Friday, January 9, 2009

Vertigo, oh vertigo......

Entah kenapa pada trip ini saya sudah berhadapan dengan dua orang yang mengeluh puyeng-puyeng alias vertigo. Yang pertama tanggal 5 lalu, saat sedang konsen ngerjakan laporan tiba-tiba dikejutkan dering telfon di klinik. Telfon itu mengabarkan kalau di atas (ruang office) ada seseorang yang mengeluh pusing dan muntah-muntah. Karena saya pikir orangnya masih bisa jalan ke klinik, saya minta yang nelfon untuk mengantarkan ke klinik supaya bisa diperiksa dengan alat yang ada di klinik.



Telfon berdering lagi, kali ini yang nelfon masih sama. Dia menyarankan saya untuk segera naik ke atas karena pasiennya ga mungkin turun ke bawah, pusing ga bisa bergerak. Saya pun segera naik dengan membawa perlengkapan dan obat-obatan yang sekiranya perlu. Tiba di office, saya berhadapan dengan seseorang yang sudah dibaringkan diatas dua kursi yang di letakkan berhadapan. "Kayaknya sakitnya serius", kata saya dalam hati. Beberapa orang sudah ambil tindakan, ada yang ngerokin sambil berkomentar, "Ini angin duduk namanya pak". Saya agak bingung juga dengerinnya, "Harusnya ada angin berdiri, jongkok, tiarap dan sebagainya", bisik saya dalam hati.

"Segera ambil tindakan", pikir saya. Tap, tap, tap, pengukur tekanan darah alias TENSI segera terpasang. Untungnya sudah otomatis dan dilengkapi juga dengan bacaan nadi. Sementara alat mengukur, saya ukur temperaturnya, yang untungnya juga sudah digital sehingga tidak perlu nunggu lama. Hasil pertama pengukur tekanan darah muncul, saya kaget karena tulisan yang terbaca error. Artinya ada yang salah, entah itu bacaannya atau penempatan mansetnya. Karena berfikir human error, saya ulangi pemeriksaan dengan terlebih dahulu membenahi letak manset. Hasilpengukuran kedua muncul dan kembali membuat kaget. Bacaannya menunjukkan 235/152 mmHg. Wah, wah, tampaknya ini yang bikin si bapak kliyengan. Pemeriksaan lain menunjukkan hasil yang normal. Pemeriksaan fisik juga tidak ada kelainan signifikan.

Prosedur selanjutnya lapor ke alarm center. Ini harus selalu dilakukan apabila kita berhadapan dengan kasus gawat darurat di rig. Konsultasi dengan dokter di sana diperoleh kesimpulan bahwa si bapak mengalami Hypertency urgency. Dan tindakan yang harus dilakukan adalah menurunkan tekanan darahnya segera, tapi tidak terlalu progressif alias tidak boleh melebihi 20%. Saya dengan singkat menghitung, kalau 20%, berarti hanya boleh diturunkan sekitar 46 mmHg.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.