Monday, June 13, 2011

Posmodernisme


PARADIGMA POSTMODERNISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Oleh: IMAM INDRATNO, OKE SUNARDI MA

ABSTRAK
Sebelum kehidupan modern bermula, pemikiran masa pramodern selalu menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala pemikiran, kebudayaan, dan masyarakat. Pusat dari seluruh kehidupan manusia dan semua kreativitas artistik terletak pada persoalan pertemuan (encounter) dengan Tuhan. Persoalan manusiawi dalam era ini tidak bersifat independen dalam diskusi mengenai filsafat dan keagamaan. Karena penekanan yang terlalu berlebihan pada aspek ketuhanan ini, tidak heran jika kemudian kehidupan manusia dianggap hanya sebagai suatu keberadaan yang duniawi, fana, dan keadaan sementara di tengah perjalanan menuju pada keberadaan yang nyata dalam kekekalan dengan Tuhan. Bermula dari Renaisans dan humanisme yang berhasil membuat perubahan radikal, tema yang mulanya berpusat pada Tuhan berbelok menjadi berpusat pada manusia. Persoalan waktu dan materi menjadi perhatian utama manusia.

Key words:


PENDAHULUAN
Dengan perkembangan teknologi yang sedemikian canggih, masyarakat saat ini masih merasa berada di era modern. Bahkan, mungkin sebagian besar orang berpikir bahwa era modern adalah era terakhir. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Hidup bergulir, dunia berputar, dan perkembangan teruslah menjadi proses yang tidak berujung. Saat ini, disadari atau tidak, masa modern telah bergerak lebih jauh memasuki era baru yang ditandai dengan perubahan paradigma di berbagai bidang kehidupan. Berbicara mengenai pergeseran masa dari modern ke postmodern sesungguhnya memang lebih tepat merupakan pembicaraan mengenai pergeseran filsafat hidup modernisme ke postmodernisme. Modernisme dianggap dalam keadaan sekarat meskipun belum sepenuhnya kehilangan kekuatan, dan sedang dalam proses digantikan oleh postmodernisme.

ETOS POSTMODERNISME
Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972. Ketika pertama kali didirkan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis dianggap sebagai lambang arsitektur modern yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenonovasi bangunan tersebut. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Bangunan berpengaruh itu akhirnya diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme.
Masyarakat kita berada dalam pergolakan dan pergeseran kebudayaan. Seperti proyek bangunan Pruitt-Igoe, pemikiran dan kebudayaan modernisme sedang hancur berkeping-keping. Ketika modernisme mati di sekeliling kita, kita sedang memasuki sebuah era baru postmodernisme. Fenomena postmodernisme mencakup banyak dimensi dari masyarakat kontemporer. Pada intinya, postmodernisme adalah suasana intelektual atau “isme” postmodernisme.
Para ahli saling berdebat untuk mencari aspek-aspek apa saja yang termasuk dalam postmodernisme. Tetapi mereka telah mencapai kesepakatan pada satu butir: fenomena ini menandai berakhirnya sebuah cara pandang universal. Etos postmodern menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten. Mereka menggantikan semua ini dengan sikap hormat kepada perbedaan dan penghargaan kepada yang khusus (partikular dan lokal) serta membuang yang universal. Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui metode sains, yang merupakan fondasi intelektual dari modernisme untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Pada dasarnya, postmodernisme adalah anti-modern.
Kata “postmodern” mencakup lebih dari sekedar suasana intelektual. Penolakan postmodernisme terhadap rasionalitas terwujud dalam banyak dimensi dari masyarakat kini. Tahun-tahun belakangan ini, pola pikir postmodern terwujud dalam banyak aspek kebudayaan, termasuk arsitektur, seni, dan drama. Postmodern telah merasuk kedalam seluruh masyarakat. Kita dapat mencium pergeseran dari modern kepada postmodern dalam budaya pop, mulai dari video musik sampai kepada serial Star Trek. Tidak terkecuali, hal-hal seperti spiritualitas dan cara berpakaian juga terpengaruh.
Postmodernisme menunjuk kepada suasana intelektual dan sederatan wujud kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh modernisme. Postmodernitas menunjuk kepada era yang sedang muncul, era di mana kita hidup, zaman dimana postmodernisme mencetak masyarakat kita. Postmodernisme adalah era dimana ide-ide, sikap-sikap, dan nilai-nilai postmodern bertahta, ketika postmodernisme membentuk kebudayaan. Inilah era masyarakat postmodern.

FENOMENA POSTMODERNISME
Postmodernisme menunjuk kepada suasana intelektual dan ekspresi kebudayaan yang sedang mendominasi masyarakat kini. Sekonyong-konyong kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru, postmodernisme. Tetapi kita harus memperinci apa sja yang tercakup dalam fenomena postmodern.

