Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

Monday, January 23, 2012

How To Write Novels

By 

Expert Author James MarineroCan you learn how to write novels, or does it require a special gift? The nub of this question is about skill versus ability - skills can be learned, abilities are innate. Arguably, writing is a skill. However, the quality of your work will depend on ability.

Here are my personal guidelines to help you make a start writing books. Many writers will tell you that going on creative writing courses will help. Maybe. I learned most of them the hard way.



Know The Competition

Read widely in your genre - you need to know the competition, particularly the best writers. This is a good place to begin learning how to write novels, because you see what sells (but remember that good marketing can sell poor quality work).

Plan The Story In Advance (Or Not)

Many successful writers start out with a plan for a book: start, middle and end, with the plan pinned up on a wall. Then they add character profiles and flesh them out. It is much easier to do this if you have a plot in mind. I just can't write books this way even if I have a good plot to start with. I like writing a book to be a journey of discovery for me as well as the reader. Find which method works for you.

How To Write Novels - Sit Down And Write

It will force you to think about 'point of view' ('POV'). Who is speaking in the story you are writing - that is, whose point of view is it? There are many technical perspectives here, but the rule is - decide your POV and stick to it.

A Plot Will Emerge

Don't worry if you don't have a plot. Imagine your main character (MC), and start describing him. Then, describe a typical day. Where is the MC - maybe at a beach you know well? Many authors set their stories in their home town.

The act of writing should engage your brain and your creative side.

The school of life is a wonderful teacher, so draw on your experiences whenever you can. People write best about what they know. Research thoroughly those areas you don't know well, making notes as you go along.

If you are still struggling to develop a plot, then go back to your main character, and spoil his day. Maybe an accident happens to him, or his home gets burgled. Write about that, about what led up to those events, who the players were. Was it a conspiracy? Did he have a secret life?

Show And Tell

Many writers tell the bulk of the story using dialogue between characters ('showing') in preference to a plain narrative, which can become tedious unless the author is adroit. A good story will have both, though there are authors who can break the 'rules' completely, and get away with it. If you are just starting out, though, and hope to get published, it's best to adhere to the rules.

Grammar And Punctuation

If you are weak in these areas, don't worry, an editor can correct them. Writing books is about much more than grammar if you have a good story to tell. If you really are below par in this respect then it would be best to engage a professional proof editor before sending your manuscript to a prospective publisher or agent.

Finally

The main 'rule' is - just do it. Write the first word, then the sentence and so on. Don't be too ambitious with your early goals. Write your next hundred words. As you write, ideas should spark - note them on a pad, for inclusion later. Join some author forums, and meet other authors - there are thousands of aspiring novelists learning how to write novels, and swapping ideas. It is a great way of learning the craft.

The author writes spy novels and thrillers, and non-fiction too. Get more guidance on how to write novels - specifically, plot development at his web site and discover other pointers to writing books and fact checking. There's always more to learn!

Article Source: http://EzineArticles.com/?expert=James_Marinero

Wednesday, May 25, 2011

penulislepas.com


Apakah Anda rindu memajang karya Anda di internet? Situs PenulisLepas.com merupakan salah satu situs penulis berbahasa Indonesia yang menerima naskah nonfiksi seperti artikel, esai, dan resensi. Sebelum mengirimkan naskah, Anda perlu mendaftarkan diri sebagai anggota situs tersebut. Namun demikian, redaksi PenulisLepas.com tidak menyediakan honor untuk karya-karya yang dimuat.
Penulis lepas juga hadir dengan berbagai pilihan artikel yang dikategorikan secara sistematis seperti Bahasa dan Sastra, Bisnis, Dunia Maya, Gaya Hidup, Hukum, Karir, Motivasi, Pendidikan, Politik, Resensi, Sains, dll.. Fasilitas pencarian artikel di pojok kanan atas memanjakan para pengunjung untuk melakukan pencarian yang berdasarkan kata kunci. Menariknya, PenulisLepas.com juga menginformasikan berbagai lomba, seminar dan lokakarya penulisan. Walaupun bukan merupakan situs Kristen, PenulisLepas.com cocok sebagai media untuk belajar dan berlatih menulis. (TAP)


