Wednesday, August 29, 2012

Misteri Makam Kuno Raja Inggris Siap Diungkap

Makam Richard III diduga berada di bawah tempat parkir di Leicester.


Raja Richard III 
(guardian.co.uk)


VIVAnews - Raja Inggris Richard III dikenal sebagai raja yang mati di medan perang. Menjabat sebagai raja selama dua tahun sejak 1483 - 1485, Richard III menanggalkan mahkotanya setelah terbunuh di Pertempuran Bosworth, pada 22 Agustus 1485.

Popularitas Richard III sendiri terangkat berkat naskah drama yang ditulis William Shakespeare. Meski populer, lokasi pemakaman Raja Inggris terakhir yang mati di pertempuran ini masih misterius.

Ahli arkeologi dari Universitas Leicester, bersama Dewan Kota Leicester dan komunitas Richard III, bergabung untuk mencari lokasi makam raja terakhir House of York.

Tim itu menduga makam Richard III ini berada di bawah tempat parkir di kantor Dewan Kota. Pendeteksian dengan metoda ground-penetrating radar tersebut dilakukan untuk mencari lokasi ideal proses ekskavasi.

"Kerja arkeologi ini akan menawarkan kesempatan emas untuk mempelajari tentang Leicester di abad pertengahan, yang juga menjadi lokasi dimakamkannya Richard III. Jika ditemukan, akan dilakukan penghormatan secara layak di Katederal Leicester," kata Phillipa Langley, anggota Komunitas Richard III, seperti dikutip dari LiveScience.

"Richard III merupakan figur karismatik bagi berbagai kepentingan, sebagian karena dia menjadi orang yang sering difitnah dalam beberapa abad di masa lalu."

Sejumlah cerita juga mewarnai perjalanan hidup Richard III. Antara lain, tentang tengkoraknya yang diarungkan ke sungai Soar. "Cerita lain lebih banyak yang mendiskreditkan. Misalnya, soal peti matinya yang digunakan untuk tempat minum kuda," tutur Langley.

Sejarawan ada yang menyebutkan, setelah kematiannya, Richard III dibawa ke Leicester dan dimakamkan di sebuah gereja Franciscan Friary, yang dikenal sebagai Greyfriars. Lokasi Greyfriars sendiri hilang jejaknya dalam sejarah.

"Pertanyaan besar bagi kami adalah menemukan di mana gereja itu dalam situs, dan di sebelah mana dari gereja, jenazah itu dimakamkan," kata arkeolog dari Universitas Leicester, Richard Buckley.

Para arkeologi pun menilai misteri itu merupakan hal yang menarik untuk dipecahkan. "Ada potensi ditemukannya lokasi pemakaman di area itu berdasarkan temuan sebelumnya, dan posisi persis gereja itu," kata Buckley.

Suku Maya Diduga Pakai Cokelat Untuk Bumbu Makanan

Foto: thinkstock

Jakarta - Cokelat diperkirakan sudah dipakai sebagai bahan makanan sejak dulu kala. Namun, baru kali ini diketahui bahwa cokelat digunakan sebagai bumbu, bukannya minuman. Fakta ini terkuak saat artefak yang ditemukan di Meksiko selesai diteliti.

Selama ini, para ahli menganggap bahwa biji dan buah cokelat biasa digunakan sebagai minuman di budaya pra-Hispanik. Orang purba mungkin menghancurkan bijinya dan mencampurnya dengan cairan, atau memfermentasi pulp yang mengelilingi bijinya. Diyakini, minuman tersebut disajikan untuk kaum elit.

Namun, penemuan benda-benda kuno di semenanjung Yucatan memperluas pengetahuan para pakar arkeologi. Jejak cokelat berusia 2.500 tahun ditemukan di sebuah piring. Inilah pertama kalinya cokelat kuno didapati selain di gelas.