KESADARAN POSTMODERN
Bukti-bukti awal dari etos postmodernisme senantiasa negatif. Etos tersebut merupakan penolakan terhadap pola pikir pencerahan yng melahirkan modernisme. Kita dapat melacak etos postmodern dimana-mana dalam masyarakat kita. Yang terpenting, postmodernisme telah merasuk jiwa dan kesadaran generasi sekarang ini. Ini merupakan perceraian radikal dengan pola pikir msa lalu.
Kesadaran postmodern telah melenyapkan optimisme “ kemajuan” (progress) dari pencerahan. Postmodern tidak mau mengambil sikap optimisme dari masa lalu. Mereka menumbuhkan sikap pesimisme. Untuk pertama kalinya, anak-anak pada masa kini berbeda keyajinan dengan orang tuanya. Mereka tidak percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik. Dari lubang yang besar di lapisan Ozon sampai kepada kekerasan antar remaja, mereka menyaksikan permasalahan semakin besar. Mereka tidak lagi percaya kalau manusia dapat menyelesaikan maslahnya dan kehidupan mereka akan lebih baik daripada orang tua mereka.
Generasi postmodern yakni bahwa hidup di muka bumi bersifat rawan. Mereka melihat bahwa model “manusia menguasai alam” dari Francis Bacon harus  segera digantikan dengan sikap kooperatif dengan alam. Masa depan umat manusia sedang di persimpangan jalan. Selain sikap pesimis, orang-orang postmodern mempunyai konsep kebenaran yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Pemahaman modern menghubungkan kebenaran dengan rasio sehingga rasio dan logika menjadi tolak ukur kebenaran. Kaum postmodernisme meragukan konsep kebenaran universal yang dibuktikan mellaui usaha-usaha rasio. Mereka tidak mau menjadi rasio sebagai tolak ukur kebenaran. Postmodernmencari sesuatu yang lebih tinggi daripada rasio. Mereka menemukan cara-cara nonrasial untuk mencari pengetahuan, yaitu melalui emosi dan intuisi.
Keinginan mencari model kooperatif dan penghargaan kepada cara nonrasional menciptakan sebuah dimensi holistik bagi kaum postmodern. Postmodern dengan holismenya menolak cita-cita pencerahan, individu yang tidak berperasaan, otonom, dan rasional. Orang-oarang postmodern tidak berusaha menjadi individu-individu yang mengatur dirinya secara penuh, tetapi menjadi pribadi-pribadi “setuhnya”. Postmodern dengan holismenya mencakup integrasi seluruh dimensi dari kehidupan pribadi-perasaan, intuisi, dan kognitif. Keutuhan juga mencakup kesadaran akan lingkungan dari mana kita berasal. Tentu saja area ini mencakup “alam” (ekosistem), tetapi ia jug komunitas. Postmodernisme menegaskan bahwa keberadan diri dapat dikenal dalam lingkup ketuhanan.
Karena setiap orang selalu termasuk dalam konteks komunitas tertentu, maka memahami kebenaran haruslah bersama-sama. Keyakinan dan pemahaman kita akan kebenaran, berakar kepada komunitas dimana kita berada. Mereka menolak konsep pencerahan yang universal, supra-kultur, dan permanen. Mereka lebih suka melihat kebenaran sebagai ekspresi dari komunitas tertentu. Mereka yakin bahwa kebenaran adalah aturan-aturan dasar yang bertujuan bagi kesejahteran diri dan komunitas bersama-sama. Dalam pengertian ini, kebenaran postmodern berhubungan dengan komunitas. Karena ada banyak yang berbeda-beda. Banyak kaum postmodern percaya bahwa keanekaragaman kebenaran ini dapat hidup berdampingan bersama-sama. Kesadaran postmodern menganut sikap relativisme dan pluralisme.
Tentu saja, relativisme dan pluralisme bukanlah barang baru. Tetapi jenis pluralisme dan relativisme dari postmodern ini berbeda. Relatif pluralisme dari modernnisme bersifat individualistik: pilihan dan cita rasa pribadi diagung-agungkan. Mottonya adalah “setiap orang berhak mengeluarkan pendapatan. Sebaliknya postmodernisme menekankan kelompok. Kaum postmodern hidup dalam kelompok-kelompok sosial yang memadai, dengan bahasa, keyakinan, dan nilai-nilainya tersendiri. Akibatnya pluralisme dan relativisme postmodern menyempitkan lingkup kebenaran menjadi “lokal”. Suatu kepercayaan dianggap benar hanya dalam konteks komunitas yang meyakininya.
Karena itu ketika kaum postmodern memikirkan tentang kebenaran, mereka tidak terlalu mementingkan pemikiran yang sistematis atau logis. Apa yang dahulu dianggap tidak cocok, kaum postmodern dengan tenang mengawinkannya. Mereka mengkombinasikan sistem-sistem kepercayan yang dulu dianggap saling berbenturan, misalnya seorang kristen postmodern percaya kepada doktrin-doktrin gereja sekaligus juga percaya kepada ajaran non-kristen seperti reinkarnasi. Orang-orang postmodern tidak merasa perlu membuiktikan diri mereka benar dan orang lain salah. Bagi mereka, masalah keyakinan/kepercayan adalah masalah konteks sosial. Mereka menyimpulkan, “apa yang benar untuk kami, mungkin saja salah bagi anda” dan “apa yang salah bagi kami, mungkin saja benar atau cocok dalam konteks anda”.