Cara Mendisiplinkan Diri Demi Karier Kepenulisan


Profesi penulis sering dikaitkan dengan kemewahan. Popularitas J.K. Rowling dan Stephen King memang memunyai daya tarik tersendiri, sebab dalam sekejap mereka sudah melihat buku-buku mereka masuk dalam daftar buku laris versi surat kabar New York Times dan meraup jutaan dolar dari royalti mereka. Sayang saja, menulis memerlukan disiplin ketekunan sebagaimana pekerjaan lainnya. Jika Anda rindu menjadi seorang penulis penuh waktu atau penulis lepas, Anda perlu mengembangkan keahlian yang tepat dan belajar mendisiplinkan diri. Dengan demikian, Anda bisa merasa yakin akan sukses!
  1. Menulislah!
    Tidak seorang pun belajar bermain piano hanya duduk-duduk di sofa sembari menonton sinetron atau sekadar membayangkan kunci-kunci piano. Keahlian menulis juga perlu diasah sampai kata-katanya mulai dapat dinikmati oleh penulis dan pembaca.
  2. Luangkanlah waktu untuk menulis.
    Agar Anda bisa berkonsentrasi, Anda perlu menetapkan waktu tertentu tanpa boleh diganggu. Artinya, Anda perlu disiplin. Terkadang kata-kata tidak akan mengalir; kalau terjadi demikian, Anda sebaiknya tetap duduk menatap layar atau lembaran kertas sampai waktu menunjukkan sesi menulis Anda sudah berakhir. Disiplin menuntut Anda wajib menulis, walaupun Anda merasa enggan.
  3. Buatlah riset tentang bahan yang Anda tulis.
    Penulis fiksi dan nonfiksi perlu meneliti bahan-bahan yang mereka butuhkan kecuali mereka sekadar menulis opini atau surat kepada penyunting. Kebanyakan penulis menganggap bagian ini terasa cukup membosankan. Biasanya, penulis begitu mencintai kegiatan tulis-menulis, alih-alih melakukan riset tentang subjek tertentu; mereka mengangap penelitian itu akan mengurangi jatah menulis mereka. Namun, apa pun yang Anda tulis harus didasarkan pada fakta. Jika tidak demikian, pembaca akan meninggalkan tulisan Anda begitu saja karena mereka telanjur tidak memercayai tulisan Anda. Walaupun perpustakaan adalah sumber yang bagus untuk melakukan riset sebuah subjek, Anda dapat mempercepat proses penelitian dengan menggunakan sarana internet.
  4. Berkelompoklah dengan penulis lain!
    Tidak seorang pun langsung menjadi hebat tanpa pertolongan dari mereka yang menghargai tulisan seperti penulis. Klub penulis atau grup diskusi penulis dapat menjaga motivasi Anda untuk melanjutkan proses menulis Anda. Bergaul dengan orang-orang yang berpandangan sama dapat membukakan jalan bagi Anda untuk bertemu penyunting atau penerbit yang sedang mencari penulis untuk publikasi komersial.
  5. Pebisnis dan penulis memunyai satu kesamaan: mereka sama-sama orang yang kuat membaca.
    Jika Anda tidak banyak membaca, Anda tidak dapat mengembangkan gaya penulisan yang unik. Anda tidak mengetahui apakah yang digemari khalayak sehingga membuat Anda gagal memoles kata-kata yang menyenangkan mereka. Anda dapat menajamkan keunikan talenta Anda hanya dengan membaca.
  6. Terbitkanlah sesuatu.
    Bahkan sekalipun tidak dibayar, tercetaknya nama dan artikel Anda di koran lokal dapat menjadi batu loncatan menuju karier yang baru. Agar banyak penerbit di dunia maya bersedia menerima tulisan Anda, Anda harus bersedia mendapat sebuah kritikan dan uang jasa yang minim. Pertimbangkanlah beberapa situs ini: Helium, Suite 101, Ehow, Associated Content, Constant Content, dan Submit Your Article. Jika Anda seorang penulis, Anda harus memunyai sebuah blog yang bisa menampung ekspresi dan tulisan Anda yang lain. Blogger dan Word Press menawarkan blog gratis.
  7. Bersenang-senanglah.
    Walaupun tidak mendapat bayaran, banyak penulis menulis karena mereka dibuat bahagia saat menulis. Jika Anda menemukan jalan buntu, cobalah bentuk penulisan yang lain agar Anda dapat merasakan hembusan yang menyegarkan. Jika Anda menulis artikel, cobalah menulis fiksi, puisi, atau surat untuk redaksi atau seorang teman. Tulislah tip-tip atau ulasan buku. Tulisan-tulisan itu mungkin tidak untuk diterbitkan, namun temukanlah kesenangan pada saat mengerjakannya!
Yang Anda butuhkan untuk menerapkan disiplin menulis:
  1. Pemroses teks, sebuah catatan harian, jurnal, blog, atau apa pun yang bisa menampung tulisan Anda.
  2. Teman yang sama-sama mencintai dunia tulis-menulis.
  3. Bahan bacaan -- semakin beragam, semakin bagus.
  4. (t/Uly)
Diterjemahkan dari:
Nama situs:e-How
Judul asli artikel:How to Discipline Yourself for a Writing Career
Penulis:MisterMagica
Alamat URL:http://www.ehow.com/

Sumber : 


