Saturday, October 2, 2010

Mengikuti Workshop on Hypertension Management:



Cirebon, 2 Oktober 2010.

Hari ini saya dan isteri menghadiri acara Workshop seperti pada topik artikel ini,  yang diadakan di Hotel Grage, Cirebon. Sponsor tunggal adalah perusahaan obat Pfizer Indoneia dengan obat yang dipromosikan Norvask tablet ( Amylodipine besylate ) yang termasuk obat golongan Calcium Channel Blocker (CCB), suatu obat anti hipertensi.

Berbeda dengan acara Seminar / Simposium Kedokteran yang  tidak diadakan test ( Pre Test dan Post Test ), maka pada setiap acara Workshop selalu diadakan  test. Maksud test adalah untuk mengetahui kemajuan ilmu pengetahuan Dokter peserta sebelum dan sesudah Workshop. Bila  nilai Post Test lebih besar dari pada nilai Pre Test, maka Workshop berhasil / ada gunanya dalam meningkatkan pengetahuan para peserta.

Pfizer gemar mengadakan Workshop. Ciri khasnya adalah dengan menggunakan suatu alat Remote yang ber-keypad. Peserta menekan  tombol: A, B, C, D  atau  E sebagai pilihan jawaban masing-masing peserta dan diikuti penekanan Tombol OK. Pancaran gelombang Remote ini akan di tangkap oleh suatu Receiver yang dihubungkan  ke Laptop. Dari Laptop ini Teks akan ditayangkan melalui sebuah Projector. Tampilan jawaban peserta akan ditayangkan dalam bentuk Grafik Batang. Jawaban yang benar berwarna Hijau dan yang salah berwarna Merah. Untuk memperbaiki jawaban yang benar, peserta harus menekan sekali lagi Tombol keypad dan Tombol OK ( jawaban akan ditumpuk kepada jawaban yang salah, sehingga akan didapat jawaban yang terakhir ditekan ).

Soal yang diberikan sebanyak 10 soal dan diberi waktu selama 20 detik  / soal. Penilaian kepada para peserta adalah: ketepatan jawaban dan juga kecepatan menekan Tombol pada Keypad. Kalau jawaban Benar dan Cepat, maka nilai yang didapat juga bagus. Pada  akhr test akan ditayangkan: 10 peserta terbaik dari suatu daftar nilai yang didapat dari jawaban para peserta.

10 peserta terbaik ini akan mendapat  sebuah kotak yang sebagai hadiah. Pada kali ini hadiah tsb dibungkus  oleh kertas kado yang berisi sebuah kontainer / wadah plastik yang konon tahan panas selama 6 jam ( tetap hangat ).

Pada test kali ini, saya surprise karena termasuk 10 peserta terbaik. Sedangkan isteri saya, kali ini mendapat Keypad yang  mungkin rusak sebab, 2 kali menekan tombol OK pada 2 soal , tetapi pada tayangan di layar projector tetap berwarna Abu-abu ( tombol OK belum ditekan, padahal sudah berkali-kali ditekan ) yang seharusnya berwarna Biru ( tombol OK sudah ditekan ). Jadi dianggap tidak menjawab soal, padahal sudah menjawab. Ya sudah, gagal mendapat  nilai yang baik. Untungnya isteri saya sudah pernah mendapat gimmick yang sama  beberapa bulan yg lalu di tempat praktiknya. Dengan demikian kami sudah mendapat 2 Kontainer tsb.

Selesai acara Workshop dibagikan 1 Sertitikat dengan 3 SKP ( Satuan Kredit Profesi ) yang lumayan untuk menambah pecapaian jumlah SKP sampai 250 SKP yang dipersyaratkan  ketika akan mendapatkan STR ( Surat Tanda Registrasi ) Dokter yang kelak didjadikan salah satu persyaratan untuk mendapatkan SIP ( Surat Ijin Praktik ) Dokter oleh Dinas Kesehatan Cabang Kota / Kabupaten.

Untuk mempunyai SIP, para Dokter Praktik Umum ( DPU ) atau Dokter Spesialist diwajibkan mempunyai STR dan SIP, bila ingi membuka praktik. Bagi yang tidak buka praktik tidak diwajibkan mempunyai STR dan SIP.

Untuk mendapatkan STR juga  para dokter harus berjuang untuk melakukan Registrasi dan mengirimkan data-data kegiatan masing-masing dokter. Untuk para DPU diwajibkan mendapatkan 200 SKP sejak bulan April 2007 s/d tahun 2011 sebelum SIP yang lama akan berakhir masa berlakunya.

Pengiriman data tiap dokter dapat secara Online ( ini lebih dianjurkan, yaitu untuk mepercepat dan mempermudah pengiriman) ke P2KB IDI Online ( http://www.p2kb-idi.org ) dan secara Off line bagi yang tidak dapat secara Online.

Setelah data terkirim dan masuk ke server P2KB IDi Online, maka semua data tiap dokter akan di-verifikasi oleh Tim Verifikator yang ada di tiap cabang IDI Kota / Kabupaten masing-masing. 

Data kegiatan tiap dokter diharapkan dapat mengirimkan Bukti kegiatan yang mencakup 5 Ranah Kegiatan yaitu: 
1. Kinerja Pembelajaran, 
2. Kinerja Profesional, 
3. Kinerja Pengabdian Masyarakat / Profesi, 
4. Publikasi Ilmiah / Populer dan KInerja Pengembangan Ilmu ).  
5. Kinerja Pengembangan Ilmu.           

dari bulan April 2004 - 2011.

Ini merupakan penjabaran dari pelaksanaan UUD No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran yang memerintahkan setiap dokter yang berpraktik wajib mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan ( P2KB ) yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ).

Makin mendekati tahun 2011 dimana banyak SIP para dokter yang akan habis masa berlakunya, maka sudah selayaknya harus segera memenuhi persyaratan untuk mendapatkan STR dan selanjutnya SIP masing-masing. 6 bulan sebelum habis masa berlaku tiap SIP maka harus sudah diurus untuk diterbitkannya STR masing-masing dokter praktik di Indonesia.

Pertanyaan yang sering timbul adalah "Bagaimana kalau dokter tidak dapat mengirimkana data  secara Online ke P2KB IDI?"
Alternatifnya adalah: meminta bantuan Tim Verifikator di tiap cabang IDI Kota / Kab. setempat. untuk melakukan uploading data, seperti yang sudah dilakukan di beberapa IDI Cabang Kota / Kabupaten.

Semoga para dokter di Indonsia segera berbenah diri untuk memperoleh STR masing-masing. Tahun 2011 sudah di ambang pintu.

Saya dan isteri telah melakukan Registrasi secara online ke website P2KB IDI Online ( http://www.p2kb-idi.org  ). Sejak bulan April 2007 s/d awal bulan Oktober 2010  kami sudah mengumpulkan  nilai SKP diatas 250 SKP.  Sampai akhir tahun 2010 nilai ini akan bertambah dengan adanya kegiatan melakukan Praktik pribadi di tempat masing-masing dan nilai dari kegiatan lain seperti Pengabdian Sosial, mengikuti Workshop atau lainnya. Untuk keterangan lebih lanjut silahkan Teman Sejawat mengunjungi alamat website tsb. Semoga dapat bermanfaat. Amin.-



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.