Karena itulah, para ahli berasumsi bahwa dulu cokelat juga digunakan sebagai saus yang dipadukan dengan makanan padat. Merekapun berpendapat bahwa makanan tradisional Meksiko seperti mole (daging yang diberi saus cokelat) mungkin bersumber dari hidangan purbakala.

"Nampaknya, piring tersebut tidak digunakan sebagai tempat menumbuk biji cokelat karena mereka lebih sering menggunakan batu ulekan," jelas pakar arkeologi Tomas Gallareta saat mengumumkan hasil penelitian National Institute of Anthropology and History Mexico, belum lama ini.

Pecahan piring dan jejak zat kimia tersebut ditemukan di situs arkeologi Paso del Macho di Yucatan pada tahun 2001. Pecahan piring tersebut diperkirakan sudah ada sejak 500 SM. Temuan ini diuji, dan terlihat bahwa terdapat rasio zat theobromine dan kafein yang menjadi indikasi kuat penggunaan cokelat.

"Hal ini menunjukkan bahwa Suku Maya pra-Hispanik mungkin pernah memakan makanan dengan saus cokelat, seperti mole," tulis National Institute of Anthropology and History di websitenya, seperti dikutip dari Time. (fit/odi)

Kapal Usia 2.000 Tahun Ditemukan di Italia


Kapal berusia 2.000 tahun ditemukan.
(BBC)


VIVAnews -- Selama 2.000 tahun kapal dagang kuno Romawi berlumut itu terbaring di air berlumpur di perairan dalam Italia. Keberadaannya di sana sudah menjadi rahasia umum.

Lebih dari 80 tahun, artefak dan guci Romawi kuno tersangkut di jala para nelayan. Temuan itu juga tidak aneh di Italia, negara yang dipenuhi dengan peninggalan harta dari masa ribuan tahun lalu.

Namun, artefak yang ditemukan dari kapal itu menceritakan kisah berbeda.  Keunikannya menarik minat komunitas arkeologi dan kepala polisi yang mengepalai tim penyelam di Kota Genoa.

Letnan Kolonel Francesco Schilardi, kepala tim penyelam yang menemukan kapal kuno itu, dijuluki sebagai "Top Gun" atau jagoan laut karena keberhasilannya menguak rahasia keberadaan kapal dan harta karun yang hilang di dalamnya.

Kali ini anggota tim tersebut bertambah dengan kehadiran sejumlah arkeolog dan sejarawan, yang sangat yakin bahwa laut di dekat Kota Varazze, Liguria, tersembunyi hal yang istimewa dan layak dikuak.

Mereka menggunakan kapal selam, robot, alat pemetaan dan pelacakan canggih, dipandu dengan studi sejarah area tersebut.

Usaha dan kerja keras mereka terbayar dengan penemuan yang dideskripsikan sebagai "salah satu yang terpenting", yaitu kapal kuno berusia sekitar 2.000 tahun yang tenggelam di dasar lautan sedalam 70-100 meter yang terbungkus dalam lapisan lumpur.

Temuan itu diharapkan akan mengungkap rahasia tentang cara hidup masyarakat di abad pertama Masehi. Tak hanya di Roma, tapi di wilayah lain yang menjalin hubungan dagang dengan kota itu.

Kondisi kapal pengangkut bahan makanan, yang diduga memuat 200 guci tanah liat, dalam kondisi baik sehingga membuat gembira para arkeolog. "Ini adalah peninggalan yang sangat berharga," kata Letnan Kolonel Schilardi kepada media Italia, La Repubblica.

Penemuan itu, mengembalikan ingatan ke masa kekaisaran Romawi yang berhubungan dagang dengan negara-negara Mediterania, terutama Spanyol. Masa di mana Laut Ligurian dan sekitarnya menjadi persimpangan bagi kapal dagang. Laut di daerah tersebut digunakan oleh orang Romawi untuk mengekspor makanan termasuk madu, rempah-rempah dan anggur.