Perjalanan Sang Penulis, John Bunyan


Dirangkum oleh: Truly Almendo Pasaribu
John Bunyan lahir pada tahun 1628 di sebuah kota kecil bernama Elstow, Bedford, di sebelah selatan Inggris. Tidak seperti penulis besar lainnya, dia berasal dari keluarga yang sangat sederhana sehingga dia tidak dapat mengenyam pendidikan. Ayahnya adalah seorang tukang patri, yaitu seseorang yang bekerja memperbaiki panci dan belanga, serta melakukan pekerjaan menempa lainnya. Pekerjaan ini diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga sulit baginya untuk keluar dari jerat kemiskinan.
Akan tetapi, perubahan besar terjadi di bidang politik pada masa itu. Tahun 1640, Revolusi Inggris pecah. Terjadilah pertempuran berdarah antara tentara Raja Charles I dan tentara parlemen. Bunyan dan sebagian besar anak muda di Bedford direkrut untuk menjadi tentara parlemen. Akhirnya tentara parlemen memenangkan pertempuran, dan negara Inggris berada di bawah kekuasaan Oliver Cromwell.
Sebagai seorang Puritan yang setia, Cromwell mengizinkan kebebasan untuk melakukan ibadah bagi kaum Puritan, Quaker, Baptis, Presbiterian, dan gereja-gereja non-Anglikan lainnya. Gerakan seperti inilah yang membuka kesempatan bagi John Bunyan untuk menjadi seorang pengkhotbah.
Setelah 8 tahun menjadi penguasa terkuat di Inggris, Oliver Cromwell meninggal. Negara menjadi kacau saat diperintah oleh anaknya, Richard Cromwell. Akhirnya, setelah revolusi berakhir Charles II [putra Raja Charles I] kembali ke Inggris dan mengambil takhtanya kembali. Keadaan pun berputar balik dan gerakan Puritan dilarang keras.
Kekacauan politis ini berdampak besar dalam kehidupan Bunyan. Karena tetap setia berkhotbah, Bunyan ditangkap dan dipenjara selama 11 tahun. John Bunyan dipenjarakan karena dia berkhotbah tanpa surat izin. Tentu saja, sebagai seorang non-Anglikan, dia tidak akan memperoleh surat izin walaupun dia sudah bertahun-tahun menjadi gembala di suatu gereja.
Di penjara Bunyan mulai menulis buku-buku yang menggambarkan kepercayaannya dengan kental. Autobiografi pertamanya, "Anugrah Berlimpah Bagi Pendosa Terbesar", berkisah tentang pertobatannya sebagai orang Kristen.
Tidak hanya buku autobiografi, banyak orang juga percaya bahwa dia mulai menulis bagian pertama "Perjalanan Sang Musafir" di penjara tersebut. Awalnya Bunyan mengurungkan niatnya untuk menerbitkan "Perjalanan Sang Musafir" karena buku tersebut merupakan karya fiksi. Akan tetapi, ketika dipenjara untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama, dia melanjutkan karyanya dan akhirnya menerbitkannya. Buku yang menggambarkan perjalanan [tokoh utama bernama] Kristen dari "Kota Kehancuran" ke "Kota Surgawi" ini merupakan alegori perjalanan jiwa yang sangat mengesankan. Buku ini berhasil meraih kepopuleran yang luar biasa sehingga dicetak dan diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa di dunia.
Selain itu, Bunyan meluncurkan buku, "The Life and Death of Mr. Badman" pada tahun 1680. Dua tahun kemudian, pengalaman militer Bunyan berperan penting dalam karyanya "The Holy War" yang berhasil mengikuti kepopuleran dua buku sebelumnya "Perjalanan Sang Musafir" dan "Anugrah Berlimpah".
Bunyan meninggal di London pada tahun 1688 akibat pneumonia. Penyakit itu dideritanya ketika dia harus berkuda melintasi hujan badai yang sangat dingin untuk mendamaikan seorang ayah dan anak laki-lakinya yang sedang bertengkar.
Dirangkum dari:
  1. Judul asli artikel:Lebih Jauh tentang John Bunyan
    Nama situs:SABDA.org: Arsip Publikasi Bio-Kristi
    Penulis:Dave dan Neta Jackson
    Alamat URL:http://www.sabda.org/publikasi/Bio-Kristi/015/
  2. Judul asli artikel : John Bunyan Life and Works Nama situs : suite101.com Penulis : Tel Asiado Alamat URL : http://greatthinkers.suite101.com
  3. Judul asli artikel : The Life of John Bunyan Nama situs : Christian Biography Resources Penulis : George W. Latham Alamat URL :http://www.wholesomewords.org

Mengenali Tujuh Kebuntuan Menulis


Artikel berikut ini akan memaparkan kepada Anda hal-hal yang tidak boleh Anda lakukan ketika menulis karena membuat Anda menemukan jalan buntu ketika melakukannya. Artikel ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi tembok-tembok yang menjebak penulis untuk tidak berkembang. Jangan lakukan hal-hal yang disebutkan di bawah ini.
Kebuntuan 1 -- Berpikir Sebelum Menulis
Pikirkanlah apa yang hendak Anda katakan. Pikirkanlah tentang bagaimana sebaiknya Anda menulis sebuah karya dengan benar; sebaiknya tulisan itu bagus dan orisinil; paling tidak, tata bahasanya tersusun dengan tepat. Pikirkan setiap orang yang akan membacanya -- terutama ibu Anda. Ambillah satu cangkir kopi dan berpikirlah lagi.
Kebuntuan 2 -- Lebih Baik Melakukan Penelitian Saja
Anda perlu mengetahui segala sesuatu tentang buah "kiwi", "tempat pelacuran", atau bagaimana cara memburu, membunuh, mengeluarkan isi perut, dan memanggang babi hutan sebelum Anda menyelesaikan bab berikutnya. Jika memungkinkan, lakukanlah penelitian Anda sendiri; petualangan baik untuk penulis. Jangan memulai tulisan Anda sama sekali sampai penelitian Anda tuntas.
Kebuntuan 3 -- Mencari Banyak Nasihat
Tunjukkanlah halaman pertama Anda atau sebagian "draf" Anda kepada pasangan atau orang-orang yang dekat dengan Anda -- teman-teman, atau bahkan dokter gigi Anda. Abaikanlah fakta bahwa salah satu definisi unta adalah kuda bagi suatu komunitas. Simaklah potongan-potongan nasihat yang bisa Anda dapatkan -- bahkan jika nasihat-nasihat tersebut saling berkontradiksi. Janganlah percaya kepada diri Anda sendiri!
Kebuntuan 4 -- Mengambil Hati Semua Komentar
Jika karya Anda dikritik dan mereka mengatakan bahwa karya Anda tidak sempurna, anggaplah bahwa sebenarnya mereka tidak menyukai diri Anda. Mencibirlah, menggerutulah, dan mengeluhlah tentang perlakuan yang tidak adil ini! Jika Anda dipuji dengan berlebihan atau diangkat sebagai Ernest Hemingway atau Erma Bombeck yang baru, jangan repot-repot menulis kembali atau memoles karya Anda sedikit pun. Langsung saja kirimkan karya itu. Ketika ditolak oleh redaksi, berhentilah menulis untuk selamanya.
Kebuntuan 5 -- Menanti Inspirasi
Periksalah horoskop harian Anda dan siklus biologi Anda. Jika Anda sedang beruntung, ada kaos kaki ungu di ember cucian; jadi, lebih baik mencuci pakaian daripada menulis. Rapikan meja Anda sambil menunggu inspirasi. Setidaknya Anda sudah berada dekat dengan mesin ketik; bersihkan tombol-tombolnya dan gantilah pitanya. Jika imajinasi Anda mulai menggoda, pergilah ke bioskop. Mungkin Anda ingin menulis naskah drama di kemudian hari.
Kebuntuan 6 -- Tunda! Tunda!
Menunda adalah pengukur prioritas yang luar biasa. Renungkanlah ini, jika Anda bisa menundanya begitu lama, Anda mungkin tidak perlu menuliskannya sama sekali. Seseorang akan melakukannya atau ide tersebut akan kadaluarsa. Jangan menulis sekarang. Besok akan lebih baik.
Kebuntuan 7 -- Tetaplah Serius!
Jangan pernah puas dengan sesuatu yang tidak sempurna. Ingatlah bahwa apa yang Anda kerjakan perlu menjadi sesuatu yang sangat penting. Jangan lupakan sedikit pun bahwa betapa banyak yang bergantung dalam penyelesaian proyek ini. Jika Anda merusaknya, Anda akan kehilangan muka, kehilangan kredibilitas, atau kehilangan akal Anda. Jangan pernah berhenti menekan diri Anda jika Anda ingin menampilkannya. Hasil dari kebuntuan penulis akan hilang dalam satu atau dua tahun -- setelah bahaya kesuksesan berlalu. (t/Uly)
Diterjemahkan dari:
Judul Asli Artikel:Writer's Blocks Make
Great Walls
Judul Buku:Anybody Can Write
Penulis:Roberta Jean Bryant
Penerbit:Barnes & Noble, Inc.,
New York 2002
Halaman:104 -- 106


