Sunday, November 13, 2011

Jengkel



Saat ini di masa pensiun dan sudah memiliki KTP seumur hidup, saya dan isteri bersyukur kepadaNya kalau kami  masih dapat berjalan tanpa bantuan sebuah Tongkat, masih dapat naik sepeda, masih dapat mengemudikan mobil dan masih dapat melayani orang-orang lain.

Banyak teman se-SMA saya dalam 2 tahun terakhir ini yang  sudah meninggalkan saya dan teman-teman untuk selama-lamanya. Hidup yang hanya sekali saja patut disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kami berharap kami masih dapat melayani diri sendiri dan melayani orang-orang lain.

----

Kita patut bersyukur dan berterima kasih atas kemajuan tehnologi terutama Tehnologi Informasi. Dengan Internet kita dapat berhubungan dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Mirip slogan Cola-cola.

Meskipun demikian dalam kurun waktu sekitar 2-3 tahun terakhir ini saya merasa hidup makin tidak nyaman. Sering kali orang berbuat seenak diri  sendiri saja.

Tiada hari tanpa kemacetan lalu lintas,  hampir setiap hari kita mendengar terjadi tawuran di banyak tempat, banjir yang tidak kunjung teratasi, penyedotan pulsa handphone masih  saja terjadi, banyak paku betebaran di jalan raya yang akan membuat ban mobil kempes di jalan raya, makin sulit mencari pekerjaan dll. Hidup sudah mulai tidak nyaman lagi.

----

Kemarin siang saat saya berkunjung ke sebuah Rumah Sakit di kota kami untuk menengok salah satu Oma warga Panti Wreda yang sedang dirawat, isteri saya melaporkan bahwa tadi ada  Pak K, tetangga kami yang juga pasien kami, datang ke rumah untuk minta berobat kepada saya. Isteri saya menjawab tidak bisa sebab saya sedang berada di Rumah Sakit. Ia  ngomel-ngomel yang membuat isteri saya menjadi tidak nyaman. Kalau saya tidak berada di temat, mengapa mereka tidak minta bantuan isteri saya yang juga seorang dokter? Mereka juga pernah beberapa kali berobat kepada isteri saya yang buka praktik di dekat rumah mereka.

Seharusnya mereka mengerti bahwa hari kemarin adalah hari Minggu ( libur ) dimana semua kantor termasuk dokter juga tidak buka praktik ( kecuali dokter jaga kota  yang bertugas ). Kalau sakit mendadak seharusnya datang ke UGD ( Unit Gawat Darurat ) di tiap Rumah Sakit di tiap kota, bukan memaksa minta bantuan dokter langganan / keluarga. Mungkin sekali yang diminta bantuan sedang tidak berada di tempat, sedang keluar kota atau sedang ke luar negeri dan sudah diinformasikan dengan cara baik-baik. Sering kali pasien dan keluarga tidak mau tahu dengan alasan sudah biasa datang berobat  kepada dokternya ( langganan ).

Pada hari minggu saya juga tidak dapat belanja Kertas HVS untuk mencetak artikel dll di sebuah Toko Alat-alat Kantor langganan saya. Saya tidak perlu ngomel, apalagi marah-marah kepada pemiliki Toko, sebab itu adalah hari libur dan Toko tutup. Mau tidak mau saya mesti belanja besok hari. Marah tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi justru akan menambah masalah.

----

Kalau ada orang yang datang minta Bunga Blimbing Wuluh yang tumbuh di halaman depan  rumah kami, itu wajar kalau orang datang pada waktu yang tepat ( pagi, siang atau sore ). Kalau datang malam hari pukul 21.30, apakah ini wajar? Wajarkah  kalau ada orang yang ketok-ketok pintu pagar rumah yang sudah tutup pada malam hari sekedar untuk minta Bunga Blimbing Wuluh? Apakah tidak bisa datang  keesokan harinya? Mengapa lebih suka  membuat orang lain menjadi tidak nyaman?

----

Tadi malam sekitar pukul 21.30 hari Minggu kami mendengar ada suara ketokan pada pintu besi pagar halaman depan rumah kami.

Saya bertanya kepada wanita yang mengetok pintu “Siapa ya?”