Dia menambahkan, wadah tanah liat yang dalam kondisi baik akan mengungkap pola maklan, juga budaya dan profil perdagangan.

Pihak berwenang kini telah menutup lokasi itu untuk mencegah penjarahan para pemburu harta karun. Pencarian kini terus berlanjut, para arkeolog senang bukan kepalang saat sonar menunjukkan lokasi pasir yang menutupi kapal yang mungkin menyimpan harta karun lainnya dan jauh lebih berharga.


Google Earth Temukan Situs Arkeologi Jazirah Arab


ALAMY
Peta satelit Arab Saudi.


KOMPAS.com — Hampir 2.000 situs arkeologi potensial di Arab Saudi berhasil dijelajahi oleh seorang arkeolog asal Perth, Australia, David Kennedy, tanpa mengunjunginya secara langsung. Ini berkat aplikasi Google Earth.

"Saya belum pernah ke Arab Saudi. Itu bukan negara yang mudah untuk ditembus," ujar profesor arkeologi Universitas Western Australia ini dalam penuturannya kepada Telegraph. Sebagai gantinya, Kennedy memindai area seluas 1.240 kilometer persegi di Arab Saudi menggunakan Google Earth.

Dari gambar satelit dunia maya beresolusi tinggi itu, ia menemukan sedikitnya 1.977 situs arkeologi potensial, termasuk sebanyak 1.082 makam purbakala yang terbuat dari batu.

Menurut Kennedy, pembuatan foto udara Arab Saudi tidak bisa dilakukan oleh semua arkeolog karena faktor kesulitannya yang tinggi, bahkan mustahil terbang di udara negeri itu. Akan tetapi, Google Earth dapat membuat mereka lebih dekat.

Sejak aplikasi Google Earth diluncurkan lima tahun lalu, peluang mengembangkan "arkeologi dari belakang meja" itu memang terbuka lebar-lebar. Meskipun demikian, Kennedy menegaskan, verifikasi lapangan tetap diperlukan. Ia memiliki staf di Arab Saudi untuk memverifikasi ke lokasi situs.

Pada 2008, para peneliti dari Melbourne, Australia, menemukan 463 situs purbakala potensial di Gurun Registan di Afganistan hanya dengan memanfaatkan komputer mereka.(National Geographic Indonesia/Gloria Samantha)

Google Earth Bantu Ilmuwan Temukan Piramida Mesir


KOMPAS.com - Layanan pemetaan berbasis foto satelit ternyata bisa digunakan untuk mencari situs-situs peradaban kuno yang belum ditemukan.

Setelah 10 tahun melakukan pencarian berbasis satelit lewat layanan Google ini, arkeolog Angela Micol dari North Carolina, Amerika Serikat, menemukan dua lokasi di Mesir yang kemungkinan menyimpan sebuah kompleks piramida.

mound_egypt_3

Gambar dari salah satu lokasi yang berjarak hanya sekitar 20 km dari kota Abu Sidhum di sepanjang Sungai Nil menampakkan empat gundukan pasir dengan puncak berbentuk segitiga. Dua gundukan memiliki lebar sekitar 76 meter, sementara dua lainnya sekitar 30 meter.

egypt_area2_2

Salah satu gundukan terbesar diperkirakan bisa memiliki lebar lebih dari 180 meter yang terkubur di bawah pasir, hampir tiga kali lebih besar dibandingkan ukuran Piramida Besar di Giza.

mound_egypt_2

Gambar dari situs kedua yag terpisah jarak sekitar 150 km dari lokasi pertama menunjukkan empat gundukan, yang terbesar berukuran sekitar 42 meter.

Para ahli arkeologi Mesir, termasuk ahli piramida Nabil Selim, telah mengkonfirmasikan bahwa kedua situs ini belum pernah ditemukan sebelumnya.

Langkah berikut untuk menindaklanjuti temuan ini adalah kunjungan ke lokasi untuk mencari tahu apakah gundukan-gundukan tersebut benar menyembunyikan piramida.