Sumber :
http://pelitaku.sabda.org/mengenali_tujuh_kebuntuan_menulis

William Blake (1757 -- 1827)


William Blake terlahir di London sebagai putra seorang Irlandia. Semasa muda ia bekerja sambil belajar memperoleh keahlian sebagai seorang pemahat di Royal Academy, dan membiayai hidupnya sebagai pembuat ilustrasi untuk penerbit London. Ia sering merasa lemah dan nyaris tidak pernah dihargai sepenuhnya oleh penulis lainnya pada zamannya. Namun kini, Blake dihormati sebagai salah seorang tokoh paling masyhur sepanjang sejarah puisi dan kesenian.
Seperti penyair lain dari era Romantik, Blake melihat ke alam dengan penuh rasa ingin tahu yang menyegarkan. Ia menemukan misteri dan keindahan dalam kehidupannya sendiri. Tulisan dan karya seninya serupa dengan penyair Romantik lain, yang masih menyisakan sifat individualis. Satu ciri khas penting dari kepenulisannya ialah kebergantungannya pada simbol yang begitu rumit. Simbol-simbol itu kini telah menjadi jelas dan dipahami sepenuhnya oleh beberapa pembacanya.

Puisi awal Blake mampu bertutur sederhana seperti kanak-kanak. Puisinya yang dikenal paling baik ditemukan dalam "Songs of Innocence" (Kidung Kesucian), diterbitkan pada 1789, dan "Song of Experience" (Kidung Pengetahuan), diterbitkan 5 tahun kemudian. Setiap anak sekolah sudah di Inggris diajar tentang "The Tyger", yang dimulai dengan "Tyger! Tyger! Burning bright, in the forest of the night." (Macan! Macan! Nyala t'rang, di hutan tengah malam)
Pada bagian pendahuluan "Songs of Innocence", ia menulis:
"Piping down the valleys wild, Piping song of pleasant glee, On a cloud I saw a child, And he layghing said to Me."
(Bermain suling di lembah, Main-kan lagu riang gembira, Di awan tampaklah bocah, Ia tertawa dan berkata.)
Kecintaan Blake pada binatang sebagaimana kecintaannya pada anak-anak, tampak dalam puisinya, "Auguries of Innocence" (Ramalan Kesucian) yang berisi bait, "A Robin Red Breast in a Cage, Puts all Heaven in a Rage." (Murai Merah di Sangkar, Semua di Surga Gusar)
Munculnya perasaan untuk anak-anak dan binatang ini berasal dari kecintaan yang teramat hebat akan kebebasan; suatu kecintaan yang cenderung anarkis. Ia menyambut Revolusi Perancis dan menerima gagasan politiknya.
Buku pertama Blake tentang puisinya dicetak pada 1783, dan mencakup karya yang ditulis ketika ia masih remaja. Buku selanjutnya, seperti "Milton and Jerusalem" (Milton dan Yerusalem) dipublikasikan dengan beberapa ukuran, di antaranya diwarnai rancangan tangan Blake sendiri. Di dalam buku ini, teks dan ornamennya disatukan secara utuh, untuk dibaca dan ditafsirkan bersama-sama. Pada 1790, karya utama Blake berupa prosa dan lukisan, "The Marriage of Heaven and Hell" (Pernikahan Surga dan Neraka), menyerang realitas sesuatu dan menolak wewenang otoritas. Karya Blake yang lain, seperti "Vala and The Four Zoas" (Vala dan Empat Zoa), berisi karakter yang kompleks dengan gagasan mistik.
Tulisan utama Blake juga memberikan gambaran tentang penulis yang lain. Ia menulis ilustrasi-ilustrasi untuk kitab Ayub dari Perjanjian Lama dan "Divina Commedia" (Komedi Surgawi), yang dianggap sebagai karya agung Dante.
Diambil dan disunting dari:
Judul buku:Pustaka Pintar 100 Penulis yang Membentuk Sejarah Dunia
Editor:Karyani
Penerbit:Progres, Jakarta 2005



Sumber :
http://pelitaku.sabda.org/william_blake_1757_1827

Mengapa Menulis Itu Menyenangkan?