KELAHIRAN POSTMODERNITAS
Sebenarnya postmodernisme telah mengalami masa-masa inkubasi yang cukup lama. Meskipun para ahli saling berdebat mengenai siapakah yang pertama kali menggunakan istilah tersebut, terdapat kesepakatan bahwa istilah tersebut muncul pada suatu waktu pada tahun 1930-an. Salah satu pemiki9r postmodernisme, Charles jencks, menegaskan bahwa lahirnya konsep postmodernisme adalah dari tulisan seorang Spanyol Frederico de Onis. Dalam tulisannya “Antologia de la poesia espanola e hispanoamericana” (1934), de Onis memperkenalkan istilah tersebut untuk menggambarkan reaksi dalam lingkup modernisme.
Yang lebih sring dianggap sebagai pencetus istilah tersebut adalah Arnold Toynbee, dengan bukunya yang terkenal berjudul “Study of History”. Toynbee yakin benar bahwa sebuah era sejarah baru telah dimulai, meskipun ia sendiri berubah pikirannya mengenai awal munculnya, entah pada saat Perang Dunia I berlangsung atau semenjak tahun 1870-an. Menurut analisa Toynbee,era postmodern ditandai dengan berakhirnya dominasi Barat dan semakin merosotnya individualisme, kapitalisme, dan kekristenan. Ia mengatakan transisi ini terjadi ketika peradaban Barat bergeser ke arah irasionalitas dan relativisme. Ketika hal ini terjadi, kekuasan berpindah dari kebudayaan Barat ke kebudayaan non-Barat dan muncullah kebudayaan dunia pluralis yang baru.
Meskipun istilah ini muncul pada tahun 1930-an, postmodernisme sebagai  sebuah fenomena kultural belum menjadi sebuah momentum sampai 40 tahun setelahnya. Ia muncul pertama-tama dalam lingkup kecil masyrakat. Selama tahun 1960-an, suasana yang menandai postmodernisme sangat menarik bagi para seniman, arsitek dan pemikir yang sedang mencari alternatif untuk melawan dominasi kebudayan modern. Bahkan beberapa teolog ikut tertarik dengan trend tersebut, antara lain william Hamilton dan Thomas J.J. Altizer yang “mengundang arwah” Nietzsche untuk memberitakan matinya Allah. Perkembangan yang beranekargam ini membuat “pengamat kebudayaan” Leslie Fiedlerpada tahun 1965 menambahkan istilah “post” kepada kata modern sehingga menjadi postmodernisme yang menjadi simbol kontra-kultural pada zaman itu.
Selama tahun 1970-an tantangan postmodern menembus kepada arus budaya utama. Pada pertengahan tahun tersebut, muncullah seorang pembela postmodern yang paling konsisten mempropagandakan ide postmodern, yakni: Ihab Hassan. Ia menghubungkan postmodernisme dengan eksperimentalisme dalam bidang seni dan ultra teknologi dalam bidang arsitektur. Tetapi etos postmodern secara tepat menjalar terus ke bidang-bidang lain. Profesor-profesor di universitas dalam berbagai fakultas mulai berbicara mengenai postmodernisme. Bahkan beberapa di antara mereka tenggelam dalam konsep-konsep postmodern. Akhirnya penerimaan etos baru begitu menjalar terus ke mana-mana sehingga istilah “postmodern” menjadi label yang digunakan bagi berbagai fenomena sosial dan budaya. Gelombang postmodern menyeret berbagai aspek kebudayaan dan beberapa disiplin ilmu, khususnya sastra, arsitektur, film, dan filsafat.
Pada tahun 1980-an, pergeseran dari lingkup kecil kepada lingkup besar terjadi.secara bertahap, postmodern menyerang budaya pop bahkan juga hidup sehari-hari masyarakat. Konsep-konsep postmodernbahkan Cuma hanya diterima tetapi populer; sangat menyenangkan menjadi seorang postmodern. Akibatnya, para kritikus kebudayan dapat berbicara mengenai “nikmatnya menjadi seorang postmodern”. Ketika postmodernisme diterima sebagai bagian dari kebudayan, lahirlah postmodernitas.

PENCETUS POSTMODERNITAS
Antara tahun 1960  dan 1990, postmodernisme muncul sebagai sebuah fenomena kebudayaan. Banyak pengamat menghubungkan transisi ini dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada paruh kedua dari abad ke-20. Faktor pencetus terbesar adalah lahirnya era informasi. Penyebaran postmodernisme sejajar clan bergantung kepada transisi ke era informasi. Banyak sejarahwan menyebut era modern sebagai "era" industrialisasi, sebaliknya era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi. Kita sedang menyaksikan sebuah transisi dari masyarakat industri ke masyarakat informasi. Simbolnya adalah komputer.
Statistik kerja membuktikan bahwa kita sedang mengalami perubahan dari masyarakat industri kepada masyarakat informasi. Pada tahun 1970-an, hanya 13% dari buruh-buruh di Amerika bekerja dalam produksi barang; 60% bekerja dalam bidang informasi. pelatihan untuk karir yang berkaitan dengan informasi – baik prosesor data maupun konsultan - menjadi sangat penting. Masyarakat informasi menghasilkan sekelompok orang baru. Ploretariat telah menyerahkan tempatnya kepada "cognitariat." Dan untuk bisnis, munculnya masyarakat postmodern berarti perubahan dari model "sentralisasi" kepada model "network." Struktur hirarki dalam pengambilan keputusan diganti dengan keputusan bersama.
Era informasi bukan hanya mengubah pekerjaan kita tetapi juga menghubungkan seluruh belahan dunia. Masyarakat informasi berfungsi berdasarkan jaringan komunikasi yang meliputi seluruh muka bumi. Efisiensi sistem tersebut sangat mengejutkan. Pada masa lalu, informasi tidak secepat perjalanan manusia. Tetapi sekarang informasi dapat mengalir ke seluruh dunia secepat cahaya. Yang lebih mengagumkan lagi adalah kemampuan era postmodern untuk mendapatkan informasi dari mana saja secara cepat.
Karena sistem komunikasi global yang begitu canggih, kita dapat mengetahui peristiwa apa saja di mana saja di dunia ini. Kita sedang menghuni sebuah desa global. Munculnya          desa global menghasilkan dampak yang kontradiktif.     Budaya massal  dan ekonomi global yang dihasilkan era informasi berusaha menyatukan dunia rrenjadi "McWorld". Ketika planet ini menyatu pada satu sisi, saat yang sama ia hancur berantakan pada sisi lainnya. Munculnya postmodernisme menghasilkan kesadaran global dan menipiskan nasionalisme.
Nasionalisme semakin suram dengan munculnya gerakan menuju "retribalisasi," menuju loyalitas kepada lingkungan lokal seseorang. Orang-orang sedang mengikuti motto: "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara !okal". Munculnya masyarakat informasi memberikan dasar berpijak bagi etos postmodern. Hidup di desa global menyadarkan penduduknya mengenai keanekaragaman budaya di bumi ini. Kesadaran ini memaksa kita mengadopsi pola pikir pluralisme. Pola pikir ini bukan hanya bersikap toleran kepada kelompok lain, tetapi ia menegaskan dan merayakan keanekaragaman. Perayaan keanekaragaman budaya menuntut gaya baru -eklektisisme - gaya postmodernitas. Masyarakat informasi telah menyaksikan perubahan besar dari poduksi massal kepada produksi segmen. Produksi barang-barang yang sama telah berubah menjadi produksi barang-barang yang beraneka ragam. Kita berada pada "budaya citarasa" yang menawarkan berbagai macam gaya yang tidak ada habisnya.

