Monday, October 18, 2010

Minta obat penenang




Saat ini banyak sekali orang yang mengalami Stres. Beberapa kasus seperti: Lapindo, Bank Century, Bencana alam ( banjir, longsor ) menyebabkan ada banyak orang yang mengalami Stres berat, Gila  dan bahkan bunuh diri.

Secara medis, Stres dapat diatasi dengan obat-obat anti Stres, tetapi tidak menyembuhkan akar masalahnya. Selama akarnya belum diatasi maka selama itu pula Stres akan tetap berlangsung.

Dalam praktik sudah banyak kali orang-orang datang minta diberikan obat penenang, obat anti stress dan sejenisnya. Dilihat dari kemampuan finansiilnya mereka  kebanyakan dari golongan the have not. Sedangkan golongan the have, nyaris tidak ada. Ini menunjang bahwa masalah finansil besar pengaruhnya terhadap Stres.

---

Kemarin sore datang seorang laki-laki, Pak B, 32 tahun, dari kota Semarang.

Dia berkisah:
Adik iparnya, Pak K, 30 tahun, tukang beca, menikah dengan 1 anak 2 tahun.
Pak B datang ke Cirebon karena mendengar adik iparnya sakit yang bila kambuh, ia marah-marah, susah diatur, teriak-teriak sehingga mengganggu para tetangga ( mungkin menderita Psychotic reaction ). Pak K ini pernah dibawa berobat ke RSU di kota Cirebon. Oleh Dokter Psikiater yang memeriksanya diberi resep beberapa macam obat anti psikotik.

Setelah minum obat tsb, Pak K masih belum membaik,katanya obatnya tidak cocok(?).
Kata Pak B, akhirnya Pak K dibawa berobat kepada dokter lain dan diberi resep obat ( ia memperlihatkan 1 strip tablet Alganax 0,5 mg yang tergolong anti depresi yang harus dibeli denga resep dokter ) dan tablet Valisanbe yang mengandung  diazepam sebagai  obat minor tranquilizer / obat penenang. Setelah minum obta-obat tsb, Pak K menjadi lebih tenang dan sering tertidur. Maklumlah karena semua obat yang diminumnya mempunyai efek samping ngantuk dan dapat membuat orang mudah tidur. Benar tidur, tetapi Stres-nya belum hilang. Setelah efek obat itu  habis, maka ia akan  kumat lagi. Begitu seterusnya, selama akar Stres-nya belum diatasi. Sebagai orang yang berpenghasilan tidak memadai, dengan keluarga  dan 1 orang anak, maka masalah keuangan sangat berpengaruh terhadap kehidupan rohaninya. Bila tidak teratasi, maka akan meledak dan timbullah Psychotic reaction dan bila tidak dapat disebuhkan  dapat menjadi Psychose, keretakan kepribadian.

Saat ini obat tsb hampir habis.
Pak B minta saya membuatkan resep obat-obat tsb.
Kalau sudah cocok dengan obat-obat tsb, mengapa tidak memintanya lagi kepada dokter yang memberikan resep obat tadi?

Saya berkata kepada Pak B ”Maaf saya tidak bisa membuat resep obat bagi pasien yang saya  belum / tidak  diperiksa terlebih dahulu.”

Pak B berkilah “Tadinya kami akan membawa Pak K kesini tetapi ia berontak dan susah membawanya.”

Saya memberi jalan keluarnya “Begini saja,  malam nanti minumkanlah obat yang masih ada dan besok pagi bawalah Pak K ke Puskesmas terdekat didaerah Perumnas. Kalau masih susah juga membawanya, mintalah agar Dokternya yang dating mengunjungi Pak K. Tempat tinggal Pak K  masih dalam wilayah kerja Puskesmas tsb sehingga petugas Puskesmas akan dapat mengunjungi rumah Pak K.”

Melihat penampilan Pak B ini saya ragu-ragu akan  kebenaran kisahnya itu.
1. Apakah benar Pak K ini adalah anggota keluarganya
2. Mengapa ia datang kepada saya dan langsung minta dibuatkan resep obat untuk orang yang belum saya periksa, apalagi minta obat anti psikotik yang mesti diberi dengan resep dokter? Kalau saya berikan resep obat tsb bagaimana kalau kemudian kisahnya tidak benar dan bat-obat itu diminumnya sendiri ( pengguna obat-obat terlarang ) atau dijual kepada orang lain ( pengedar obat-obat terlarang )?

Akhirnya saya memberikan jalan keluar tsb.
Kalaupun  keragu-raguan saya tidak benar, maka  paling tidak anjuran untuk minta bantuan Puskesmas wilayahnya adalah sudah benar. Pak K dapat diberi pelayanan kesehatan yang benar dan kalau perlu dirawat saja di RSU dengan minta Kartu Jamkesmas  dari Pemerintah Daerah.


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.