Thursday, November 17, 2011

Diare




Kemarin siang datang berobat Ny. H, 48 th.
Saat memasuki Ruang Tunggu, saya melihat kedua tangan pasien ini berwarna Kuning.

Saya bertanya “Kenapa tangan Ibu  berwarna Kuning? Apakah Ibu habis  membuat Kue?”

Ia menjawab “Saya berak-berak ( diare ). Sudah 12 kali sejak tadi pagi. Saya membuat larutan Kunyit untuk mengobatinya, tetapi masih belum sembuh, Dok.”

“O..begitu ya” kata saya.

Keluhan Diare banyak dijumpai pada pasien dalam praktik sehari-hari.

Ny. H ini bekerja sejak 1 bulan di keluarga Bapak / Ibu I yang saya kenal baik.

Saya bertanya lagi “Tadi malam Ibu makan Pedas atau Sambal? Makanan bersantan? Atau minum Susu?”

Pak I yang duduk di sebelah Ibu I., menjawab “Tidak, Dok. Ia makan apa yang kami makan juga. Kami juga tidak makan dengan Sambal dan kami tidak menderita Diare.”

“Wah …kalau makan tidak dengan Sambal, tidak sedap lho” kata saya guyon.

Kami semua tertawa, kecuali sang pasien.

Saya tidak tahu penyebab Diare Ny. S ini, sebab berdasar anamnesa ( taya jawab penyakit ), pasien makan biasa-biasa saja.

Saya memeriksa fisik Ibu H. Semua dalam batas normal, kecuali suara bising usus bertambah yang menunjukkan  gerakan peristaltik usus lebih aktip dari pada normal.

Saya membuat resep obat: kapsul Antibiotika dan tablet anti diare.

Untuk meyakinkan pasien dapat menelan kapsul, saya bertanya “Apakah Ibu dapat minum Kapsul?”

Ia menjawab “Dapat, Dok, asal Kapsulnya dimasukkan ke dalam sepotong Pisang yang kemudian saya telan.”

“Wah..bagaimana kalau tidak ada Pisang?” kata saya.

Kami  tertawa lagi. Mungkin mereka mengira bahwa dokternya suka guyon dan tidak serius. Terserah pendapat mereka.

Pertanyaan saya bermaksud baik untuk meyakinkan apakah pasien dapat menelan kapsul atau tidak. Kalau semua  diresepkan dalam bentuk Sirop ( seperti lazimnya untuk anak-anak ) maka ada banyak botol obat yang harus di beli di Apotik terdekat.

“Saya pernah menjumpai ada seorang pasien wanita umur 18 tahun yang masih belum dapat menelan Kapsul obat. Saat  Pisang ditelan, entah mengapa kapsul obat itu nyangkut dan berada di samping Lidahnya. Mendengar kisahnya itu, ahirnya saya beri resep obat dalam bentuk Puyer dan Sirop sebanyak 2 botol, seperti obat untuk pasien anak-anak” saya menerangkan.

Sering kali dalam menghadapi pasien dewasa, saya harus meyakinkan dahulu apakah pasien dapat  minum kapsul atau tablet obat.

Pasien ada yang tidak dapat menelan tablet yang besar. Kalau kecil bisa. Jadi saya anjurkan agar tablet obat itu dipotong menjadi 4 bagian. Minum ¼ tablet satu demi satu. Tidak usah ditelan bersama sepotong Pisang. Repot kalau malam-malam harus beli Pisang dahulu.  Pasar Tradisionil sudah tutup, mau  beli di Mall, lokasinya jauh.

Menghadapi pasien apalagi yang berasal dari Desa, dokter harus menjelaskan penyakit dan cara minum obatnya dengan baik dan benar. Kalau dengan guyonan maka tidak akan terasa ada paksaan bagi sang pasien.

Kepatuhan minum obat juga sangat penting dalam kesembuhan penyakit. Obat untuk TBC paru memerlukan waktu minimal 6 bulan untuk menyembuhkan penyakitnya. Bila tidak sampai 6 bulan berturut-turut, penyakitnya tidak akan sembuh dan dapat menulari anggota keluarga serumah. Dikira dokternya tidak pandai menyembuhkan penyakit pasien.

Sering kali minum obat antiTb hanya 1 -2 bulan, kemudian berhenti minum obat dengan alasan yang beraneka ragam. Sering kali kegagalan terapi karena faktor ketidak-patuhan pasien minum obat, meskipun dokter sudah menjelaskan dengan baik dan benar.

Kita ingin sembuh dari penyakit bukan? Nah…minumlah obat  sesuai anjuran dokter anda. Bila kurang jelas, tanya lagi sampai jelas. Dokter yang baik tentu akan menjawab dan memberikan petunjuk dengan baik pula. Semoga cepat sembuh.

Selamat pagi.-

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.