Sebelumnya, Micol sudah pernah menemukan situs-situs arkeologi lain melalui Google Earth. Salah satu temuan terdahu adalah kota bawah air yang terbenam di lepas pantai semenanjung Yucatan, Meksiko.

Pengembangan Taman Wisata Candi Libatkan UGM

YOGYAKARTA (Suara Karya): PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko menggandeng Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dalam upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM) pariwisata.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko Purnomo Siswoprasetjo dan Rektor UGM Prof Dr Pratikno di kampus UGM, Selasa (14/8).

Selain pengembangan SDM, ruang lingkup kerja sama meliputi pemanfaatan hasil penelitian untuk pengembangan dan pelestarian kebudayaan dan pariwisata, peningkatan kualitas penataan lingkungan di kawasan cagar budaya, serta pemetaan terhadap potensi keragaman budaya dan wisata.

Purnomo mengharapkan pengembangan dan penelitian lebih fokus pada peningkatan pelayanan maupun kunjungan wisatawan, baik di Candi Borobudur, Prambanan maupun Ratu Boko. Selain jumlah kunjungan wisatawan yang meningkat, melalui kerja sama itu juga diharapkan ada peningkatan kemampuan personel dalam melaksanakan pekerjaannya melayani wisatawan.

Kerja sama antara UGM dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko sebelumnya juga telah dimulai melalui Fakultas Ilmu Budaya, khususnya Jurusan Arkeologi UGM. Melalui kerja sama tersebut, saat ini telah ada peta situs arkeologi yang bermanfaat bagi pengembangan pariwisata maupun pengenalan budaya.

"Kita juga fokus untuk ikut serta mengembangkan pariwisata dan perekonomian masyarakat di kawasan sekitar candi," kata Purnomo. (B Sugiharto)

Sumber

Jejak Prajurit Islam Majapahit dari Bali hingga Australia

Oleh: SUFYAN AL JAWI
Arkeolog di Numismatik Indonesia

google.com
 Ilustrasi: Wilayah kekuasaan Majapahit


Mengagumkan, ternyata wilayah Majapahit lebih luas dari yang diperkirakan selama ini oleh sejarawan. Riset terbaru tentang penempatan prajurit Majapahit  di luar Jawa menemui fakta yang menakjubkan. Uniknya, pleton-pleton kawal Majapahit beranggotakan prajurit beragama Islam. Peninggalannya pun masih bisa dibuktikan hingga sekarang.

Adanya penempatan prajurit Majapahit di Kerajaan Vasal (bawahan) yang terdiri dari 40 prajurit elite beragama Islam di Kerajaan Gelgel-Bali, Wanin-Papua, Kayu Jawa-Australia Barat, dan Marege-Tanah Amhem (Darwin) Australia Utara pada abad ke 14 memperkuat bukti bahwa Gajah Mada adalah seorang Muslim. Silakan anda berkunjung ke daerah tersebut, terutama ke Bali Utara sebelum anda memberi komentar tanpa dasar.

Prajurit Islam ini berasal dari basis Gajah Mada dalam merekrut prajurit elite yang terdiri dari 3 (tiga) kriteria: Mada; Gondang (Tenggulun-Lamongan) dan Badander (Jombang) yang diketahui sebagai basis teman-teman lama beliau. Dari desa-desa ini pemudanya direkrut menjadi Bhayangkara angkatan II dan seterusnya. Tuban, Leran, Ampel, Sedayu sebagai basis Garda Pantura. Pahang-Malaya, Bugis-Makasar, dan Pasai sebagai basis tentara Laut Luar Jawa.

