Monday, October 15, 2012

Kisah Wayang yang Dimainkan Dalang Cilik

Cendikia Ismatuka (11) - google.co.id

Jakarta (ANTARA News) - Alunan nada khas dari tanah Jawa yang di iringi gamelan, gambang kromong dan gendang itu mengalun perlahan. Ketukan demi ketukan, hentakan gendang dan nyanyian yang dilantunkan sinden menghasilkan sebuah nada apik yang mengiringi kisah sebuah pementasan wayang di Jakarta.

Kali ini pementasan wayang terasa berbeda. Dalangnya seorang anak kecil atau kerab disebut "wong cilik".

Adalah Cendikia Ismatuka (11), anak didik dari sanggar Sarotama dari Semarang yang menjadi dalang. Bahkan semua yang terlibat di panggung adalah anak kecil, mulai usia 2,5 tahun hingga 15 tahun.

Diki, panggilan akrab Cendekia, adalah murid kelas 6 SD yang sangat mahir mendalangi kisah "Gatot Kaca Gedi", kisah yang menceritakan proses kelahiran Gatot Kaca sampai menjadi seorang kesatria.

Ia bahkan hapal semua tokoh pewayangan seperti Gatot Kaca, Gareng, Petruk, Bagong, Bima, Abimanyu dan Raksasa.

Diki kemudian mengambil satu tokoh wayang raksasa, diceritakannya raksasa tersebut ingin membunuh bayi Gatot Kaca, mereka kemudian bertempur di sebuah hutan bersama para punakawan (pengikut satria).

Pertempuran antara raksasa dan para dewa pun terjadi. Wayang purwa raksasa dan gatot kaca terlibat perkelahian sengit. Tangan Diki dengan lincah memainkan kedua wayang tersebut.

"Saya paling suka cerita ini. Gatot kaca adalah kesatria yang gagah, jujur, baik hati dan penolong," ujar anak yang bercita-cita ingin menjadi seorang dosen dalang ini.

Diki mempelajari kesenian pewayangan sejak usia 5,5 tahun. Awalnya, kedua orang tua Diki sering menonton pementasan wayang di rumah, kemudian lama kelamaan Diki menjadi suka terhadap kesenian wayang.

"Tertarik sama ceritanya, lama kelamaan menjadi senang," ujar dia.

Budi Pekerti

Pemilik sekaligus Ketua Sanggar Sarotama, Mudjiono (59) mengatakan sanggar yang beranggotakan puluhan anak kecil tersebut diajarkan bernyanyi (nyinden), kemampuan bercerita, menari dan memainkan musik gamelan.

Melalui wayang, ia menginginkan anak tak sekedar menyukai seni pewayangan tapi juga mendalami pendidikan karakter dan nilai budi pekerti yang bisa diambil dari jalan cerita dan sifat tokoh-tokoh wayang.

"Saya ingin wayang purwo bisa dinikmati juga oleh anak, bisa lekat di masyarakat. Saya ingin mengajarkan wayang untuk membuat anak berperilaku baik dan santun," ujar dia.

Saat ini, ia melihat banyak kesenian Jawa yang ada lebih mengesampingkan budi pekerti dan lebih mementingkan materi semata.

"Banyak dalang yang membawakan pewayangan dengan pemikiran jorok, mencaci maki dan menyindir orang agar disukai penonton. Memang ramai dilihat tapi sedikit pembelajarannya untuk anak," ujar dia.

Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membuat kisah pewayangan yang dikemas untuk anak dengan memotong beberapa bagian dengan memasukkan pendidikan santun lewat cerita wayang.

"Saya ingin anak-anak pas dibekali, jangan sampai hanya mencari materi saja, tapi juga melihat contoh yang baik yang bisa dibanggakan dan bukan urakan," kata dia.

Sarotama yang berarti 'busur panah' merupakan padepokan seni untuk anak-anak yang bermarkas di desa Gunung Sari, sebelah timur Solo.

Padepokan seni ini didirikan untuk mengenalkan kesenian tradisi Jawa kepada anak-anak dan mengembangkan bakat anak. Sanggar ini memiliki 40 murid tetap dan ratusan murid lain dari berbagai kota di Jawa Tengah.

Untuk bisa belajar di sanggar ini, Mudji tidak menarik bayaran dan tidak membatasi kapan waktu anak- anak latihan.

"Tidak dipungut bayaran sukarela saja, anak-anak bisa masuk kapanpun dan tidak ada batasan umur. Kami kumpul tiap malam Minggu, yang datang dari luar kota kami perkenankan menginap," ujar dia.

Sanggar Sarotama merupakan penerima hibah CSR dari Yayasan Kelola, penerima beneficiary filantropic fund dari First State Investment.

"Kami berharap mereka bisa pentas nasional dan internasional. Anak-anak datang dari Solo ke Jakarta untuk melestarikan kesenian Jawa. Mereka adalah bakat kecil yang perlu dijaga dan dikembangkan," ujar Presiden Director First State Investment Indonesia, Hario Soeprobo. (Tri)

Sumber

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.