Beberapa unit komputer serta alat-alat eksperimen rakitan Nurul dan delapan stafnya juga belum dibereskan. 

Malam itu, pria lulusan Kagoshima University, Jepang, ini menunjukkan kehebatan pemisah magnet temuannya. Nurul tak perlu terbang jauh ke luar negeri untuk membeli komponen alat itu karena tersedia di Glodok, Jakarta Barat. Nurul memasukkan sejumput pasir besi ke alat tersebut. Setelah diputar, pasir yang mengandung besi oksida turun dan yang tak mengandung besi oksida menempel pada lempengan karet yang melengkung ke bawah. 

Dari serbuk pasir yang telah dinanokan itu bisa dibentuk batangan besi dan tabung besi. Menurut Nurul, pasir besi sangat mudah dicari. “Sekilo paling cuma Rp 250. Kalau sudah dinanokan, bisa mencapai Rp 1 juta. Ini peluang bisnis untuk mengolah kekayaan alam Indonesia,” ujarnya. 

Teknologi nano yang sederhana dan pengolahan yang tak rumit membuat pasir besi selanjutnya bisa diolah menjadi tinta printer seharga Rp 250 ribu. Kekayaan alam Indonesia yang melimpah itulah yang membuat Nurul pulang kampung setelah 15 tahun kuliah dan bekerja di Negeri Sakura. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 5 Agustus 1970, itu menyelesaikan S1 sampai S3 teknik mesin di Kagoshima University atas biaya Habibie Center. 

“Saya gemes banget. Apa yang mungkin orang lain tidak lakukan, saya bisa kerjakan. Makanya saya ingin di bengkel ini mestinya juga lahir Apollo berteknologi nano,” katanya seraya menunjuk sejumlah mesin. 

Peraih Ganesha Widya Jasa Adiutama Award dari Institut Teknologi Bandung pada 2009 itu bersemangat menciptakan alat-alat baru berteknologi nano yang belum ada di dunia dari kekayaan alam Indonesia. 

“Di tangan saya dan tim, alat semacam ini harganya cuma Rp 5 sampai Rp 20 juta.” ujar Nurul sembari memperlihatkan milling gerak elips 3 dimensi yang difungsikan sebagai penghancur partikel nano. Alat itu telah dipesan sebuah universitas di Malaysia. “Alat ini tidak ada duanya di dunia. Kalau yang sudah ada keluaran luar negeri hanya mengocok, namun kalau bikinan saya nggak hanya mengocok, tapi juga berputar.


Tak banyak orang awam yang akrab dengan teknologi nano. Nanometer artinya satu per satu miliar meter. Sesuai dengan namanya, teknologi ini berkaitan dengan penciptaan benda-benda kecil, yang mencakup pengembangan teknologi dalam skala nanometer, biasanya 0,1 sampai 100 nanometer. Satu nanometer sama dengan sepersejuta milimeter. 

Ayah enam anak ini yakin, dengan teknologi nano, bukan tak mungkin bebatuan alam diubah menjadi intan, berlian, dan logam. Untuk mengolah kekayaan alam menjadi sesuatu yang lebih dahsyat, Nurul yang di Jepang dikenal sebagai doktor bidang rekayasa material itu membentuk komunitas Masyarakat Nano Indonesia dan ia menjadi ketuanya. 

Nurul juga dikenal sebagai sebagai penemu teknologi eliminasi kandungan timbel (Pb) pada logam kuningan melalui daur ulang. Teknologi yang dipatenkan di Jepang pada Mei 2003 itu membuat jutaan meter kubik limbah kuningan di Jepang menjadi barang berharga lagi. 

Dengan segudang prestasi, ia sebenarnya bisa hidup mapan di Jepang. Namun, setelah menyelesaikan program doktor pada 2000, Nurul yang pernah setahun bekerja di perusahaan pipa, shower, dan aksesori kamar mandi Kyusutabuchi–memilih pulang ke Indonesia. Ia menolak tawaran menjadi pegawai di Jepang dengan gaji besar. 

“Dulu, ketika saya masuk LIPI, hanya ada meja dan kursi. Lalu saya membuat alat sendiri. Sekarang ruangan sudah penuh dengan alat, sekitar sembilan sudah saya patenkan atas nama LIPI dan menyusul tiga lainnya nanti.” 

Kini peraih predikat doktor cum laude itu masih mengembangkan nanosilika sejak 2004. Nanosilika ini sudah dipatenkan di Indonesia atas namanya pada Juli 2006. “Nanosilika bila dicampur dengan adonan semen dapat memperkuat beton dua kali lipat.” 