Hal ini adalah wajar, karena di Jawa, Islam telah berbaur sejak abad ke 10 yang dibuktikan dengan penemuan Prasasti nisan Fatimah binti Maimun (wafat 1082 M) di Leran, Gresik yang bertuliskan huruf Arab Kufi. Dan Prasasti Gondang - Lamongan yang ditulis dengan huruf Arab (Jawi) dan huruf Jawa Kuno (Kawi). Keduanya merupakan peninggalan zaman Airlangga. Sedangkan orang Islam sudah masuk ke Jawa sejak zaman Kerajaan Medang abad ke 7. Islam baru berkembang dengan pesat di Jawa pada abad ke 15, atas peran tak langsung dari politik Gajah Mada, putra desa Mada-Lamongan, politikus abad ke 14.

Pembentukan Satuan Elite, Pabrik Senjata dan Dinar Emas

Satuan tentara elite Majapahit sudah dibangun sejak masa Jayanegara (1319), yaitu pasukan kawal raja – Bhayangkara, yang dipimpin oleh bekel Gajah Mada. Pada masa selanjutnya satuan elite terus berkembang, terutama pada masa Gajah Mada menjabat sebagai  mahapatih amangkubhumi dari tahun 1334 sampai 1359, sejak masa Tribhuwana Tunggadewi hingga masa Hayam Wuruk.

Menurut “Hikayat Raja-raja Pasai”, ketika Majapahit menyerang Pasai, dan dipukul mundur (1345), lalu menyerang kembali dan meluluh lantakan istana Sultan Ahmad Malik Az Zahir (1350), Gajah Mada yang juga seorang muslim, membawa tawanan orang Pasai yang terdiri dari para ahli, insinyur lulusan Baghdad, Damaskus dan Andalusia. Sedangkan Sultan Pasai melarikan diri dari istana. Setibanya di Majapahit, Gajah Mada membebaskan tawanan tersebut setelah bernegosiasi dengan Prabu Hayam Wuruk. Kemudian orang Pasai ini bekerjasama dengan Gajah Mada untuk membangun kejayaan Majapahit. Sebagai balas jasa, Majapahit memberi otonomi kepada Kerajaan Pasai Darussalam, dan menempatkan orang Pasai di komplek elite di ibukota Majapahit – Trowulan. Hal ini dibuktikan, pada 1377 Majapahit menghancurkan Kerajaan Budha Sriwijaya dan menguasai seluruh Pulau Sumatera, kecuali Pasai.

“Maka titah Sang Nata akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya maka banyak keramat di tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu” (Kutipan dari “Hikayat Raja-raja Pasai”).

Dengan adanya orang Pasai yang ahli dalam bidang tempa logam, baik itu baja maupun emas, maka didirikanlah bengkel senjata dan alat pertanian yang sempurna (standar baja Damaskus) , saluran irigasi model Andalusia di Trowulan dan pabrik koin dinar emas Majapahit. Seiring dengan perluasan wilayah Majapahit untuk mewujudkan “Sumpah Palapa”, Gajah Mada membentuk pleton-pleton khusus yang didominasi oleh prajurit Islam.

Prajurit Islam Majapahit di Bali

Penempatan 40 orang prajurit Islam Majapahit di Kerajaan Gelgel – Klungkung, Bali dimulai ketika Raja Gelgel I, Dalem Ketut Ngulesir (1320 – 1400) berkunjung sowan abdi ke Trowulan, tak lama setelah deklarasi pendirian Kerajaan Gelgel tahun 1383. Beliau didampingi oleh Patih Agung, Arya Patandakan dan Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh) yang menghadap Prabu Hayam Wuruk saat upacara Cradha dan rapat tahunan negeri-negeri vasal imperium Majapahit. Ketut Ngulesir memohon dukungan dari Maharaja Majapahit, yang dikabulkan dengan pemberian 1 (satu) unit pleton khusus binaan Almarhum Gajah Mada. (“Kitab Babad Dalem”, manuskrip tentang Raja-raja Bali).