Seperti penulis lain, Priska ingin menghasilkan karya tulisan yang hebat! Priska duduk manis menghadap komputer dan menunggu jari-jarinya menari ajaib di atas papan ketik. Dia heran mengapa keajaiban itu tidak kunjung datang. Setelah lewat beberapa menit, dia menyerah dalam pergulatan dengan pikirannya sendiri. Dia pun tergoda untuk menelepon teman, menonton televisi, menyapu ruangan, mencuci baju, menguras bak mandi, dan melakukan apa saja yang tidak berhubungan dengan menulis. Dia tampak lega ketika berhasil menyelamatkan diri dari arena tulis-menulis yang menyebalkan!
Menyebalkan?
Ini masalahnya. Pertalian paradigma bahwa menulis itu menyebalkan perlu dirombak total. Proses tulis-menulis akan berlangsung dengan efektif jika kita menganggap menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan. Anggapan awal kita tentang proses menulis merupakan tenaga yang membakar hasrat diri untuk terus mencipta.
Menyenangkan?
Beberapa penulis, seperti Andrea Hirata atau Raditya Dika menulis demi kepuasan pribadi. Beberapa karya mereka ternyata sangat laris terjual. Ada juga beberapa penulis yang berniat memublikasikan tulisannya dan ditolak. Akan tetapi, mereka tidak berhenti menulis karena terlanjur jatuh cinta dengan aktivitas menulis ini. Tulisan mereka memang gagal dipublikasikan, tetapi mereka tidaklah gagal. Hernowo, penulis buku "Mengikat Makna", mengatakan bahwa menulis dapat mengantarkan kita menuju kebahagiaan hidup. Ada tiga kebahagiaan yang ditawarkan oleh proses menulis:
1. Menulis untuk Mengenali Diri Sendiri
Kita dapat mengabadikan harta perjalanan hidup kita dalam tulisan. Kita bisa mulai menulis tentang tetesan embun, keindahan pemandangan kota, sahabat, dan banyak hal-hal menarik lainnya. Tidak hanya itu, Anda juga bisa memotret hal-hal yang sifatnya abstrak. Lampiaskanlah pesona perasaan atau emosi yang sedang bergejolak dengan menulis. Mengapa? Menurut pakar psikologi Amerika Serikat, Dr. James W. Panebaker, mencurahkan seluruh isi hati dengan menulis dapat memberikan pengaruh positif pada perasaan, pikiran dan juga berfungsi sebagai terapi jiwa. Apa yang membuat Anda senang? Apa yang membuat Anda gusar? Mengapa Anda gusar atau mengapa Anda senang? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memaksa Anda untuk berpikir dan membantu Anda memahami keberadaan diri Anda dengan lebih baik.
Mulailah dengan sebuah jurnal. Karena rajin menulis perjalanan spiritual mereka dalam jurnal, nama-nama besar seperti Mahatma Gandhi, Ernest Hemingway, Ernesto Che Guevara begitu populer dan dipuja dunia. Begitu pula di Indonesia, kita mengenal sosok Soe Hok Gie lewat "Catatan Seorang Demonstran" yang begitu menggugah. Kegiatan menulis jurnal itu menyenangkan, mudah, dan sederhana karena berisi curahan hati tentang realitas sosial dan pengalaman pribadi. Tulis, tulis, dan tulis apa pun tentang diri Anda! Hanyutkan diri Anda dalam proses penulisan dan pengembangan ide dari refleksi pribadi Anda. Semakin banyak Anda menulis, semakin Anda mengetahui mimpi, pemikiran, keinginan, dan impian Anda.
2. Menulis untuk "Berbicara" kepada Publik
Proses menulis memberikan kepuasan bagi penulis karena tulisan merupakan alat komunikasi yang teramat berharga. Penulis dapat mengekspresikan aspek-aspek pemikirannya terhadap lingkungan sosial melalui kata-katanya. Penyair William Stafford mengatakan bahwa seorang penulis bukan hanya seorang yang mengatakan sesuatu, tetapi dia juga orang yang tahu cara untuk mengatakannya. Proses menulis tidak hanya berhubungan dengan diri penulis sendiri, tetapi sebuah tulisan juga menjalin pertalian dengan banyak orang di sekitarnya. Bayangkan, lewat satu artikel saja, penulis bisa menjangkau ribuan orang. Bahkan sebuah kalimat saja mungkin bisa menginspirasi kehidupan seseorang.
Penulis adalah saksi zaman yang mencatat kenyataan di sekelilingya. Dia perlu menjadi pengamat yang peka saat melakukan seleksi, analisis, dan penilaian dalam tulisan-tulisannya. Seperti para seniman lainnya, para penulis juga mengangkat pertanyaan-pertanyaan untuk membuat publik merenung. Tidak jarang juga penulis menyumbangkan ide-ide yang bermanfaat bagi lingkungannya. Sungguh mengasyikkan sekali, dengan menulis kita terlibat dalam gerak komunikasi di lingkungan sekitar, di seantero dunia yang luas ini!
3. Menulis untuk Mengasah Kreativitas
Ide-ide kreatif muncul seperti api yang melahap sumbu kembang api; kemudian, luapan kegembiraan pun mengikutinya seperti percikan cahaya yang menghiasi kegelapan malam. Demikian halnya dalam ranah tulis-menulis, kesenangan mengikuti proses menciptakan ide-ide kreatif.
Berpikir kreatif berarti berani menciptakan sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya dengan mengerahkan kekuatan daya imajinasi kita. Proses menciptakan sesuatu berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan, menyelami keraguan dan akhirnya menemukan pemecahan yang kreatif. Aktivitas menulis mendorong kita untuk berpikir kreatif dalam menjawab pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk ditanyakan. Dengan membiasakan diri berkecimpung dalam dunia ini, penulis pun akan terbiasa menikmati saat-saat bermain dengan huruf yang menciptakan kata, kata yang menciptakan kalimat, kalimat yang menciptakan paragraf, dan paragraf yang menciptakan makna.
Teruslah berkarya karena menulis memberikan kepuasan dan kesenangan di mana saja dan kapan saja. Michael Crichton mengatakan bahwa, "Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik [untuk menulis], teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya."
Akhir kata, menulislah! Berkaryalah!
Oleh: Truly Almendo Pasaribu
Referensi:
  • Bryant, Roberta Jean.1999.Anybody Can Write. USA: Barnes & Noble
  • Hernowo. 2002. Mengikat Makna. Bandung: Kaifa.
  • Mirriam-Goldberg, Caryn. 2003. Daripada Bete, Nulis Aja! Bandung: Kaifa.
  • Pranata, Xavier Quentin. 2002. Menulis dengan Cinta. Jogjakarta: Yayasan ANDI
  • Saltzman, Joel. 1993. If You Can Talk, You Can Write. USA: 1993.