ALAM POSTMODERNISME TANPA TITIK PUSAT
Ciri khas postmcdemlsme adalah tidak adanya titik pusat yang mengontrol sega!a sesuatu. Meskipun postmodern dalam masyarakat bermacam-macam bentuknya, mereka sama-sama sepakat bahwa tidak ada fokus atau titik pusat. Tidak ada lagi standar umum yang dapat dipakai mengukur, menilai atau mengevaluasi konsep-konsep clan gaya hidup tertentu. Lenyaplah sudah usaha mencari sumber otoritas pusat. Lenyaplah sudah usaha untuk mencari kekuasaan yang absah dan berlaku untuk semua.
Titik pusat sudah bergeser, masyarakat kita seperti kumpulan barang- barang yang beraneka ragam. Unit-unit sosial yang lebih kecil hanya disatukan secara geografis. Filsuf postmodern. Michel Foucault, menawarkan sebuah usulan nama bagi dunia tanpa titik pusat, yaitu "heterotopia." istilah Foucault menggarisbawahi perubahan besar yang sedang kita alami. Keyakinan Pencerahan akan suatu kemajuan ayng terus-menerus melahirkan visi modernisme. Arsitek modernisme berusaha membangun sebuah bangunan masyarakat yang sempurna. Kasih, keadilan, dan perdamaian akan memerintah masyarakat tersebut. kaum postmodern membuang jauh-jauh impian kosong tersebut. Mereka hanya menawarkan keanekaragaman yang tak terhitung banyaknya, "multiverse" telah menggantikan model "universe" dari modernisme.

POSTMODERNISME SEBAGAI SEBUAH FENOMENA KULTURAL
"Lenyapnya titik pusat" yang dipopulerkan oleh etos postmodern merupakan ciri utama situasi masa kini Ini nampak jelas dalam kehidupan kultur masyarakat kita. Seni telah mengalami perubahan bersamaan dengan perubahan modern menjadi postmodem.

POSTMODERN MERAYAKAN KEANEKARAGAMAN
Ciri utama budaya postmodern adalah pluralisme. Untuk merayakan pluralisme ini, para seniman postmodern mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Teknik seni yang demikian bukan hanya merayakan pluralisme, tetapi merupakan reaksi penolakan terhadap dominasi rasio melalui cara yang ironis. Buah karya postmodernisme selalu ambigu (mengandung dua makna). Kalaupun para seniman ini menggunakan sedikit gaya modern, tujuannya adalah menolak atau mencemooh sisi-sisi tertentu dari modernisme.
Post-modernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Post-Modernisme adalah kelanjutan dari modernisme. sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya¬karyanya adalah makna ganda,ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme. Salah satu tehnik campuran yang sering digunakan adalah "collage". "Collage" menawarkan suatu cara alamiah untuk mencampurkan bahan-bahan yang saling bertentangan. "Collage" menjadi wahana kritik postmodern terhadap mitos pengaranglseniman tunggal. Teknik lainnya adalah "bricolage", yaitu: penyusunan kembali berbagai objek untuk menyampaikan pesan ironis bagi situasi masa kini.
Seniman postmodern menggunakan berbagai gaya yang mencerminkan suatu eklektisisme yang diambil dari berbagai era dalam sejarah. Seniman umumnya menganggap cara demikian harus ditolak karena menghancurkan keutuhan gaya-gaya historis. Para kritikus tersebut menyalahkan gaya postmodern karena tidak ada kedalaman atau keluasan, melanggar batas sejarah hanya demi memberikan kesan untuk masa kini. Gaya dan historis dibuat saling tumpang tindih. Mereka mendapatkan postmodernisme sangat kurang dalam orisinalitas dan tidak ada gaya sama sekali.
Namun ada prinsip lebih mendalam yang ditampilkan melalui ekspresi budaya postmodernisme. Maksud dan tujuan karya-karya postmodernisme bukanlah asal¬asalan saja. Sebaliknya postmodern berusaha menylngkirkan konsep mengenai "seorang pengarang/pelukis ash yang merupakan pencetus suatu karya seni". Mereka berusaha menghancurkan ideologi "gaya tunggal" dari modernisme dan menggantikannya dengan budaya "banyak gaya". Untuk mencapai maksud tersebut, para seniman in,i memperhadapkan para peminatnya dengan beraneka ragam gaya yang saling bertentangan dan tidak harmonis. Teknik ini - yang mencabut gaya dari akar sejarahnya – dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan berusaha meruntuhkan sejarah. Seniman-seniman postmodern sangat berpengaruh bagi budaya Barat masa kini. Pencampuran gaya, dengan penekanan kepada keanekaragaman, dan penolakan kepada rasionalitas menjadi ciri khas masyarakat kita. Ini semakin terbukti dalam banyak ekspresi kebudayaan lainnya.

