Wednesday, November 11, 2009

P e n i p u


Kemarin pagi sekitar pukul 10.00 saya menerima telepon ( telepon rumah ).

Terjadilah dialog antara saya dengan wanita muda si penelpon.

“Halo ini dengan pak Basuki?’

Saya jawab “Betul. Dari siapa ya.”

Dia menjawab “Dari Bank Anu ( salah satu Bank ) .”

Rasanya aneh sebab saya bukan Nasabah dari Bank tsb dan tidak pernah berhubungan dengan Bank tsb . Saya mulai curiga.

Ada  apa dengan Bank Anu?” saya bertanya.

Dia berkata lagi “Kapan tagihan Kartu Kredit Visa dari Bank Anu akan dilunasi?”

Saya jengkel, telepon saya tutup.

Beberapa detik kemudian, telepon berdering lagi. Saya diamkan. Telepon berdering 5 kali.  Sambil ogah-ogahan saya angkat telepon.

Dengan suara yang persis sama, dia bertanya “Ini dengan Pak Basuki?”

Saya jawab “Basuki siapa ya?”

Dia berkata sekenanya “Ya Basuki aja.” 

Nah ketahuan kan. Yang namanya Basuki ada banyak. Mungkin sekali dia  mendapatkan nomer telepon dari Buku Telepon. Dia tidak mengetahui identitas lawan bicaranya. Dia menelepon secara acak saja.

“Tagihan Kartu Kredit Bapak sebesar Dua koma enam juta rupiah, kapan mau dilunasi?”

“Saya tidak punya account di Bank Anu, apalagi punya hutang disana.”

Dia mulai pura-pura meradang “Bapak jangan bohong.”

Dalam hati: Lho yang bohong itu siapa: saya atau kamu heh….?  Bego juga dia.

“Begini saja, anda datang ke tempat saya alamatnya di jalan anu nomer sekian. Saya tunggu !” saya langsung menutup telepon.

Saya membatin: enak saja bicara dan menagih. Kenal juga tidak. Juga bicaranya kasar ( “Bapak jangan bohong”), tidak sesuai dengan harkat seorang wanita.

Sampai 1 jam dia tidak  datang. Mungkin sekali dia berada  di kota yang lain yang mencoba ngerjain saya.

Kalau saya lama-lama bicara mungkin sekali, saya akan terjebak dengan tipu –tipu yang jahatnya yang dapat melalui nomer ATM Bank saya dll cara jahatnya.

Caranya sama seperti beberapa waktu yang lalu saya mendapat telepon dari seorang Pria yang mengatakan bahwa :”Selamat, anda mendapat Hadiah Halo Point sebesar Rp. 35.000.000,“ Kalau benar, maka Telkomsel akan kirim surat kepada saya sebagai pelanggan tetapnya, bukan dengan cara seperti itu.

Setelah berdialog sebentar, akhirnya dia menanyakan  Bank dan Nomer Rekening saya.

Nah...... ketahuan deh maksud jahatnya.

Telepn saya tutup. 1 menit kemudian saya telepon balik ke nomer tsb, tidak ada seorangpun yang menjawab. Telepon tadi membisu. Dasar…….

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.