Bukannya menjawab pertanyaan saya, ia bahkan ia  balik bertanya “Apakah Ibu H ( isteri saya ) ada?” Jengkel juga.

“Ada, ada apa ya malam-malam begini?”

“Mau kirim undangan untuk Ibu H.”

“O…. boleh. Masukkan saja ke dalam kotak surat ( yang ada di samping pintu pagar ). Terima kasih ya.” Saya menjawab. Pintu pagar tetap tidak saya buka.

Rasanya  tidak lazim dan aneh kalau ada orang mengirim Undangan pada larut malam begini. Seperti tidak ada hari esok yang lebih baik? Saya malas membuka pintu, lebih baik masukkan saja ke dalam kotak surat yang pasti besok akan saya buka dan membacanya. Kalau bisa datang ya kami akan datang dan kalau  berhalangan datang maka kami tidak  dapat datang, sebab mungkin ada keperluan lain yang lebih penting.

Pagi hari saya melihat ada sebuah kartu Undangan Pernikahan di dalam kotak surat kami. Setelah memegang Surat Undangan itu, saya membaca dengan jelas cetakan nama isteri saya. Jadi yang diundang hanya isteri saya saja, tanpa suami. Banyak kali kami menerima Undangan Pernikahan atau lainnya selalu tercetak nama Suami ( Kepada Yth. Bapak / Ibu atau Tuan / Nyonya ….). Seorang Ibu / isteri  tidak lazim datang ke Undangan pesta pernikahan seorang diri tanpa pendamping / suami. Kalau tidak tahu nama sang suami, pengundang dapat mencari tahu siapa nama sang suami yang nampak jelas pada Papan Nama Praktiknya. Mungkin bukan itu masalahnya. Yang mau diundang hanya Isterinya saja, sesuai nama yang tertera pada Kartu Undangan.

Pada bulan-bulan tertentu sering kali dalam 1 hari ada lebih dari 1 Undangan yang kami terima. Tentu kami pilih sesuai skala prioritas mana yang akan kami pilih lebih dahulu?

----

Berbicara masalah Pesta Pernikahan ada kejadian yang membuat kami jengkel juga.
Namanya juga mengundang, jadi soal uang sebagai pengganti kado tidak menjadi masalah utama. Kalau para Undangan dapat datang saja  ini sudah merupakan kebahagian kami. Kalau para Undangan yang memberi amplop berisi uang, tentu kami tidak menolak.

Saat kami menikahkan putra kami,  kami menemui amplop kosong, tanpa nama dan alamat, apalagi uang. Kalau tidak rela menyumbang, ya sudahlah, toh tidak ada keharusan untuk menyumbang / memberi dengan ihlas, tetapi janganlah memberikan amplop kosong ( seperti mau menghina saja ).

Ada juga sebuah amlop dari seorang relasi yang kami kenal baik yang kami undang, berisi uang ribuan yang sudah sangat lusuh ( yang tidak layak diberikan kepada tukang parkir sekalipun ). Mengapa ia berbuat seperti itu? Kalau tidak punya uang dan tidak rela ya sudahlah. Datang saja, lalu megucapkan selamat  dan menikmati hidangan yang tersedia. Tidak usah memberi uang lusuh yang tidak layak pakai. Kami yang mengundang akan merasa senang kalau ada banyak para undangan yang datang hadir ke pesta kami. Uang sumbangan tidak menjadi tujuan pokok kami saat mengadakan Pesta Pernikahan. Doa restu dan ucapan selamatlah yang menjadi tujuan utama dalam sebuah Pesta Pernikahan.

----

Dari pengalaman hidup ini membuat kami harus berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, dari pada bertindak dahulu  lalu berpikir kemudian.

Mendengar kalimat tersebut seorang teman tertawa.
Saya bertanya “Adakah  yang lucu?”

“Benar berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Saya membayangkan kalau saya memukul seseorang sampai babak belur. Setelah itu saya meminta maaf, bahwa itu salah sasaran. Yang dipukul pasti menjadi marah-marah, mengapa ia dipukul. Masalahnya bisa menjadi panjang.”

Selamat siang.-

----

Lebih mudah mencari kesalahan  orang lain, dari pada mencatat kebaikan orang itu.-

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.