POSTMODERNISME SEBUAH FENOMENA DALAM BUDAYA POP
Kebanyakan dari kita berhubungan langsung postmodernisme melalui novel fiksi sains clan novel mata-mata. Keduanya sangat berpengaruh dalam budaya populer kita sekarang. Namun secara tidak sadar, kita telah terbuka kepada etos postmodern. Keterbukaan kepada etos postmodern melalui budaya pop adalah ciri khas postmodern. Ciri khas lainnya adalah tidak mau menempatkan "seni klasik tinggi" di atas budaya "pop." Postmodern unik karena ia menjangkau bukan kelas elite tetapi kelas masyarakat biasa, masyarakat yang terbiasa dengan budaya pop clan media massa. Hasil karya postmodern juga bermakna ganda. Mereka berbicara dengan sebuah bahasa clan menggunakan elemen-elemen yang dapat diterima oleh orang-orang awam ataupun seniman clan arsitek handal. Dengan cara demikian, postmodernisme berhasil menyatukan dua alam yang berbeda, yaitu profesional clan populer.

PEMBUATAN FILM SEBAGAI DASAR PIJAKAN BUDAYA POSTMODERN
Perkembangan teknologi membantu penyebaran postmodern ke dalam sisi- sisi penting clan budaya pop. Salah satu sisi terpenting adalah industri film. Teknologi pembuatan film sangat cocok dengan etos postmodern, yakni: film menggambarkan yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Sekilas lalu, film adalah sebuah Cerlta utu!? yang dltampllkan ole,n, para aktor clan aktris. Kenyataannya, film adalah rekayasa teknologi dengan bantuan ahli-ahli spesialis dari berbagai bidang yang tidak jarang kelihatan dalam film. Adanya kesatuan dalam sebuah film sebenarnya adalah ilusi. Film berbeda dengan teater. Film tidak pernah berisi penampilan sekelompok aktor/aktris sekaligus secara utuh clan berkesinambungan. ,Apa yang penonton lihat "berkesinambungan" adalah semacam sisa dari berbagai adegan dalam proses pembuatan film itu sendiri, yang tidak saling berhubungan baik secara waktu maupun tempat.
Alur cerita sebuah film hanyalah tipuan. Apa yang nampak "berhubungan" atau "berkesinambungan" sebenarnya hanyalah kumpulan adegan yang diambil pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. Alur sebuah film yang kita lihat, ternyata tidak seperti demikian alurnya pada waktu film berada dalam proses pembuatan tersebut. Yang menyatukan adegan-adegan yang terpecah-pecah itu adalah seorang editor. Dialah yang menyambungkan adegan-adegan yang tidak ada hubungannya satu sama lain
Kadang-kadang peran yang sama belum tentu diperankan oleh satu aktor. Sutradara sering menggunakan peran pengganti (stunt-man) untuk adegan- adegan berbahaya. Kemajuan teknologi memungkinkan edit untuk menduplikasi wajah sang aktor sehingga wajahnya dalam film lama dapat diambil dan dimasukkan dalam film yang baru. Semuanya ini adalah hasil rekayasa komputer. Akhirnya, film yang kita tonton ada!ah produk kecanggihan teknologi. Tim-tim yang berbeda menggunakan fotografi dan metode lainnya untuk mengumpulkan bahan¬hahan. Bahan_hahan ini digabungkan oleh editor untuk menghasilkan apa yang nampak sebagai "kesatuan" di depan mata penonton. Berbeda dengan teater, kesatuan dan kesinambungan sebuah film adalah jasa teknologi, dan bukan jasa aktor-aktornya. Karena kesatuan sebuah film terletak dalam teknik pembuatannya, maka sutradara dan editor mempunyai kebebasan untuk mengatur dan memanipulasi jalannya cerita dengan berbagai cara. Mereka dapat mencampurkan adegan-adegan yang tidak saling berhubungan tanpa harus mengorbankan kesatuan film itu.
Pembuat film postmodern senang mengubah konsep tempat dan konsep waktu menjadi di sini dan kini selamanya. Usaha mereka dalam hal ini dipacu oleh banyaknya film yang telah diproduksi sebelumnya sehinga mereka mempunyai bahan untuk mencampurkannya. Misalnya: adegan Humphrey Bogart dalam film "The Last Action Hero" dan Groucho Marx dalam Wan Diet Pepsi. Kemajuan teknologi memungkinkan penggabungan keduanya, penggabungan "dunia nyata" dengan kenyataan lain. Contoh lain adalah penggabungan tokoh kartun clan tokoh manusia dalam film "Who Framed Roger Rabbit?"
Kemampuan seorang sutradara menggabungkan berbagai potongan menjadi sebuah film yang utuh, memungkinkannya untuk melenyapkan perbedaan antara kebenaran clan dongeng, kenyataan clan khayalan. Sutradara- sutradara postmodern menggunakan kesempatan ini untuk mewujudnyatakan etos postmodern. Misalnya, film-film postmodern membuat film fiksi clan fantasi seperti layaknya kejadian nyata (film "Groundhog Day"). Mereka menggabungkan kisah film fiksi dengan aspek dokumenter (film "The Gods Must Be Crazy"). Mereka mencampurkan sebagian catatan sejarah dengan spekulasi clan mencampurkan dunia-dunia yang tidak berhubungan yang dihuni oleh tokoh-tokoh yang tidak jelas majakah yang asli (film "Blue Velvet").
Hidup dalam era postmodern berarti hidup di dalam clunia yang menyerupai film. Sebuah clunia dimana kebenaran dan dongeng bercampur. Kita melihat clunia sama seperti kita melihat film, clan kita curiga apakah yang kita lihat hanyalah sebuah ilusi. Kita dapat memahami sesuatu dalam pikiran sang sutradara. la mengajak kita melihat sesuatu yang sering terabaikan/terlupakan dalam clunia yang film itu gambarkan. Sebaliknya ketika melihat clunia sebenarr,ya, kaum postmodern tidak lagi percaya adanya sebuah Pikiran di baliknya.



