Saturday, November 28, 2009

Olah raga, sehat atau sakit


Kejadian ini terjadi pada  medio 2003.

Suatu sore sekitar pukul 17.00, ketika saya sedang praktek sore, ada panggilan melalui telepon dari seorang isteri, Ny. A.  Ia memanggil Dokter untuk memeriksakan keadaan suaminya, Tn. A, 35 tahun dengan keluhan badannya sakit sampai tidak dapat bangun dari posisi berbaring.

Ia mengatakan bahwa suaminya hampir setiap hari berolahraga naik sepeda sejak 1 tahun yang lalu. Pagi hari pukul 06.00, Tn A. bersama teman-temannya bersepeda ke daerah Waduk Darma, Kabupaten Kuningan. Tempat ini berjarak sekitar 35 km dari kota Cirebon dimana ia tinggal. Saya pikir jarak itu terlalu jauh bagi pengendara sepeda sehat, lagi pula jalannya menanjak karena Waduk Darma berada di daerah Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat.

Ketika saya memasuki kamar tidur dimana Tn. A berbaring, disekililing bed hadir isteri, ketiga putra/inya, Ibu Mertua dan seorang pembantu rumah tangga. Keadaan ini  biasa terjadi bila seorang pasien sakit berat.

Dalam tanya jawab ( anamnesa ) penyakit yang diderita pasien  antara saya dan Tn. A. tidak dapat berlangsung dengan baik ( kontak inadekwat ), sehingga Ny. A  yang banyak menceritakan riwayat penyakit suaminya. Tn. A sebelumnya sehat dan tidak ada keluhan. Suaminya tampak sakit dan lemas sekembalinya ia naik sepeda dari Waduk Darma.

Pemeriksaan fisik yang saya lakukan semuanya dalam batas normal, kecuali kontak yang inadekwat, sepertinya ia menyembunyikan rasa bersalahnya kepada keluarganya bahwa ia naik sepeda  terlalu jauh sehingga badannya kelelahan yang sangat. Ia menderita Fatique syndrome. Saya memberikan resep 2 macam obat,  tablet anti nyeri dan tablet multivitamin & mineral. Saya memberi anjuran agar setelah mandi air hangat dan makan malam pasien segera tidur untuk memulihkan kesehatannya. Tn. A tidak  diperkenankan naik sepeda untuk 2-3 hari dan lain kali jangan bersepeda terlalu jauh jaraknya sehingga tujuan bersepeda untuk menjadi sehat tidak tercapai dan bahkan menjadi sakit.

Keesokan paginya sekitar pukul 06.30, untuk suatu keperluan saya naik mobil dan melewati rumah Tn A. Saat itu saya melihat Tn. A. membawa sepedanya keluar dari pintu pagar rumah. Rupanya Tn. A sudah pulih kembali kesehatannya dan ingin bersepeda lagi. Ia sudah lupa anjuran Dokter kemarin sore. Bersepeda rupanya sudah merupakan habituasi, kebisaan sehari-hari.

Rupanya Tn. A. mempunyai moto “Tiada hari tanpa bersepeda.” Di dalam mobil saya menggeleng-gelengkan kepala.-

 

 

 

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.