Saturday, February 26, 2011

Ihklas



Kemarin siang saya  ingin membeli benang hitam yang kuat untuk pengikat penutup lensa kamera saya. Saya penah melihat ada seorang tukang sol sepatu yang menjual benda yang saya butuhkan.

Saya mengunjungi kiosnya disebuah perempatan jalan.

Saya bertanya “ Pak,  punya benang hitam untuk menjahit sepatu?” ( biasanya benang itu dipakai untuk menjahit sol sepatu ).

“Ada…”kata tukang sol sepatu itu. “Ini. Berapa helai yang bapak butuhkan?” katanya.

Saya menjawabnya “ Tidak banyak, pak, hanya 3  saja. Berapa harus saya bayar?”

Bapak ini menjawab dengan polos “Ambil saja, Pak. Tidak usah dibayar.”

“Jangan, Pak. Saya bayar saja. Berapa?” jawab saya  agak terkejut. Saya berkeberatan kalau tidak dibayar harganya.

Bapak itu berkata lagi dengan iklas “ Bawa saja, pak. Tidak apa-apa.”

"Baiklah, Pak. Terima kasih ya.” kata saya kemudian sambil membawa benang hitam itu.

Sambil berjalan meneruskan perjalanan, saya membatin “Aneh juga ni orang. Mau diberi uang kok menolak. Apa tidak butuh uang? Mengapa ia mau memberi dengan iklas kepada orang yang  tidak dikenal sama sekali?” Tidak banyak orang seperti bapak ini.

Dalam praktik sehari-hari, sering kali saya juga menggratiskan pasien yang baik itu teman, relasi ataupun orang-orang yang tidak saya kenal sama sekali. Itukah alasannya? Hanya Tuhan yang tahu. Amin.-

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.