TELEVISI DAN PENYEBARAN BUDAYA POSTMODERN
Teknologi pembuatan film memberikan dasar pijakan untuk budaya pop postmodern Namun televisi merupakan sarana yang lebih efisien untuk menyebarkan etos postmodern ke seluruh lapisan masyarakat. Dilihat dari satu sisi, televisi hanyalah saranan yang efektif untuk menantikan turunnya film dari bioskop ke televisi. Banyak program televisi yang isinya hanya film-film, mulai dari yang pendek sampai miniseri. Televisi adalah sebuah sarana yang digunakan oleh film-film untuk menyerbu kehidupan sehari¬hari jutaan orang. Sejauh ini, televisi hanyalah perpanjangangan tangan dari industri film.
Tetapi lepas dari hubungan dengan film, televisi memperlihatkan ciri khasnya sendiri. Dalam banyak hal. televisi jauh lebih fleksibel daripada film. Televisi melampaui film dengan menyajikan siaran langsung. Kamera televisi dapat menayangkan gambar kejadian langsung kepada pemirsa di seluruh belahan dunia.
Kemampuan untuk menyiarkan secara langsung membuat orang percaya bahwa televisi menyajikan peristiwa aktual yang benar-benar terjadi, tanpa adanya penafsiran, edit, atau komentar. Karena inilah teievisi telah menjadi kriteria untuk membedakan yang nyata clan tidak. Banyak pemirsa tidak menganggap penting banyak hal. Tetapi jika CNN, Sixty Minutes menayangkannya, mereka akan segera merasa hal tersebut penting. Segala sesuatu tidak penting jika tidak ditayangkan televisi.
Televisi mampu menayangkan fakta secara langsung clan mampu menyebutkan produksi¬produksi film. Kemampuan ganda demikian membuat televisi memiliki kekuatan yang unik. la mampu mencampurkan "kebenaran" (apa yang orang banyak anggap sebagai kejadian nyata) dengan "fiksi" (apa yang orang banyak anggap sebagai khayalan yang tidak pernah terjadi dalam kenyataan). Film tidak dapat melakukan ini. Televisi masa kini melakukan hal tersebut terus¬menerus. Ketika ada siaran langsung, di tengah-tengah siaran itu selalu diputus oleh "pesan dari sponsor."
Televisi melampaui film untuk mewujudkan etos postmodern. Televisi komersil menyajikan berbagai gambar kepada permirsa. Berita sore akan menghantam penonton dengan gambar-gambar yang tidak saling berhubungan: perang di suatu daerah terpencil, pembunuhan di dekat rumah, ucapan clan seorang politikus, skandal seks terbaru, penemuan ilmiah baru, berita olahraga. Campuran-campuran ini disisipkan dengan Wan baterai yang tahan lama, sabun mandi yang lebih bersih, makan pagi yang lebih sehat, dan liburan yang lebih menyenangkan. Dengan menampilkan berbagai       gambar tersebut (berita clan iklan), televisi menciptakan kesan bahwa berita clan Wan sama pentingnya.
Siaran berita diikuti oleh program-program utama yang terlalu banyak untuk menarik clan membuat pemirsa bertahan. Maka isi program¬program tersebut adalah film laga, skandal. kekerasan, dan seks. Drama-drama malam hari mempunyai bobot yang sama dengan berita sebelumnya. Dengan cara ini, televisi melenyapkan perbedaan antara kebenaran dan fiksi, antara peristiwa yang benar¬benar memilukan hati dan peristiwa sepele. Ini terjadi bukan hanya pada satu saluran televisi, tetapi berpuluh bahkan ratusan saiuran yang berbeda-beda. Hanya dengan sebuah remote control di tangan, seseorang dapat memilih apa pun yang ia suka, mulai dari berita terbaru, pertandingan tinju, laporan ekonomi, film kuno, laporan cuaca, film komedi. film dokumenter, dan sebagainya.
Dengan menawarkan begitu banyak campuran gambar, secara tidak sengaja televisi menyejajarkan hal-hal yang tidak saling cocok. Televisi membutuhkan kejelasan waktu dan tempat. Televisi mencampuradukkan masa lalu dan masa kini, yang jauh dan yang dekat, segala sesuatunya di- bawa menjadi kini clan di sini, di hadapan pemirsa televisi. Dengan cara ini, televisi memperlihatkan dua ciri khas postmodern: menghapus batas antara masa lalu dan masa kini, dan menempatkan pemirsa dalam ketegangan terus-menerus. Banyak pengamat sosial menganggap televisi sebagai cermin dari kondisi psikologis dan budaya postmodern. Televisi menyajikan begitu banyak gambar yang tidak berhubungan dengan realitas, gambar-gambar yang saling berinteraksi terus¬menerus tanpa henti.
Film dan televisi telah di persatukan oleh sebuah alat yang lebih baru - komputer pribadi. Lenyapnya ego adalah tanda kemenangan postmodernisme. Sang diri diubahkan menjadi sebuah tampilan kosong yang berisi kebudayaan yang telah jenuh namun hiperteknis. Munculnya "monitor" - layar bioskop, layar kaca televisi ataupun monitor computer, melenyapkan perbedaan antara diri sebagai subjek dan dunia sebagai objek. "Monitor" bukan sekadar objek di luar diri kita yang kita sedang lihat. Yang terjadi dalam monitor bukan sesuatu kejadian di luar sana dan diri kita di sini. "Monitor" membawa kita ke dunia luar sama seperti dunia luar masuk ke dalam diri kita. Yang terjadi dalam televisi merupakan manifestasi diri kita, yang terjadi dalani din kita adalah penjelmaan televisi. Televisi telah menjadi sebuah wujud nyata dari jiwa kita. Hidup dalam era postmodern berarti hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai gambar yang bercampur-aduk. Dunia televisi memecahkan gambar-gambar menjadi potongan-potongan dan Kaum postmodern tetap yakin bahwa itu hanyalah campuran gambar-gambar.