Prajurit Islam ini menikah dengan wanita Bali, dan beranak-pinak disana. Mereka sangat setia membentengi Puri Gelgel – Klungkung. Bahkan meskipun pada akhirnya imperium Majapahit runtuh (1527), tapi Prajurit Islam tetap menjadi tentara elite Kerajaan Gelgel, dari generasi ke generasi. Begitu pula di Kerajaan Buleleng, prajurit Islam membentengi Puri Buleleng dari serangan Raja Mengwi dan Raja Badung dari Kerajaan di Bali Selatan.

Faktanya, saat ini kita masih dapat saksikan di Bali, keturunan prajurit Islam Majapahit yang telah mencapai ribuan orang Islam asli Bali (mereka menggunakan nama Bali, untuk membedakan dengan muslim pendatang) tepatnya di desa Gelgel, Klungkung dan di desa Pegayaman, Buleleng – 70 km arah utara Denpasar. Mereka adalah penduduk mayoritas di desa-desa kuno tersebut.

Pertanyaannya : Kenapa Hayam Wuruk mengirimkan pleton prajurit Islam untuk mengawal negeri bawahan Majapahit ?

Jawabannya: Pertama, almarhum Gajah Mada (wafat 1364) telah membangun sistem perekrutan satuan tentara elite yang beranggotakan prajurit Islam, dibekali dengan senjata pamungkas, dan berperang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Kedua, Prabu Hayam Wuruk diduga telah mengetahui bahwa Gajah Mada bukan Sudra, melainkan seorang Muslim. Kemungkinan info yang rahasia ini diperoleh dari Ibunda Ratu Tribhuwana Tunggadewi.

Untuk menghormati almarhum Gajah Mada, beliau tidak mencerai-beraikan pleton-pleton Muslim yang berjumlah 40 orang, karena dalam Madzhab Imam Syafi’i, syarat minimal untuk mendirikan sholat Jumat adalah 40 orang. Ketiga, kemampuan tempur 40 orang prajurit Islam dapat menghancurkan 200-400 orang tentara reguler musuh. Karena mereka dibekali kemampuan militer  yang menguasai berbagai jenis senjata. Hal ini dibuktikan dalam perang mempertahankan Puri Buleleng dari serbuan pasukan gabungan dua Kerajaan Mengwi dan Badung, yang terletak di Bali Selatan. Keempat, Hayam Wuruk kagum atas kesetiaan dan ketetapan janji orang Islam. Mereka tidak terpengaruh  godaan harta, wanita dan tahta yang bukan haknya. Mereka tidak pernah mabuk, berjudi, maling dan berzina ( kebiasaan buruk di Majapahit adalah mabuk dan berjudi, dan agak permisif dalam hal seks ). Panutan mereka adalah Gajah Mada, yang diklaim oleh orang-orang Majapahit sebagai orang Hindu berkasta Sudra?

Ketika pleton prajurit Islam Majapahit ini mengawal pulang rombongan Raja Gelgel, Ketut Ngulesir, mereka dibekali oleh Hayam Wuruk berupa puluhan ribu koin cash Cina dan koin Gobog Wayang (koin kepeng tembaga) serta ratusan koin dinar emas Majapahit. Ini sebagai balasan atas penyerahan upeti dari Kerajaan Gelgel Klungkung berupa hasil bumi, hewan ternak dan tangkapan, perhiasan dan kerajinan tangan rakyat Gelgel. Hayam Wuruk berharap, stok koin-koin tersebut mampu merangsang tumbuhnya ekonomi di Gelgel. Sejak saat itu Pura Klungkung dan Pura Buleleng telah akrab dengan koin dinar emas dalam ritual ibadah mereka.