Topik: Pengalaman Para Penulis

Sumber :

Tips Menulis: Jenis Tulisan dan Strukturnya


Berikut beberapa tips yang bisa menambah referensi sahabat penulis ketika akan menulis berdasarkan jenis tulisan. Dalam tips berikut diberikan juga penjelasan untuk menghindari bias di dalam tulisan yang kita susun. Tips ini didapatkan dari salah satu tulisan di blog Jennie S. Bev.
Tips Menulis: Jenis Tulisan dan Strukturnya
  1. Tulisan ilmiahTulisan ilmiah memerlukan kalimat tesis, premis, dan hipotesis yang kuat barulah bisa dibuatkan kerangka berpikir untuk diuraikan lagi dalam beberapa bab dengan riset mendalam. Metodologi penelitian dan deviasi mesti bisa diuraikan dengan jelas, bahkan kalau perlu dikuantifikasikan. Biasanya, tulisan-tulisan ilmiah ini termasuk disertasi, tesis, skripsi, dan artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah.
    Kekuatan, ketajaman, dan kejernihan berpikir sangat menentukan hasil akhir yang agak "berat" dan "datar" karena segala macam unsur subjektif harus diminimalkan, terutama yang akan menimbulkan logika yang miring. Tulisan macam ini adalah tulisan yang berdasarkan pikiran. Bias diminimalisasi sedemikian rupa dengan pengujian-pengujian hipotesa dan segala macam tes logika yang miring. Tulisan ini mengandalkan pikiran, hampir tanpa unsur perasaan alias subjektifitas, kecuali dari bias latar belakang penulisnya dan ilmu yang dipelajarinya.
  2. Tulisan opiniIni semi-semi ilmiah, namun unsur subjektifnya besar karena penulis bebas memasukkan sudut pandang dari hatinya sendiri. Struktur tulisan-tulisan opini biasanya dimulai dengan introduksi yang bisa juga berbentuk kalimat tanya atau suatu asumsi. Kesimpulannya gampang saja, tinggal menjawab pertanyaan di paragraf awal atau mengiyakan/menyangkal asumsi. Tubuh artikelnya yang lebih memerlukan banyak data dan pengolahan pikiran.
  3. Tulisan jurnalistikUntuk jenis tulisan yang satu ini, saya belajar di Amerika Serikat sehingga standar yang dipakai adalah standar The Associated Press. Intinya kedengaran cukup mudah: paragraf-paragraf disusun berdasarkan kepentingan. Semakin penting informasinya, ditaruh semakin atas. Semakin tidak penting dan bisa dengan mudah disingkirkan tanpa mengubah arti dan kredibilitas reportase, akan ditaruh semakin di bawah. Tujuannya apa? Supaya menghemat waktu editing.
    Penulisan reportase macam ini biasanya tidak memasukkan unsur-unsur subjektif, kecuali bias alami berdasarkan latar belakang penulisnya atau media yang diwakilinya. Dari membaca artikelnya sendiri, biasanya hampir tidak ada bias yang bisa ditarik secara eksplisit.
  4. Tulisan jurnalistik "feature"Nah, yang satu ini sepertinya sudah diajarkan di bangku sekolah. Mudah saja: pengantar, tubuh, dan kesimpulan. Pengantarnya bisa bentuk ringkasan dari tubuh artikel, bisa juga kalimat tesis, atau apa saja, termasuk kutipan yang mewakili isi dari tubuh artikel. Tubuh artikelnya juga bisa berbentuk cerobong, piramida terbalik, maupun pipa. Tulis saja seindah dan sesubjektif yang Anda mau. Tidak begitu banyak aturannya.
  5. Tulisan ngepop, seperti untuk blogging atau "review" pendek.Idealnya tetap ada pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Namun, kalau tidak cukup tempat saking singkatnya, cukup menuliskan beberapa ide pokok saja. Tidak perlu bertingkat kalau memang tidak memungkinkan. Jelas subjektifitas sangat tinggi dan Anda bisa memuji/mencaci dengan tanpa banyak halangan.
Diambil dan diedit seperlunya dari: 
Situs : Jennie For Indonesia
Penulis : Jennie S. Bev
Alamat url: http://www.jennieforindonesia.com/?p=286

