Thursday, December 8, 2011

Ingin hidup di Panti lagi?



Kemarin sore datang berobat Opa S, 74 th. Ia diantar oleh putranya. Keluhannya batuk pilek.

Beberapa bulan yang lalu Opa S ini keluar dari Panti Wreda Kasih setelah ia tinggal disitu selama sekitar 11 bulan. Semula Opa S tinggal disebuah kota T di daerah Jawa Tengah. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Ia tinggal dsebuah rumah milik keluarga dan ditemani oleh seorang pembantu yang akhhirnya berhenti bekerja. Tinggal tanpa teman diusia lanjut tentu sangat tidak nyaman dan membuat putra dan putrinya mengendaki agar Opa ini  dapat hidup berdekatan sehingga dapat membantu ayah mereka. Putrinya sendiri sudah menikah dan berdomisili di sebuah Negara di Eropa. Ia pernah beberapa kali mengirim email kepada saya.

Akhirnya putranya ini membeli  2 unit rumah tinggal yag bersebelahan di tepi kota kami di daerah Jawa Barat. Ia bekerja di sebuah perusahaan yang lokasinya dekat dengan rumah mereka.

Oleh karena  pemukiman ini masih baru ( sekitar 1 tahun )  maka belum banyak pohon yang rindang yang dapat memberikan kesejukan d daerah pemukiman tadi. Siang hari udara kota kami panas menyengat, membuat badan mudah berkeringat.

Tinggal di rumah sendiri mestinya  membuat hati lebih nyaman, lebih bebas dan dapat mengatur hidup sendiri dari pada hidup disebuah Panti Wreda. Ternyata pendapat saya ini keliru.

Opa S ini  merasa tidak nyaman hidup disebuah rumah mungil bersebelahan dengan rumah keluarga putranya. Untuk kembali hidup di kota T, kota asalnya, putra-putri Opa S tidak setuju dengan alasan nanti tidak ada  yang merawatnya. Untuk kembali hidup di Panti juga mereka tidak setuju dengan alasan sudah mempuyai rumah sendiri. Opa S ini menyaakan  lebih enak hidup di Panti Weda. Pendapat Opa S ini  ada benarnya juga.

Kemarin sore Opa S curhat kepad saya bahwa  hidupnya di rumah baru itu tidak membuat hatinya tidak nyaman dan ingin masuk kembali ke Panti Wreda dimana Opa dan Oma yang tinggal di Panti tidak perlu pusing memikirkan makan,  tidur, mandi dan bersosialisasi dengan orang-orang usia sebaya. Disini semuanya kebutuhan hidup pokok sudah tersedia dan sangat diperhatikan oleh pengurus Panti.

Banyak keluhan dan ketidakpuasan Opa S yang diceritakan kepada saya di depan putranya dalam Ruang Perrksa. Saya dapat memahami dan mengerti keadaan Opa S ini sejak ia masih tingal di Panti. Jadi lebih mudah memberikan solusinya.

“Opa mengapa Opa ingin masuk Panti lagi?” saya bertanya kepadanya.

“Saya tidak betah hidup di rumah baru saya. Saya lebih cocok kalau kembali ke kota T dan hidup disana” kata Opa S.

“Opa, keadaan sudah berubah. Menurut saya Opa dapat menikmati hidup di rumah yang baru, toh putra Opa dan keluarganya  hidup bersebelahan dengan rumah baru Opa. Jadi kalau mau minta tolong juga lebih mudah.”

“Benar, tetapi saya cukup susah kalau mau pergi kemana-mana sebab harus menuggu dahulu  anak saya  pulang dari pekerjaannya.”

“Emang Opa mau pergi kemana setiap hari?” saya bertanya lagi.

Opa S diam.

“Kalau hari Minggu Opa dapat pergi ke Gereja bersama putra, istri dan cucu Opa naik mobil mereka. Setelah kebaktian pagi Opa  dapat minta diantar mau pergi kemana? Mau cari makan siang, mau belanja dan lain-lain. Semua failitas standard hidup sudah dipenuhi oleh putra Opa. Lalu mau apa lagi?” saya memotivasi Opa S agar ia mau menerima keadaan hidupnya ini.

“Saya tidak cocok dengan  makanan kota C ini, saya lebih menyukai makanan dari kota asal saya di kta T.” kata Opa S dengan sewot.

“Opa, hidup keluarga kami pun  susah pada tahun 1950-an saat saya dan adik-adik saya makan seadaanya. Saat kami mengeluh lauk telur ayam yang  1 butir di ceplok dan dibagi 4 bersama adik-adik saya, maka ¼ telur ayam ceplok per orang ini tidak cukup.

Ibu kami berkata dengan hati pilu “Sudahlah, makan asal sudah ada Nasi cukuplah. Ini Kecap sebagai tambahan lauk agar Nasi dapat dimakan dengan lebih enak”.