Prajurit Islam Majapahit di Wanin – Papua

Saat Prof. JH Kern dan NJ Krom meneliti kitab Nagarakertagama yang ditemukan (dijarah) oleh JLA Brandes dari istana Cakranagara, Lombok (1894). Prof. Kern dan Krom, 1920, mendapati fakta bahwa kekuasaan Majapahit di Papua Barat dibuktikan dengan adanya penempatan prajurit Islam di Wanin – Papua. Berdirinya Kerajaan Wanin di Fak-fak hingga Biak merupakan vasal Majapahit. Sampai sekarang, Raja-raja dan rakyat di Wanin dan Fakfak sangat kental nuansa Islamnya dan sangat fasih menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Tak seperti di Bali, prajurit Islam Majapahit ini membawa istri mereka yang dinikahi di Jawa, Bugis, Seram dan pulau Maluku, sebelum akhirnya menetap di Wanin. Saat Majapahit runtuh, pada abad ke 16, Kerajaan Wanin bergabung dengan Kerajaan Ternate Darussalam di Maluku Utara, yang dulunya juga merupakan bawahan Majapahit. Diperkirakan situs Majapahit di Papua tersebar luas di Fak-fak, Biak dan Raja Ampat. Keturunan mereka berbeda dengan ras Papua.

Prajurit Islam Majapahit di Marege – Australia

Sejarah resmi negeri kangguru, sepertinya harus segera direvisi. Sebab Prof. Regina Ganter, sejarawan dari University of Griffith, Brisbane, Australia – belum lama ini meriset suku Aborigin Marege yang berbahasa Melayu Makasar. Marege adalah desa kuno di tanah Arnhem, di daerah Darwin, Australia Utara. Regina mendapat fakta yang menakjubkan , bahwa komunitas Muslim kuno Aborigin berasal dari Kerajaan Gowa Tallo, Makasar, sudah ada sejak abad ke 17 (1650 an), dan menyebarkan Islam di Australia Utara hingga ke desa Kayu Jawa di Australia Barat.

Orang Marege hingga hari ini menyebut rupiah untuk kata ganti uang, padahal mata uangnya adalah dollar. Juga menyebut dinar untuk koin emas Australia. Dahulu sempat ditemukan koin Gobog Wayang di desa Marege Darwin. Padahal koin Gobog merupakan koin resmi Majapahit. Dan ini menunjukkan adanya jejak prajurit Majapahit abad ke 14 yang dikirim ke Marege, namun hal itu masih perlu pembuktian lebih lanjut.

Dalam risetnya, Prof. Regina menuturkan bahwa sejak masa Sultan Hasanuddin (1653-1669) kapal-kapal Pinisi dari Makasar menguasai perairan teluk Carpentaria – Darwin, mereka mencari tripang. Di tanah Arnhem, Marege, orang Makassar berhubungan dengan suku Aborigin, menikah dan beranak pinak membentuk komunitas Aborigin Muslim. Dalam kebudayaan Marege, nampak jelas mereka menggambar kapal Pinisi Makasar dalam karya seni kuno mereka. Uniknya, kapal bercadik Majapahit pun terpahat dalam seni ukir dan lukis mereka yang berusia ratusan tahun.

Ketika orang Inggris menjajah rayah desa Marege dan desa Kayu Jawa, mereka nyaris menghancurkan budaya Islam suku Aborigin Marege pada abad ke 20 seiring arus Westernisasi di negeri Kanguru. Karya seni Marage banyak yang diboyong ke Eropa. Orang Marege menyebut orang Inggris sebagai ‘Balanda’, sedangkan orang Kayu Jawa menyebutnya ‘Walanda’, dan perang melawan orang Inggris disebut ‘Jihad Kaphe’.

Semoga riset yang akan dilakukan oleh Tim Riset Yamasta ( beranggotakan Viddy Ad Daery, Sufyan Al-Jawi, Drs. Mat Rais dan Farhaz Daud ) untuk program yang akan datang, dapat mengungkap keberadaan situs Majapahit di Marege, Kayu Jawa dan tempat lainnya di Australia. Sesungguhnya kita adalah Bangsa yang besar dan jaya, pernah membangun perdaban Superpower – Nusantara. Mari bersatu, hilangkan egoisme SARA dan sinisme, marilah kita bangkit dan membangun kembali Nusantara [SF].