Saturday, March 3, 2012

Kencing Manis



Seminggu yang lalu datang berobat Ibu. K, 40 tahun.
Keluhannya ada luka di kaki kiri, akibat kecelakaan lalu lintas. Saat naik sepeda, ia ditabrak pengendara Sepeda motor. Saya melihat punggung kaki kirinya terdapat luka terbuka. Luka itu terjadi sejak 10 hari yang lalu. Ia mengobati lukanya dengan ramuan sendiri.

Luka atau borok di kaki itu mestinya sudah sembuh kalau diobati dengan benar, tetapi ini kok belum sembuh. Saya berpikir mungkin sekali pasien ini  juga menderita penyakit Kencing Manis. Saat ia ditanya apakah ia atau orang tuanya mempunyai Kencing Manis, ia menjawab “Tidak tahu.”

Saya berkata kepadanya “Ibu, luka Ibu sudah lama belum sembuh juga. Saya akan beri resep obat yang dapat dibeli di Apotik. Selain itu Ibu besok pagi datanglah ke sebuah Laboratorium Klinik dengan membawa Surat pengantar dari saya, untuk memeriksa Darah Ibu apakah Ibu  mempunyai penyakit Kencing Manis atau tidak.”

Ia menjawab “Untuk apa darah saya diperiksa? Bukankah cukup diberi obat yang saya minum saja, Dok?”
“Benar, Bu, tetapi kalau Ibu juga menderita penyakit Kencing Manis, maka penyembuhannya akan lama. Kencing Mani itu juga perlu diobati juga agar luka Ibu lekas sembuh.” Pasien yang belum atau tidak mengerti maka perlu diberi penjelasan agar pasien dapat mengerti sehingga dapat mematuhi advis dokter.

2 hari kemudian Ibu K datang kembali dengan membawa hasil pemeriksaan darahnya. Kadar Glukose ( gula )  darahnya baik dalam keadaan Puasa ( Nuchter ) dan 2 jam sesudah makan ( 2 jam post prandial ) diatas kadar normal.

Saya menjelaskan keadaan ini kepada pasien “Ibu ternyata Ibu juga menderita Kencing Manis dan saya akan memberikan obat untuk mengobatinya. Ibu juga  sebaiknya menghindari makan yang manis-manis. Habis obat, Ibu periksa lagi darahnya ya.” Sambil memberikan Surat Pengantar untuk periksa ulang kadar Glukosenya setelah obat habis.

Seminggu kemudian Ibu K datang kembali membawa hasil pemeriksaan darahnya. Kadar Glukosenya turun sedikit tetapi masih diatas nilai normal. Keadaan lukanya masih belum sembuh dan ada sedikit bengkak ( edema ) di sekitar luka itu.

“Ah.. pasien ini kiranya harus mendapat suntikan Insulin agar Kadar Glukosenya  turun mencapai nilai normal. Agaknya pasien harus di rujuk ke Dokter Ahli Penyakit dalam di sebuah Rumah Sakit terdekat. Suntikan hormone Insulin ini untuk menurunkan kadar Glukose pasien dengan ukuran yang pas dan ini sebaiknya di monitor di Rumah Sakit. Saya khawatir kalau lukanya meluas dan suatu saat kaki pasien tidak tertolong lagi sehingga perlu dilakukan amputasi ( pemotongan ). Pasien akan menjadi cacad ( invalid ).

Pasien ini menolak di rujuk ke Rumah Sakit dengan alasan tidak mempunyai dana yang cukup. Masalah biaya merupakan suatu hambatan besar bagi pasien untuk mendapatkan perawatan yang memadai.
“Kapan rakyat dapat menikmati pelayanan kesehatan dengan biaya terjangkau atau gratis?” saya membatin.


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.