http://pelitaku.sabda.org/tips_menulis_jenis_tulisan_dan_strukturnya

Tips Menulis Efektif


Menulis adalah salah satu kegiatan yang sangat menakjubkan. Dengan menulis, kita bisa menuangkan ide atau gagasan yang ada di pikiran kita, menuangkan isi hati kita melalui bahasa tulisan sehingga dapat dibaca dan dipahami orang lain. Dengan menulis, kita bisa mentransfer pengetahuan dan hasil pembelajaran kita kepada orang lain sehingga bermanfaat bagi sesama musafir kehidupan. Menulis juga merupakan media aktualisasi diri.
Namun untuk melakukan kegiatan yang satu ini, tidak semua orang mudah melakukannya. Banyak di antara kita mengalami kesulitan pada waktu pertama kali hendak menulis. Kadang merasa tidak ada ide/gagasan yang mau ditulis,
enggan, merasa tidak bisa, takut, atau pikiran negatif lainnya.
Untuk itu, berikut ini saya uraikan beberapa tips yang efektif untuk memermudah proses menulis yang saya dapatkan dari buku "Quantum Learning" dengan tambahan dan perubahan seperlunya.
  1. Mulailah Secepatnya
    Apa pun yang akan Anda tulis, mulailah sesegera mungkin untuk menuliskannya, jangan tunggu lama-lama. Jika suatu gagasan datang, segeralah menuliskannya walau Anda sedang enggan untuk menulis. Lain lagi jika Anda merasa kosong dari ide, segera duduklah di depan komputer dan hentakkan jari-jemari Anda di atas papan tekan (keyboard) atau ambillah bolpoin dan selembar kertas, pasti akan ada saja ide atau gagasan yang muncul. Dengan begitu, Anda bisa segera mulai menulis.
  2. Putarlah Musik
    Sambil menulis, putarlah musik kesukaan Anda untuk memerlancar arus ide/gagasan Anda. Belahan otak kiri kita bekerja berdasarkan logika dan otak kanan kita bekerja berdasarkan emosi. Dengan memutar musik, otak kanan kita ikut terstimulasi sehingga bisa menghadirkan unsur emosi pada tulisan yang membuat isi tulisan lebih hidup.
  3. Pilih Waktu yang Paling Sesuai
    Di antara kita, ada yang menulis dengan sangat baik pada pagi hari, sementara yang lain bisa lancar menulis di keheningan malam saat orang lain tidur lelap. Ada juga seorang penulis internasional yang aktivitas menulisnya seperti kelelawar, siang untuk istirahat, sedangkan malamnya ia habiskan untuk berkarya. Jadi, tiap pribadi punya waktu tersendiri yang paling efektif untuk menulis. Oleh karena itu, pilihlah waktu Anda yang paling dapat Anda nikmati (enjoy) untuk menulis, yang paling sesuai dengan suasana hati (mood) menulis Anda.
  4. Lakukan Olahraga
    Menulis merupakan aktivitas pikiran yang cukup menguras energi. Maka bila otak Anda sudah cukup tegang, segera keluarlah. Lakukan olahraga ringan agar otak mendapat cukup suplai oksigen sehingga pikiran Anda segar kembali.
  5. Pecahkan Menjadi Bagian Kecil
    Bila apa yang kita tulis merupakan sebuah proyek besar (seperti menulis sebuah buku, novel, dan sebagainya), maka pecah-pecahlah bagian yang besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Lalu kerjakan satu bagian pada suatu saat. Seperti memecahkan sebuah batu sebesar kerbau, kita tidak mungkin menghantamnya sekaligus. Kita pecahkan satu per satu bagian kecil terlebih dahulu, pasti lama-lama semua akan terpecahkan juga.
  6. Bacalah Apa Saja
    Bacalah majalah, koran, novel, cerpen, lirik lagu, puisi, ensiklopedia, buku-buku nonfiksi, peribahasa, komik, atau apa saja. Hal ini dapat menambah wawasan Anda tentang kehidupan, penggunaan bahasa, dan gaya penulisan. Hal serupa juga dikatakan oleh Bapak Ahmad Tohari (penulis trilogi: Ronggeng Dukuh Paruk – Lintang Kemukus Dinihari – Jantera Bianglala) saat saya bersilaturahmi ke rumah beliau. Dikatakan juga, beliau bisa membaca sampai sepuluh novel sebelum menulis sebuah novel. Umumnya, seorang penulis adalah juga seorang pembaca yang "lahap" dan "rakus" (maksudnya dalam hal membaca).
  7. Gunakan Warna-Warna
    Pada saat Anda menulis draf kasar tulisan Anda, gunakan warna yang berbeda untuk tiap-tiap bagian atau gagasan. Hal ini akan membantu Anda untuk melihat semua bagian kertas dengan lebih baik. Warna-warna yang menarik akan mengaktifkan kerja otak kanan kita yang imajinatif sehingga kedua belah otak kita bisa bekerja secara kongruen.
Pembaca yang budiman, semoga uraian di atas bisa bermanfaat bagi Anda semua, khususnya yang berkeinginan untuk belajar menulis (karya fiksi maupun nonfiksi), namun sering merasa ada sesuatu yang menghambat dalam diri Anda. Segera atasi hambatan itu dan mulailah menulis dengan penuh sukacita!
Salam sukses!
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs:Benpinter
Penulis:Agus Riyanto
Alamat URL:http://www.benpinter.com/blog/tips-menulis-efektif/

