Tuesday, November 15, 2011

Tibalah saat itu



“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” ( Mazmur 90:10 )

Setiap mendengar ada orang yan meniggal dunia, saya selalu teringat akan ayat ini. Pada saatnya  kita satu per satu akan pergi menghadapNya. Tidak bisa menolak dan tidak bisa menawar.

Suatu keberuntungan dan kebahagiaan bila kita dapat mencapai usia 70 tahun dengan kondisi badan yang tetap sehat, masih dapat melayani diri sendiri dan melayani orang-orang lain.

Ada banyak teman saya yang seusia, dibawah usia saya atau diatas usia saya  yang sudah meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Kenangan manis selalu teringat di hati.

Ada 2 saat yang  selalu terjadi di dalam kehidupan manusia yaitu: saat bertemu dan saat berpisah. Saat bertemu banyak dipenuhi senyuman dan kegembiraan. Saat berpisah banyak disertai linangan air mata. Yang paling tidak saya sukai adalah saat yang terakhir itu, karena  selalu diliputi oleh kesedihan dan air mata.

----

Jumlah Opa dan Oma di Panti Wreda Kasih dimana sya melayani kesehatan mereka  sejak tahun 2004 ada sejumlah 18 orang. Saat ini tinggal 11 orang. Ada yang  pindah ke kota lain dan ada yang sudah meninggal dunia karena usia lanjutnya. Usia mereka makin bertambah lanjut. Usia mereka berkisar antara berusia 67 – 94 tahun. Saat ini saya 63,5 tahun, dapatkah saya mencapai seusia mereka? Saya tidak tahu. Siapakah yang dapat menentukan umur manusia, selain Tuhan?

Oma SS, 78 tahun menderita Hipertensi dan Cardiomegalia ( pembesaran jantung ). Sang suami  sudah lama meninggal dunia, dan mereka tidak dikarunia seorang anakpun. Masa tua Oma tinggal di PWK milik Gereja kami. PWK sebagai salah satu bentuk pelayanan bagi mereka yang membutuhkan.

Bulan demi bulan, tahun demi tahun, saya memeriksa, berbicara dari hati ke hati, kadang becanda dengan Oma. Ada sebuah kenangan yang sulit dilupakan begitu saja. Semasa sang suami masih hidup, saya beberapa kali datang ke rumah mereka untuk memeriksa kesehatannya.

11 Nov 2011 saat saya memeriksa Oma ini saya melihat kondisi Oma sudah menurun banyak. 

13 Nov 2011 pukul 05.30 saya mendapat SMS dari Ibu Panti bahwa Oma SS kondisinya memburuk. Saya langsng kontak dengan Ketua Pengurus PWK, Pak H dan meminta agar Oma SS segera di rujuk ke RSTC. Saya segera membuat Surat Rujukan.

13 Nov 2011 pukul 14.00  saya dan beberapa Pengurus PWK datang menengok Oma SS. Kondisinya tidak banyak perubahan. Dokter membuat CT scan kepala dan di dapat hasil: Cerebral atrophy ( Otak mengalami pengecilan  karena usia lanjut ). Sudah dikonsulkan kepada Ahli Jantung, tetapi beliau belum sempat datang memeriksa sampai Oma SS pergi meninggalkan kami semua.

14 Nov 2011 pukul 10.15 saya dan Pak S, salah seorang pengurus PWK datang menengok Oma SS. Kondisinya makin melemah dan memburuk, sukar minum, apalagi makan. Cairan Infus dan gas Oksigen tetap diberikan.

Ada banyak anggota PWK, anggota Jemaat aGereja dan Tim Pelawatan yang datang menengok dan selalu mendokan semoga Oma SS segera membaik.

15 Nov 2011 sekitar pukul 18.00 saya mendapat SMS dari Ibu Panti yang mendampingi Oma SS menyatakan bahwa Oma SS sudah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Kami semua  sedih dan mendoakan semoga Oma SS mendapat tempat disisiNya.

Berita duka ini cepat beredar via SMS keseluruh anggota Pengurus PWK, anggota Jemaat Gereja, Bapak / Ibu Pendeta dll relasi. Setelah jenasah Oma SS disemayamkan satu malam di Gedung Panti, maka pada tanggal  16 Nov 2011 Oma SS akan dikremasikan seperti juga sang suami.

“Selamat jalan Oma SS, semoga dapat bertemu dengan suami tercinta”

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.