”Keadaan sosial ekonomi keluarga saya bukanlah dari keluarga yang kaya. Kami tujuh bersaudara, saya dan adik-adik saya sudah sangat bersyukur kalau orang tua kami dapat menghidupi kami, menyekolahkan kami sampai kami dapat belajar di Perguruan Tinggi dan bahkan saya dapat menjadi Dokter dengan susah payah” kata saya kepada Opa S.

Opa S diam mendengarkan kisah saya.

“Sebenarnya Opa dapat mengisi hidup Opa dengan lebih baik lagi di rumah baru Opa. Opa dapat bercocok tanam di pot, memelihara ikan di akuarium, memeilharai Kucing atau Anjing untuk teman hidup, Opa dapat menulis, melukis atau aktifitas lain agar hidup tidak membosankan dan selalu kerkeluh kesah saja.”

Opa S berkata “Saya tidak hobi itu semua, Dok.”

Saya menjawab “ Baik, tetapi Opa mulai saat ini  dapat mulai belajar semuanya. Fisik Opa masih  cukup baik, dapat berjalan tanpa tongkat, dapat melihat, dapat mendengar. Uang ada. Masalahnya masih adakah kemauan untuk semuanya itu?”

Opa S diam lagi.

“Opa, janganlah berpikir kalau hidup saya enak. Saya hidup sekarang hanya dengan istri saya yang juga Dokter  yang punya  kesibukan masing-masing. Kami saling mengisi, saling  membantu dan saling merawat rumah kami. Putra dan putri kami  hidup dan tinggal jauh disebuah Negara tetangga. Di rumah hanya kami berdua. Kami tidak mengeluh akan hidup kami. Untuk maka kami tidak pusing. Saya dapat melakukan semua kebutuhan hidup kami. Mau makan  dapat masak Nasi dengan sebuah Rice cooker, 30 menit Nasi sudah matang. Untuk Lauk pauk,  pagi kami dapat makan dengan Abon, Telur rebus dan lain-lain. Untuk makan siang dan malam kami dapat memamsak atau membeli masakan yang sudah jadi saat kami keluar rumah. Di waktu luang kami dapat membersihkan rumah kami, berkebun, melihat siaran TV, melayani pasien-pasien kami masing-masing. Mau pergi belanja saya dan isteri saya dapat mengemudikan mobil kami tanpa bantuan seorang Supir. Lalu mau apa lagi? Selain saya masih  melayani kesehatan Opa dan Oma di Panti Wreda milik Gereja kami. Tentu Opa  sudah mengetahuinya saat saya memeriksa kesehatan Opa dan Oma disana bukan? Apa yang dapat saya dan istri kerjakan, semua kami kerjakan. Kalau tidak sanggup kami minta bantuan orang lain seperti Tukang, Montir mobil / AC dan lain-lain. Hidup kami, kami yang mengaturnya. Kami  sangat bersyukur kepada Tuhan, apa bila diusia senja kami ini  kami masih dapat berjalan tanpa bantuan Tongkat, masih dapat naik sepeda masing-masing, masih dapat mengemudikan mobil kami, masih dapat menyiapkan makanan kami sehari-hari. Masih dapat mencari uang dan menghabiskan uang itu juga untuk kehidupan kami. Opa berubahlah. Opa masih dapat berbuat untuk diri sendiri dan juga untuk orang-orang lain. Seperti kata orang bijak yang pernah berkata “Engkau punya 2 tangan. Yang satu untuk menolong diri sendiri dan yang lain untuk menolong orang-oarng lain. Opa mau berbuat seperti itu, bukan?” saya berkisah untuk membandingkan keadaan hidup Opa dan keadaan hidup kami yang  hampir sama, tetapi berbeda dalam mengatasinya.

“Dok, saya tidak cocok dengan  makanan kota ini saya. Saya lebih suka makanan kota T, asal saya.” Opa S berkata lagi.

Putranya yang duduk di sampingnya melotot kepada ayahnya. Mungkin dia jengkel juga. Sudah susah payah melayani ayahnya, tetapi ayahnya masih saja banyak mengeluh. Konon kalau di rumah pertengkaran sudah menjadi acara rutin setiap hari. Ayah dan anak selalu bertengkar.

Saya cukup memakluminya. “Sabar ya. Menghadapi orang yang sudah lanjut usia tidak mudah karena seperti anak-anak lagi. Harap maklumlah.”

Waktu 30 menit sudah berlalu, sudah cukuplah mendengarkan keluhan pasien. Saya masih ada pekerjaan lain.

“Well,  ini resep untuk Opa. Nanti dapat dibeli di Apotik terdekat ya. Kapan-kapan Opa  dapat ngobrol lagi dengan saya disini atau di tempat lain.” Sambil menyerahkan selembar kertas resep obat kepada Opa S.

Ternyata masih banyak orang tidak puas dengan hidupnya.

Orang bijak juga pernah berkata “Berpuaslah dengan apa yang engkau miliki saat ini. Bila enkau masih belum puas juga, maka bila Matahari-pun  engkau miliki engkau akan masih tidak puas jua.”

Nah lho.

Selamat malam.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.