Ia juga telah mematenkan alat peraga nano-edu pada Juni 2006. Jepang sudah membelinya 300 unit. Selain meneliti, Nurul dan kawan-kawan di komunitas Masyarakat Nano Indonesia membuka Bamboo Futsal, lapangan futsal di Jalan Raya Serpong, tak jauh dari kantornya. Malam itu Nurul dan istrinya mengajak mencicipi bakso di Resto Bamboo. 

“Di sini kadang ide mengalir. Kami berdiskusi. Seusai main futsal, lalu makan bersama,” kata Nurul, yang melengkapi lapangan indoor itu dengan kedai makanan, seperti sate dan bakso semut Singosari racikan adiknya dari Malang, serta kedai minuman. Nurul enggan menyebutkan omzet lapangan futsal itu dan berapa dana yang mengalir untuk bisnis teknologi nano. “Memang ada sebagian dari sini (usaha futsal) untuk pengembangan bisnis inkubasi nano partikel.” 

Prestasi Nurul rupanya dilirik oleh Arab Saudi. Melalui surat, Raja Arab Saudi menawarinya bekerja mengembangkan teknologi nano di negeri kaya minyak itu. “Gajinya Rp 45 juta setiap bulan, tapi saya masih cinta Indonesia.”

Sumber

Hokky Pecahkan Rahasia Batik dengan Teori Kompleks

image: jpmi.or.id

TEMPO.CO Jakarta - Hokky Situngkir berhasil memecahkan rahasia batik, sebuah lagu daerah, Candi Borobudur dan pergerakan saham dengan memakai teori kompleksitas. Kini, Hokky sedang melakukan penelitian aspek arkeologi-astronomi situs purbakala Gunung Padang di Cianjur dengan teori kompleksitas.

Perkenalan Hokky dengan teori kompleksitas bermula dari kegiatannya berselancar mencari referensi di Internet tentang konflik horizontal di berbagai negara pada 2000. Aktivis mahasiswa Institute Teknologi Bandung ini melakukannya karena merasa ada yang keliru dengan segala macam teori sosial berikut ideologi yang dikupas setiap hari dalam diskusi.

Pencarian lulusan jurusan Teknik ELektro ITB 2001 ini awalnya berfokus pada tulisan Elisabeth Jean Wood, pengajar ilmu politik Yale University, di salah satu buletin yang dikeluarkan Santa Fe Institute.

Wood memetakan konflik antaretnis yang melibatkan kelompok bersenjata di El Salvador dengan menggunakan game theory. Wood yang berlatar belakang matematikawan menggarap kajian sosial dengan menggunakan pendakatan berbagai ilmu.

Penelusuran lebih mendalam di Internet membuatnya bertemu dengan teori kompleksitas yang dikembangkan Santa Fe Institute, lembaga riset di Santa Fe, New Mexico, Amerika Serikat. Teori yang ini lahir pada akhir abad ke-20 ini merangkul berbagai disiplin ilmu untuk menjelaskan suatu persoalan.

Begitu terpesonanya oleh teori ini, Hokky mendirikan Bandung Fe Institute, mengambil nama Santa Fe Institute. Riset awalnya adalah meneliti batik. Dia ingin membuktikan batik bukan ornamen tetapi lukisan yang disejajarkan dengan karya Leonardo da Vinci, Raphael, atau Michelangelo.

Hipotesisnya berangkat dari pertanyaan, di mana karya lukis orang Jawa ketika membuat Candi Borobudur yang begitu kompleks. Dia kemudian mewawancarai akademisi dan penggiat seni lalu berburu aneka motif batik ke museum-museum.

Pola batik kemudian diterjemahkan dalam rumus fraktal atau matematika. Hasilnya kemudian dimodifikasi dengan bantuan komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam, baik dilihat dari grafis, warna, ukuran, sudut maupun perulangannya. Proses pembuatan motif batik fraktal dapat memecahkan masalah keterbatasan motif batik dan dapat menghasilkan banyak motif secara cepat.

"Kami mendapati keunikan dalam dimensi fraktal batik dan menunjukkan bahwa batik adalah lukisan." ujar Hokky seperti dalam Majalah Tempo edisi 13 Agustus 2012.

Menurut Hokky, pola fraktal juga terlihat pada pigmentasi kerang, pola sulir cangkang kerang, bentuk-bentuk rumit bunga salju, atau pertumbuhan sel kanker. Termasuk beberapa pola pergerakan harga saham dan indeks dalam ekonomi.

Cara berpikir dengan pendekatan goemetri fraktal ini kemudian digunakannya untuk membuktikan pengukuran di setiap sudut candi Borubudur. Selain itu, dia juga menggunakannya untuk menganalisis lagu-lagu daerah.

Ketekunan Hokky menemukan ini membuatnya mendapat julukan "Bapak Kompleksitas Indonesia" dari profesor Yohanes Surya.

RINA WIDIASTUTI