WUJUD-WUJUD LAIN POSTMODERNISME DALAM BUDAYA POP
Film telah menyajikan budaya postmodern dan televisi menyebarkannya, tetapi musik rock merupakan ciri yang paling khas dari budaya pop postmodern. Lirik lagu-lagu rock mencerminkan semboyan postmodern. Hubungan antara music rock dan budaya postmodern lebih mendalam lagi. Musik rock memiliki ciri utama dari postmodern, yaitu: fokus kepada global dan lokal. Musik rock kontemporer mendapatkan banyak penggemar dan mampu menyatukan seluruh dunia. Tentunya kita ingat dengan tokoh-tokoh musik rock yang melakukan tur keliling dunia. Pada saat yang sama, musik rock mempertahankan selera lokal. Dalam penampilan grup-grup rock yang besar maupun yang kecil (tidak terkenal), musik rock memperlihatkan pluralitas gaya yang diambil dari gaya musik setempat (lokal dan etnis tertentu).
Yang tidak kalah penting, musik rock juga menggunakan sarana produksi elektronik sebagaimana televisi dan film. Dimensi penting dari budaya rock adalah penampilan langsung dari bintang-bintangnya. Konser musik rock tidak seperti konser tradisional dimana sang penyanyi berusaha berkomunikasi secara akrab dengan penonton Yang terjadi dalam konser musik rock adalah "kedekatan massal yang dibuat-buat". Konser rock kini merupakan peristiwa massal, melibatkan puluhan ribu penggemar. Kebanyakan penggemar tidak dapat melihat penampilan sang bintang dari dekat. Namun mereka masih berusaha mengalami pengalaman tersebut. Penampilan tersebut diperlihatkan kepada mereka melalui banyak layar video yang menyorot wajah sang bintang dari dekat.
Tehnik ini menciptakan jarak antara sang bintang dan penonton. Penggemar kelompok rock Jubilant merasa dekat dengan idola mereka sekalipun hanya lewat layar televisi. Teknologi mengubah kedekatan dalam sebuah pertunjukkan langsung meniadl kumpulan ribuan penggemar yang menonton layar video bersama-sama sementara mereka diserbu dengan berbagai¬bagai efek cahaya, suara dan sebagainya. Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan aslinya dan tayangannya di televisi. Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan langsung dan duplikasinya dalam musik. Penampilan langsung bukan lagi realitas yang terdapat dalam konteks khusus. la adalah campuran antara apa yang sang bintang tampilkan dan apa yang teknologi hasilkan Penampilan itu dibungkus dalam kemasan teknologi setelah itu baru disajikan kepada para penggemar. Wujud etos postmodern yang lebih sederhana adalah cara berpakaian. Model pakaian postmodern mempunyai kecenderungan yang mirip dengan budaya pop lainnya. Kita melihat ditonjolkannya merek clan label produk. Ini melenyapkan perbedaan antara pakaian dan iklan pakaian.
Wajah postmodern nampak dalam "bricolage". Berbeda dengan pola      pakaian tradisional, yang menyatukan berbagai corak secara harmonis, gaya postmodern sengaja menggabungkan elemen-elemen yang bertentangan, misalnya: pakaian dan aksesoris dari 10, 20, 30 dan 40 tahun lalu dipakai bersama-sama. Percampuran yang bertentangan tersebut dimaksudkan sebagai sebuah ironi atau ejekan terhadap model pakaian modern, bahkan terhadap seluruh industri pakaian modern.
Dari musik rock ke turisme ke televisi sampai ke bidang pendidikan, yang dipromosikan oleh iklan dan yang dicari oleh konsumen bukan lagi barang-barang, tetapi pengalaman. Budaya pop zaman kita mempunyai dua ciri khas postmodern: pluralisme dan anti-rasionalisme. Seperti nyata dari cara mereka berpakaian dan musik yang mereka dengar, kaum postmodern tidak lagi percaya kalau dunia mereka mempunyai sebuah fokus. Mereka tidak lagi percaya bahwa rasio manusia dapat menangkap struktur logika alam semesta. Mereka hidup dalam dunia yang tidak membedakan antara kebenaran dan dongeng. Akibatnya mereka menjadi pengumpul bermacam-macam pengalaman, gudang yang brisi berbagai hal sementara, jembatan yang dilintasi bermacam-macam gambar, clan dihujani dengan aneka ragam media dalam masyarakat postmodern.
Postmodernisme memiliki asumsi yang bermacam-macam. Ini terbukti dari berbagai sikap clan ekspresi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan tersebut, kita menemukan bermacam-macam orang dalam masyarakat. Ekspresinya bervariasi dari cara berpakaian sampai televisi, termsuk musik dan film di dalamnya. Postmodernisme menjelma dalam beraneka ragam ekspresi budaya, termasuk arsitektur, seni, dan sastra. Lebih dari segalanya, postmodernisme adalah sebuah pemandangan intelektual.
Postmodernisme menolak gambaran mengenai seorang pemikir tunggal yang dilahirkan oleh pencerahan. Postmodern mengejek mereka yang merasa yakin dapat melihat dunia dari suatu titik puncak seolah-olah mereka dapat berbicara demi kepentingan seluruh umat manusia. Postmodernisme telah menggantikan cita-cita pencerahan tersebut dengan keyakinan baru, yaitu: semua pernyataan mengenai kebenaran dan kebenaran itu sendiri terbatas oleh kondisi sosial.  