Tips Menulis Cerpen


Struktur
Para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika mulai menyusun cerpen mereka:
  1. Taruh seseorang di atas pohon.
  2. Lempari dia dengan batu.
  3. Buat dia turun.
Kelihatannya aneh, tapi coba Anda pikirkan baik-baik, karena saran ini bisa diterapkan oleh penulis mana saja. Nah, ikuti langkah- langkah perencanaan seperti yang disarankan di bawah kalau Anda ingin menulis cerpen-cerpen yang hebat.
Perencanaan Cerpen
Taruh seseorang di atas pohon: munculkan sebuah keadaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita.
Lempari dia dengan batu: Dari keadaan sebelumnya, kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan si tokoh utama tadi. Contoh: Kesalahpahaman, kesalahan identitas, kesempatan yang hilang, dan sebagainya.
Buat dia turun: Tunjukkan bagaimana tokoh Anda akhirnya mengatasi masalah itu. Pada beberapa cerita, hal terakhir ini seringkali juga sekaligus digunakan sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis. Contoh: Kekuatan cinta, kebaikan mengalahkan kejahatan, kejujuran adalah kebijakan terbaik, persatuan membawa kekuatan, dsb.
Ketika Anda selesai menulis, selalu (dan selalu) periksa kembali pekerjaan Anda dan perhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa. Jangan menyia-nyiakan kerja keras Anda dengan menampilkan kesan tidak profesional pada pembaca Anda.
Praktekkan perencanaan sederhana ini pada tulisan Anda selanjutnya.
Tema
Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana Anda menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya. Ketika Anda menulis, yakinlah bahwa setiap kata berhubungan dengan tema ini.
Ketika menulis cerpen, bisa jadi kita akan terlalu menaruh perhatian pada satu bagian saja seperti menciptakan penokohan, penggambaran hal-hal yang ada, dialog atau apapun juga, untuk itu, kita harus ingat bahwa kata-kata yang berlebihan dapat mengaburkan inti cerita itu sendiri.

Cerita yang bagus adalah cerita yang mengikuti sebuah garis batas. Tentukan apa inti cerita Anda dan walaupun tema itu sangat menggoda untuk diperlebar, Anda tetap harus berfokus pada inti yang telah Anda buat jika tidak ingin tulisan Anda berakhir seperti pembukaan sebuah novel atau sebuah kumpulan ide-ide yang campur aduk tanpa satu kejelasan.
Tempo Waktu
Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif biasanya menampilkan sebuah tempo waktu yang pendek. Hal ini bisa berupa satu kejadian dalam kehidupan karakter utama Anda atau berupa cerita tentang kejadian yang berlangsung dalam sehari atau bahkan satu jam. Dan dengan waktu yang singkat itu, usahakan agar kejadian yang Anda ceritakan dapat memunculkan tema Anda.
Setting
Karena Anda hanya memiliki jumlah kata-kata yang terbatas untuk menyampaikan pesan Anda, maka Anda harus dapat memilih setting cerita dengan hati-hati. Disini berarti bahwa setting atau tempat kejadian juga harus berperan untuk turut mendukung jalannya cerita. Hal itu tidak berarti Anda harus selalu memilih setting yang tipikal dan mudah ditebak. Sebagai contoh, beberapa setting yang paling menakutkan bagi sebuah cerita seram bukanlah kuburan atau rumah tua, tapi tempat-tempat biasa yang sering dijumpa pembaca dalam kehidupan sehari-hari mereka. Buatlah agar pembaca juga seolah-olah merasakan suasana cerita lewat setting yang telah dipilih tadi.
Penokohan
Untuk menjaga efektivitas cerita, sebuah cerpen cukup memiliki sekitar tiga tokoh utama saja, karena terlalu banyak tokoh malah bisa mengaburkan jalan cerita Anda. Jangan terlalu terbawa untuk memaparkan sedetail-detailnya latar belakang tiap tokoh tersebut. Tentukan tokoh mana yang paling penting dalam mendukung cerita dan fokuskan diri padanya. Jika Anda memang jatuh cinta pada tokoh-tokoh Anda, pakailah mereka sebagai dasar dalam novel Anda kelak.
Dialog
Jangan menganggap enteng kekuatan dialog dalam mendukung penokohan karakter Anda, sebaliknya dialog harus mampu turut bercerita dan mengembangkan cerita Anda. Jangan hanya menjadikan dialog hanya sebagai pelengkap untuk menghidupkan tokoh Anda. Tiap kata yang ditaruh dalam mulut tokoh-tokoh Anda juga harus berfungsi dalam memunculkan tema cerita. Jika ternyata dialog tersebut tidak mampu mendukung tema, ambil langkah tegas dengan menghapusnya.
Alur
Buat paragraf pembuka yang menarik yang cukup membuat pembaca penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pastikan bahwa alur Anda lengkap, artinya harus ada pembukaan, pertengahan cerita dan penutup. Akan tetapi, Anda juga tidak perlu terlalu berlama-lama dalam membangun cerita, sehingga klimaks atau penyelesaian cerita hanya muncul dalam satu kalimat, dan membuat pembaca merasa terganggu dan bingung dalam artian negatif, bukannya terpesona. Jangan pula membuat "twist ending" (penutup yang tak terduga) yang dapat terbaca terlalu dini, usahakan supaya pembaca tetap menebak-nebak sampai saat-saat terakhir. Jika Anda membuat cerita yang bergerak cepat, misalnya cerita tentang kriminalitas, jagalah supaya paragraf dan kalimat-kalimat Anda tetap singkat. Ini adalah trik untuk mengatur kecepatan dan memperkental nuansa yang ingin Anda sajikan pada pembaca.
Baca ulang
Pembaca dapat dengan mudah terpengaruh oleh format yang tidak rapi, penggunanaan tanda baca dan tata bahasa yang salah. Jangan biarkan semua itu mengganggu cerita Anda, selalu periksa dan periksa kembali.
Bahan diterjemahkan dan diringkas oleh Ary dari sumber:http://www.write101.com/shortstory.htm
sumber : http://pelitaku.sabda.org/tips_menulis_cerpen

Monday, May 23, 2011

Bunda....................

Bunda, dirimu yang selalu merawat ku kini telah lebih dahulu meninggalkan ku......... ku akan selalu berdoa untuk mu bunda...... hari hari yang penuh kebahagiaan ketika bersamamu kini telah pupus entah kemana..... tapi doaku akan selalu menyrtaimu semoga engkau bahagia aamin..............