POSTMODERNISASI DALAM ISLAM
Perjalanan lama Islam telah banyak memberikan imaji-imaji awal atau mungkin persepsi yang seringkali dengan hal itu kita melakukan justifikasi. Latar belakang sejarah, yang seharusnya orang dipertanyakan keabsahannya, banyak mengambil tempat dalam keputusan-keputusan religius saat ini dan mungkin di masa yang akan datang. Harus diakui memang ada beberapa hal yang jelas-jelas membuat kita harus mengambil epistema masa lalu clan kemudian menginterpretasikannya. Namun dalam proses selanjutnya kita lebih sering memaksakan diri untuk terjebak dalam sejarah clan berkutat dalam simbol-simbol institusi mazhab maupun agama itu sendiri. Proses akumulatif semacam ini menjauhkan sistem berpikir kita dari dialog-dialog intelektual maupun perdebatan-perdebatan yang semestinya bisa memberikan penalaran komprehensif antara wahyu ilahiyah dengan realita sosial.
Kritik terhadap akal Islam itu sendiri sudah berlangsung sejak iama. Sudah banyak orang-orang dari kalangan Islam sendiri yang mengajukan tesis tentang perbaikan sistem berpikir Islam. Seperti Jamal Ad-Din AI-Afgan kemudian berlanjut kepada Muhammad Abduh hingga kini. Ambil contoh Mohammed Arkoun, yang sedikit banyak berhutang intelektual pada pemikir-pemikir Pasca modernisme seperti Derrida. Dalam karyanya Rethinking of Islam, Arkoun seringkali memakai terminologi Posmodernisme. Tetapi yang menarik dari tulisan-tulisannya, Arkoun mencoba menggabungkan teori dekonstruksi Derrida dengan struktur berpikir Islam yang sebenarnya cukup sulit untuk di dapatkan sintesa
Merujuk Akbar S. Ahmed, dalam bukunya Postmodernism and Islam (1992), terdapat delapan ciri karakter sosiologis postmodernisme. Pertama, timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas, memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden dan semakin diterimanya pandangan pluralisme¬relativisme kebenaran. Kedua, meledaknya industri media massa, sehingga ia seolah merupakan perpanjangan dari sistem indera, organ dan syaraf manusia. Kondisi ini pada gilirannya menjadikan dunia clan ruang realitas kehidupan terasa menyempit. Lebih dari itu, kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan baru yang menentukan kebenaran dan kesalahan perilaku manusia. Ketiga, munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul sebagai reaksi manakala orang semakin meragukan kebenaran ilmu, teknologi dan filsafat modern yang dinilai gagal memenuhi janji emansipatoris untuk membebaskan manusia clan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Keempat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan, romantisme  dengan masa lampau. Kelima, semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban area) sebagai pusat kebudayaan clan sebaliknya, wilayah pedesaan (rural area) sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju (Negara Dunia Pertama) atas negara berkembang (Negara Dunia Ketiga). Keenam, semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok minoritas untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Dengan kata lain, era postmodernisme telah turut mendorong proses demokratisasi. Ketujuh, munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme clan pencampuradukan berbagai diskursus, nilai, keyakinan clan potret serpihan realitas, sehingga sekarang sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada kelompok budaya tertentu secara eksklusif. Kedelapan, bahasa yang digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali mengesankan tidak lagi memiliki kejelasan makna dan konsistensi, sehingga bersifat paradoks (Ahmed, 1992- 143-4).

KESIMPULAN : PERLUNYA TEORI POSTMODERN
Teori postmodern adalah kritis, optimis, dan cerdas, menantang, dan menyelenggarakan kapasitas pikiran clan memberi modal berpikir kritis. Menekankan pada etika hubungan antar aktivis dengan masyarakat desain Kritik postmodern sangat kuat dan berakar serta membuat arsitekur modern sadar. Dan ini dirangkum dalam 3 tema teori kritis yang muncul pada pertengahan 1990-an yaitu feminisme dan masalah badan dalam arsitektur, estetika indah kontemporer, dan etika lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Stanley J. Grenz Etos Postmodern.
Sumber : www.i3dskonsultan.com

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.